sumber gambar: aksarannyta
“Bapak minta maaf, takutnya kamu sekarang begini gara-gara bapak menyakiti mama, atau perempuan-perempuan di masa lalu bapak. Bapak minta maaf, ya? Takutnya karena itu, jadi malah kamu yang kena.”
Pak, bapak tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan yang bapak tidak lakukan. Bukan salah bapak kalau aku merasa tersakiti begitu dalam oleh laki-laki yang bahkan bapak tidak—belum sempat kenal. Dia, laki-laki itu, tidak pantas membuat seorang bapak, bapakku, meminta maaf sampai sebegininya.
Malam itu tidak seperti biasanya, aku yang baru pulang dari tempat kos temanku dengan mata sembab, dijemput oleh bapakku. Aku adalah tipikal anak perempuan yang sulit untuk bisa pulang malam, padahal aku sudah hampir memasuki usia dua puluh dua saat itu, tetapi orangtuaku masih kerap melarangku pulang terlalu larut. Khawatir, apalagi aku kerap berpergian menggunakan angkutan umum. Belum punya kendaraan pribadi. Biasanya sebelum maghrib mamaku sudah menghubungiku, menyuruhku pulang. Namun, malam itu aku diberi kelonggaran. Aku dibiarkan berkunjung ke tempat kos temanku sampai jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ketidakbiasaan lainnya setelah bapakku yang bersedia menjemputku.
Padahal kesehatan bapak sedang menurun, apalagi kala itu hujan, tidak begitu deras memang, bapakku menjemputku pakai motor. Itu masalahnya. Angin malam saja sudah tidak lagi bersahabat dengan bapakku, ditambah rintik hujan yang datang keroyokan membasahi bumi. Tepatnya Bandung sebelah timur.
Sudah lama aku tidak begini, duduk dibonceng bapak dan memeluk tubuh yang sudah hidup selama lebih dari setengah abad tersebut. Aku tidak pakai helm (jangan ditiru, ya), karenanya, aku bisa bebas menyembunyikan wajahku di punggung bapak—sekaligus berharap aku bisa meredam air mata yang sulit sekali kutahan. Bukan langit saja yang menangis malam itu. Aku juga.
“Kenapa?” tanya bapak kencang-kencang, berusaha bersaing dengan bunyi hujan dan bisingnya kendaraan.
Mulanya, aku hanya menggeleng. Sadar bahwa bapak tidak akan melihat, aku menambahkan, “Enggak kenapa-kenapa.”
Bukan jawaban begitu yang bapak inginkan. Berulang kali bapak melontarkan kata tanya yang sama, hingga akhirnya keluar jawaban seperti ini dariku, “Aku diputusin, Pak …” tanpa memberi tahu lebih lanjut mengapa.
Dan bapak pun tidak butuh penjelasan lebih. Entah mengapa, bapak sudah paham.
(Rupanya, berhari-hari kemudian, aku baru diberi tahu adikku, kalau sebelumnya mama sudah memberi tahu bapak perihal aku yang patah hati. Maka dari itu aku dibiarkan berada di kos temanku sampai larut—untuk ukuranku. Bapak dan mama memberikan waktu bagiku untuk bersama temanku. Dan memang, aku benar-benar membutuhkannya saat itu.)
“Alhamdulillah ‘kan? Belum terlalu lama, jadi kamu enggak akan begitu sakit hati ke depannya.”
Aku tidak menimpali. ‘Tidak begitu sakit hati’ itu seperti apa? Yang jelas, aku sulit berhenti menangis malam itu. Heran, apa yang kurasakan betapa di luar nalar dan logika. Padahal bapakku benar, aku dengan dia menjalin hubungan belum sampai dua bulan, tapi kenapa aku merasa kehilangan sampai sebegitunya? Aku sayang dia, aku yakin itu. Alasan mengapa kami lebih baik berpisah pun sebenarnya menguntungkanku. Kalau kau yang membaca ini, siapapun dirimu, menggali tulisan-tulisan lamaku di blog pribadiku mungkin akan langsung paham.
Pemuda yang tidak pernah sempat, melontarkan nanti dan kapan-kapan dengan mudahnya tanpa benar-benar ditepati. Padahal aku hanya kangen, tapi aku juga lelah kalau sekedar diberi harapan.
Walaupun berpisah adalah jalan terbaik, tetap saja … rasanya menyakitkan. Bukankah begitu?
Aku tidak menjawab. Cuma bisa menangis. Mungkin karenanya bapak langsung melontarkan kalimat yang kuketikan di awal tulisan ini. Ditambah ujaran, “Sudah … jangan nangis lagi.” Pak, tangisan ini bukannya berhenti. Malah semakin deras. Hujan di langit pun ikut-ikutan makin histeris.
Mungkin bapak benar, bapak pernah menyakiti perempuan dengan cara yang sama atau menimbulkan efek serupa atau bahkan lebih. Namun, untuk yang satu ini, bapak tidak perlu meminta maaf. Setidaknya jangan minta maaf padaku.
Aku pikir karma bukan karena diturunkan. Lagipula, aku tidak percaya karma. Aku lebih yakin bahwa setiap kejadian kurasa tidak ada yang ‘kebetulan’. Dari kejadian ini, kepatah-hatianku, mungkin dapat diambil pelajaran: suatu perkenalan memang penting. Aku memang belum terlalu mengenal dia. Dia serupa orang asing yang tiba-tiba hadir dan sudah mampu menjungkir balikan perasaanku. Dan ikatan yang pada akhirnya diputuskan bukan atas dasar kondisi dan paksaan—hati harus benar-benar ikhlas. Dia memang orang yang baik, sayangnya bukan yang tepat.
Sampai aku dan bapak tiba di rumah, hujan juga belum kunjung reda. Begitu pun dengan air asin yang mengalir dari kedua mata.