Semoga saja, pada perjalanan takdir yang kita jalani ini ada kebaikan diujung jalannya. Semoga, pada apa yang kita doakan ini, ada ijabah terbaik atas penantian selama ini. Wahai hati, menunduk dan tenanglah.
dirt enthusiast

ellievsbear

tannertan36

titsay

#extradirty
Claire Keane
Today's Document
wallacepolsom
AnasAbdin
Peter Solarz
Keni

blake kathryn

No title available

Love Begins
YOU ARE THE REASON
d e v o n

@theartofmadeline
occasionally subtle

★

izzy's playlists!
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Spain
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from T1

seen from United States
seen from New Zealand
seen from Malaysia

seen from Jamaica
@perempuansaputangan
Semoga saja, pada perjalanan takdir yang kita jalani ini ada kebaikan diujung jalannya. Semoga, pada apa yang kita doakan ini, ada ijabah terbaik atas penantian selama ini. Wahai hati, menunduk dan tenanglah.
in this room the hours of love still make shadows.
for Jane, Charles Bukowski
musings on June
1.anne sexton (“the truth the dead know”), 2. anne sexton (“suicide note poem”), 3. mary oliver (“august”), 4. l.m. montgomery (“anne of the island”), 5. morgan parker (“the black saint & the sinner lady & the dead & the truth”), 6. found poems: sylvia plath / peter k. steinberg (“percy key among the narcissi”) artwork by hugo grenville
buy me a coffee
Update (Kesepian) Hidup
Hallo, kembali lagi membuka halaman ini yang sudah jarang sekali aku temui, mungkin terlalu sibuk dengan game atau memang sedang males aja. Malam ini, kembali kubaca tulisan-tulisanku dari diriku beberapa tahun ke belakang dan suprisingly kok kayak dinasehatin diri sendiri. Memang, yang paling mengerti kita ya diri sendiri.
Kali ini, aku mau menumpahkan perasaan sepi. Ya lagi dan lagi. Kesepian seperti bayangan yang terus mengikuti kemana saja dan kawan yang sangat setia rupanya. Berulang kali aku merasakan hal seperti ini, tapi berulang kali juga bingung harus menghadapinya seperti apa.
Pedih juga ternyata, di saat punya seseorang tapi entah kenapa kaya jauh aja. Tetap ga dipahami dan tetap merasa sendiri. Akhir-akhir ini merasa seperti dunia menjauh dariku. Semua orang seperti sibuk dengan dirinya masing-masing. Ya sebenernya tidak apa, toh siapa aku, dunia kan tidak berputar di porosnya aku ya hahahahaha. Cuma ya itu, aku merasa hidup kok makin kesini makin minim makna. Makin lelah gitu. Terlebih merasa tidak ada orang yang bisa diajak “ngobrol” dan “ndenger”. Gimana ya kita bicara tapi ga didenger jadi males bicara. Fase kaya gini wajar ga sih? Takut otw gila aja hihi
Aku sadar tidak akan ada yang bisa memahami perasaan seseorang sepaham seseorang yang mengalaminya sendiri. Keinginanku sederhana, hanya butuh telinga yang sanggup mendengar perasaan yang tidak bisa aku ungkapin sendiri dan mau mengerti kenapa aku begini dan begitu. Ga melulu minta dipenuhi seperti itu tapi aku rindu rasanya dimengerti. Dipikir-pikir, keinginan itu ga sesederhana itu juga sih di kehidupan nyata hahahaha.
Pernah ga sih merasa yang bener-bener udah bingung harus ngapain lagi? Kek baca buku udah, nonton udah, olahraga udah, pergi kesana kesini udah. Tapi rasanya masih “haus” dan malah makin merasa sepi. Aneh, diri manusia satu ini maunya apa sih hahaha
