Ini rindu, tapi tak boleh. Jangan.
Game of Thrones Daily
Misplaced Lens Cap

No title available

❣ Chile in a Photography ❣
official daine visual archive

ellievsbear
Cosmic Funnies
Fai_Ryy
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
occasionally subtle
No title available
hello vonnie

⁂

izzy's playlists!

★
Keni

titsay
almost home

PR's Tumblrdome

roma★

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from T1

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Chile
seen from United States

seen from Australia

seen from Australia
seen from Ireland
seen from Argentina
@rusaalfa-blog
Ini rindu, tapi tak boleh. Jangan.
The Way I Lose Her: Final Countdown.
Semoga Tuhan mengizinkan aku menjadi sesuatu yang tak bisa mantanmu beri. Yang mengertimu, yang selalu ada, dan yang terpenting, yang tidak pergi lagi.
===
.
Setelah melihat Ipeh dan Bobby pergi, gue menengok ke arah anak monyet di sebelah gue ini.
“Kemana lo dah ini?” Tanya gue.
“Nongkrong dulu dah kayaknya gue. Lagian masih jam segini masa dah pulang. Tuh anak-anak panitia yang lain lagi pada nge-shisha. Ikut nggak lo?”
“Boleh deh. Kalau kemaleman gue nginep di rumah lo yak.”
“Akur..” Balas Ikhsan sambil menggandeng tangan gue mesra.
Namun ketika gue dan Ikhsan hendak pergi berkumpul dengan para anak panitia kelas satu yang lain, tiba-tiba kang Acil mendatangi gue.
“Dimas..” Katanya sambil berjalan cepat menghampiri.
“Yoi, Kang. Ada apa?” Balas gue.
“Liat si Cloudy kagak?” Tanyanya lagi.
“Ebuset, ada angin apa nih kang Acil sampe nyariin tuh anak mulu dari sore.” Sindir gue.
“Ah bawel lu. Ngeledek mulu kerjaannya. Gue penasaran setelah kejadian tadi tuh anak kok mendadak ngilang. Temen-temen ceweknya yang pada di sini pun nggak tahu dia ada di mana. Lo ada acara nggak habis ini?” Tanya kang Acil lagi.
Gue melirik ke arah Ikhsan, dan Ikhsan cuma membalas lirikan gue gitu aja.
“Enggak ada acara kok, Kang. Ada apaan?”
“Nah kebetulan, gue mau minta tolong sama lo karena kebetulan juga lo deket sama si Cloudy. Cariin tuh anak dong, Dim. Gue khawatir juga malem-malem begini tuh anak ngilang begitu aja. Gue nggak enak sama si Ade. Gini-gini kan kita keamanan, jadi sudah tugas kita kalau ada masalah apa-apa. Gimana?” Kang Acil terlihat serius.
“Wah kalau itu yang kang Acil bilang sih, saya pasti nurut-nurut aja.”
“Nah bagus deh. Kalau udah ketemu langsung sms gue yak. Gue sama anak panitia yang lain bakal di sini dulu kok.”
“Oke, Kang.” Kata gue. “Nyet, gue caw dulu yak.” Sambung gue lagi sambil menepuk pundak Ikhsan.
“Yoi.” Jawab Ikhsan singkat, “Btw, Kang Acil. Katanya kang Acil punya updatean bokep indo terbaru ya? Bluetooth dong, Kang.” Tukas Ikhsan sambil mendekat ke arah kang Acil.
Si Anjing! Doi sama sekali nggak peduli sama gue lha malah sekarang minta updatean bokep terbaru. Emang goblok teman gue yang satu itu.
Tapi yasudahlah, tanpa pikir panjang gue langsung belari mencoba mencari Cloudy ke segala penjuru mall; tapi tetap tidak ketemu juga. Gue coba tanya ke beberapa orang yang lagi nongkrong di daerah sana tetapi mereka semua pada tidak tahu. Gue mencoba mendatangi Pizza Hut depan, tapi tak ada dia juga di sana.
