Seseorang tidak bercerita, tapi diam-diam mengadu kepada Rabb-Nya.
Akan kuhadapi semuanya, tapi berdoa dulu, "Ya Allah tolong bersamai dan bimbing aku, Ya Allah"
Bandung, 20 Januari 2025
20/365 | @monicasyarah

#extradirty
AnasAbdin
we're not kids anymore.
One Nice Bug Per Day

JBB: An Artblog!

tannertan36
Mike Driver
Three Goblin Art
noise dept.
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

No title available

PR's Tumblrdome
Today's Document
Misplaced Lens Cap

No title available
trying on a metaphor
Xuebing Du
tumblr dot com
Cosimo Galluzzi

seen from Singapore

seen from Australia
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Belarus
seen from United States

seen from United States

seen from Italy

seen from France
seen from Japan

seen from Italy
seen from Azerbaijan

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from France

seen from United States
@pramestirain
Seseorang tidak bercerita, tapi diam-diam mengadu kepada Rabb-Nya.
Akan kuhadapi semuanya, tapi berdoa dulu, "Ya Allah tolong bersamai dan bimbing aku, Ya Allah"
Bandung, 20 Januari 2025
20/365 | @monicasyarah
Dua Kebiasaan yang Penting Sebelum Menikah
Ada dua kebiasaan yang menurut saya penting buat mulai dibiasakan sebelum memutuskan berumah tangga; 1) Biasakan untuk mengembalikan barang setelah menggunakan, dan 2) Kalau lihat sesuatu yang nggak seharusnya (lantai kotor, ruang tamu berantakan, dsb), segera ambil tindakan.
Berumah tangga itu tidak sesederhana berbagi peran, 'ini tugasmu, ini tugasku', tetapi juga tentang bagaimana membangun kesadaran bersama bahwa, untuk mencapai tujuan bersama, rumah tangga yang harmonis misalnya, wajib didasari kepekaan dan tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya. Setiap anggota keluarga.
Jika setiap anggota keluarga, tersekat pada tugas dan tanggung jawabnya masing-masing tanpa adanya kesadaran dan kepedulian untuk membantu satu sama lain, harmoni dalam rumah tangga tidak akan tercapai. Begitulah yang Umi ajarkan.
Kenapa dua aktivitas tersebut menurut saya penting?
Mengembalikan barang ke tempat asalnya tidak hanya soal menjaga nilai estetika rumah, melainkan ada makna mendalam tentang tanggung jawab dan kepedulian. Ketika kita memahami bahwa setiap barang memiliki tempatnya, kita belajar bahwa segala sesuatu di dunia ini bekerja dengan harmoni ketika berada pada 'fitrahnya' atau posisinya yang semestinya.
Saat sesuatu keluar dari fitrahnya, ia sering kali menjadi penyebab kekacauan atau kerusakan. Contohnya, barang yang tidak dikembalikan bisa mengganggu kenyamanan, menciptakan kekacauan, dan memicu konflik kecil dalam rumah tangga. Hal ini bisa menjadi pengingat bahwa kealpaan kecil dapat berdampak besar jika tidak segera ditangani.
Lalu, kebiasaan segera bertindak saat melihat sesuatu yang tidak semestinya adalah sebenarnya untuk meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Hal ini saya rasa penting, karena berumah tangga bukan hanya soal “melakukan tugas yang sudah ditetapkan”, tetapi tentang berkolaborasi untuk menciptakan kenyamanan bersama. Ketika kita terbiasa mengambil inisiatif, menunjukkan bahwa kita peduli terhadap kebutuhan setiap anggota keluarga.
Pada akhirnya, pelajaran utama dari kedua habit di atas adalah bahwa harmoni rumah tangga tercapai bukan melalui pembagian tugas yang kaku, apalagi melekat dengan gender, big NO, tetapi melalui sikap proaktif, kepedulian, dan rasa tanggung jawab bersama. Membangun kebiasaan seperti ini sebelum menikah adalah hal yang sangat berharga nantinya, menurut hemat saya.
Kebiasaan sederhana tapi punya pelajaran yang mendalam bukan? ^^ Oiya, tulisan ini saya buat random aja, baru balik ngadep monitor pengen nulis ini aja sebagai pengingat dan agar terus isqtiqomah menjalankannya :D
Aku suka perasaan ini, perasaan tidak berdaya dan membutuhkan Allah.
