Bismillah. Ya Allah, bantu aku melangkah dan mengambil keputusan 😭😭😭😭
★

❣ Chile in a Photography ❣
Fai_Ryy
Monterey Bay Aquarium
macklin celebrini has autism
official daine visual archive
No title available
todays bird
hello vonnie
Sweet Seals For You, Always

Love Begins
untitled
Cosimo Galluzzi
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

if i look back, i am lost

No title available
🪼
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

izzy's playlists!

roma★

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Chile
seen from Netherlands

seen from Spain
seen from United States

seen from United States
seen from Colombia
seen from Germany

seen from Singapore
seen from United States
seen from Vietnam
seen from Bolivia
seen from Colombia

seen from United Kingdom
seen from Canada
seen from Indonesia
seen from United States

seen from Türkiye
@ruangsendiri-blog
Bismillah. Ya Allah, bantu aku melangkah dan mengambil keputusan 😭😭😭😭
“Menyukai bunga bukan berarti kamu harus mematahkan dan memisahkan ia dengan tangkainya, kamu masih memiliki pilihan untuk merawatnya hingga ia mekar dengan indah. Sama dengan bagaimana caramu menyukai seseorang, rawat jika bisa, tapi jika belum mampu, kamu bisa membiarkannya tanpa merusak.”
—
Urusan asmara itu tidaklah mudah, ada yang menyukai namun ia berani mematahkan bunga dari tangkainya, kemudian bunga itu menjadi layu karena tidak dirawat dengan baik, bunga itu dibiarkan begitu saja sampai layu, rusak dan mati.
Ada pula yang menyukai bunga, tapi sadar bahwa ia belum bisa membeli dan merawatnya, maka cukuplah ia melihatnya tanpa menyentuh dan mematahkannya. Sebab ia tahu, bunga itu jika dirawat dengan main-main hanya akan menjadikannya terbuang dengan sia-sia.
Dan ada juga seseorang yang ia akhirnya memilih untuk membeli atau meminta izin untuk membawa bunga itu pulang, ia merawat bunga itu dengan kesabaran dan penuh penghormatan, hingga bunga itu berbunga dengan sempurna dan indah di mata.
Benar, semua itu soal bagaimana menyikapi rasa. Yang dicari adalah keberkahannya, bukan sekedar nafsu saja.
Selamat memilih :’)
@jndmmsyhd
Yang menyelamatkan hatimu adalah dirimu sendiri
Hai diri
Hati hati
Aku menyayangimu
Aku peduli padamu
Jangan biarkan oranglain membuatmu luka
Dibalik kata percaya, sayang yg terucap dari mulut orang
Nyatanya tidak sepenuhnya
Kamu yg paling tahu tentang dirimu
Yuk, mulai menyayangi diri sendiri
Sudahi rasa tidak enakmu
Sudahi rasamu untuk selalu mengiyakan
Tubuhmu punya haknya
Hatimu berkah dipeluk oleh dirimu sendiri
Kamu hebat
Kamu kuat
Kamu baik
Walaupun tidak harus selalu meng'iya'kan
Kehilangan
Masih perihal kehilangan.
Malam ini, di malam Senin sebelum kembali pada rutinitas harianku. Aku merebahkan diri, santai mengecek media sosialku.
Dua minggu ini, beranda medsosku masih dipenuhi sebuah nama yang harum namanya. Aa"Emeril Khan Mumtadz"
Masya Allah. Allahu Akbar.
Bukan siapa-siapa, tidak ada ikatan darah, tapi begitu menyesakkan setiap membaca beritanya.
Aku tidak bisa membayangkan, betapa hancur porakporandanya hati seorang ibu, bapak dan adiknya.
Aku saja sering 'cireumbay' setiap menyaksikan kabar terbarunya.
Bagaimana dengan keluarganya. Rasa ingin memeluk ibu dan adik kecilnya.
Namun Maasya Allah, betapa tegarnya mereka semakin menyayat hati ini.
Kuat sekali mereka, melihat tiga pasang tangan yang saling menguatkan, pundak yang saling menepuk, memberi sejuta pelajaran bagi kami.
Allah Maha Baik
Ketika tidak ada manusia yang berkenan lagi membersamai
Ketika caci menjadi makanan sehari-hari
Sendiri, melalui.
Sendiri, menangisi.
Sendiri, merenungi.
Hanya Allah satu-satunya paling sejati
Sejatinya hanya Allah yang menguatkan kelemahan
Sejatinya hanya Alah yang memampukan ketidakmampuan
Sejatinya hanya Allah yang mengurus diri juga jati
Ya Rabb, kami lemah tanpa pertolongan-Mu
Laahaula walla quwata illa billah.
