Tertawan Hati
Bab 1 “Luka Masa Lalu”
"Nduk apa kamu yakin berangkat sendiri?". Dikemasnya peralatan touch up ke dalam tas kecil khusus untuk pergi ke kondangan, "Iya bu, insya allah". Dengan keraguan yang tersisa kembali bertanya ibunya, "Kamu yakin Ra?Apa ngga sebaiknya ibu temenin aja?". Dan dengan senyuman tipis yang menyakinkan, aku menilik raut wajah pemilik kamar ini yang sepertinya sedang berusaha sok tegar. Tapi, berbahagianya aku setelah sekian lama ruangan ini kosong tak berpenghuni, kini akhirnya diisi percakapan hangat antara ibu dan anak. Sungguh aku sangat merindukan suara-suara yang berhasil memecah keheningan ini.
Dipegangnya tangan putih pucat keriput yang selalu merawatnya sejak ia kecil itu, “Bu, Ara sudah dewasa, izinkan Ara menghadapi dan menyelesaikan masalah Ara sendiri ya. Setelah itu, ibu bantu Ara untuk bisa ikhlas melepas Mas Bayu bersama pilihannya ya.”, air mata yang ia tahan sekuat tenaga sejak tiba dari kepulangannya kemarin malam akhirnya menetes membasahi punggung tangan ibunya yang ia pegang jari-jemarinya. Tanpa kata yang terucap, direngkuhnya Ara ke dalam pelukan hangat sang ibu, dielus halus punggungnya seakan memberikan tanda bahwa ibu akan selalu berada di dekat Ara apapun kondisinya. Andai saja jika aku memiliki sepasang mata yang juga bisa menangis akan aku pastikan pakaianku basah melihat pemandangan haru ini. Sayangnya, pakaianku hanya akan basah jika pemilikku, Ara akan menangis tersedu-sedu akibat beratnya permasalahan hidup yang sedang ia jalani.
“Nduk nanti kalau urusanmu sama Bayu disana sudah selesai, segera pulang ya, jangan terlalu lama ngga baik.”, wanti-wanti ibunya saat Ara mulai meninggalkan kamar. Sejak pintu kamar ditutup perlahan aku tidak lagi bisa mendengar apalagi melihat mereka. Doaku dalam diam, semoga nanti selepasnya pulang dari pernikahan sang mantan yang pernah menjanjikan hal serupa itu ia bisa mengadu padaku, menumpahkan segala isi hatinya, dan menangis puas agar tidak ada lagi beban pikiran atau langkah yang berat saat melangkah untuk masa depannya seorang diri di kota orang. Meski pada akhirnya aku juga akan ditinggalkan sendirian dalam dingin di kamar ini lagi. “Tin…. tin….”, suara klakson mobil terdengar, sepertinya itu suara mobil pesanan pemilikku untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Memang ada mobil ayahnya, tapi aku yakin seratus persen ibunya tidak akan mengizinkannya untuk mengendarai sendiri.
Deru laju mobil terdengar menjauh pertanda Ara telah berangkat siap untuk menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Menyaksikan mantan terindahnya bersanding dengan perempuan pilihan keluarganya mungkin bagi Ara adalah mimpi terburuk yang pernah ia alami setelah kepergian ayahnya. Setibanya di lokasi acara sakral itu, taman indah penuh bunga disulap menjadi tempat kesaksian dua insan untuk saling hidup bersama sampai maut memisahkan. Dengan nuansa putih yang melambangkan kesucian dan ketulusan, serta dilengkapi ornamen-ornamen penghias yang terlihat menakjubkan. Ara berjalan seorang diri tanpa mengenal siapapun dari mereka yang ada disana. Cukup ragu dan berhenti sejenak sambil melihat ke sekeliling. Membayangkan sesaat bahwa ini adalah impiannya bersama Mas Bayu dulu saat masa pacaran. Buru-buru ia menghapus ingatan indah yang dengan kejam menerobos masuk pikirannya saat ini.