Tapi kadang suka seneng sih buka IG melihat teman-temanku bertumbuh satu persatu, terutama yang perempuan. Yang sedang hamil, yang sedang mendidik dan mengasihi anak. Mereka struggle tapi sepertinya they can enjoy it. I am happy for them. Mungkin suatu saat aku juga merasakan struggle nya mereka. Tapi Tuhan lagi kasih aku di struggle yang lain untuk tahap ini, aku yakin lagi disiapin sesuatu nih di depan hehehe semoga aja menyenangkan yaa.
Beberapa bulan kebelakang ini, aku susah tidur, sering di jam 3 atau Subuh baru bisa tidur. Capek sih asli rasanya padahal seharian juga ga ngapa-ngapain, maklum lagi pengacara nih hahahaha tapi jujur sudah rindu akan tidur nyenyak dan cepat.
Hari ini soundtracknya lagu Radiohead - No Suprises, seharian muter lagu itu. Kek feeling capek dan sepinya mewakili banget. Dan of course sebagai orang yang cengeng banget, aku nangis seharian. Karena hari ini dimulai dengan kecewa. Ya gimana engga, janjian jam 7 tapi dicancel 7.06 hahaha dimana basic mannernya lu njing? *mode murka* hahaha
Sepi dan capek menjadi orang yang berusaha pengertian, sementara aku lagi sering banget merasa ga dimengerti siapa pun, jadi wajar kan merasa kecewanya banget. Dan lagi-lagi, pikiran untuk berkumpul bersama keluarga muncul lagi. Semua sudah ada di alam lain.
Kek gimana ya rasanya hidup sekarang misal masih ada mereka, apakah perasaan ini akan tetap sama atau engga? Tuhan ini suka guyon emang ngasih skenario hidup ngene banget. All by myself banget motonya ini. Padahal nama aku aja artinya udah manusia, yang mana artinya butuh seseorang untuk menjadikan kita bermakna. Lah ini dikasih sendiri dan sepi terus hahaha disuruh banyak merenung, menyendiri, lama-lama aku jadi filsuf ini mah hahahaha tapi dipikir-pikir lagi semua sufi, filsuf, pejalan atau apapun disebutnya emang hidupnya sering sendiri sih, bahkan mereka bertapa, menyepi, menjauh dari kebisingan dunia. Sepertinya aku salah doa dan cita-cita, ingin jadi orang bijak, padahal jalan menuju kesana hancur-hancuran dan sepinya ampun-ampunan. Huufffttt.
Wah udah panjang banget tulisan ngalor-ngidul ini, mari disudahi dulu yaa. Sekian dan terima nasib.
Gue belakangan ini sering banget pulang malem demi baca-baca buku di lab. Gue lebih suka suasana lab dibanding kost karena kalo di kost tuh maunya cuman ngehalu sama nonton Netflix aja. Sementara di lab tuh mode kerja.
Nah.... ada temen gue yang ngomong cukup menggelitik:
"Kamu ntar kalo nyari suami kayaknya perlu nyari yang betah di rumah. Jadi bisa ngimbangin kamu yang workaholic dan bantu ngasuh anak"
Temen gue yang ngomong nih belum nikah juga sih.
Kalo gue ngamatin temen yang udah nikah nih ya, masalahnya bukan terletak di workaholic atau tidaknya. Tapi lebih ke mau tidaknya kita untuk punya mutual understanding tentang cita-cita bersama dan cita-cita pribadi. Setelah itu, baru belajar nyari ritme bareng-bareng gimana enaknya.
Orang kalo hidup bareng tuh rawan konflik. Mungkin gue lebih tenang berkonflik sama orang yang bisa bilang ke gue:
"Rumah kita nggak kondusif ya. Ngobrol bareng yuk. Barangkali kita bisa ngatur ulang ritme hidup kita"
dibanding:
"Kamu tuh workaholic. Keluarga kamu butuh kamu"
Well mungkin sesekali gue perlu diingetin tentang ini. Tapi ya balik lagi, kalo framenya cuma "aku" dan "kamu", jadinya ya ga ada " kita".
Orang tuh berhak punya misi personal. Cuman pada prakteknya, kita emang perlu belajar nyari ritme. Kapan perlu istirahat, kapan perlu digas.
Puisi dari Gunawan Maryanto
Untuk jeda yang tiba-tiba