Kehilangan
Mungkin setiap dari kita pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai, walau dengan cara yang berbeda.
Siapa yang menginginkan kehilangan, melepaskan dan mengikhlaskan ia yang kita cintai? Tentu tidak ada manusia yang mau.
Setiap manusia hasratnya ingin diselimuti bahagia, dan sebagai makhluk sosial tentu bukan bahagia sendirian.
Orang tua yang utuh, kaka adik dan keluarga yang saling menyayangi, sahabat karib yang seiya sekata, menjadi salah satu sumber bahagia kita.
Dan Allah turunkan kasih sayang antar manusia, ibu yang sepenuh hati mengasihi anak, ayah yang tanpa pamrih mencintai putri kecilnya, kakak laki-laki yang dalam diamnya peduli pada adiknya, sahabat yang turut merasakan kesedihan sahabatnya.
Adalah gambaran kecil 'kasih sayang'
Namun, tadkir adalah benar rahasia Allah, kita yang saat ini masih memiliki orang tua utuh, tidak ada jaminan esok ayah ibu masih menemani.
Kakak adik yang meramaikan suasana rumah, Allah pilih salah satu untuk menghadap-Nya lebih dahulu.
Qodarullah.
Bagi kita mungkin tiba-tiba, namun tidak ada yang tiba-tiba bagi Allah, Allah tetapkan takdir seseorang sebaik-baiknya.
Kehilangan adalah menyedihkan, kehilangan adalah kekosongan, kehilangan adlaah hal yang tidak diinginkan.
Berat, rapuh. Memaksa diri untuk menerima, Ridho akan ketentuan Allah.
Ridho. Adalah kunci.
Ridho pada setiap jalan yang Allah pilihkan
Setiap kehilangan, pasti Allah gantikan.
Kasih sayang Allah tak pernah terputus untuk hamba-Nya.
Pada Suatu Ketika di Pertemanan Kita
Gak perlu sedih kalau ada orang yang kamu anggap sahabat tapi gak hadir di momen-momen penting dalam hidupmu. Mereka tetap sahabatmu, tapi di saat itu mereka punya prioritas lain.
Waktu saya wisuda, hampir gak ada sahabat saya yang hadir. Ada, tapi sedikit, itu pun adik tingkat dan beberapa teman seangkatan. Sedih sih, tapi wajar karena sahabat saya kebanyakan sudah lulus duluan hahaha. Sudah pada merantau lagi ke tempat yang lain.
Anyway, kita perlu berlapang dada untuk menerima kenyataan bahwa pada suatu ketika kita bukanlah prioritas bagi orang lain. Ini bukan hal besar karena setiap orang punya prioritasnya masing-masing.
Keluarga, karir, bisnis, atau yang lainnya tentu jadi prioritas. Semakin kita bertambah usia, semakin ada jarak antara kita dan teman-teman kita. Bukan berarti silaturahim menjadi renggang, melainkan waktu kita tak seleluasa dulu untuk ngobrol dan nongkrong-nongkrong seperti dulu kala.
Ketika sudah menikah, misalnya, kita gak bisa sesuka hati pergi nongkrong ke luar sama teman-teman meninggalkan anak istri di rumah sendirian. Ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, ada istri dan anak yang perlu lebih dulu kita prioritaskan, apakah itu bercengkerama bersama mereka, makan bareng mereka, atau jalan-jalan bersama. Setelah itu barulah kita bisa luangkan waktu untuk menyambung silaturahim dengan teman-teman.
Jadi, tenang saja, sahabat tetaplah sahabat. Kita berbagi memori masa lalu yang akan selalu dikenang. Jika jarang bertemu, bukan berarti silaturahim kita berhenti. Kita hanya sudah memiliki prioritas dan masalah masing-masing.
Berdoa saja semoga di masa depan Allah berikan kita kesempatan untuk berkolaborasi dg teman-teman untuk hal yg lebih berdampak bagi banyak orang. Berdoa saja semoga Allah jadikan kita orang yang berdaya, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk berbagi kebaikan dan mendukung teman-teman kita.
Semoga Allah lapangkan hati kita. Semoga Allah bukakan jalan rezeki kita. Semoga Allah jadikan kita pribadi yang bermanfaat.
Taufik Aulia
Wujud Ketuntasan Amanat; dari Keterampilan Hidup menjadi Gaya Hidup.
Salah satu amanat dari Allah Subhanahu Wata’ala adalah tubuh.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 172, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” sebagai perintah untuk memelihara asupan bagi tubuh.