Malam-malam dingin begini gue mendapatkan mandat untuk mencari anak orang. Bener-bener nyusahin dah, yang putus siapa, yang disuruh ngerawat siapa. Gue lama-lama heran sama diri gue sendiri, kenapa ya rasa-rasanya gue ini selalu hadir di kehidupan rumah tangga orang lain? Dan yang paling bajingannya tuh entar ujung-ujungnya ya gue sendiri yang ditendang paksa buat pergi. Kagak tahu terima kasih dasar.
Gue berjalan menyusuri trotoar mencoba pelan-pelan mencari Cloudy. Setelah cukup lama mencari, akhirnya gue mencoba memutuskan mencari ke dalam komplek supermarket Super Indo Dago yang terletak tidak jauh dari sana. Di halaman depan Supermarketnya situ juga terdapat restoran Kaepsi yang sudah tentu masih buka di jam-jam segini.
Pelan-pelan gue masuk ke area supermarket sambil celingak-celinguk udah mirip kaya copet demi mencari keberadaan sang Tuan Putri. Gue mencoba memeriksa di kawasan restoran Kaepsi dan Alhamdulillah, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Gue menemukan sosoknya ada di sana lagi duduk di satu kursi Kapesi yang kebetulan tempatnya outdoor. Dia duduk di kelilingi oleh teman-teman wanitanya yang dari tadi masih mengelus-elus punggungnya.
Gue diam sebentar menatap Cloudy dari jauh. Walaupun mata gue minus, gue masih bisa menjumpai ada begitu banyak air mata yang tengah ia turunkan. Kantong matanya besar dan lebam kaya kantong mata pak Jokowi. Di bawah hembusan angin malam yang begitu sejuk namun terasa sedikit dingin, gue memperhatikan ke segala sisi, terutama di sisi jalanan depan.
Di trotoar depan, gue melihat ada seorang anak kecil sedang menjajakan bunga kepada mobil-mobil yang tengah terdiam karena lampu merah. Di daerah Dago seperti ini sudah wajar apabila mendapati banyak sekali penjual bunga batangan berkeliling dari satu mobil ke mobil yang lain. Tanpa pikir panjang gue langsung bergegas mengejar anak kecil si penjual bunga tersebut lalu menghampirinya. Membeli satu tangkai bunga yang saat itu harganya dibandrol 5 ribu rupiah per tangkai.
Setelah membawa satu tangkai bunga segar yang gue sembunyikan di belakang punggung, diam-diam gue berjalan perlahan menghampiri tempat di mana Cloudy dan teman-temannya berada. Dari jauh tampaknya mereka belum sadar, hingga kemudian ketika jarak antara gue dan meja mereka sudah cukup dekat, teman-teman Cloudy tampaknya menyadari kehadiran gue.
Mereka berbisik sebentar, lalu kemudian pergi menghampiri gue.
“Titip Clow ya..” Kata mereka seraya berlalu begitu saja.
Gue hanya melihat ke arah mereka lalu berjalan perlahan menuju meja tempat Cloudy berada. Dia tidak melihat ke arah gue, dia hanya terus memandang kosong ke lantai tanpa sedikitpun peduli kehadiran gue.
“Hei..” Kata gue mencoba menyapa, namun tetap tidak ada balasan.
“Di sini kosong? Aku ikut duduk ya..”
Gue menggeser kursi hingga kemudian duduk di sebelahnya. Sambil masih duduk bersandar dan terdiam, gue keluarkan setangkai bunga yang baru gue beli barusan itu dan memberikannya ke hadapan Cloudy.
“Ini.. Sebagai permintaan maaf gue. Maaf ya..”
Gue sebenarnya nggak tahu gue punya salah apa. Tapi menurut kamus Don Juan, apapun yang terjadi kalau cewek udah bete mah minta maaf aja. Dan itulah yang gue lakukan sekarang. Minta maaf tanpa tahu salah gue apaan.
“Kok nggak diambil? Ambil dooong…” Tukas gue sambil masih mengacungkan setangkai bunga di hadapannya.
