Aku lelah argghhhh

tannertan36
Fai_Ryy
Noah Kahan
cherry valley forever
RMH
hello vonnie

roma★
he wasn't even looking at me and he found me
Monterey Bay Aquarium

Janaina Medeiros

oozey mess

❣ Chile in a Photography ❣
NASA
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

if i look back, i am lost
Mike Driver
sheepfilms

blake kathryn
Cosmic Funnies
occasionally subtle
seen from Sweden
seen from France
seen from Tunisia

seen from United States
seen from Iraq
seen from Iraq
seen from Iraq
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from South Africa

seen from United States
@real-manusia
Aku lelah argghhhh
Memiliki perasaan yg fluktuatif itu harus pandai-pandai mengelolanya, apalagi pria, calon imam dalam rumah tangga.
Terkadang hanya karena hal sepele seperti mengajak seseorang untuk bermain game aja bisa langsung down. Hanya persoalan alasan penolakan yang rasanya gak masuk akal. Bisa seketika ingin menutup semua akun yg berhubungan dengannya. Aneh sekali.
Tapi alhamdulillahnya, pelan-pelan dan pasti sekarang bisa mengabaikan rasa itu.
Karena....
Masih banyak rencana yang sedang menunggu untuk diselesaikan, masih banyak mimpi yang sedang diraih,
Dan juga...
Seorang calon imam rumah tangga yang baik itu tidak boleh mudah terbawa oleh perasaan sesaat. Ditambah jalan hidup yang telah kupilih adalah menjadi Bussinessman yang sukses.
Kalau sekedar menjadi orang biasa boleh boleh aja baper karena bapernya untuk dirinya sendiri.
Sedangkan...
Bapernya bussinessman berimbas untuk seluruh usahanya.
Maka...
Akan ku kendalikan perasaan sesaat itu dengan sempurna. Memang kesempurnaan itu hanyalah milik Tuhan,
Karena itu...
Akan kukembalikan semuanya kepada Tuhan.
Nikmati saja
Happiness is not an absolute value. It is a state of comparison.
Zadie Smith, NW (via quotespile)
It’s so hard to forget pain, but it’s even harder to remember sweetness. We have no scar to show for happiness. We learn so little from peace.
Chuck Palahniuk, Diary (via quotespile)
Projek diri sendiri,
UNITY
Tutorial #17
[Digugu dan Ditiru]
Membayangkan sepuluh atau dua puluh tahun lagi, saat semua pengetahuan bisa didapat dengan mudah di internet. Ketika ruang kelas bisa di ganti dengan google class, begitupun dengan guru yang perannya bisasaja digantikan secara penuh oleh google. Lalu masih pentingkah ada sekolah dan masih perlukah ada guru?
Sejak sebagian besar lini kehidupan kita diambil oleh teknologi, saya selalu percaya kalau pengetahuan bukan lagi hal utama dalam pendidikan. Karna dengan mudah sekali pengetahuan itu didapat tanpa perlu guru sekalipun. Yang saya yakini, sehebat apapun teknologi sisi humanis dari seorang guru lah yang tidak akan bisa diduplikasi sama sekali.
Teknologi mungkin bisa mentransfer pengetahuan dengan sangat baik, tetapi hanya seorang guru lah yang bisa mentransfer kepriadian dengan sangat baik. Karna memang begitu kan fungsi pendidikan, bukan hanya sarana untuk membuat pintar seorang murid saja, tetapi juga memanusiakan manusia.
Maka, saya terus percaya bahwa sekolah dan guru akan selalu ada. Karna kepribadian tidak bisa hanya diajarkan, tetapi juga harus dicontohkan. Maka mungkin, sepuluh atau dua puluh tahun kedepan, standar seorang calon guru bisa lulus dari Fakultas Pendidikan bukan karena nilai IPK nya yang tinggi, barangkali akan dinilai dari nilai luhur dan budi pekerti yang ia miliki. #guru #sekolah #murid #pendidikan #ceritapm https://www.instagram.com/p/CBqNk5oAvpk/?igshid=10c16wh098wq8
Percayalah! Kamu Hebat :)
Pernah tidak sih kamu ngerasa kalau kamu itu payah, tidak berharga, atau rendah gitu. Apalagi melihat teman-teman seusiamu yang sukses dapat kerja bagus dan punya penghasilan besar, pokoknya wah banget gitu. Mungkin kamu bakal ngerasa rendah dan nganggep bahwa kamu itu tidak berguna kan.