Sebagaimana dalam tafsirnya yaitu makanlah dari rezeki yang baik yang sehat, aman dan tidak berlebihan dari yang Kami berikan kepada kamu melalui usaha yang kamu lakukan dengan cara yang halal sehingga mempelajari literasi gizi adalah keniscayaan sebagai salah satu wujud ketuntasan amanat (menjalankan perintah-Nya) baik laki-laki maupun perempuan.
Atas taufik-Nya tergerak untuk membaca unggahan drtanremanlay beberapa hari lalu yang kemudian menjadi sarana kontemplasi sekaligus evaluasi terkait pemenuhan gizi bagi tubuh.
Tubuh adalah rumah jiwa memberinya makanan sesuai kebutuhan membuat jiwa tenteram dan aman. Mencuranginya di akhir minggu demi nafsu yang menunggu membuat jiwa gelisah dan resah. Dan suatu hari akan ada lagi yang dicurangi atau diselingkuhi dan sejuta dusta telah ditata untuk berkata, ‘Ah tak mengapa’. (*)
Barangkali bukan hanya di akhir minggu namun dalam keseharian tubuh dicurangi dengan asupan berkedok candu bukan butuh.
Kebiasaan menzalimi tubuh: mestinya bisa makan benar, akhirnya beli ‘ganjal perut’ karena rasanya ‘ehm kok enak ya?’ Akhirnya jadi kebiasaan. Kebiasaan makan nggak benar. (*)
Kebiasaan suka jajan, misalnya tanpa disadari turut andil dalam mengacaukan pola makan sehat, apalagi di zaman sekarang godaan makanan yang sedang viral sangat mewabah dan makanan tersebut belum tentu sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh. Jika tidak mampu menangkalnya maka akan menjadi kebiasaan yang mengakar.
Kebiasaan menggantungkan diri pada istilah praktis. Padahal dalam hidup banyak hal harus melalui proses. Akhirnya jadi kebiasaan menghargai hasil belaka bukan proses. (*)
Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra proses (UPF); salah satunya. Hal ini terbukti dari hasil capaian industri makanan dan minuman sebagai salah satu sektor andalan penyokong pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional.
Produk ultra proses mengandalkan teknologi (termasuk pemanasan) untuk mengubah bahan segar kehilangan konten air, mineral dan antioksidan. Jika ada promosi ‘kaya vitamin dan antioksidan’ di kemasannya, itu karena proses lagi. Penambahan secara artifisial. Bukan asli dari bahan bakunya.
Tinggalkan kemasan, perbanyak kupasan. (*)
Sebab pada hakikatnya yang dibutuhkan tubuh adalah makanan yang tidak melalui pemrosesan atau sedikit sekali mengalami pemrosesan (unprocessed and minimally processed food).
Punya rempah, kaya beraneka, tersimpan nutrisi antioksidasi eh diganti aneka saus dan kecap teriyaki.
Punya matahari sepanjang tahun, ditukar kapsul ajaib katanya bikin keropos raib.
Punya sayur dan buah melimpah, mestinya dimakan dan dikunyah biar gigi sehat gula darah terawat, justru mesti beli blender mahal demi kepraktisan dan kemalasan.
Punya ikan ribuan jenis, berlemak baik dan protein tinggi, ternyata mitos salmon negeri seberang punya rating bersaing.
Punya berbagai umbi yang bikin badan sehat, malah sengaja impor gandum jadi terigu agar ekonomi kuat. (*)
Sebuah ironi nutrisi jika tidak berbarengan dengan literasi gizi.
Smoothies atau juice?
Bahasa aslinya berarti melembutkan semua yang biasa dikunyah sehingga tinggal ‘tenggak’. Di sini dibilang jus. Padahal jus bahasa aslinya berarti mengambil cairannya saja, buang serat.
Kalau punya gigi dan bisa mengunyah, mengapa pusing harus beli alat mahal, kehilangan bonus mengunyah sebagai mekanisme menguatkan gigi dan sirkulasi liur, kehilangan serat lebih konyol lagi. Pun jika masih diminum dengan seratnya, kenapa proses pencernaan yang kodratnya 3 jam mesti digas jadi 3 menit? Ada yang lebih pintar dari Tuhan?
Minum air atau infused water?
Berdalih apa pun air diminum dan buahnya dimakan lebih maksimal ketimbang pakai rumusan osmosis.
Para pakar sepakat infused water hanya transisi bagi para peminum softdrink untuk bisa pindah ke air minum sesungguhnya. Infused water hanya memberi nuansa rasa. Tidak ada studi yang membuktikan peminum infused water lebih sehat.