Walaupun terkadang harus diawali dengan kejadian tidak menyenangkan : entah dari perilaku atau tutur kata orang lain yang tanpa sengaja menyakiti, dari beratnya jalan perjuangan mewujudkan mimpi, atau hal-hal lainnya
Kuakui ketika semuanya mudah seringkali aku lalai dan harus memaksakan diri untuk mengingat Allah.
Semoga pelan-pelan, perasaan merasa butuh ini selalu hadir di hati dalam kondisi apapun. Dalam kondisi mudah, sulit, bahagia maupun sedih.
Karena sejatinya seorang hamba memang selalu butuh Tuhan-Nya, setidaknya untuk menenangkan hatinya.
aku suka perasaan ini, perasaan tidak berdaya dan membutuhkan Allaah.
karena disaat-saat seperti itu aku benar-benar menyerahkan semua urusan hidup dan matiku kepadaNya. lalu hatiku menjadi tenang, sekalipun menangis, kedua mataku memahami bahwa esok hari kedua mataku akan berbinar sebab takjub atas kebaikanNya untuk diri ini.
Allaah, aku kalah...
Dalam hidup ini, mintalah pada Allah.
'Ya Allah, walau sekali seumur hidup, jadikan aku bersujud kerana aku benar-benar bersyukur. Dari ramai hamba-Mu, Engkau takdirkan aku salah seorang yang sujud kepada kebesaran-Mu.
Mohon, ya Allah, jadikan aku punya semangat untuk terus bersujud, kerana aku bangga Engkau yang mengatur seluruh kehidupanku."
"Kamu hanya harus percaya, bahwa selalu ada kesudahan yang baik pada apa-apa yang dilalui dengan melibatkan Allah di dalamnya, seberliku apapun jalan yang ditempuhnya."
"Mari habiskan cinta kita kepada Allah sampai tak ada ruang untuk terluka karena manusia."
@terusberanjak
Bahwa menikah adalah proses memaklumi tiada jeda, tiada henti, seumur hidup, selama itu bukan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip yang selama ini kita pegang, bukan bertentangan dengan syariat, maka buka lah ruang pemakluman bagi pasangan lebar-lebar.
Bahwa menikah adalah ibadah, betul-betul perlu dimaknai dalam-dalam. Bukan hanya sebatas ritual ijab qobul di awal untuk menghalalkan, namun berkesinambungan, bagaimana pernikahan itu harus mengantarkan diri dan pasangan untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik, untuk sama-sama menjadi pengingat agar selalu dalam kebarokahan.
Bandung, 17 September 2024
Memilih yang pilihan kita, mungkin menyenangkan. Tapi memilih yang pilihan Allah, membuat kita selamat.
Bandung, 28 oktober 2024
Mereka yang memperbaiki hubungan dengan Allah, sebenarnya sedang memperbaiki keseluruhan hidupnya.
Jumat, 18 Oktober 2024
The most comforting sentence in Islam:
"If you come to Me walking, I will come to you running."
Sepantasnya tujuan seseorang menikah
Ibnu Utsaimin rahimahullaah, berkata : "Hanyalah sepantasnya tujuan seseorang menikah adalah :
1. Menjalankan perintah Nabi (Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian, yang telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah ia menikah)
2. Memperbanyak generasi Ummat (Sebab banyaknya generasi ummat, diantara perkara yang dicintai oleh Nabi, sebab banyaknya keturunan ummat adalah sebab kekuatan dan keperkasaan ummat—kemudian beliau membawakan surah Al-A'raf : 86 dan surah Al-Isra' : 6)
3. Menjaga kemaluannya dan kemaluan pasangannya, menundukkan pandangannya dan pandangan pasangannya. Kemudian, setelah itu, memenuhi syahwatnya. "
((Syarhul Mumthi))
Dan beberapa kajian ringkas dari para ulama juga menerangkan tujuan pernikahan :
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri : Jadikan tujuan pernikahan untuk mendapatkan kebahagiaan dan hidup abadi di kampung akhirat, ya, menikah untuk hidup abadi di Surga.
Ustadz Nouman Ali Khan : Hal yang paling utama dari segala hal dalam tujuan pernikahan, Allaah berfirman : Dia menjadikan kalian sepasang suami istri untuk tujuan mendapatkan ketenangan, tujuan berumah tangga itu bukan cinta, cinta itu datang dari Allaah, Tujuan kalian berumah tangga adalah kalian mendaaptkan ketenangan dan rasa damai. (QS.Ar -Rum ayat 21)