Pada kenyataannya, memang impian itu tetap terwujud meski bukan dengannya. Tapi sungguh teganya Mas Bayu kepada Ara, ia mencuri ide pernikahan impian Ara untuk direalisasikan bersama perempuan lain. Tak ada bangku yang tersisa, sepertinya Ara tiba dengan terlambat meski acaranya belum dimulai atau memang tamu undangan yang diundang terlalu banyak hingga tidak mencukupi kuota kursi yang disediakan. Barangkali memang sengaja bagi kedua belah pihak mengundang banyak orang untuk menyaksikan hari paling bahagia bagi keduanya, tapi tidak dengan Ara. Ia memilih berdiri di barisan paling belakang dekat dengan meja bundar berisi minuman untuk tamu. Beruntungnya ia tidak sendiri yang berdiri sebab kurang beruntung tidak mendapatkan kursi untuk duduk menghayati proses pernikahan ini.
Batin Ara tadi ia adalah orang terakhir yang hadir di acara ini, tapi ternyata satu orang baru saja tiba dengan langkah yang sedikit tergesa, dia memilih berdiri di samping Ara. Diliriknya sekilas penampilan laki-laki bertubuh tinggi dan tegap, tapi tidak kurus itu berbalut kemeja putih bersih dan celana jeans coklat muda. Jas warna senada dengan celananya itu dibiarkan menggantung di lengan kanannya, sementara tangan kirinya tidak tinggal diam, ia gunakan untuk mengendurkan ikatan dasi di kerah kemejanya, sepertinya cukup sesak akibat berjalan terburu-buru tadi. Tapi, Ara tidak mampu menoleh dan sedikit mendongak untuk melihat wajah laki-laki di sebelah kanannya itu, selain karena jarak tinggi badan keduanya yang lumayan jauh, tapi juga kurang sopan jika melakukan hal itu mengingat acara akan segera dimulai.
“Saya terima nikah dan kawinnya Jasmine Nada Abhiseka binti Abhiseka Setiawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”, dengan mantap dan sekali tarikan napas Mas Bayu mengucap janji sehidup semati bersama dengan perempuan cantik dan anggun di sebelahnya tanpa keraguan yang dapat dilihat dari jabatan erat tangannya dengan ayah mertuanya. “Sah….”, ucap para saksi dan tamu undangan dengan yakin dan berbahagia, kecuali Ara. Mulutnya terkatup rapat, padahal ia sudah berulang kali melatih lidah dan hatinya untuk bisa berkoordinasi mengucap kata “sah” seperti yang lainnya sebelum menghadiri pernikahan ini. Tapi justru kakinya lemas, pandangannya hampir tidak jelas, sebab air mata yang berlinang atau memang dirinya tak cukup mampu berada disini. Jika saja tidak ada tangan kiri yang memegang lengan kanannya saat ini sudah dapat ditebak kejadian selanjutnya adalah ia pingsan dan berakhir menghebohkan para tamu undangan termasuk mantannya yang saat ini menjadi mempelai laki-laki. Untung saja tangan kekar laki-laki di sampingnya itu mampu menopang tubuh Ara yang mulai kehilangan keseimbangan.
Sekadar mengucap terima kasih saja Ara tak bisa, lidahnya kelu napasnya hampir tercekat. Lengan kanan Ara diizinkan untuk menggamit lengan kiri laki-laki yang belum ia kenali itu sampai acara doa bersama selesai. Tapi ia biarkan saja, daripada nantinya ia semakin tidak kuat dan jatuh justru akan membuatnya malu. Selanjutnya para tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh keluarga mempelai yang tengah berbahagia. Baru disitulah ada kursi-kursi yang mulai kosong ditinggalkan tamu untuk mengambil makanan sambil menikmati alunan musik melengkapi suasana bahagia ini. Dengan kepala sedikit tertunduk, Ara dituntun perlahan menuju salah satu kursi kosong di pinggir agak jauh dari keramaian tamu oleh laki-laki yang dengan sabar menemaninya sejak tadi. Diambilkannya sebotol air mineral yang disediakan di meja belakang, dengan telaten laki-laki ini membuka tutupnya dan menyerahkannya ke hadapan Ara, “Diminum dulu.” Pergerakan mereka itu tidak luput dari pandangan Bayu di kuade pernikahan ujung depan sana.