Fermentasi bahan-bahan yang direndam dalam infused water? Wah ngeri ya. Tahu nggak bedanya fermentasi dan pembusukan? Fermentasi harus menggunakan mikroba atau jenis jamur khusus sebab prosesnya bertujuan. (*)
Perlu mengembalikannya pada fitrah agar upaya dalam menyelesaikan masalah tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Organ tubuh, tulang, daging dan otak manusia terbuat dari susunan sel dan organel yang sama. Artinya hampir semua manusia membutuhkan zat gizi sama.
Yang membedakan: kebutuhan menurut usia, aktivitas, dan kondisi khusus (hamil/menyusui, terlanjur punya penyakit tertentu, masalah kelainan herediter). (*)
Kemenkes pun telah memberikan patokan isi piring makananku yang terbagi menjadi 3: PMBA (6-23 bulan), porsi balita (2-5 tahun) dan dewasa terdiri dari makanan pokok, protein hewani, buah/sayur, buah-buahan dan kacang-kacangan.
Tidak semua orang makan-makanan yang sama (jenisnya apalagi jumlahnya).
- Di mana siklus hidup Anda sekarang? Sedang tumbuh kembang, usia produktif, atau usia lanjut? Anak Anda, keponakan, cucu, mungkin sedang tumbuh kembang. Karenanya butuh makan-makanan untuk itu. Anda kembang ke mana?
- Apa aktivitas Anda sekarang? Kuli bangunan? Jaga toko? Rajin Webinar? Kuli atau atlet butuh makan dengan jenis dan jumlah yang menunjang kebutuhan energinya. Bayangkan jika Anda makan seperti yang mereka makan.
- Apakah Anda sedang hamil atau menyusui? Calon ibu dan ibu menyusui membutuhkan jenis dan jumlah kalori karena ia berbagi ‘gizi’ dengan anak yang sedang diasuh dalam kandungan atau buaian. Bayangkan jika Anda ngemil dan makan seperti mereka. (*)
Cukup adalah kunci dengan disesuaikan pada kebutuhan berdasarkan usia, aktivitas dan kondisi.
Buat sehat tidak ada kastanya. Artinya jika mau sehat harus beli alat masak dulu, mesin ini itu, produk tertentu, wah orang miskin tidak ada yang bisa sehat dong?
Tuhan itu adil. Di mana pun manusia berada sudah dicukupi bahan pangan yang membuatnya sehat dan berumur panjang. (*)
Hal terpenting dari sehat adalah ilmu bukan latah hingga tidak perlu mengikuti ‘aliran’ sana-sini untuk menunjang pemenuhan gizi.
Berapa banyak yang bisa dihemat jika Anda hidup sehat?
Yang pasti, memilih, meracik dan mengolah makanan sendiri jauh lebih murah. Lemari dapur tidak sesak karena botol saus, kecap apalagi bubuk-bubuk penyedap.
Tidak perlu pembersih khusus dapur untuk menghilangkan minyak yang nempel bekas menggoreng. Tidak butuh suplemen/racikan ajaib.
Tidak perlu beli alat blender atau juicer. Tidak perlu keseringan berobat pastinya! (*)
Lebih hemat lagi jika memiliki lahan untuk bercocok tanam atau memanfaatkan media lain, media tanam hidroponik misalnya.
Banyak orang menginginkan tubuhnya bekerja sesuai keinginannya: melek dan tidur tidak kenal waktu. Makan ugal-ugalan, olahraga gila-gilaan.
Padahal justru keinginan dan perilaku kita yang harusnya disesuaikan dengan irama dan kebutuhan tubuhnya sebab saat malam tubuh butuh tidur bukan lembur. Saat makan tubuh butuh pangan utuh bukan bahan olahan. (*)
Allah Subhanahu Wata’ala pun berfirman di antaranya dalam QS. Al-Qashash: 73, QS. An-Naba: 9, QS. Al-Furqan: 47 bahwa Dia menciptakan malam atau tidur untuk beristirahat.
Pola makan, istirahat dan olahraga, ketiganya harus berimbang. Jika pun harus shift malam maka pilihlah makanan terbaik yang tidak mengacaukan pola makan sehat.
Saya kepada saya; semoga tidak hanya sekadar tahu namun memiliki kesadaran pula untuk membenahi.
(*) : drtanremanlay
Alhamdulillah ala kulli hal beberapa hari lalu sempat mengabadikan unggahan drtanremanlay di sini sebab qadarullah semalam instagram beliau diretas padahal unggahan dan diskusi di kolom komentar akun beliau sebelumnya sangat bergizi :(
Tetap semangat drtanshotyen (,^^)9
Lalu menambahkan dari unggahan kak Amar حَفِظَهُ اللهُ - belajarlah ilmu gizi sederhana sebelum menikah.