Ustadz Khalid Basalamah : Menikah harus niatnya karena ibadah, karena kalau niatnya selain ibadah, tidak ada pahalanya, rugi saja. Orang menikah itu bisa perhari ada pahalanya, asal niatnya karena 'ini perintah Allaah'.
Semoga Allaah beri kemudahan kepada siapapun yang ingin menikah, agar memperbaiki niat dan tujuan menikah tersebut, yakni ingin menyempurnakan separuh agama, yang semata-mata karena ingin beribadah kepada Allaah Azza wa Jalla, dan terangkumlah kebaikan-kebaikan lainnya, seperti mendapat ketenangan, dan kebahagiaan hingga ke surga-Nya Allaah. Aamiin Allaahumma Aamiin..
Maafnya Allah beda.
Saat seseorang menjadi penting untukmu, betapa ajaibnya keputusannya bisa memengaruhi keputusanmu, opininya memengaruhi pandanganmu, perilakunya memotivasi aksimu. Keberadaannya berarti untukmu. Tidak ada yang salah jika kamu berbuat kebaikan atau sesuatu bermula karena dia. Nanti, suatu waktu ketika kamu terbiasa dengan yang kamu lakukan, kamu akan menemukan alasan utk tetap bertahan meski tanpanya.
Sebab itulah mengapa kita saling dipertemukan. Beberapa orang dipertemukan untuk menjadi ujian satu sama lain. Beberapa lainnya dipertemukan untuk menjadi berkah. Beberapa lainnya berujung pada sakinah dan mawaddah.
Lalu mengapa kita dipertemukan? Entah bagaimana ujungnya nanti, bertemu denganmu adalah satu paket berisi: suka dengan sedikit bumbu duka, harap beserta cemasnya, angan dan takutnya.
Mari meromantisasikan single era dengan tumbuh menjadi perempuan berdaya, berilmu, dan berambisi dunia akhirat.
Kamis, 17 Ramadhan 1445 H.
Gerimis subuh III
Suatu hari mama berkata padaku; Nak dihadapan garis takdir, kita selalu berada diantara persimpangan antara yakin dan ragu-ragu.
Detik ini kita meyakini bahwa Allah pengatur skenario terbaik untuk hidup kita, tetapi satu detik kemudian kita akan mulai mempertanyakan; lalu kapan apa yang kita minta akan Allah perkenankan? Sungguhkah Allah akan mengabulkannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti dua sisi pisau yang kita genggam. Satu sisi tidak melukai sedang disisi lain akan membuat kita berdarah-darah terluka. Satu sisi membuat kita terus berharap akan kebaikan-Nya sedang di satu sisi membuat kita ketakutan jika Dia tidak memperkenankan apa yang kita pinta. Sehingga lahir ketergesaan; kita memaksa-Nya untuk memberi apa yang kita inginkan.
Iman dan islam, membuahkan prasangka baik kepada Allah. Sedangkan keraguan, adalah salah satu bentuk dari ujian kehidupan. Maka mampukah kita menghalau seluruh ragu itu dengan penuh keimanan akan takdir? Ataukah kita malah terseret pada arus prasangka buruk yang akan bermuara pada keputusasaan?
Kita menyadari bahwa diri kita begitu faqir ilmu akan takdir kita sendiri dan begitu lemah tanpa daya serta pertolongan-Nya, namun dilain sisi kita pun seringkali meminta sesuatu pada-Nya tanpa sadar diri akan hal-hal itu, kita seolah merancang takdir kita sendiri—ingin begini dan begitu tanpa menyelipkan rasa keberserahan setelah berikhtiar. Jadi apakah kita telah sungguh-sungguh menggenggam erat iman kita dalam jiwa?
Saat menelisik hidup kita sendiri di masa lalu, kita pun telah menyaksikan dan merasakan dalam banyak peristiwa hidup dan orang-orang yang kita temui, bahwa Allah telah menetapkan segala kapan, siapa dan bagaimana bentuk takdir seringkali diluar nalar akal kita dan apapun ketetapan-Nya pasti selalu mengandung banyak hikmah yang tidak mampu kita ukur dan perhitungkan. Jadi masihkah kita membiarkan arus deras ragu menyeret jiwa kita untuk menyerah berupaya dan membelokkan arah prasangka kita menjadi berburuk sangka?
Maka sepekat apapun ketakutan yang menyelimuti jiwa dan sederas apapun arus ragu berusaha menyeret kita, Semoga Allah yang Maha besar dengan cahaya hidayah dan pertolongan-Nya selalu menyelematkan kita dari keputusasaan akan rahmat-Nya.
Penghujung, 31 Desember 2023 05.42 wita
Bagian dari cinta..
