Saat ini aku sedang berhadapan dengan semangkuk karbohidrat tinggi dan seekor ayam yang belum menetas namun dengan tega aku menceburkannya di minyak goreng panas yang bergejolak.
Mulai tulisan ini berawal dari keinginanku bercerita bahwa aku menyukai televisi. Bahkan aku tak pernah membencinya walau ia membuatku menderita miopi.
Ia benar, aku dibuat jatuh hati oleh televisi. Disetiap detiknya aku dapat melupakan sejenak segala perkara dalam kehidupanku yang mungkin sepele bagi kalian. Saat menonton setiap acara aku seperti dibawa dalam dunia mereka. Aku bukan lah aku, aku berani untuk melupakan diriku dan segala yang telah aku lewati.
Dahulu aku sering ditemani dengan tanteku, bahkan kadang kala kita menangis bersama. Oh mungkin hanya aku yang menangis, walau film India itu diputar berulang kali. Namun aku tetap menangis. Atau acara lain pun sering membawaku berdiskusi, ups lebih tepatnya banyak bertanya dengan hal hal yang ada ditelevisi. Dan tanteku selalu punya jawaban yang aku tanyakan. Beliau memang sangat cerdas. Namun jika aku sedikit dingin terhadapnya bukam karena aku membencinya. Tetapi yang aku sadari aku tak bisa berada disisinya, karena aku suah cukup besar.
Tak jarang juga aku selalu menantikan untuk acara Damai Indonesiaku ataupun Mario Teguh Golden Ways, itu salah satu acara favorite kami. Maksudnya acara favorite Nenekku, karena itulah acaranya juga menjadi favoriteku. Nenekku melebihi seorang ibu bagiku. Aku tumbuh besar bersamanya. Beliau sama sekali tidak romantis, bahkan terkesan tegas. Namun saat ia mengusap kepalaku dikala aku tertidur, bukan tertidur beneran. Tetapi beliau mengira aku tidur padahal aku masih dalam kesadaran hanya saja aku memejamkan mata. Hanya untuk sekedar merasakan setiap helai rambutku yang disentuh olehnya. Sampai sekarang aku masih mengingat rasa itu.
Aku bahkan bisa bertahan hingga larut malam saat menonton televisi. Tertawa saat acara komedi, menangis saat drama menyedihkan, apapun itu aku selalu menghanyutkan diri didalamnya.
Atau menjadikan televisi pelampiasan emosional yang aku pendam.
Tak hanya televisi yang menjadi kebutuhan hatiku. Aku juga pernah bercita-cita mempunyai kamar sendiri. Dulu aku tak pernah mendapatkannya. Mungkin pernah sesaat namun hanya sementara. Berkali kali aku mendapatkan kamar sendiri, namun berkali kali pula aku kehilangannya. Hingga kini aku bisa memilikinya lagi, seperti didetik ini aku benar benar berada dikamarku sendiri. Yah, sendirian.
Aku selalu berpikir kalau aku memiliki kamar, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan tanpa pengaruh orang lain. Aku berpikir aku akan bahagia walau hanya dikamar saja. Tapi aku sedikit salah, beberapa hal mungkin benar. Namun saat ini aku lebih banyak menguras air mata dikamar, diruangan berbetuk kubus tak beraturan ini menjadi saksi setiap air mata yang jatuh.
Mungkin aku hanya sedang sensitif, sebab merindukan Tanteku yang terkadang aku selalu menantikan kabar bahagianya dari ibuku. Atau merindukan Nenekku, yang mungkin tak permah ku temuinya lagi diBumi ini. Aku juga merindukan sahabat-sahabatku yang sedang sangat sibuk, aku takut menggangu mereka hingga rindu ini hanya sampai pada kerongkonganku saja. Kalau mereka juga merindukan ku, aku ingin berkata. Aku baik baik saja, jika mereka juga dalam keadaan baik.
Jangan menganggap hidupku menyedihkan, karena aku bukan fakir miskin yang dikasihani. Aku masih memiliki Ibu, Ayah tiriku serta keluarganya.
Aku pernah dalam posisi begitu tenang. Saat sabtu atau minggu yang kita isi dengan makan disetiap rumah makan yang belum aku kunjugi. Mereka memberiku makan yang enak enak. Memberiku kehidupan yang sangat layak. Hingga aku sadari terlalu lama aku berada di zona nyaman itu. Mereka tak banyak menuntut, bahkan mereka tak menuntutku untuk bicara. Seolah mereka tau bahwa aku bahagia bersama mereka.
Diusiaku yang sudah menginjak 23 tahun masih cukup banyak yang akan terjadi nanti. Aku tidak tau kemana akan ku bagikan ceritaku. Yang jelas sudah dipastikan, jika Allah berkehendak maka aku akan selalu pasti untuk bercerita kepada-Nya. Serta berbisik dari bumi hingga terdengar ke langit. Alhamdulillah, aku bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah. Aku memohon untuk selalu dalam lindungan Allah.