Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Cosmic Funnies
Sweet Seals For You, Always

Janaina Medeiros
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

No title available
Fai_Ryy
he wasn't even looking at me and he found me
Today's Document
d e v o n
Jules of Nature

tannertan36

Discoholic 🪩

PR's Tumblrdome
🩵 avery cochrane 🩵
sheepfilms
wallacepolsom

⁂
Game of Thrones Daily
almost home

seen from Russia

seen from United Arab Emirates

seen from Brazil
seen from United States
seen from Iceland
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Philippines
seen from Portugal
seen from South Africa

seen from Malaysia
@redixcover-blog
Suatu kolaborasi vokal yang sempurna akhirnya terjadi antara Jarryd James dan Georgia Nott 'Broods'. Lagu ini adalah lagu lama yang Jarryd tidak yakin 1000% untuk dirilis. Barulah saat didengarkan bareng mbak Georgia, mereka merasa lagu ini cocok buat diduetkan. Maka terjadilah sebuah lagu romantis apalagi ditambah perpaduan vokal soul dari Jarryd dan lembut dari Georgia, yang menghasilkan chemistry yang sangat intim diantara keduanya. Lalu Jarryd semakin mantap memasukkan lagu ini dalam albumnya berjudul 'High' yang rilis tahun 2016.
Cocok didengerin pas turun salju, sambil nyetir, di jembatan Suramadu
Duo tokoh indie-electronica ini akhirnya kembali dengan karya baru sejak terakhir aktif tahun 2014. Mereka dibantu lagi sama Emma Louise yang sempat muncul di lagu "Two Bodies" dari album 'Down to Earth'.
Vokal Emma Louise yang menghipnotis dan menggemaskan menjadi elemen penting dari lagu ini. Karena sebenarnya musiknya agak monoton dan belum bisa menyaingi lagu-lagu Flight Facilities terdahulu. Tapi cukup mengobati rindu para fansnya.
Tapi kabarnya mereka punya simpanan sekitar 60 karya yang siap mereka hempaskan ke khalayak ramai. Dibuktikan saja di proyek mereka nanti_#redixcover #flightfacilities #indieelectronic @flightfac
Tak ada tempat seperti rumah, mungkin begitu yang tertanam di benak Adhitia Sofyan ketika meramu lirik dan musik dalam album terbarunya yang berjudul '8 Tahun'. Setelah 'bermain - main' agak jauh di album 'Silver Painted Radiance', Adhitia Sofyan kembali ke pekarangan yang dia kenal dengan sangat baik, akustik dan sederhana, seperti awal dia memulai 'Quiet Down' dan 'Forget Your Plans'.
'Sesuatu di Jogja' adalah sebuah komposisi yang menghibur. Lirik yang bercerita, petikan gitar khas sang seniman beradu manis dengan vokalnya yang berat dan menenangkan, membuat lagu tentang sebuah kerinduan ini terdengar begitu intim namun jenaka. Aransemennya sendiri sedikit mengingatkan pada track pertama di 'Forget Your Plans' berjudul 'Forget Jakarta', mungkin bagi Adhitia Sofyan, kota - kota yang penuh kenangan bisa tergambar pada nada - nada seperti ini
Adtria Fachri dalam bentukan one-man bandnya yang bernama Vvachrri kembali menghadirkan single keren, masih dalam rangkaian rilisan EP nya yang berjudul 'Kitten Empire".
Setelah begitu menjanjikan dalam dan 'Steve The Dragon Slayer', aura nu gaze/emo rock/alternative kembali menghajar telinga seketika lagu terbarunya yang berjudul 'Woolf//It's Holocaust Bruno' dimainkan. Masih terdengar depresi dan malas, tapi keras dan mendalam, Vvachrri ada untuk penyuka musik - musik sejenis Turnover atau Basement
Sebuah kata mutiara yang terkenal bilang 'never stop learning, because life never stop teaching' , mungkin adalah mendasari kolektif asal Malang, Tiga Segara dalam mengkreasi lirik di lagu 'Sejenak Selamanya'.Tidak terbatasnya kejadian dalam hidup seringkali menjadi sumber inspirasi paling luas untuk para seniman menciptakan karyanya. Tidak hanya tentang satu unsur, banyak sekali hal yang bisa diangkat dan dipelajari dalam hidup.
Lagu berdurasi 3 menitan ini memainkan tempo yang variatif dan vibe yang relatif mengajak kita bersantai.Tapi entah kenapa, melodi vokal di awal sedikit mengingatkan pada lagu - lagu dari Payung Teduh, mungkin satu influence aja kali ya.
Perkembangan skena musik Surabaya yang semakin variatif, semakin diramaikan oleh hadirnya kembali band pop punk/ alternatif, Manic Monday yang merilis video klip berjudul 'I Know I Can' di akhir April 2017 lalu, sebuah Single yang rencananya bakal masuk di full length album mereka yang berjudul 'Issue'