Ini tentang pernikahan. Dua orang yang Allaah tetapkan menjadi satu ikatan bernama pernikahan. Allaah pasangkan dua orang dalam kebaikan dan menjalani hari demi hari dengan berpasang-pasangan.
Namun teruslah ingat, bahwa Allaah menyatukan kedua hati tak lantas keduanya harus terus sempurna tidak ada cela. Tidak, tidak demikian. Rumah tangga Rasulullaah Shallaahu alaihi wassalam pun tak luput dari ketidaksempurnaan.
Oleh karenanya jika setiap rumah tangga nanti engkau menemukan kekurangan ada pada pasanganmu. Nasihat Al-Quran begitu tinggi, yaitu "Sabar". Jangan mudah marah, jangan membesarkan hal-hal sepele. sebab boleh jadi dibalik apa yang tidak engkau sukai, Allaah telah menyiapkan hikmah besar yang tidak pernah engkau sangka-sangka untuk melengkapi kekurangan yang didapatkan di setiap pasanganmu, dan itu bagian dari "taqwa".
Nasihat Syaikh Utsman Al-khamis hafidzhahullaah ta'ala :
"Demi Allaah, ada banyak nasihat tentang rumah tangga. Tapi saya katakan, nasihat terbaik untuk para pasangan suami istri adalah mengabaikan hal-hal sepele. Tidak perlu mempermasalahkan hal-hal sepele. Abaikan dan jalani saja. Tidak ada manusia yang sempurna. Jikalau dalam segala hal engkau selalu menyalahkan pasanganmu. Maka semua yang dia lakukan akan selalu salah dimatamu. Dan siapalah yang hanya memiliki kebaikan saja? Tidak ada sama sekali. Kecuali Rasulullah Shallaahu alaihi wassalam."
Barangkali memang benar ya, dalam rumah tangga itu hal yang kita kira besar akan menjadi ringan bila meminta pertolongan Allaah. Dan hal kita kira kecil, bisa menjadi rumit dan besar tanpa meminta pertolongan Allaah. Maka rumah tangga yang bahagia adalah keduanya saling memberi udzur untuk satu sama lain. Bahwa keduanya adalah manusia biasa yang jauh dari kata sempurna.
Dijadikan menjadi satu sama lain tidak lain tidak bukan untuk melengkapi kekurangan dan kelebihan yang telah dimiliki. Memahami bahwasanya rumah tangga adalah ibadah terlama yang mana untuk menjalankannya dibutuhkan sabar. Sabar tidak hanya dilakukan ketika ditempat ujian, namun juga kala menjalankan ibadah kepada Allaah. Itulah mengapa sabar tidak hanya berdiam diri saja tidak melakukan apapun. Sabar ridho dengan apapun yang telah ditetapkan namun terus berikhtiar hingga selesai.
Sabar itu adalah upaya, jika hari ini engkau menemukan sabar itu ada pada pasanganmu. Maka banyaklah bersyukur. Bersyukurlah kepada Allaah bila hari ini pasanganmu begitu berupaya ingin membahagiakan mu dengan cara-caranya yang untuk ukuranmu mungkin terlihat sederhana. Sebab kau tidak akan pernah tahu semaksimal apa upaya yang telah ia lakukan untuk memberikanmu sebuah kebahagiaan.
Tidak ada pasangan yang saling bertemu karena Allaah yang tidak saling berupaya untuk memberikan yang terbaik. Maka bila hari ini kau mendapati pasanganmu begitu berupaya sekali untuk memberikanmu kehidupan yang layak. Maka cara terbaik untuk membalas kebaikannya adalah dengan mendoakan kebaikan untuknya, bersyukur kepadaNya dan berupaya semaksimal mungkin untuk mengupayakan hal yang sama kepadanya. Dengan cara melakukan yang terbaik pada perannya masing-masing.
Sabar, saling memberi udzur dan memaafkan pada hal-hal sepele. Akan mendatangkan ketenangan dan kebahagian bagi satu sama lain. Allaah akan hadirkan rasa itu kepada rumah tangga yang menahan dirinya untuk marah sekalipun ia sangat mampu untuk melakukannya namun ia tahan dan bersabar sebab Allaah yang perintahkan.
Tidak pernah ku lihat sebuah cinta yang lebih indah dari sebuah pernikahan yang dilandasi rasa takut dan cinta karena Allaah. Sebab sekecil apapun yang diupayakan dalam sebuah biduk rumah tangga akan selalu bernilai ibadah disisiNya.
Ya Allaah berkahilah setiap rumah tangga yang didalamnya saling mengupayakan kebahagian satu sama lain. Labuhkanlah cinta diantara keduanya di surgaMu nanti. Sebuah tempat yang tidak lagi menemukan rasa sakit dan sedih. Aamiin..
Mendoakan bagian dari cinta, dalam perjalanan menuju rumah || 10.45