Yang Terbaik Datang Setelah Melepaskan?
2-3 bulan terakhir ini menjadi bulan yang cukup rollercoaster di sepanjang tahun 2024. Berawal dari Abi sakit yang mengharuskan berobat sana-sini, dan berujung pada keputusan untuk melepas pekerjaan yang mungkin nggak mudah. Kenapa demikian?
Beberapa bulan sebelum memutuskan untuk resign, singkat cerita, tempat saya bekerja mengalami dinamika masalah yang cukup serius. Sebetulnya saya sudah memprediksi bahwa bom waktu itu suatu saat akan segera terjadi, sebab background manajemen saya cukup bisa menilai bahwa ‘bisnis’ tidak berjalan baik-baik saja. Hanya saja memang perhitungan saya meleset 2 bulan lebih cepat—dan BOOM, it’s really happened now!
Dengan kejadian itu, para owner kemudian menjadi reaktif menanggapi masalah itu, internal mulai kacau, muncul desas-desus akan terjadi lay-off, meskipun sisi baiknya owner berkenan untuk negosiasi ulang kontrak ke seluruh karyawan, dan saat satu per satu mulai dipanggil, malah direktur (HRGA) saya yang mundur, disampaikan langsung di depan para karyawan saat rapat besar menyikapi krisis.
Dari situ mulai muncul desas-desus siapa yang akan menggantikan posisinya nanti. Beberapa karyawan mulai menanyai saya, dan mengharapkan saya yang menggantikan. Akan tetapi, yang mereka belum tahu, bahwa saya sudah berencana resign jauh dari kejadian ini terjadi, terutama asbab kondisi Abi yang mengharuskan saya sepertinya harus ‘istirahat' bentar setidaknya 2-3 bulan kedepan.
Saya merenung, dari rentetan peristiwa yang terjadi apa ini jadi pertanda dari langit bahwa keputusan resign ini tepat? Ada konflik batin saat itu, semua berkecamuk; masalah usia—tanggungjawab, orang tua, prospek karir, tempat kerja nyaman, dsb. Namun, setelah menimbang, saya sudah bulat, ketika nanti dipanggil, jawaban saya adalah 'mundur'.
Sampai akhirnya giliran saya dipangill ke ruang direktur utama. Jujur saya tidak tahu menahu perihal pengunduran diri atasan saya tersebut, karena di hari dimana beliau menyampaikan itu dihadapan karyawan, saya tidak masuk. Sesampainya di ruangan, suasana canggung terjadi. Kemudian beliau membuka perbincangan, “Mas, misal kamu saya minta tolong menggantikan Pak A gimana?”.
Respon saya saat itu, “Hah maksudnya gimana Dokter?”. Pikiran carut marut kala itu, didalam hati “kok jadi gini?”, lidah saya terasa kelu saat itu juga, untungnya dokter memahami gesture itu, lalu beliau katakan “Tidak perlu dijawab sekarang, saya tunggu 1-2 hari lagi ya mas.”, disamping itu beliau juga sampaikan misal saya tidak mau, mereka berencana hire konsultan dalam upaya mitigasi dan akselerasi kedepan.
Keluar ruangan. Beberapa perawat mendekati saya, menanyakan saya tetap stay kan, dsb. tapi respon saya saat itu “Nanti ya mbak, doakan yang terbaik.”. Setelah itu saya bergegas pulang, tidak berani saya sampaikan hal ini ke orang tua, saya hanya cerita ke satu orang, meminta bantuannya untuk mengurai benang kusut pikiran saya, singkat cerita keesokannya, saya sampaikan keputusan saya:
Pertimbangan utama saya selain ortu adalah masa depan teman-teman yang menggantungkan hidup di sini. Saya tidak mau egois mengambil ‘keuntungan’ ini dengan minimnya pengalaman yang saya miliki dan ketidak-idealan kondisi saat ini. Setelah chat itu saya kirimkan, ada perasaan lega. Beberapa hari. Sampai konflik baru datang, BAMM!!
Beberapa hari setelah keputusan diambil, mulai muncul perasaan carut marut “besok gimana ya?” perlahan bergerak menuju penyesalan, merasa gegabah. Sempat di posisi down, sampai mengganggu ritme ibadah. Mungkin karena kemarin tidak minta pandangan ortu, pikir saya. Maka, saya putuskan untuk bicara ke Umi malam itu. Siapa sangka Abi mendengar obrolan kami, beliau menghampiri dan berpesan:
“Ketika keputusan sudah diambil, maka tugas selanjutnya adalah bertanggungjawab dan terus melangkah. Orang beriman harus selalu optimis akan takdirnya. Allah itu Maha Kaya. Abi maupun Umi nggak mengharapkan kamu harus jadi ini jadi itu, yang penting selalu ingat Allah dan bermanfaat dimanapun.”— tahan air mata ini tahann!! 😭
Perlahan saya mulai bisa berdamai dengan keadaan, banyak-banyak mohon ampun sama Allah, begitu bodohnya diri ini, sampai mengorbankan hal yang lebih utama. Singkat cerita, beberapa hari setelahnya, saya dihubungi kakak tingkat bahwa perusahaannya membutuhkan penanggungjawab HRD, lalu dua hari setelahnya saya dihubungi bendahara nasional saya dulu, bahwa perusahaan bosnya di Jogja juga butuh manajer HRD, menangis lah sudah. Makin malu sama Allah. Siapa lagi yang menggerakkan hati mereka kalau bukan Allah? Bisa-bisanya muncul keraguan, nggak lagi-lagi ya Allah😭😭
Singkat cerita saya mengambil tawaran dari kating saya. Saya pikir setelah saya mengiyakan bisa segera kerja. Namun, ditengah jalan tiba-tiba Dirut ingin menaikkan level jabatan, diperketatlah proses rekrutmen. Mulai dari seleksi administrasi, study case dilanjut sepekan kemudian presentasi, dan siang tadi saya dipanggil negosiasi kontrak berhadapan dengan jajaran direksi, dan insyaallah saya diterima.
Alhamdulillah ya Allah… Sedikit cerita ini semoga bisa menjadi pesan penyemangat bagi siapapun. Pokoknya selalu percayakan sama Allah, apapun itu. Terus jaga, perbaiki hubungan sama Allah. Harus terus optimis dan berusaha! Doa terbaik untuk kita semua…🤲🏻