Hei kawan, hidup ini "sawang sinawang" istilah jawanya. Apa yang kamu lihat dan kamu bayangkan akan kesuksesan temanmu itu mungkin tidaklah semanis kenyataannya. Merekapun memiliki masalah yang bisa jadi jauh lebih berat dari masalah yang kamu pikul saat ini. Tapi mereka sabar dan terus sadar bahwa bahkan sehelai daun yang gugur di tengah hutan pastilah ada yang menetapkannya. Dan tahu gak kamu siapa yang menetapkan mereka berguguran? Dan bahkan Sang Penguasa pun percaya bahwa daun yang berguguran pun sanggup melewati takdirnya karena ia hebat. Anggeplah ya kalau kamu adalah daun tersebut. Jadi kamu harus percaya juga dong bahwa kamu hebat!
Hei kamu! Percayalah pada dirimu sendiri, percayalah kamu itu hebat. Tugasmu kini bahagialah, bersyukur dengan diri yang kamu miliki saat ini. Bahagia itu letaknya ada di hati lo. Bersyukur ya dan tetap ikhtiar agar kamu meraih sukses baik dunia maupun di akhirat nanti :)
.
.
By_real-manusia
Arti sebuah gelar?
Sebuah tanya yang sedang menyelimuti pikiranku ini, banyak sekali kulihat orang-orang menghabiskan waktu dan tenaganya demi memperoleh sebuah gelar. Mulai dari gelar keilmuan dunia tingkatan diploma hingga professor maupun gelar keilmuan agama. Lantas apakah arti dari gelar itu? Siapkah mereka untuk mempertanggung jawabkannya seumur hidup mereka?
Mudah-mudahan saja aku berharap agar gelar itu tak hanya menjadi khayal yang membebani mereka di kemudian hari.
Tertipu
Kemarin aku menangis karena dosa maksiat yang selama ini kuperbuat,
Kemarin aku menyesal dan ber azzam ingin bertaubat dari maksiat,
Kemarin aku merasa Takut akan adzab Allah yang pedih karena maksiat.
Hari ini aku merasa haus akan ilmu,
Hari ini aku menangis disetiap sujud,
Hari ini aku rajin datangi majelis ilmu untuk mengangkat kejahilan dalam diriku
Esok,,
Aku lebih shalih dari mereka,
AKU lebih suci dari pelaku maksiat itu,
AKU lebih bertauhid dari orang orang sesat, ahlul bid'ah dan musyrik sesat itu,
Mereka adalah ulama ulama suu' penyeru kesesatan,
Mereka adalah da'i da'i sesat penyeru jahannam...
Namun ketika hari itu tiba,,
hari dimana semua anggota tubuhku berbicara,,
Hari dimana tak satu makhluk pun yang mampu bersembunyi dari Nya.
Hari itulah penyesalan terbesarku sudah tiada artinya,
Semua hijab kepalsuanku tersingkap,
Semua tabir kemunafikan dalam hatiku terpampang dengan telanjang,
Saat itulah aku baru menyadari bahwa dosa maksiat yang ku sesali dulu tidak ada apa apanya dibanding dosa atas lisanku kepada para shalihin,
Dosa maksiatku tak ada apa apanya dibanding dosa buruknya akhlakku pada para ulama dan para Waliyullah,
Dosa maksiatku ternyata tidaklah sebesar dosa ujub dan kesombongan yang mengeras di qalbuku...
Sungguh aku tertipu,,
Aku tertipu Hijrah palsu ku,
Aku tertipu amal shalih ku,
Aku tertipu oleh keAKUanku,
Andai waktu bisa diputar....
Orang bijak berkata : Jatuh cintalah pada mereka yang engkau rela patah hati karnanya. Karna memang orang yang paling kita cintai adalah orang yang nantinya paling sering membuat kita patah hati.