Ini adalah ilmu yang biasanya baru disadari muslim dan muslimah setelah menikah. Apalagi ada stigma yang harus ditumpas habis bahwa dapur dan meja makan adalah urusan perempuan.
Muslim dan muslimah harus punya pengetahuan dasar tentang keseimbangan makanan dan gizi di rumah. Bukan hanya agar sehat tapi ini langkah suami agar menafkahi istri dengan cukup dan langkah istri mensyukuri nafkah suaminya.
Sebelum menikah mungkin tidak kau bayangkan sebagai lelaki. Apalagi bila kita adalah lelaki yang bidang ilmunya bukan gizi, dan tinggal di kos bersama orang yang tidak peduli juga dengan gizi. Kau hanya tahu cari uang tanpa menyelidiki apa yang engkau makan.
Belajarlah diet air secara seimbang. Sudah berapa gelas kopi hari ini? Berapa liter air putih? Berapa kali engkau buang air kecil? Apakah makananmu kebanyakan digoreng atau direbus? Kualitas kesehatanmu akan menentukan kesuburanmu dan juga tingkat emosimu.
Sebagai muslimah engkau mungkin menuruti nafsumu dengan membeli makanan ringan yang sangat pedas dan asin. Tanpa sadar itu akan berpengaruh kepada rahimmu. Kegemukan atau juga terlalu kurus sangat beresiko bagi kesehatan kandunganmu kelak.
Apalagi bila ada kaitan dengan urusan ketertarikanmu kepada tubuh. Baik lelaki maupun perempuan harus mengusahakan tubuh yang baik bagi pasangannya. Itu tanpa dipungkiri adalah salah satu ikhtiar menimba keberkahan Allah Subhanahu Wata’ala juga. Jangan berpikir bahwa pasangan kita kalau cinta karena Allah Subhanahu Wata’ala, fisik buruk (bukan paras) pun dia tidak masalah. Ini soal membongkar egomu saat menikah.
Bagi muslimah ilmu ini baru terasa gunanya saat engkau program diet kehamilan atau juga saat diet menyusui. Engkau mau tidak mau membiasakan makan buah, mengurangi penyedap buatan dan racun-racun yang rasanya enak. Engkau mau tidak mau akan peduli pada nasib anakmu.
Sebelum menikah belajarlah memasak dengan menu imbang gizi. Enak berbeda dengan sehat. Sehat belum tentu enak juga. Belajarlah mengingat makanan apa yang jangan dimakan bersamaan dan minuman apa yang jangan diminum terlalu sering. Belajarlah memahami minuman apa yang dengan cepat memulihkan lelakimu dari keletihan sepulang bekerja.
Belajarlah memasak dengan cepat tetapi ringkas. Saat lelakimu lapar, mungkinkah kau suruh ia menunggu satu jam hanya untuk melihatmu masak dengan lama. Sementara ia sangat lelah. Buatlah sesuatu yang memudarkan kemarahan dan kekecewaannya. Yang aromanya saja sudah menyenangkan.
Rezeki dari Allah Subhanahu Wata’ala selalu cukup. Kita diminta mengaturnya. Allah Subhanahu Wata’ala mempercayakanmu dengan memberikan akal, memberikan kemampuan tubuhmu untuk mendeteksi penyakit, mendeteksi lapar, serta merasakan kekurangan atas suatu zat. Bukankah Allah Subhanahu Wata’ala itu adil dan sangat penyayang!
Hilangkan hambatan mental. Jangan bilang tidak bisa memasak. Jangan bilang memasak dan meja makan urusan perempuan. Itu bukan ajaran Islam. Ajaran Islam mewajibkan kita, lelaki, menafkahi perempuan. Bukan memberi uang semata. Nafkah juga termasuk menghitung detail gizi yang cukup.
Muslimah jangan mengeluh. Dari sekarang cari sayur apa yang tepat untuk setiap kondisi, minuman apa yang cerdik menyiasati keletihan dan bandingkan tubuhmu dengan konsep tubuh ideal secara medis bukan secara pansos dan imajinatif.
Sendirimu adalah momentum.
Jika saya lajang, ngekos.
Bukan berarti:
Saya makan asal seketemunya saja, namanya juga darurat lapar.
Ini kondisi ‘sementara’, nanti kalau sudah menikah juga berubah.
Makan seadanya saat ini tidak jadi beban di hari nanti.
Justru:
Mumpung masih sendirian, saya bisa membangun pola dan ritme keseharian.
