Mengapa kita harus nahi munkar?
Seringkali orang menyampaikan kebenaran, dianggap menjadi yang paling benar sendiri. Tapi, statement ini gak nyambung. Padahal sudah jelas yang disampaikan bukan dari orang tersebut, melainkan sabda Rasulullah.
Banyak orang, ketika ada nasihat-nasihat akan bahayanya syirik, langsung antipati; langsung merasa dihakimi secara personal. Padahal, apa yang para dai dakwahkan tidak keluar dari perkataan Rasulullah atau firman Allah. Seseorang hanya menyampaikan sebuah kebenaran yang ada dasarnya. Itupun dengan cara yang baik.
Namun, sebagian orang malah risih karena hal tersebut membuat perpecahan umat. Padahal perpecahan dan perbedaan itu niscaya, Nabi Muhammad telah bersabda dalam hadits, yang diriwayatkan beberapa perawi salah satunya Abu Dawud, bahwasannya umat manusia terbagi menjadi 73 golongan.
Mencegah perbuatan syirik ialah bukti tauhid seorang hamba, merupakan hal dasar yang harus dipegang kuat oleh seorang muslim, yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi. Para sahabat yang masuk Islam terlebih dahulu, butuh bertahun-tahun untuk belajar dan menanamkan tauhid. Apalagi kita?
Jikalau dakwah hanya seputar bersabar, bersyukur, atau mengajak kebaikan, kapan manusia saling mengingatkan bahanya sebuah kemunkaran? Bukankah nasihat tidak hanya amar ma'ruf, namun juga nahi munkar?
Banyak dari kita enggan melakukan nahi munkar karena takut dibenci orang lain. Padahal Allah menyeru para hamba-Nya untuk berbuat amar ma'ruf dan nahi munkar. Amar ma'ruf ialah mengajak pada yang baik. Sedangkan nahi munkar ialah melarang pada hal-hal yang tidak baik.
"Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar"
Kita mengingatkan teman untuk tidak korupsi di perusahaan juga termasuk nahi munkar. Kita mengingatkan orang lain untuk tidak berzina juga nahi munkar. Dan ini bukan hanya tugas seorang ustadz atau ustadzah, melainkan semua umat muslim.
Semoga hati kita selalu lapang dalam menerima nasihat, karena setiap bani Adam tentu tidak lepas dari kesalahan. Dan sebaik-baik pendosa ialah yang bertaubat (iqtibas dari hadits riwayat tirmidzi, ibnu majah dan hakim)
Buntok, 7 Oktober 2021 | Pena Imaji