Single 'I Know I Can' ini harus diakui, seperti band - band ber-vokalis perempuan pada umumnya, membawa aura Paramore era album 'All We Know Is Falling' dengan sedikit pengaruh hardcore punk di departemen drum dan gitarnya. Cukup memompa semangat dan sedikit membantu meluapkan amarah terpendam bagi kaum yang tersakiti, mungkin, karena problematika asmara
'Hurt' masih diambil dari album terbaru unit Rock asal Surabaya, My Mother Is Hero yang berjudul 'Midst', dan jadi video klip ke 3 setelah sebelumnya sempat merilis 'Godless' dan 'Guided Democracy'
Dirilis pada Mei 2017 lalu, video ini digarap oleh Quickart Production mulai dari cerita, konsep, dan lain lain yang sepenuhnya digarap dengan konsep yang begitu matang. Proses produksi dilakukan selama dua hari, dan dikerjakan di lima lokasi yang berbeda.
'Hurt' sendiri adalah track berdurasi 4 menit 47 detik bertempo sedang dengan emosi yang intens dari segala elemen baik itu vokal maupun instrumen, cenderung berat dan gloomy namun berkelas.
Minimalis romantis tapi keos dan bersahaja menjadi suasana yang terasa di Orange Cafe hari Minggu, 18 Juni 2017 lalu saat launching video klip “Maling” dari Pig Face Joe di Pig Rock Show.
Acara diramaikan oleh musisi-musisi dari berbagai macam jenis, seperti Gimanzz dan Sinatrya, ada juga musik soul yang menghanyutkan dari The Last Suga, rock bergema dari My Mother is Hero, mosh pit saat raungan Fraud dan Headcrusher menghajar, dan yang pasti si empunya acara Pig Face Joe.
Ada ngobrol-ngobrol santai tentang video clip “Maling” yang ternyata merepresentasikan bagaimana tanah milik Indonesia yang dikuasai pihak asing.
Kenyataan memang seringkali tak seindah impian, tapi jika keputusasaan ini dijadikan sebuah lagu, maka "Kolonialisme Bos" dari Dandelions adalah sebuah keindahan minimalis yang sangat asik dinikmati, meskitetap tidak seindah impian
Meneriakkan tentang curhatan dari salah satu buruh pabrik, yang merupakan teman dari sang vokalis, Njet. “Kunting buruh pabrik kerja keras. Keringat deras banting tulang. Mimpi banyak uang, punya banyak istri. Gaji 5 bulan, gajinya gak dibayar. Lakukan protes malah di PHK…” dengan musik Rock n Roll 70an khas Dandelions, terdengar miris, tapi tetap menyenangkan dan keren
Video klipnya pun digarap di momen yang tepat, bersama para buruh yang sedang melakukan aksi di sekitaran Tugu Pahlawan Surabaya pada 1 Mei 2017 lalu. May Day!
Tegas, tajam tapi groovy dan sangat nyaman dinikmati, mungkin definisi yang terpapar di pikiran ketika mendengarkan komposisi bertitel "Muara Murka' dari kolektif asal surabaya, BVAS.
Di sepanjang lagu, BVAS meneriakkan keresahan akan realita kehidupan yang ada sekarang, dimana semakin banyaknya orang – orang mengobral gaya bicara yang berujung dengan tingkat kepalsuan yang tertutupi oleh sajian intelektual. Dihadirkan dengan distorsi berat khas musik stoner/ garage rock yang kasar tapi melodius, komposisi berdurasi 2 menit 23 detik ini adalah anthem yang tepat untuk digeber maksimal di siang hari, tak peduli panas yang mempersulit motivasi untuk menggerakkan diri
Jika di bulan puasa ini beberapa minuman terlihat lebih segar daripada biasanya, maka musik dari band yang satu ini juga tak kalah segarnya. Ini dia 'Your Head as My Favorite Bookstore' sebuah track dari band twinkle emo pop asal ibukota, Eleventwelfth.
Lagu ini terdengar 'fresh' karena segala elemen di dalamnya yang membuat lagu ini terdengar nyaman untuk didengarkan berulang - ulang, petikan gitar dan sound yang digunakan, warna vokal sang vokalis dan tentu saja hadirnya kolaborator dari Barasuara, Asteriska, semakin meningkatkan level kesegaran dari track berdurasi 3 menitan in.
Sepintas petikan gitar diawal lagu agak mengingatkan pada lagu 'Whores Will Have Their Trinkets' dari Arrows atau 'Ghost Dance' dari LITE dengan segala kerumitan musik post-rock/math rocknya. Tapi ketika suara dari sang vokalis mulai masuk menyanyikan baris demi baris lirik, kita akan segera tersadar kalo lagu ini akan sangat menyenangkan untuk dinikmati, simpel tapi teknikal, emosional tapi nyaman untuk telinga