Waktu bisa dibagi: kapan belajar memasak, kapan kerja, kapan bebenah kos, kapan mengurus cucian, kapan membuat rekap pengeluaran, dsb.
Kelihatannya kondisi sementara tapi diam-diam semakin tambah umur semakin sulit untuk berubah – jika perilaku sudah jadi kebiasaan.
Saat menikah dan punya anak semakin banyak mata rantai tata kelola manajemen hidup sehari-hari; bayangkan jika sudah terbiasa ‘mempraktiskan’ segala sesuatunya? - drtanshotyen.
Dan inilah momentum belajar merawat dirimu sendiri sebelum merawat keluarga kecilmu kelak. Yok bisa yok, bismillah, la quwwata illa billah (,^^)9
Kesehatan adalah tanggung jawab diri sendiri namun ketika kelak kamu menikah kemudian diberi amanat seorang anak maka kamu akan menjadi pengampu bagi mereka.
Dan masalah fisik ini pun merupakan salah satu hal yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Sependapat dengan kak Amarحَفِظَهُ اللهُ bahwa,
“Kadang, gaya hidup ala lajang benar-benar toxic. Misalnya, makan seblak serutin puasa senin kamis, atau terlalu banyak micin. Boba, soda, kopi kemasan atau segala sesuatu yang terlihat tidak beracun hanya karena rasanya manis. Itu semua mungkin melemahkan ginjal, darah bahkan bau badan. Jika kita adalah perempuan, beban yang dirasakan akan berkali lipat daripada laki-laki, karena kehamilan itu berat. Bagi laki-laki, segera periksakan segala sesuatu soal tekanan darah, kolesterol, dan lain-lain. Dari ayah dan ibu, ada beberapa penyakit yang berpotensi muncul sebagai gen. Apalagi, kalau kita adalah mantan perokok, kerap begadang, dan lain-lain. Ini termasuk persiapan pernikahan yang normal dan wajar. Jangan pernah disepelekan. Ikutlah beberapa seminar yang diadakan oleh bidan. Di sana, akan dijelaskan menjelang kelahiran anak, penyakit seperti darah rendah, darah tinggi, mata minus, atau asma sangat-sangat perlu penanganan dan latihan khusus. Bagi lelaki, sudah saatnya peduli gizi tubuh. Kurangi gorengan-gorengan duniawi itu. Berhenti merokok. Semuanya untuk anak-anakmu di masa depan. Nikmatilah pernikahan tanpa bau obat dan biaya kontrol rutin. In syaa Allah. Mahal? Tergantung cara pandang. Kalau begitu, dari sekarang atur pola makan. Minum air putih yang seimbang, jauhi gorengan dan minuman kemasan. Kadang-kadang, banyak buah murah tetapi kita memilih beli sesuatu yang instagramable agar tampak hidup sesuai dengan zaman. Sebelum menikah, periksalah. Yang kerap sakit di dada kanan, maag hingga sangat lemah, atau sering pingsan tanpa alasan jelas.”
Bagi perempuan, hal ini akan berkesinambungan setelah kamu menikah, hamil kemudian melahirkan dan dihadapkan dengan per-MPASI-an. Sebagaimana penjabaran yang saya simak dari drtanshotyen bahwa,
“Kamu nantinya akan menyadari ketika ada bayi, orang tua akan merefleksi diri apakah pangan dan lauk di rumah sehat tetapi nikmat, bagi semuanya. Sebab bayi yang sehat juga butuh orang tua yang sehat – agar bisa melihat si kecil ini wisuda, menikah dan punya keturunan. Bukan uangnya habis karena giliran anak besar, orang tuanya sakit.”
Barangkali menjadi harapan anakmu di masa depan bahwa yang seharusnya ayah ibuku lakukan demi aku adalah hidup sehat dan menjaga diri mereka dengan baik. Untuk itu, penting sekali mengevaluasi pola makan sehari-hari dimulai hari ini sebab maslahatnya tidak hanya untuk dirimu sendiri namun juga untuk keluargamu kelak. Sama halnya dengan mempelajari per-MPASI-an sejak dini (sebelum menikah) pun nantinya akan memberikan maslahat di kemudian hari. Utamakan konsepnya bukan resepnya.
