Setelah sekian lama tidak membuka si tumblr, lama tidak menulis, akhirnya terglitik menulis karena post mbak @jagungrebus .
Di tahun 2018, aku mentarget pada diri sendiri untuk bisa menikah di tahun 2019, sekalipun itu di 31 Desember 2019. Alhamdulillah Allah kabulkan di 3 Agustus 2019.
Tapi jangan salah harapan itu juga ada di tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2018, 2017, 2016, 2015. Deretan tahun penuh penantian dan harap plus tekanan dari banyak pihak. Sejujurnya aku bukan tipical orang yang ingin segera menikah, bukan karena takut tapi lebih merasa mampu sendiri. Awalnya pertanyaan
"Kok sendiri, mana calonnya?" "Kapan ini nyusul? Betah amat sendiri." "Kamu kebanyakan pilih-pilih sih, mau yg kayak apa sih" "Kapan nikahnya?"
pertanyaan setipe yang awalnya tidak kugubris dan hanya dijawab dengan senyum dan harapan doa dari sang penanya. Tapi percayalah, semakin lama pertanyaan macam itu diutarakan walaupun sedikit pasti akan jadi terpikirkan ditambah lagi pertanyaan itu dari inner circle kita.
'Kerja sudah, jabatan ada, mau cari apa lagi sih setelah ini?'
Akhirnya pertanyaan itu muncul juga di kepala batu ini. Serasa hidup monotone, Tau akan kemana tapi ada rasa bimbang untuk menentukan jalan mana yang sebaiknya dipilih. Saat itulah baru menyadari adanya teman hidup itu penting. Maafkan diri ini yang sombong merasa bisa apapun sendiri. Padahal tanpa Allah kita mah apaan kan ya .
Di tahun tersebut mulailah diri ini terbuka dengan laki-laki. Karena single dari lahir, sulit buatku untuk proses pengenalan. Dan akun tidak ada rencana pacaran. Bagi sebagian orang pacaran bisa jadi media untuk saling mengnal tapi buatku, pacaran termasuk wasting time dan perasaan. Alhamdulillah, Allah beri lingkungan yang baik dan dikenalkan dengan orang-orang baik.
Tapi yang perlu diingat orang baik belum tentu yang terbaik untuk kita.
Allah temukan dengan orang-orang baik melalui perantara orang-orang terdekat. Harapan demi harapan silih berganti menjadi kecewa saat semuanya tidak berjalan sesuai ekspektasi. Lelah? tentu. Tapi bukan berarti berhenti. Memang tidak mudah untuk menghilangkan perasaan kecewa. Rasa takut juga timbul seiring dengan kekecewaan yang hadir. Memang benar ya, saat kita mulai berharap dengan yang selainNya hanya kekecewaan yang di dapat. Tapi Allah tidak mungkin menghadirkan orang-orang tersebut tanpa alasan. Pasti ada pembelajaran yang bisa kita ambil dari kehadirannya. Setiap orang yang hadir dalam hidup kita pasti punya perannya masing- masing, sekalipun hanya bertemu di persimpangan dan berpisah setelahnya. Itu yang menjadi peganganku untuk tetap positif.
Tidak mudah memang tapi bukan berarti tidak mungkin. Kita butuh waras untuk bertemu orang waras. Perbanyak sabar dan solat sebagai penolong kita. 😁
Setelah itu di Januari 2019 tiba-tiba orang yang selalu bilang 'karir kamu masih bagus kedepannya ngapain sih mikir nikah' menawarkan sebuah nama, dengan penjelasan panjang lebar dan tinggi tentang orang tersebut. Hal yang di khawatirkan adalah orang itu tinggal di pulau sebrang. Yang terpikirkan apakah orang tua akan memperbolehkan, karena selama ini orang tua ingin dekat dengan anaknya. Setelah meminta izin, Acc berkenalan didapatkan. Terbanglah lelaki itu ke kotaku untuk bertemu. Hanya ngobrol 30 menit berisi konfirmasi soal diri, keluarga, visi dan misi. Dibekali solat istikhoroh di bulan Maret 2019 datanglah mengkhitbah dan di acc keluarga. Karena satu dan lain hal akhirnya pernikahan baru bisa terlaksana di Agustus 2019.
Dari dikenalkan oleh orang tak terduga, mendapat restu orang tua yang dirasa tidak mungkin, dimudahkan semua prosesnya. Sampai terpikirkan, semudah inikah prosesnya? kalau memang sudah waktunya dan
Ternyata kalau menurut Allah dia orang yang tepat, insyaAllah Allah akan mudahkan jalannya.
Singkat perkenalan memang. Apakah menikah karena cinta? Pada saat itu tentu belum. Kami bersepakat untuk membangun cinta bersama. Lalu apakah sekarang kami bahagia? Sedang menikmati proses perkenalan setelah menikah dan adaptasi bersama. Apakah dilema selesai setelah menikah? Tentu tidak.
Proses hidup masih berlanjut. Masih ada pertanyaan 'Udah isi belum? kok nunda sih. ' dsb. Hahahaha
Qadarullah masih dalam ikhtiar dan berproses. Pada saat yang menurut Allah terbaik untuk kita pasti akan Allah beri, apapun itu. Tugas kita sebagai hamba berikhtiar dan berdoa kan??
Soal anak, jodoh, sama halnya dengan maut. Kapan? Dimana? Bagaimana?Allah yang menentukan, allah yang punya kuasa. Yang bisa kita lakulan adalah berusaha dan berdoa. Dan jangan lupa untuk selalu berusaha berkhusnudzon kepada Allah, Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hambanya.
Aku pun masih berusaha untuk selalu bisa berkhusnudzon kepada Allah.
Yuk mari kita berproses bersama dan saling mendoakan yang terbaik untuk semunya. Semoga Allah selalu beri yang terbaik untuk kita.
_Pekanbaru, 13 Desember 2019 pukul 23.23_