“Pfft.. Yaudah aku taruh di sini ya..” Gue menyimpan bunga itu di atas meja lalu kemudian terdiam lagi.
“Dicariin kang Acil noh..”
“…”
“Ada salam dari Ipeh..”
“…”
“Wah langitnya cerah ya..”
“…”
“Udah mau jam sebelas lagi aja. Denger-denger Dago ini dulunya kan hutan lebat ya. Apalagi di daerah kawasan supermarket ini, kalau denger dari cerita orang-orang sini sih dulu banyak banget karyawan supermarket yang pernah kesurupan. Di pohon depan itu juga biasanya kalau malem sering ada kun…”
Brak! Kursi gue ditendang..
Tuh kan gue salah lagi kan. Da aku mah apa atuh.
Kami berdua terdiam lagi. Semakin malam, udara Bandung jadi semakin dingin. Gue buka jaket gue lalu gue pakaikan ke pundak Cloudy sebelum tiba-tiba dia menghempaskan jaket gue hingga terjatuh.
“Apaan sih?!” Ucapnya ketus.
“Udaranya dingin. Kamu bajunya tipis.” Kata gue yang lalu mengambil jaket yang sempat terjatuh itu dan memakaikannya lagi sebelum kemudian kembali dihempaskan oleh Cloudy.
“NGGAK USAH SOK BAIK!”
“…”
Gue menghela napas panjang.
“Lo mau marah sama gue, terserah, gue kagak peduli. Tapi setidaknya pakai jaket ini. Jangan belagak kuat deh lo.” Gue terlihat bete.
“Peduli apa lo sama gue?!” Balasnya jutek banget.
“Gini deh gini, gue kasih pilihan, lo mau pake jaket ini sendiri, atau mau gue pakein?”
“Apaan?! Itu sih pilihannya seenak jidat lo sendiri!”
“Oke, berarti gue anggap lo memilih pilihan untuk gue pakein ya..”
“OGAH!! SINI!! Mending gue pake sendiri daripada dipakein elo.”
“Yaudah. Nih..”
Sambil masih ngedumel, akhirnya Cloudy mau memakai jaket kepunyaan gue tersebut.
“Masih ngambek?” Tanya gue membuka percakapan.
“Ya menurut lo?”
“Masih.”
“Kalau udah tahu ngapain nanya?!”
Buset nih anak galak amat kaya ikan cupang.
“Emang salah gue apa sih, Dee?” Tanya gue lagi.
“Pikir aja sendiri.”
“Udah. Tapi nggak ketemu.”
“So what?”
“…”
Ya Tuhan.. Gue rasa kalau gini terus yang ada malah obrolan kami berdua kagak akan ketemu titik permasalahannya di mana. Gue harus cari cara lain nih agar ini anak mau ngomong masalah dia yang sebenarnya itu apa.
“Gue heran. Di sini status gue apa sih. Pacar bukan, mantan bukan, suami bukan, bapak tiri juga bukan. Tapi kenapa gue selalu berakhir di keadaan yang mengenaskan kaya begini ya? Bahkan dari puluhan orang yang ngefans sama elo pun, anehnya kenapa malah gue yang jadi kena getahnya.” Gue ngedumel sambil nggak melihat ke arahnya.
“Yaudahlah nggak usah deket-deket sekalian kalau gitu!” Tiba-tiba Cloudy berdiri dari duduknya dan bersiap pergi, namun dengan sigap gue langsung menggenggam tangannya.
“Duduk dulu.”
“Apaan sih?! Lepasin nggak?!”
“Duduk dulu..” Gue menatapnya serius.
Dia menatap gue sebentar, lalu mendengus kasar dan kemudian duduk lagi sambil membuang muka.