Wisuda
Salah seorang proffesor pernah berkata pada kami, kurang lebih begini, “wisuda itu biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Berkali-kali saya telah mengalaminya (bahkan boleh jadi, entah sudah berapa ribu wisudawan yang telah beliau salami). Lihat orang-orang itu, tampaknya bahagia sekali. Padahal, dari sekian banyak orang, siapa diantara mereka yang bisa menjawab dengan baik “apa yang akan saya lakukan besok?” atau “siapa saya besok?”. Kalian tahu, hanya menambah daftar panjang pengangguran, juga orang-orang omong kosong yang dulu berteriak-teriak idealisme dan sendirinya menjadi budak di perusahaan asing, yang dulu berteriak-teriak mengkritik pemerintah dan sekarang menjadi bedebahnya. Atau bahkan mereka yang terus mengejar gelar tanpa tujuan tanpa pengabdian. “ini cuma urusan perut, bung !”, kata mereka”. Aku tersentak dalam hati. Tertampar dengan perkataan tersebut. Aku saat itu sekitar semester 5. Bahkan, saat itu aku belum bisa menjawab, seandainya tidak sedang kuliah, aku tidak tahu mau jadi apa aku kalau bukan mahasiswa. Pernah ku coba ngobrol dengan beberapa senior, tampaknya memang apa yang diucapkan professor tadi seperti yang terjadi dilapangan. Realita tampaknya bukan lagi tempat main anak-anak. Kerasnya hidup bisa melunturkan idealisme, menutup mata hati, menghambarkan jiwa, bahkan suara perut keroncongan bisa menutup teriakan rakyat yang telah membiayai kampus perjuangan ini.
2 Februari 2015.
Aku mengambil toga. Astaga, wisuda (yang biasa itu) sebentar lagi ! Jujur,aku tidak sebahagia itu. Ada kekhawatiran yang terbesit. Tidak ada lagi mata kuliah yang bisa kupilih, tidak ada lagi tugas, atau kegiatan kemahasiswaan lain, sehingga tidak ada jadwal yang harus kuikuti. Aku harus membuat jadwalku sendiri. Bahkan, ya ampun, aku sudah tidak bisa membedakan hari, semua terasa sama saja. Waktu terus berjalan. Melihat orang-orang yang sibuk dengan hiruk pikuk persiapan wisuda, terutama perempuan mungkin. Mencari pakaian, menghubungi sanak famili, dan lain-lain. Bahkan sebelum wisuda, mulai beberapa orang dekat mengucapkan selamat atas kelulusanku. “S.T.” katamu? Itu lebih terdengar seperti “Hei, ayolah, hutang-hutangmu, apa lagi? Tidakkah kau harus membayarnya?”. Jangankan “S.T.” ini, hidup itu sendiri sudah sebuah hutang, kita harus membayarnya nanti di akhirat. Aku semakin khawatir, apakah “S.T.” ini bisa kupertanggung jawabkan dengan baik? benarkah aku lulus? Atau cuma lolos? Kau tahu, kau bisa lolos dari kampus, tapi tidak dari kenyataan hidup. Selain ini, aku sangat tahu, kampus ini menyandang nama Negara, sebuah kehormatan memang. Pun sebaliknya, sebuah kehinaan ketika tidak dapat menjaga nama baiknya. Tidak hanya kampus ini, keluargaku juga punya nama baik yang harus di jaga.
“Hidup mu terlalu murah jika hanya untuk menggapai apa yang kau inginkan untuk dirimu sendiri“ Gurunda
7 Februari 2015.
Tak bisa dipungkiri, hari ini akan tiba. Akhirnya, aku memasuki gedung tempat diselenggarakannya upacara wisuda. Sial ! Mungkin panitia sengaja menempatkan lokasi wisuda tepat sama dengan lokasi ketika pendaftaran awal mahasiswa baru. Tiba-tiba, kenangan-kenangan masa lalu bermunculan, ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini. Tidak, bukan kenangan, tapi kebahagiaan dan rasa syukur yang terulang kembali. Mengingat tidak semua orang bisa diterima untuk mengenyam pendidikan di sini. Dan sekarang ku teringat, bahkan tidak semua yang kuliah di sini bisa berakhir dengan wisuda. Ya, tidak semua. Wisuda memang bukanlah jalan yang harus ditempuh, tapi setidaknya, sebuah jalan yang harus di syukuri. Semua kekhawatiranku semakin sirna ketika orang-orang terpenting dalam hidupku ternyata masih ada dan masih bersama ku. Orang tua, sahabat-sahabat, mereka semua masih lengkap. Dan, mereka semua masih ada untuk ku. Sebuah kesyukuran yang luar biasa. Aku mengakui, wisuda memang tidak pantas untuk sekedar dijadikan sebuah perayaan kosong. Ini adalah momen sebuah kesyukuran, bahwa dari sekian banyak orang, tidak semua orang kuliah. Dari sekian banyak yang kuliah, tidak semua di kampus ini. Dari yang kuliah di kampus ini, tidak semua berakhir dengan wisuda. Dari semua yang diwisuda, tidak semua bisa menjawab dengan baik “apa yang akan ku lakukan besok?” atau “siapa aku besok?” . Dan dari sekian orang yang bisa menjawab dengan baik pertanyaan tersebut, sedikit dari meraka yang menyadari dan mensyukuri nikmat-nikmat ini dan menganggap semua berlalu begitu saja. Dan juga, ini momen sebuah kesyukuran bahwa orang-orang terbaik dalam hidupmu masih ada dan siap untuk mu, untuk membantumu menghilangkan kekhawatiran-kehawatiran dan ketakutan-ketakutan mu. You will never walk alone, at least, di dunia ini.
