Kak, pernah merasakan gagal? sangat merasa kacau.
tentu pernah. Bahkan itu adalah kegagalan yang mempertaruhkan kehidupan beberapa manusia.
Mau saran? Nih, ketika hidup memukulmu dengan keras…
1. Terima pukulan itu. Ikhlas. Akui. Ini penting, karena kita ngga akan bisa membalikkan keadaan kalau kita ngga mau menerima dulu keadaan itu.
Kalau masih ngga mau menerima keadaan (”This is not real!”), pikiran kita akan terisi gaung dari perasaan sakit akibat kegagalan. Ketika kita menerima keadaan, kita akan terkejut dan sakit sebentar, tapi perlahan perasaan itu akan mengalir, lalu pikiran kita akan lebih mampu memikirkan jalan keluar.
2. Pukul balik! Jangan nyerah! Jangan berlepas diri dari urusan kehidupan yang terganggu akibat kegagalan itu—jika itu adalah sesuatu yang penting buat hidup kamu. “Oh men, gue harus cari cara lain!”, “Oke! Kurang keras ya usaha gue? Oke, fine!”.
Saya belajar gimana orang-orang besar bisa jadi besar. Kesimpulan saya, mereka besar bukan karena punya bakat istimewa. Mereka cuma ngga nyerah ketika orang lain akan menyerah. Mereka akan cari jalan lain ketika mentok.
3. Lagi-lagi, sebagaimana saya sering tulis di blog ini, lihat gambaran besar hidup ini. Apa yang esensial, matters, menjadi pembeda, adalah respon kita atas situasi yang datang kepada kita—bukan semata soal hasil yang kita raih.
Hidup ini cuma simulasi. Semua orang dikasih skenario, dimana Tuhan mengatur sedemikian rupa tingkat kesulitannya, kunci dan tantangannya, jalan keluar dan jalan buntunya. Yang mau Tuhan lihat adalah bagaimana kita melalui simulasi demi simulasi.
Bayangkan “Takeshi Castle”, nah pandanglah hidup ini semacam itu. Kamu masuk labirin, ada hantu, ada jalan buntu, ada jalan menuju empang, tapi ada satu jalan keluar.
Untungnya, dalam hidup, simulasinya punya banyak skenario. Ada yang kalau kamu gagal bisa kamu coba lagi terus menerus. Ada yang jalan keluarnya ngga cuma satu. Ada yang kalau ngga kamu lewati juga ngga apa-apa, kamu tetap bisa lanjut.
Poinnya adalah, itu semua cuma sesuatu yang perlu kita lalui dengan sebaik-baiknya, lalu manakala kita sudah selesai kita beranjak ke urusan lainnya.
Terakhir: “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat".
Demikian. Semoga membantu!
(Mari kita doakan segenap kawan kita yang sedang mengalami kebuntuan, kegagalan, kepayahan, agar diberikan kekuatan-kemampuan-kecerdikan untuk melalui keadaan-keadaan itu dengan sebaik-baiknya—disertai kesadaran bahwa mereka berada dalam pengawasan dan kekuasaan Allah, sehingga mereka dicatat oleh Allah sebagai hamba yang bertakwa).