“Karena gue nggak boleh melebihi batas teman seperti janji gue sama lo beberapa hari yang lalu itu, maka malam ini izinkan gue bertanya beberapa hal sama lo layaknya seorang teman. Lo lagi ada masalah apa sih? Jujur gue nggak tahu sama sekali, itu pun karena lo nggak pernah cerita apapun sama gue dan gue juga nggak mau jadi orang yang sok tahu dan mencoba memasuki kehidupan rumah tangga orang lain. Tapi kalau ternyata gue punya andil dan membuat lo jadi bete, maka ada baiknya lo bisa jelasin ke gue juga. Biar gue nggak ngerasa serba kebingungan kaya gini.”
Cloudy tetap terdiam dan tidak menjawab pertanyaan gue barusan. Lama-lama diam di keadaan kaya gini ngebuat gue makin dongkol juga, akhirnya gue meraih bunga yang tergeletak di atas meja lalu bersiap pergi sebelum tiba-tiba Cloudy menatap gue.
“Gue nggak suka kalau kaya gini terus caranya.” Ucapnya tiba-tiba, membuat gue yang tadi hendak pergi menjadi duduk kembali.
“Maksudnya?”
“Lo tahu kan kenapa gue minta putus dari dia?”
“Secara garis besarnya? Iya tahu.”
“Apa yang kalian semua lihat tentang gue dan kehidupan percintaan gue sebenarnya nggak hanya sebatas itu. Biar bagaimanapun gini-gini gue juga perempuan, gue kalau sudah terjun ke dalam satu hubungan, sebisa mungkin untuk tetap menjaga hubungan itu. Dan tentu saja gue nggak main-main. Kalau hanya sekedar main-main sih gue nggak butuh. Buat apa? Biar dikenal banyak orang karena pacaran sama cowok keren? Nggak butuh, gue bisa dikenal tanpa butuh cowok. Ditraktir makan? Nggak butuh, gue bisa bayar makan gue sendiri. Dianter ke mana-mana? Nggak butuh, gue punya supir yang jauh lebih berpengalaman.”
Gue mendengarkan dengan seksama mencoba mencari letak kesalahan gue ada di mana.
“Seharusnya dia tahu, pacaran sama gue berarti dia harus bisa menerima diri gue sepenuhnya. Tidak berarti dengan status pacaran lantas dia bisa seenaknya merusak jadwal keseharian gue. Iya gue tahu pacaran itu butuh waktu berdua, tapi kalau dengan pacaran lantas kehidupan gue jadi terbeban kaya gini, ya buat apa pacaran? Dia pacaran sama gue berarti dia harus juga pacaran dengan segala resikonya. Lo tahu sendiri lah resiko pacaran sama gue apaan, kan?”
Nih anak lagi curhat tetep aja sombongnya minta ampun.
“Hari ini gue udah janji sama kang Ade untuk dateng tepat waktu, tapi ternyata sebelum gue berangkat dia udah ada di depan rumah. Nyegat gue buat ngajak ngobrol. Ngancem ini itu terus ujung-ujungnya berantem. Setiap gue mau pergi selalu saja dihalangi, dia nggak akan ngasih izin gue pergi kalau gue nggak mau ngedengerin penjelasan dia dulu. Bete sumpah gue. Jadi aja tadi gue datengnya telat parah!”
“Lagian elo juga sih pacarannya nggak sehat.” Bales gue sambil meniup-niupkan telapak tangan karena kedinginan.
Cloudy menengok sambil menaikan alis, “Emang menurut lo pacaran yang sehat itu yang kaya gimana?”
“Pacaran sehat itu yang rajin olahraga bareng. Minimal senam kegel..”
“Apaan sih!”
“Tuh kan gue salah lagi..” Tukas gue lesu.
Kemudian Cloudy kembali memalingkan mukanya. Kembali hening. Diam sebentar, sebelum tiba-tiba..
“Dan elo juga!”
Brak! Mendadak dia menengok kasar sambil menggebrak meja. Gue tertegun.
“Gue pikir lo itu beda. Tapi ternyata lo sama aja kaya yang lain. Sama pengecutnya. Sama nggak beraninya. Sama-sama takut untuk melewati apa yang menghalangi di depan. Lo ngerti nggak sih, hah?!”