Cerita cinta bisa jadi apa saja
Ingatan jumpalitan berebut tempat
Rebut saja yang sanggup
Ambil saja yang mewujud
Hari ini mungkin pertama
Malam ini mungkin terakhir
Ambil seluruh yang mungkin
Waktu sedang cemburu
Atau membencimu
Tapi demikianlah
Ini semua berlangsung
Dalam jeda yang ajaib
Seorang bijak pernah berkata kepadaku
Kau harus menerima kenyataan bahwa terkadang, selama kau hidup, kau akan mengecewakan orang lain dan begitu sebaliknya. Berkali-kali. Walau tak pernah ada niat seperti itu.
Maka belajarlah untuk memaafkan kedua hal tersebut. Memaafkan dirimu, jika kamu mengecewakan orang lain. Dan memaafkan orang lain, yang mengecewakan dirimu.
Negentropy 5 In E Major
By frau
Hai, henti sejenak
Aku terengah susul langkahmu
Ah, begitu lambat
Tak tahukah ku terburu-buru?
Hai, cepatlah sudah
Sabarku habis tunggu langkahmu
Ah, begitu cepat
Tak tahukah ku, kau buru-buru
Kau buru-buru
Selaraskah nada-nada nafas kita?
Serasikah warna-warna watak kita?
Setimpalkah beban-beban berat kita?
Sebanding bebayang haluan di seberang sana
Hai, henti sebentar
Mari benahi irama langkah
Ah, mungkin kau benar
Mari benahi irama langkah
Irama langkah
Langkahku, langkahmu, langkah kita
Dia dan Kecewanya
Sepertinya, kita harus menerima, bahwa ada beberapa orang di sekitar kita yang memang tidak terlalu suka keramaian, yang tidak suka dijadikan pusat perhatian, yang tidak suka dipuji berlebihan, yang tidak terlalu suka bicara dengan banyak orang.
Dia begitu, bukan karena tidak ingin, tapi menghadapi situasi seperti itu, kadang adalah membingungkan. Dia bingung harus seperti apa. Senyum kah? Diam kah? Tertawa kah? Dia bingung.
Dia lebih betah sendiri, karena di sana, dia tidak akan mengecewakan siapa pun. Di kesendiriannya, dia akan terhindar dari menyakiti banyak orang. Dia akan leluasa menjadi dirinya sendiri, tanpa perlu bersikap terserah pada pandangan orang.
Dia sadar, tak mungkin untuk mengendalikan pikiran banyak orang tentangnya, karena itu dia lebih memilih untuk mengendalikan perilakunya. Sekali lagi, dia hanya tak ingin orang lain kecewa terhadapnya. Sebab, kekecewaan itulah yang nantinya bisa membuat dia kecewa dengan dirinya sendiri, bahkan lebih.
Sialnya, dia adalah juga yang bisa merasakan, mana palsu mana ketulusan.
Maafkan aku ya. Mungkin akulah yang menyakitimu selama ini. Maafkan. Semoga jalanmu terang. Selamat menuju kebahagiaan!
Yang (tidak) akan kamu mengerti
Ya, kamu tidak akan mampu mengerti, menjadi seseorang yang pernah berada di tengah perselingkuhan orang tua saat belum mengerti apa yang terjadi.
Bagaimana rasanya selalu teringat kejadian itu padahal saat itu aku adalah bocah kecil yang hanya berkata dalam hati "kenapa ayahku berbuat demikian kepada perempuan lain"
Bagaimana tumbuh membawa rasa bersalah kepada Mama, karena dari mulutku lah semua terungkap. Walau sekarang aku tahu memang lebih baik seperti itu
Bagaimana perasaan dan kejadian tersebut menjadikan aku, seseorang yang punya sudut pandang seperti ini
Memang bukan hakku untuk mengadili mereka. Tapi sebagai "korban" perselingkuhan, aku bisa paham bagaimana perasaan jika nanti suatu saat anak-anak yang tak bersalah tersebut tahu atau bahkan melihat ayahnya bermesraan dengan wanita lain dan tidak mencintai ibunya.
Kamu tidak akan pernah mengerti, bagaimana rasanya menjadi seorang dewasa (dengan masa lalu seperti tu) melihat perselingkuhan di depan matanya sendiri namun tidak bisa berbuat apa-apa