Mengutip pula penjabaran dari drtanshotyen bahwa,
“Jika kamu repot dan ribet urusan MPASI, jebakan komersial akan masuk. Padahal, membesarkan anak itu mudah dan murah. Yang terpenting adalah literasi gizi. Semisal, selepas ASI apakah anak di atas 2 tahun butuh susu? Tidak. Sebab giginya sudah lengkap, artinya ia butuh makan. Dengan proporsi gizi seimbang usianya. Pemberian susu lanjutan hanya membuatnya lekas kenyang dan tidak mampu makan 3x sehari dengan kecukupan jumlah porsi yang harus dihabiskan. Risiko obesitas dan gangguan metabolisme di masa depan: lidah anak Indonesia dibiasakan dengan imbuhan gula dan perasa. ‘Plain milk’ tidak laku. Susu lanjutan akhirnya menjadi pengobat rasa bersalah orang tua yang tidak mampu mengatasi masalah makan anaknya. Jangan lagi menyelesaikan masalah dengan menciptakan masalah baru.”
Duhai diri, selamat berbenah dan belajar lagi. Allah yuftah alaikum :)
Saat ini, sosmed paling waras menurutku adalah Tumblr. Isinya daging semua :')
Little Me
Pic. From Pinterest
Pernah tidak kalian merasakan kehadiran sosok kecil di dalam diri kalian? Ya, lebih tepatnya diri kecilmu. Sebut saja, sifat kanak-kanak yang ada dan sampai sekarang menemanimu. Entah karena kejadian bahagia di masa kecil atau sampai kejadian buruk yang terekam sempura di memori jangka panjang otakmu. Sewaktu-waktu, ketika ada hal yang bersinggungan dengan kejadian itu, kamu tiba-tiba merasakan bahagia atau merasakan kesedihan.
Sosok kecil di dalam diriku kunamai Little Fath. Sosok kecil yang selalu ingin dipeluk jika sedih, selalu ingin dibawa makan es krim jika senang, selalu ingin dimengerti kondisinya, dielus-elus kepalanya, dan diajak ngobrol atau diam sampai dia meresa baik-baik ssja. Sosok kecil yang sama sekali tidak berdosa, matanya memancarkan cahaya bening. Sesekali ia akan muncul dan membuat fath besar tersenyum atau bahkan menangis bersama. Sosok kecil yang takut membuat orang lain marah, sosok kecil yang penuh kehangatan, sosok kecil yang dijuluki bunga matahari kecil, ummu abiha. Sosok kecil yang hidup diliputi bahagia hingga kesedihan.
Ya, sosok kecil di dalam diriku kadang menyebalkan kalau muncul. Apalagi kalau dia cemburu, duh bisa mendangkalkan pikiran, atau nangis berjam-jam. Cemburunya karena apa? Karena dia merasa tidak diperlakukan sama. Waktu kecil, oleh salah seorang keluargaku, aku selalu diperlakukan berbeda dari kakak hingga sepupu-sepupuku. Kemudian hal itu tertanam di dalam alam bawah sadarku hingga hari ini, ketika ada yang memperlakukanku berbeda, sosok kecil dalam diriku akan merasa "dia tidak menyukaimu, membencimu". Asumsi-asumsi akan lahir dan beranak pinak di dalam kepalaku, hingga pertanyaan "apa yang salah denganku, kenapa mereka berlaku demikian". Sosok kecil dalam diriku akan terus bertanya, bersedih, menangis hingga kemudian akan tiba disatu titik dimana, sosok kecil itu akan berusaha memboikot orang-orang yang menurutnya jahat. Sosok kecil itu akan berusaha membangun jarak dan kemudian menarik diri perlahan demi perlahan dari sosok yang menurutnya berlaku jahat kepadanya.
Sampai kemudian berhari, berbulan, bertahun, lahir penerimaan oleh sosok di dalam diriku itu; jika tidak semua manusia suka dan harus menyukai kita. Mereka dengan isi kepalanya bebas menilai diri kita seperti apa. Tidak semua orang harus mengerti dan memperlakukan kita sama. Bahagianya, sosok itu selalu mengingatkan fath besar untuk berlapang dada, bersabar dan membalas semuanya dengan kebaikan bukan berlaku sebaliknya. Sosok kecil itu masih merekam sempurna nasehat bapaknya; jika keburukan jangan dibalas dengan keburukan tetapi kebaikan. Berlaku saja baik tapi untuk disakiti kedua kali, jangan kamu biarkan.
Sebenarnya, kehadiran sosok kecil di dalam dirimu adalah potret bahwa kamu perlu lebih banyak mengambil waktu dengan dirimu. Kamu perlu banyak berdiskusi dan berbicara dengan sosok kecil itu. Kamu harus banyak belajar mendengarkan dan mengajaknya bertukar pikiran. Jika ia muncul lagi, maka peluklah dirimu, katakan padanya.. kita akan baik-baik saja. Tidak ada yang akan menyakiti kita. Jika sosok itu hendak menangis maka biarkanlah dia menangis, jika sosok itu hendak menuangkan isi kepalanya maka biarlah ia menuangkan isi kepalanya, jika sosok itu ingin dipeluk, maka sediakan peluakan terhangat.