“The Magic Words is to be grateful“
Rhonda Byrne
hanya karena
kamu tidak boleh berhenti berkarya hanya karena orang yang kamu harapkan akan ada di sana–menjadi penikmat pertama karyamu–tak ada di sana lagi.
kamu tidak boleh berhenti berkarya hanya karena kamu tidak sedang menjalani mimpimu bersama seseorang yang kamu harapkan akan menemanimu.
kamu tidak boleh berhenti berkarya hanya karena kamu meninggalkan atau melepaskan seseorang yang selalu menjadi semangatmu.
kamu tidak boleh berhenti berkarya hanya karena pecah perasaanmu, remuk hatimu.
kadang kita harus melepaskan seseorang, tetapi kita tidak pernah boleh melepaskan mimpi-mimpi kita. kadang kita harus kehilangan seseorang, tetapi kita tidak pernah boleh kehilangan semangat berkarya kita.
240.
Jika kebenaran adalah sebuah harga mahal, maka kejujuran adalah hal terbaik yang bisa ku berikan sebagai seorang teman.
Jika waktu adalah sesuatu yang berharga, maka memberikan waktu penuh untuk mendengarkan semua yang memenuhi isi kepala dan sesak dadamu adalah kado istimewa yang bisa ku berikan sebagai seorang sahabat.
Aku bukan teman yang baik, sahabat yang tidak pandai dalam mengungkapkan perasaannya. Tapi, bertemu dan mengenalmu adalah salah satu hal terbaik yang ku syukuri di hadapan Tuhan, sungguh!
Tertanda; aku, yang berharap kau sebut sebagai teman.
Sejuk, 08.10 | 19 September 2020.
Tanda-Tanda Harus Memaafkan Diri Sendiri
Terkadang, memaafkan diri sendiri jadi keutamaan yang mesti dilakukan secepatnya. Semua itu karena semua orang gak terlepas dari kekhilafan yang terjadi, baik sengaja atau gak sengaja.
Sebagian orang, melemparkan kesalahan kepada orang lain atau mencari kambing hitam atas sebuah peristiwa. Padahal, apa yang dilakukan itu akan membuat dirinya selalu merasa gelisah dan gak merasa aman. Lebih-lebih itu akan membuat ia gak mempercayai orang lain.
Alhasil, ia jadi kesulitan untuk bangkit sebab ia merasa bukan salahnya, dan apa yang ia lakukan adalah benar. Untuk itu, kamu mesti mengetahui tanda-tanda kamu mesti memaafkan dirimu sendiri.
1. Saat kamu menyadari mulai kehilangan apa yang kamu miliki
Yang kamu miliki saat ini bisa jadi adalah yang paling kamu cintai, seperti prestasi akademik di sekolah, hewan peliharaan, atau sahabat kecilmu. Ada saat ketika secara tiba-tiba semua hal itu lenyap tanpa memberitahu terlebih dulu.
Ketika nilai rapormu menurun dan kamu diberikan banyak nasihat oleh guru dan orangtuamu, kamu pasti mengecewakan mereka. Namun, kesalahan itu bukan seluruhnya ada padamu. Setiap orang punya rasa jenuh dan setiap orang punya kekhilafan yang tidak disengaja. Yang mesti kamu lakukan tentu memaafkan dirimu sendiri karena ada hal-hal di luar kendalimu.
Begitu pun pada kehilangan hewan peliharaan dan sahabat kecilmu. Kamu bisa memperbaikinya dengan terlebih dulu memaafkan dirimu sendiri.