Gue terdiam.
ANJIR GUE MALAH MAKIN NGGAK NGERTI KAMPRET!! MAKSUDNYA APAAN PENJELASAN ELO BARUSAN TUH?!
Dengan wajah bloon, gue cuma bisa mengeluarkan sepatah kata, “Hah?”
“Hah Hoh Hah Hoh lo kaya orang begok! Lo sebenarnya ngerti nggak sih?! Lo itu pengecut! Pathetic! Lemah! Nggak ada bedanya sama mantan gue barusan. Atau bahkan mantan gue itu jauh lebih berani ketimbang lo!”
Mendengar harga diri gue tiba-tiba dibanding-bandingkan sama si Kembang Tahu tanpa ada sebab yang jelas, sontak gue jadi tersulut emosinya.
“Maksud lo apaan ngatain gue nggak lebih berani dari dia?!”
“…” Kini dia yang terdiam menatap serius ke arah gue.
“Iya emang gue lemah, gue pengecut, gue menyedihkan, gue goblok setengah mati! Dan mungkin karena sifat-sifat itulah gue bisa menemukan kalian semua! Orang-orang yang bisa seenaknya main perintah, tidak menghargai perasaan gue, pergi begitu saja ketika gue butuh. Kalian cuma tinggal datang dan gue bisa menerima begitu saja. Jangan karena gue baik lantas kalian bisa dengan seenaknya mengambil keuntungan untuk terus manfaatin gue begitu aja. Gue juga punya hati!”
Tiba-tiba, tanpa gue sadari gue kembali mengingat segala sakit hati yang gue lalui beberapa bulan ke belakang itu. Bagaimana gue harus dibuat jatuh cinta, dibuat membutuhkan, lalu ditinggalkan begitu saja. Tanpa sadar penjelasan Cloudy barusan menyulut semua kenangan yang sebenarnya tak pernah ingin gue ceritakan kepada orang lain ini. Namun malam ini gue benar-benar lepas kendali, gue malah melampiaskan kekesalan hati gue kepada seorang anak cewek yang gue rasa dia tidak pernah dibentak sama sekali seperti itu selama hidupnya.
Mendengar ucapan gue barusan, gue melihat ada bulir air mata menggenang di mata Cloudy. Sontak gue kaget, gue langsung tersadar begitu saja. Tidak sepantasnya gue berkata seperti ini. Cowok macam apa gue ini yang bisa membiarkan emosinya lepas begitu saja. Astaga! Gue merasa bersalah sama Cloudy.
Cloudy berdiri dari duduknya namun langsung gue tahan sekali lagi.
“Maaf.”
“LEPASIN!!”
“Maaf, nggak seharusnya gue ngomong gitu. Tapi tolong untuk sekali saja, dengarkan penjelasan gue terlebih dahulu. Maaf sudah berbicara kasar seperti itu, tapi mengertilah, Dee, di sini pihak yang terluka bukan cuma kamu doang. Please, duduk sebentar.” Pinta gue sambil terus menggenggam tangannya.
Akhirnya sambil mengusap air matanya dengan ibu jari, ia kembali duduk dan tetap membuang muka. Gue duduk di sebelahnya dan mengambil setangkai bunga yang tergeletak di atas meja lalu kembali memberikannya kepada Cloudy.
“Maaf.”
Namun tiba-tiba tangan gue ia tangkis begitu saja hingga bunga yang tengah gue genggam itu jatuh ke atas tanah.
“Selama ini lo ngerti nggak sih?!” Cloudy berbicara dengan nada lebih keras ketimbang biasanya.
Gue diam. Ingin rasanya gue bohong kepada Cloudy, namun biar bagaimanapun gue tetap tidak bisa. Gue benar-benar tidak tahu ada masalah apa antara gue dan Cloudy malam ini. Sambil tertunduk lesu, gue menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti.
“Ternyata bener, lo nggak ada bedanya sama cowok-cowok di luar sana. Jahat!”
