Almost 25: I’ve hated myself for too long (1)
“Your words have so much power. If every day you say “I love you”, if you give yourself one word of validation, it will change your mind.” - Ashley Graham, the woman whom confidence I want to steal.
Udah bulan keenam di tahun 2020 dan baru hari ini aku kembali berniat untuk nulis lagi. Dasar kamu, tukang wacana.
As we all know, Miss Rona decided to take over the whole world since the beginning of the year. In March, I started to work from home until today (June 20th). It’s been more than three months, and yes, y’all know how it feels to not being able to go out as you please.
And yes, WFH is not as easy as it sounds. Mungkin kalau 2-3 hari aja, masih oke lah untuk menyegarkan pikiran yang mampet dan ruwet. Tapi, kali ini kasusnya beda, WFH jadi kewajiban yang entah sampai kapan akan kelar. Pun, kita nggak bisa sembarangan keluar.
Sebagai anak kos yang hidupnya sebatas ukuran kamar 3x3 meter persegi, tentu aja ini cukup menyiksa. Jauh dari keluarga, ruang gerak terbatas, plus kerjaan lagi konsisten deras kayak hujan di bulan Desember-Januari. I’m stuck.
For the first two weeks of WFH, I ate only whenever I could. I ordered my lunch from GoFood or GrabFood, so yeah, as expected, I mostly ordered not-so-healthy food. I felt bad about it, kerasa banget di badan nggak enak pula.
Akhirnya, sekitar hampir sebulan WFH, aku dan dua anak kos lainnya memutuskan untuk masak makan siang bersama. Setelah akhirnya bersihin bunga es kulkas bareng-bareng dan masak apapun yang tersisa di kulkas, kami jadi mikir. Pesan makanan mungkin gampang, tapi kalau setiap hari ya boncos juga. Belum lagi kebutuhan sayur dan serat yang… mungkin cuma didapat dari lalapan.
Sejak awal April, kami mulai masak bareng. Well, I did the most cooking, and I don’t mind at all! I love cooking I’m just lazy to cook every day (considering that I have to wash all the piling dirty dishes). Jadilah, hampir setiap hari (kecuali weekend) pasti ada asupan sayur dan buah yang mencukupi karena kami juga akhirnya belanja bareng.
Masuk bulan puasa, anak kosan yang super baik ini rela ganti waktu masak jadi sebelum berbuka supaya tetap bisa makan bareng. Udahlah puasa, kerja, masak sendiri, dan nggak terlalu nafsu makan, I lost about 3 kilograms by the third week of Ramadan.
This was a good thing! I was happy, of course. I realized that I find it incredibly hard to lose even just a bit of weight. Semenjak itu, aku lumayan makin sadar dengan apa dan seberapa banyak yang aku makan. I cut es kopi susu-an or sugary drinks to unsweetened ice tea (which I LOVE) and only ordered them prolly once in a week or two.
I didn’t want to stop there. Due to the WFH situation, I couldn’t attend my weekly CrossFit class. Aku bisa merasa badanku mulai sangat nggak enak. Kombinasi kelamaan duduk dan stres kerjaan (not to forget about the mental state too) bikin badan makin cepet pegel. Parahnya, satu-satunya aktivitas yang bikin berkeringat dan bergerak leluasa adalah jalan kaki PP hampir 3 kilo untuk belanja setiap minggu. By the last week of Ramadan I ordered my first ever yoga mat.
-----
I’m fat, and that’s the first thing you’d notice when you see me in real life. I’ve never been skinny nor having the ideal body type. I was and still am very insecure about it. I always thought that I’m no more than just an average, fat girl, and no one would take me seriously because of it.
I’ve hated myself and my body when I realized that people love to make fun of it. So yeah, it was probably 16 years ago. I’ve hated the only thing that I could rely on for 16 years.
My mum told me to go on a diet because I look bad in some clothes. Some boys told me if I were skinny, they’d love to date me. A doctor told me to lose some weight after I got hospitalized due to a Hepatitis A infection (yes, thank you, doctor). I told myself I should have a serious plan to get on a diet because I hate my reflection in the mirror.
Karena kebanyakan bengong pas WFH, aku bisa jadi mencerna apa yang selama ini aku rasakan. Beberapa orang (kecuali dokter, I know they meant well) dan bahkan diriku sendiri, memintaku untuk diet karena nggak suka dengan how I look right now.
Mungkin itu alasan kenapa akhirnya diet-dietku yang sebelumnya nggak pernah berhasil. I want to change my body because I and even others hate it.
Entah berapa puluh artikel tentang self-love atau body positivity yang aku baca, tapi tetap nggak bisa menghilangkan rasa benci ke diriku sendiri. Bahkan skripsiku sendiri mengangkat tema tentang body positivity. Ironis ya, yang menulis tetap belum bisa menerapkan prinsip itu di dirinya sendiri.
Perlahan-lahan, aku bisa mengurai pikiran-pikiran negatif yang mungkin udah berbentuk tali kusut di kepala. Paham kalau ternyata membenci diri sendiri itu jadi semacam mantra yang aku tanamkan tanpa sadar. Mantra ini dipupuk setiap hari dengan kata-kata jahat dan pikiran negatif tentang diriku sendiri dan bahkan oleh diriku sendiri.
Semakin subur mantra ini, semakin sulit pula buat aku untuk mengubah kebiasaan hidup. Stress-eating, takut untuk mencoba kebiasaan baru yang lebih baik, takut orang akan komentar ini itu, takut kalau nggak akan berhasil—padahal belum ada yang dimulai. Padahal, pasti ada hal lain yang lebih penting kalau benar-benar mendengarkan suara hati sendiri yang paling lirih.
Our body knows what we really need, what we really want to do. Klise ya, tapi aku berusaha pelan-pelan mendengarkannya.
Finally, about three weeks ago, I have found that teeny tiny, softest voice inside myself. I want to start to love myself just enough.