2. Saat gebetanmu menolak atau mengabaikanmu
Rasa suka atau jatuh cinta itu wajar. Setiap orang cepat atau lambat pasti mengalami perasaan itu ketika beranjak dewasa. Perasaan itu muncul karena kamu sudah bisa menerima kehadiran individu lain di lingkunganmu, dan ada satu-dua yang kamu ingin mengenalinya lebih jauh.
Masalahnya, gak semua orang yang kamu sukai menerima begitu saja perasaanmu. Ada banyak faktor tentunya, seperti belum mengenal siapa kamu. Dan ia akan menolak atau mengabaikanmu begitu saja.
Jika kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, misalnya dengan berbuat baik membantu aktivitasnya, tapi tujuanmu untuk dekat dengan dia gak tercapai, kamu akan merasa sedih. Kamu tentu gak mungkin bisa memaksakan sebuah hubungan tanpa izin dari yang kamu sukai.
Untuk bangkit dari masa kesedihan itu, kamu mesti memaafkan dirimu sendiri. Memaafkan mengapa perasaan suka itu muncul dan memaafkan keberanianmu meskipun hasilnya di luar perkiraanmu.
3. Saat gagal memimpin divisi di tempatmu bekerja
Ada kalanya kariermu sedang cemerlang. Kamu dipercaya memimpin sebuah divisi kecil di perusahaan tempatmu bekerja. Amanah itu kamu dapatkan karena kemampuan dan keahlianmu. Dan kamu mempersiapkan diri untuk menjalani pekerjaan itu jauh-jauh hari.
Mula-mula semua berjalan lancar. Kamu menyiapkan rincian kerja yang akan kamu delegasikan ke setiap anggotamu. Kamu menulis nota-nota kecil kepada setiap anggotamu apa saja target yang mesti mereka capai.
Kamu mengulang dan mengingat-ingat semuanya dengan baik. Kamu merasa semua sudah sesuai rencana dan prosedur. Namun, di akhir program, sebagian besar target yang kamu canangkan gagal diperoleh.
Mencari siapa yang salah bukan sebuah prioritas, sebab itu pekerjaan kolektif dan ada tanggungjawab masing-masing, walaupun secara keseluruhan kamu yang paling bertanggungjawab.
Dan sebagai pemimpin, kamu wajib meminta maaf kepada manajermu dan berjanji akan memperbaiki kesalahan. Semua bisa kamu lakukan asalkan kamu memaafkan dirimu terlebih dulu, bahwa kamu menerima kegagalan itu sebagai pembelajaran.
4. Saat tidak mampu mencapai harapan keluarga
Orangtua, saudara, dan kerabat terkadang menaruh harapan besar kepadamu. Entah itu harapan finansial atau capaian pendidikan tinggi. Wajar saja karena kamu dianggap sebagai harapan keluarga.
Tapi siapa sangka jika kamu gak mampu menanggung harapan itu. Besar kemungkinan kamu merasa mengecewakan mereka. Ujungnya kamu merasa bersalah. Dampak buruknya itu lebih memengaruhi jalan hidupmu.
Maafkan dirimu jika kamu sudah berusaha keras, tapi gagal. Maafkan dirimu jika kamu gak bisa menyisihkan lebih banyak uang gajimu untuk keluargamu. Maafkan dirimu ketika kamu gagal melanjutkan studi dan lebih memilih berwirausaha sesuai passion-mu. Setelah itu, buktikan kamu bisa memberi dengan cara lain.
5. Saat gagal meraih cita-cita
Waktu kecil, kamu punya cita-cita menjadi dokter, pilot, atau hakim. Semua memori itu melekat erat di ingatanmu, dan menjadi muara segala kerja kerasmu dalam belajar.
Ketika beranjak ke tahap SMP, kamu mulai menyadari bakatmu melukis. Kamu banyak menggambar tentang benda-benda alam. Gambarmu bagus dan dipuji oleh teman-teman serta gurumu. Lanjut ke SMA, kamu menjuarai kompetisi mural nasional. Kamu meraih popularitas. Selain itu, kamu mulai yakin pada bakatmu.
Namun, kamu masih ingin menjadi pilot. Di situ kamu dilematis. Hal itu karena kamu sudah mempersiapkan dirimu dengan belajar matematika lebih keras, walaupun kamu setengah hati melakukannya. Berbeda saat kamu sedang melukis.