Angin malam kian berhembus kencang. Pembicaraan serius dua orang anak kelas satu SMA di depan sebuah restoran cepat saji ini seperti membungkam semua suara yang ada di sekitar. Walaupun sudah sepi sekali orang yang berlalu lalang di daerah supermarket ini, namun tetap saja rasa-rasanya suara Cloudy jauh lebih menggema di telinga gue ketimbang biasanya.
Gue masih benar-benar tidak mengerti salah gue ada di mana. Keheningan yang hadir di antara kami berdua membuat gue kembali berpikir, kenapa rasanya setiap gue dekat dengan seseorang semuanya selalu saja berakhir dengan tidak baik. Seperti hadirnya gue adalah masalah di hidup mereka. Apa mungkin selama ini semua titik masalahnya tuh ada di diri gue sendiri ya?
Lagi berdiam penuh keheningan di tengah dinginnya udara Bandung malam hari begini, Cloudy kembali berbicara dengan suara yang cukup pelan.
“Gue mau tanya satu hal sama lo.”
Mendengar ucapannya barusan, gue langsung menengok melihat ke arahnya.
“Tentang?” Tanya gue pelan juga.
“Si anak tomboy yang selalu ngintilin lo ke mana-mana itu.” Balasnya lagi.
“Ipeh?”
“Entah, gue nggak peduli siapa namanya. Tapi gue mau nanya sama lo tentang dia.”
“Kenapa?” Gue makin penasaran.
“Lo inget waktu kita mau nyari sponsor, tapi pas di depan gerbang sekolah ketika lo mau ngeluarin motor lalu tiba-tiba lo liat dia lagi dijemput sama pacarnya?” Tanya Cloudy sambil masih tetap tidak menatap gue.
“Inget. Yang selanjutnya dengan seenak jidat lo malah ngebatalin acara cari sponsor dan malah nyelonong pergi gitu aja, kan?”
“Ih kok jadi mojokkin gue sih?”
“Ya emang gitu kan?”
“Jadi? Lo masih mau ngungkit kesalahan gue yang dulu? Lagian gue kan udah minta maaf.”
“Minta maaf gigi lu gondrong.”
“Apaan sih.”
“Yaudah apaan.”
“Tau ah.”
“Oke..”
“KOK MALAH JADI BERANTEM SIH?! AKU KAN NIATNYA NANYA TADI!!”
“Lha iya juga. Lagian elu juga sih tiap ngomong sama gue sensi mulu bawaanya.”
“Tuh! Jadi sekarang nyalahin gue lagi?”
“Ya Tuhan balik lagi ini mah ke percakapan awal.”
“Makanya elo nggak usah ngalihin pembicaraan. You’re speak too much tahu nggak sih?!”
Ebuset! Bukannya situ yang ngobrol mulu dari tadi?! Nih anak lama-lama ngingetin gue sama bibi warteg di kantin SMP gue yang dulu, kerjaanya marah-marah mulu. Gue lagi nungguin kembalian sambil mainin beras aja dimarahin. Mulutnya pedes kaya karedok mercon.
“Gue masih sedikit inget, kalau nggak salah dulu lo pernah cerita kalau dia itu lagi deket sama lo, tapi kemudian karena lo orangnya pathetic dan nggak berani untuk bertindak, akhirnya dia direbut sama orang lain. Bener nggak?” Tanyanya lagi.
“…”
Tai nih anak, nanya sih nanya tapi ujung-ujungnya nyelekit di hati.
“Gue benar-benar penasaran, apa sih yang lo liat dari dia sampai lo bisa suka sama tuh anak? First of all, dia nggak ada manis-manisnya kaya cewek biasanya. Kedua, dia nggak ada anggunnya sama sekali. Ketiga, pakaiannya itu loh, dih.. Lo gila ya?” Tanya Cloudy serius.
Gue terdiam.
“Jawaban yang lo cari dari gue sebenarnya udah kejawab di pertanyaan lo barusan.” Kata gue polos.
“Hah? Apaan?” Dahi Cloudy berkerut tanda tak mengerti.