Sempoyongan menjalani tanggal tua? butuh anthem yang merangkum kegalauan dalam suramnya sumber kehidupan? maka resapilah track berjudul 'Some Were Saved Some Drowned' dari Wreikmaster Harmonies.
Diambil dari album 'Light Falls' yang rilis pada tahun 2016 lalu, Wreikmaster Harmonies yang beranggotakan JR Robinson (vocals, guitar) dan Esther Shaw (keyboards, piano, violin, vocals), serta dibantu oleh maestro post-rock, Thierry Amar dari Godspeed You! Black Emperor pada bass akan menghadirkan rasa putus asa yang mendalam yang terbalut indah pada 'Some Were Saved Some Drowned'. Distorsi dengan kord yang melankolis, jeritan patah hati seiring dengan pengaruh doom, ambient, noise dan post-rock yang menyatu dengan mulus akan membawa dimensi baru dalam sebuah desperasi
Muse akhirnya merilis single terbaru sekaligus video clip ‘Dig Down’. Sayangnya ‘dig down’ dianggap sebagai single lepas oleh Muse, dan bukan bagian dari album selanjutnya. ‘Dig Down’ lebih terasa seperti lanjutan single ‘Madness’ dari album ke-6 Muse, The 2nd Law. Didukung pula oleh video clip rasa Resident Evil dan dibintangi oleh Lauren Wasser, seorang model/aktivis yang dalam kehidupan nyata kehilangan salah satu kakinya dalam akibat Toxic shock syndrome yaitu penyakit langka disebabkan infeksi bakteri.
Muse lewat karya-karyanya, selalu ingin membakar optimisme untuk menghilangkan segala macam hal negatif di dunia, bahwa setiap orang harus memperjuangkan apa yang mereka percaya dan manusia bisa merubah dunia bila mau.
Di tengah semakin minimnya pembeda diantara musik dari musisi satu dan lainnya, tidak cuma di ranah pop yang cenderung semakin "asal" memasukkan pengaruh elektronik di lagu - lagu mereka, musik Rock dan Metal juga tidak jauh berbeda, cenderung terdengar mirip satu sama lain.
While She Sleeps adalah salah satu yang relatif terdengar sangat orisinal dan nyaman untuk didengarkan. Nyaman bagi penikmat Rock pada umumnya, dan tidak terdengar lembek untuk penggemar hardcore dan bahkan mungkin metal. "Silence Speaks" ini adalah sebuah track yang solid, flow yang tidak akan gagal untuk mengajak mengangguk - anggukan kepala, distorsi khas musik metalcore, dan harmoni vokal scream and sing yang bersahutan antara Mat Welsh dan Loz Taylor membuat lagu terasa sangat keren untuk didengarkan
Fleet Foxes - “Third of May / Ōdaigahara”
Jika melamun selama 9 menit tidak membuat anda bosan, maka jangan berpikir 2 kali untuk memasukkan lagu “Third of May / Ōdaigahara” dari Fleet Foxes dalam playlist. Dengarkan dengan earphone, dan tataplah kosong ke arah manapun dan masuklah ke dunia penuh rintihan epik Robin Pecknolds dan kawan - kawan
Setelah terakhir kali merilis "Helplesness Blues" pada tahun 2011 lalu, Fleet Foxes kembali dengan menghadirkan komposisi berdurasi hampir 9 menit yang merangkum harmoni yang dimulai dengan vokal beriring gitar akustik dan perkusi lembut yang mungkin bisa membuat hal - hal di depan mata seolah bergerak dengan slow motion. Kemudian di tengah lagu, kita dibawa menuju melankolia yang berantakan, pelan-keras-pelan-keras yang menyenangkan sebelum diakhiri dengan lembut dan menghilang perlahan
Nggak cuma roda kehidupan yang terus berputar tapi roda permusikan juga. Style musik tahun 80-90an seperti kembali lagi di tengah musisi milenial, salah satunya HAIM.
HAIM resmi merilis "Want You Back" sebagai single andalan untuk album ke-2 'Something to Tell You' yang akan rilis 7 Juli. Single ini secara eksklusif diperkenalkan lewat BBC Radio 1 dan ditulis dan diproduksi oleh Danielle Haim, Alana Haim, Este Haim dan tak ketinggalan Ariel Rechtshaid yang juga ikut serta mensukseskan album pertama HAIM. Trio pemudi ini terakhir kali merilis album tahun 2013 lalu berjudul Days Are Gone, dan sang bassist Este Haim sempat beralasan kalau mereka menulis dan memproduksi semuanya sendiri, itulah kenapa butuh waktu lama untuk mengeluarkan album baru.
Di single ini HAIM terdengar semakin pop tapi nggak lupa dengan vokal dan synth yang berlayer khas mereka. Disarankan sih dengerin lagu ini pakai earphone aja, bakal terasa vibe 90’an dan melodi yang old skul. Nggak apa-apa yang old skul biasanya banyak dicari, contohnya sepatu.