Hanya dapat berbicara dalam hati: "sudahlah bukan urusanmu".
Kamu tidak akan mengerti rasanya sedang meronta dan sedih namun harus menahan semua itu.
Bukannya tidak ingin berteman. Namun semakin ku lihat, semakin sakit hati ini. Aku pun tidak tahu harus melakukan apa.
Padahal siapalah aku yang bisa mengadili mereka. Mengenal mereka pun barang beberapa saat yang lalu.
Sebutlah memang aku tidak akan pernah bisa mentolerir kecurangan dan kebohongan dalam hubungan seperti itu. Sekecil apapun. Mungkin bagimu perihal seperti itu, bukan kecurangan. Bukan perselingkuhan. Tapi sungguh sayang kamu tidak akan pernah tahu niat dan hati seseorang.
Sayangnya aku tidak bisa menahan kepura-puraan ini terlalu lama.
Biarkanlah aku naif, yang tidak bisa menahan barang sebentar, ketidaknyamanan hati ini.
Aku berharap kamu dapat memahami ini. Jika pun tidak, tak apa. Tak akan aku paksakan. Karna kamu tidak merasakan langsung.
Kebahagiaan memang hak semua manusia di semesta ini. Tapi apakah harus dengan cara mencurangi satu sama lain seperti itu? Benarkah itu yang disebut bahagia? Ataukah hanya obat pelarian sesaat atas kesepian dan tersakitinya ego manusia?
Maaf, tapi kali ini aku sungguh kecewa. Melihat kau membiarkan semua itu terjadi di depan mata kita.
Walau aku tahu, ada sisi lain yang belum aku dengar. Tapi sungguh aku kecewa, kau memilih untuk menikmati kebersamaan itu.
Apapun peran yang akan kau ambil. Ketahuilah, mata alam akan punya keadilan sendiri. Andaikan kau tahu, pedihnya karma kehidupan ini.
Maaf, aku kali ini memilih untuk egois. Silahkan kau menilai aku seperti apa. Aku akan mempermudah keputusanmu. Karena dari awal pun, sudah kusampaikan, aku ini cacat. Apakah kamu akan siap?
Apapun yang kamu simpulkan tentangku, akan kupahami. Kau sudah tahu, konsekuensinya akan seperti apa.
Tanyakan hatimu, mana yang baik dan tidak. Pikirkanlah, semoga tidak akan ada penyesalan antara kita semua.
Semoga kita semua dapat menua dengan penuh kebahagiaan dan pelajaran.
Tepat.
Mengurai makna tepat akan kehadiran seseorang sama halnya seperti merasa takdir, semesta dan waktu saling bekerja sama menyetujui kehadirannya dalam hidup. Lalu kau pun berkesadaran menyambutnya dengan syukur dan kesiapan.
Bersama seseorang yang tepat maka akan ada dorongan dari dalam dirimu untuk bertumbuh dan berbenah agar menjadi sosok yang lebih baik dari hari-hari yang telah lalu—agar peran yang dijalani kelak di masa depan menjadi maksimal dalam ketaatan dan semoga jauh serta terlindung dari penyesalan.
Bersama seseorang yang tepat, mimpi-mimpi yang berniat baik akan tumbuh lebat. Lagi-lagi dengan penuh kesadaran, meski selangkah dalam arah tujuan. Namun tanggung jawab peran tetaplah milik masing-masing, sehingga di sepanjang perjalanan, tetap mawas diri untuk berdoa meminta petunjuk, rahmat, keselamatan dan ampunan pada Tuhan.
Bersama seseorang yang tepat, tanpa disadari kau akan melihat dirimu dalam dirinya. Entah melalui pemikirannya, perilakunya atau caranya bertutur lisan. Dirinya seperti rahasia besar yang terjawab sebab ternyata ada seseorang yang telah berhasil mengisi separuh yang selama ini terasa hilang dalam perjalanan kesendirianmu. Kau pun akan belajar menerima seiring waktu bahwa ada sisi rapuh, kuat, gelap dan terang dalam lapis-lapis jiwanya sebagai penanda ketidaksempurnaannya.