“Satu, dia nggak kaya cewek biasanya. Oleh karena itu gue suka. Dia nggak membosankan dan nggak melakukan hal-hal girly annoying yang sering dilakukan cewek-cewek lain. Kedua, dia nggak anggun, tapi dia nggak ribet untuk jaga gengsi. Dia itu seperti cowok, tapi berbungkus wanita. Dia tidak meributkan hal-hal kecil seperti yang biasa cewek-cewek lain ributkan, dan sebenarnya semua cowok suka sama tipe cewek yang seperti itu. Dan yang ketiga, dia sama sekali nggak ribet mikirin penampilan. Dia nggak mikir untuk dilihat orang, tapi dia mikir untuk jadi dirinya sendiri. Wanita mana yang lebih terlihat anggun di mata para pria ketimbang wanita yang begitu nyaman dengan dirinya sendiri?”
“…”
Cloudy terlihat terdiam dan berpikir tentang apa yang gue bicarakan barusan.
“Apa semua cowok berpikiran seperti itu?” Tiba-tiba Cloudy mengajukan pertanyaan lagi padahal di awal tadi dia bilangnya mau bertanya satu hal doang.
“Nggak juga. Toh buktinya banyak yang lebih naksir sama elo ketimbang sama dia. Gue aja dibilang bego kok sama si Ikhsan lantaran suka sama Ipeh.”
“Bentar-bentar. Kenapa lo jadi ngebandingin dia sama gue? Apa dia sama gue itu terpaut begitu jauh? Dan kalau tentang masalah temen lo yang bilang lo itu bego sih gue juga setuju. Elo emang bego.”
“Lha kok malah jadi ngomongin gue?!” Gue nggak terima.
“Lo ngerti nggak maksud pembicaraan gue ini?”
“Kagak.”
“Lo ngerti tentang pertanyaan-pertanyaan gue waktu lagi duduk di trotoar jalan depan sekolah?”
“Kagak juga.”
“Lo ngerti kenapa gue bilang jahat barusan?”
“Enggak.”
“Tuh kan. Emang bego berarti.”
“Hah?! Gue nggak ngerti deh. Gimana-gimana?”
“Ah ribet ah jelasin sama orang bego.”
“…”
“Sekarang gue mau nanya beberapa hal lagi sama lo.” Tambah Cloudy yang kini terlihat semakin serius.
Tuh kan, nambah lagi kan pertanyaannya. Udah kaya soal UTS pertanyaan nih anak. Soalnya sih satu nomer, tapi disuruh ngerjainnya pake penjelasan A sampai Z.
“Gue bukan bermaksud apa-apa bertanya hal ini sama lo. Tapi gue lagi mengalami sesuatu yang membuat gue benar-benar penat malam ini. Kepala gue benar-benar penuh, nggak bisa mikir jernih seperti biasanya.”
“Lo mau nanya apa lagi emang?”
Cloudy terhenyak sebentar, seperti ada kata-kata yang menyangkut di tenggorokannya.
“Apa sih yang dia punya tapi nggak gue punya?” Ucapnya pelan sekali.
Gue tertegun. Seorang Cloudy bertanya hal-hal seperti ini sama gue?! Wah ada angin apa nih sampai dia berani menanyakan hal yang menurut gue susah banget untuk keluar dari mulutnya itu?
“Hmm..” Gue mencoba mencari cara yang tepat untuk menjelaskan agar bisa dicerna oleh si Tuan Putri. “Lo punya apa yang dia punya kok. Bahkan lo lebih punya segalanya. Kan gue sudah bilang di awal, buktinya aja banyak yang lebih ngejar-ngejar lo ketimbang ngejar-ngejar tuh anak.”
“Tapi elo enggak tuh.” Balas Cloudy.
“Ah nggak juga.”
“Jadi? Lo ngejar-ngejar gue juga?”
“Enggak juga.”
“IH GIMANA SIH?!”