Semoga pasanganku kelak mengerti kondisiku, mengerti kehadiran little fath dalam diriku. Mengerti bahwa aku masih terus berusaha berdamai dengannya. Sosok kecil adalah bagian dari diriku, bagian dari sosok yang harus ia cintai dan sayangi juga. Sosok itu hanya perlu dinasehati dan diberikan senyuman, pelukan, elusan. Tidak dimarah-marahi apalagi disalah-salahkan. Pemakluman dan penerimaan darinya kelak adalah kebaikan yang semoga dari sana mengantarkan pengabdian paripurnaku padanya, ridho paripurnanya padaku, mengantarkan kita ke syurga Allah bersama-sama yaa, sayang. Bahkan bisa jadi di dalam dirimu pun ada sosok kecil yang kelak akan kupeluki semua duka lara senang bahagianya :')
Sosok kecil, tetaplah baik-baik yaa.. jangan overthinking :')
Fath D. Humairah || Ruang Hati, 10 Februari 2021
Satu dua tempat, waktu dan kejadian mengingatkan banyak hal
Mengulang memori yang seharusnya tidak diingat
Kenapa sesak itu masih ada, kenapa berat hati ini masih hadir. Sesak sekali ya Allah 😭
Usahaku sudah sangat keras, menghapus dan abai terhadap semuanya.
Hati, kumohon berdamailah..
Bismillah. Lakukan. Lupakan.
Bab setelah menyempurnakan ikhtiar adalah bab tawakal.
Bismillah.. Rabbi yassir walla tuasir. Permudah urusan kami, yaa Rabb..
Untuk setiap orang baik yg Allah hadirkan..
Terimakasih telah membuat diri ini merasa dicintai karena tindak yg sederhana.
Bukan ungkapan, namun sampai hingga lubuk.
Terimakasih telah menjadi orang baik.
Semoga bisa terus sama-sama saling memastikan kita selalu dalam keadaan baik 🥰
Cianjur, di malam penutup tahun.
Semoga Allah ridhokan pribadi diri yg terus berbenah.. 🙏
Aku
Yang banyak kekurangan, yang jauh dari teladan
Hanya satu yg menjadi harapan, biar Allah saja yang dengarkan dan semoga Allah qabulkan..
Berbekal pertolongan Allah
Hanya Dia Yang Maha Membolak-balikan
Semoga Allah shalihkan hati-hati yang begitu ibu sayang. 🙏
Bismillah.
Kalau tidak ingat tujuan, rasanya ingin mundur
Kalau tidak ingat bekal, rasanya ingin berbalik arah
Kalau tidak ingat kematian, rasanya ingin pulang dan menyerah
Tapi..
Ada tujuan yg ingin dicapai
Ada bekal yg ingin diraih
Dan ada kematian yg pasti datang.
😭
Tuntaskan PR pribadi, ringankan perahumu.
Menikah adalah bahtera baru. Ibadah terlama, penyempurna agama.
Setengah agama ada padanya, seserius itu. Mempersiapkan bahtera pernikahan adalah hal yang serius. Ya seserius itu.
Menikah butuh ilmu. Dan ga main main.
Layaknya sholat yg kita gabisa sembarang melakukannya, nikah adalah ibadah yg juga perlu tuntunan.
Bahtera rumah tangga tak selamanya berjalan baik, kadang ada angin, topan bahkan badai. Goyah, tentu goyah. Jika tak kuat menahan, mungkin sampai tenggelam. Naudzubillah.
Ilmu dibutuhkan keduanya, pihak istri juga suami. Satu visi yg harus disatukan, tak henti belajar dan membelajarkan.
Menuntaskan PR pribadi, menyelesaikan masalah-masalah yg ada pada diri. Sifat buruk, egois diri, kemageran yang hakiki, itu pekerjaan yang harus segera dituntaskan sebelum pernikahan. Meringankan perahu, meminimalisir beban.
Belajar dan belajar..... Bismillah 🙏🙏
Ikhtiar adalah bentuk ibadahnya manusia. Berupaya di jalan yang Allah ridho padanya. Ada pada langkah yang disyariatkan. Perantara org baik yang hadir di sekeliling. Selebihnya adalah bagian-Nya Allah, mau dibagaimanakan. Tetap pada yakin, bahwa ketetapan Allah adalah sebaik-baiknya keputusan. Bismillah... 🙏