Serupa danau yang permukaannya bak cermin. Refleksinya memang tidak akan sama persis seperti dirimu. Namun, ketika kau melihatnya kau akan paham bahwa dia tepat karena kalian searah dalam tujuan kehidupan dan selaras dalam pengharapan pada Tuhan.
Bersama orang yang tepat, kau adalah pakaian untuknya dan dia adalah pakaian untukmu. Agar terjaga dan terawat apa yang Tuhan amanahkan. Semoga barokah dan menentramkan hati setiap tapak langkah perjalanan kalian. Selamat mengarungi samudra kehidupan. ⛵
Minggu, 21 Agustus 2022 18.17 wita
MAMPUS KAU KALI INI!
Kenapa kau berani berikan semuanya Nas? Berlaku terlalu naif. Dasar tolol, perempuan tolol!
Lihat sekarang apa yang kau dapatkan? Tidak ada yang tersisa Nas. Hanya sepi dan sendiri lagi. SELAMAT!
Lalu kau akan menjalani sisa hidupmu dengan apa? Bagaimana bisa memberi lagi, jika kali ini sudah kau habisi semuanya. KAU KALAH TELAK DI MEJA TAKDIR INI. MAMPUS! HAHAHAHA
Catatan Kesepian
Aku membaca narasi kesepian dimana-mana; tumblr, twitter, story instagram close friend, status whatsapp dan lain-lain.
Hingga aku menyadari; kesepian adalah sebuah fase yang mungkin akan menghampiri setiap orang.
Narasi-narasi itu menjelma jadi keriuhan di media-media dunia maya. Anehnya nadanya berbeda-beda. Ada yang bersyukur dan tertawa di atas kesepian dirinya sendiri, ada yang meratapi, ada yang berusaha menerima dan menganggap masa-masa kesepian akan segera berlalu, tetapi ada juga yang terus saja terjebak seolah mereka terpaku di ruang yang sama; ruang kesepian yang memenjarakan mereka.
Cara menghadapinya juga berbeda-beda. Ada yang memilih sibuk bekerja dan menabung, ada yang rutin menuliskannya di dinding-dinding dunia maya sebagai upaya journaling, ada yang setengah mati melawannya dan menyangkal bahwa ia tidak sedang kesepian, namun ada juga yang berusaha keras memendamnya dan menghadapi dunia dengan ceria seperti biasanya.
Tidak apa-apa kalau kita merasa kesepian. Dalam hidup, ada kalanya hati merasa demikian. Menyaksikan ramainya kehidupan orang lain, sementara hidup kita sendiri begitu sepi, sunyi. Entah sedang merindukan suasana seperti apa, mungkin suasana keramaian yang pernah ada dulu. Namun, kita sendiri lupa seperti apa hari-hari ramai yang menyenangkan itu.
Kita merasa sepi sementara pikiran kita benar-benar bising. Bising dengan kehidupan orang lain yang tidak ada habisnya kita saksikan. Bising dengan pemikiran-pemikiran mengandai-andai yang terlalu jauh padahal kita tahu kita harus berhenti. Seketika lenyap bising itu, lalu kembali menjadi sunyi yang memenjarakan kita. Padahal tidak apa-apa jika dalam hidup kita merasa sepi. Kita boleh bersedih, menulis, menyibukkan diri, dan lain-lain.
Kita tahu kita cukup kuat untuk menerimanya. Kenyatannya kita bisa bertahan, kan?
Yk, 13 Agsts '22 | 20.35
Semoga Allah menjagamu, memudahkan segala urusanmu, dan memenuhi segala kebutuhan juga inginmu.
Begitu, pintaku untuk orang-orang yang kucinta namun teramat jauh, karena aku tak bisa menjangkau mereka satu persatu tapi kuyakin Tuhanku mampu.
Nanti tiap ketemu orang baru yang ada tendensi mau ngedeketin, sejak awal langsung bilang gini aja apa ya:
Aku gak lagi nyari pelajaran hidup, udah banyak pelajaran hidupku. Aku nyari pasangan hidup. Jadi, kalau cuma mau jadi pelajaran, tolong putar balik sekarang ya. Sekian.
Hahah
Bandung, 5 Agustus 2022
HAHAHA terima kasih ataa inspirasinya