Drama Kudeta di tengah Hujan
Alkisah, ada seorang mahasiswa di negeri Tarziban yang bernama Rajab. Negeri tersebut telah lama di dalam rezim militer yang sekuler. Adzan dan ibadah sangat dilarang di depan umum. Ada seorang bapak yang membawa anak sedang mengumandangkan adzan di tengah kota. Para tentara merangsek dan menghentingkan orang tersebut. Namun bapak itu terus melanjutkan adzannya, akhirnya dia ditarik dan digelandang ke tengah lapangan. Anaknya merengek agar dibebaskan ayahnya. Namun para tentara itu tak menggubrisnya. Rajab yang melihat hal tersebut bergegas menghentikan tindakan tentara tersebut.
Permasalahan semakin rumit tatkala Rajab beradu argumen dengan para tentara. Bahkan, tentara itu mengancam akan ikut memenjarakannya karena mengganggu pekerjaan aparat. Beruntung kedua teman Rajab datang dan mengajak Rajab pergi seraya memberi penjelasan dan pengertiannya kepada para tentara. Tentara tersebut pergi dan Rajab masih dongkol dengan teman-temannya karena dia tidak terima dengan perlakuan tentara tersebut. Dia lalu bertekad ingin merubah bangsanya kelak
Beberapa tahun kemudian, Rajab menjadi seorang presiden di Tarziban. Dia bertekad menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang selama ini hilang di Tarziban. Namun, visinya ditentang oleh seorang Jenderal yang sekuler. Dia merencanakan akan mengambil alih negara dari tangan Rajab melalui pasukan militernya.
Kudeta pun terjadi, pasukan militer pun menguasai pusat kota. Pemimpin Kudeta tersebut mengumumkan bahwa dirinya yang berkuasa sekarang, bukan Rajab. Rajab saat itu berada dalam perjalanan pulang menuju Tarziban. Mendengar negaranya dikudeta oleh militer, dia menggunakan perangkat selularnya untuk menyiarkan video ke seluruh rakyat Tarziban melalui jaringan internet. Rajab mengajak rakyatnya agar membela negara serta tidak menyerahkan negara kepada kekuasaan yang tidak sah. kumandang takbir mengakhiri orasinya dan membangkitkan semangat rakyatnya untuk melawan Kudeta.
Beberapa rakyat turut menjadi korban, namun kemenangan di tangan rakyat Tarziban. Sang Jenderal terdepak dari usahanya menggulingkan kekuasaan.
Cerita di atas adalah sebuah alegori atas Kudeta di Turki beberapa waktu lalu. Digambarkan dengan apik dalam sebuah drama berbahasa Inggris berjudul “Fire of Revival” di sebuah pertunjukan seni santri, Panggung Gembira.
Panggung Gembira adalah salah satu acara pertunjukkan santri Pondok Modern Darussalam Gontor yang dimotori oleh kelas 6. Acara tersebut merupakan puncak dari pekan perkenalan Khutbatul Arsy.
Setiap tahun Gontor mengadakan acara tersebut sebagai salah satu sarana pendidikan untuk santri-santrinya. Para alumninya seringkali menjadikan agenda panggung gembira sebagai tolak ukur kesuksesan suatu angkatan pada tahun itu.
Setiap tahunnya santri kelas enam dengan ustadz pembimbing mereka berusaha menampilkan inovasi pertunjukan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Baik dari segi acara, dekorasi hingga teknologi pertunjukan.
Tahun ini adalah angkatan pertama setelah sembilan dekade Gontor berdiri. Acara yang bertema survive than revive menggambarkan santri-santri Gontor yang bertahan dari gempuran faham kapitalisme, hedonisme dan sebagainya yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan para pemuda. Dan kemudian mereka bangkit dengan semangat dan kejayaan peradaban Islam.
Penampilan acara lainnya juga sangat meriah. Ada anekdot tentang perpolitikan masa kini tentang dilema memilih pemimpin non-muslim. Tari-tarian daerah juga dipertunjukkan dengan apik dan menarik. Penampilan ditutup dengan komedi musikal yang menceritakan kehidupan di pondok secara jenaka. Hujan yang silih berganti di tengah pertunjukan tak menyurutkan penonton untuk menyaksikan Panggung Gembira.
Kegembiraan dan kebanggan makin terasa ketika pimpinan pondok memberi nilai 10 atas Panggung Gembira. Semoga tahun depan aku bisa menyaksikannya kembali.