Akhirnya, yang kamu harus lakukan adalah memaafkan masa kecilmu. Apa yang kamu cita-citakan dulu gak sesuai dengan apa yang kamu inginkan ketika dewasa.
6. Saat gagal dalam pernikahan
Kegagalan yang satu ini sangat gak diinginkan oleh siapa pun. Pernikahan adalah kehidupan baru bagi setiap pasangan. Tujuannya apalagi kalau bukan kebahagiaan yang langgeng. Saling melengkapi satu sama lain.
Seandainya mengalami kegagalan sebab faktor yang kompleks, dan sudah berusaha berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk memperbaiki pernikahanmu, tapi itu gak cukup untuk membuat bahagia, kamu terpaksa berpisah dengan pasanganmu.
Pertama-tama maafkan dirimu jika itu bukan kemauanmu. Saat bisa memaafkan dirimu karena gagal memperbaiki kusutnya masalah pernikahan, kamu akan bisa lebih hidup dalam menjalani hidup baru. Lupakan masa lalu dan hadapi masa depan.
7. Saat terpaksa bekerja jauh dari keluarga
Bagi sebagian orang, terpaksa bekerja jauh dari keluarga. Ada yang bekerja di ibukota, sementara keluarganya ada di seberang pulau. Mereka gak bisa pulang ke rumah setiap hari, minggu, bahkan bulan. Jarak yang jauh memaksa mereka bertahan di kota tempat mereka bekerja.
Kerinduan hangat keluarga selalu membuat mereka ingin pulang. Ingatan tentang masakan ibu atau senyuman adik kecil, membuat mereka menangis sebelum tidur malam. Mereka ingin dekat keluarga, tapi keadaan belum memungkinkan.
Yang ada, mereka harus memaafkan diri karena dengan terpaksa mencari rezeki di kota lain. Harapan suatu saat kembali berkumpul selalu ada di hati. Tapi untuk saat ini, mengumpulkan rezeki jadi prioritas demi masa depan yang lebih baik.
Itulah tujuh tanda kamu wajib memaafkan diri sendiri sebelum berbuat lebih lanjut. Bukankah itu membuat hidupmu jadi lebih menyenangkan?
Titik terendah dalam hidup.
Dalam hidup ini, kita pasti pernah ada di titik terendah, titik dimana apapun yang terjadi hanya tentang sedih, sendiri, menangis, dan masalah. Kamar tidur dan kamar mandi menjadi dua tempat pelampiasan. Bantal, guling, selimut, kaca lemari, keran air menjadi teman-teman yang tidak pernah meninggalkan. Bicara dengan diri sendiri? Sering. Melamun? Jangan ditanya lagi. Menyalahkan diri sendiri? Selalu terbesit di kepala. Ingin secepatnya keluar dari fase ini? Harapan setiap hari.
Seperti tersesat, dan selayaknya orang tersesat, kita hanya membutuhkan jalan keluar, dan barangkali jalan keluar itu tidak jauh, tapi ada di dalam diri kita sendiri. Ada di kepala kita, hati kita, keyakinan kita, keinginan kita. Kita hanya perlu kembali ke dalam diri kita sendiri, memahami tentang apapun yang terjadi saat ini adalah kejadian yang memang beginilah hidup. Jatuh akan jatuh, bangung akan bangun, rendah akan rendah, tinggi akan tinggi.
Hidup akan selalu berputar pada poros kenyataan-kenyataan yang ada kita di dalamnya. Barangkali memang sulit, tapi sulit bukan tidak bisa kan? Kita harus yakin, bahwa semuanya ada waktu sembuhnya masing-masing. Untuk melawan ketakutan, kita harus menghadapi ketakutan itu, yang tidak semenakutkan itu. Semua bisa sembuh, semua akan sembuh, semua pasti sembuh. Di mulai dari kepala.
Revisi Skripsi
Pukul 00:43
Mataku masih terjaga meskipun malam sudah semakin larut. Mengingat masih ada kewajiban yang mesti aku selesaikan dan dituntaskan malam ini apapun yang terjadi. Aku akan terus mengobarkan api semangat di dalam hatiku, lalu mengeksekusi sesuatu yang terbaik. Sabarlah diriku, karena kamu adalah diriku. Aku yakin kamu mampu menuntaskannya, bismillah!