“Hahahaha.. Lo itu punya segalanya, tapi mungkin, karena segalanya itulah yang kadang membuat cowok jadi nggak bisa berdiri di samping lo layaknya cowok berdiri di samping Ipeh.” Sambung gue lagi.
Cloudy hanya diam memperhatikan.
“Pernah nggak sih lo liat betapa seringnya seorang cowok bertanya ‘mau makan di mana?’ sama ceweknya? Itu bukan semata-mata karena dia nggak tahu harus makan di mana, tapi dia melakukan itu karena dia tidak ingin mengecewakan kekasihnya. Terkadang cowok berpikir dia lebih baik makan makanan tidak enak ketimbang harus membiarkan wanitanya makan makanan yang tidak wanitanya suka. Oleh sebab itu dia sering bertanya, dia tidak ingin keputusannya itu malah menyakiti wanitanya.”
“Loh, cowok harusnya jadi pemimpin dong! Dia harus nentuin ke mana harus melangkah. Masa soal mau makan di mana aja harus nanya ke cewek?”
“NAH! ITU!! Itu lah perbedaan cowok dan cewek!” Gue terlihat begitu bersemangat ketika menjelaskan hal ini. “Cewek itu ingin cowoknya menentukan tujuan, Sedangkan cowok itu ingin menyamankan wanitanya dengan melaksanakan apa yang wanitanya inginkan. Di sini lah kadang terjadi bentrok yang paling sering dialami di sebuah hubungan. Terkadang terjadi perang juga di batin cowok tanpa kalian para pihak wanita tahu. Kami sering ragu, apakah keputusan kami ini tidak menyakiti kalian, tidak membuat kalian merasa nyaman, dan masih banyak lagi hal yang lain. Kami sangat berusaha untuk membuat kalian nyaman, dan karena itulah kami sering bingung dalam mengambil keputusan. Salah satu sebabnya adalah karena kami takut kalian sedang tidak ingin berada di tempat itu, makanya kami bertanya kalian mau ke mana.”
“…”
“Kami tidak ingin egois. Tapi karena ketidak-inginan egois inilah, kami malah sering dicap tidak berjiwa kepemimpinan. Semua wanita jarang mengerti hal ini, dan semua pria yang sudah terlanjur mencintai wanitanya juga terlalu takut untuk mengambil keputusan tanpa melibatkan pihak sang wanita. Padahal kalian para wanita 95% bakal setuju dan ikut-ikut aja ketika pihak cowok ngajak makan di mana, ngajak pergi ke mana, dan melakukan apa-apa. Karena kembali lagi ke teori dasar, wanita sebenarnya senang dipimpin.”
“Terus? Apa hubungannya sama pertanyaan gue?” Kata Cloudy masih terlihat kebingungan.
“Si Ipeh itu termasuk salah satu cewek yang bisa menghilangkan gap yang sering menjadi momok dalam sebuah hubungan yang baru saja gue jelaskan barusan. Dia tidak seperti cewek lainnya. Dia sering egois minta ke tempat A tanpa sempat memikirkan pendapat gue terlebih dahulu. Dia yang menentukan mau makan di mana, ingin apa, dan sedang tidak ingin apa. Dia tidak gengsi. Dia malah meminta. Dan gue pun setuju aja karena gue ingin apa yang ternyaman untuknya. Terkadang hal-hal kecil seperti inilah yang membuat gue bisa begitu menaruh hati sama tuh anak. Dia enak diajak ke mana-mana, begitu gue ingin A, dia juga bisa dengan bebasnya mengikuti kemauan gue tanpa merasa canggung sama sekali. Ketika gue lagi pengen makan baso dan dia tidak, dia malah bilang ‘yaudah gue temenin lo makan baso, tapi dah gitu lo temenin gue makan bubur.’. Nah Itu… Itu, Dee! Itu yang membuat dia berbeda. Dia meminta, dan tidak menunggu untuk dipimpin. Padahal ketika dia meminta hal A, gue sebagai pihak cowok akan langsung berdiri di depannya dengan gagah dan mengusahakan sampai ke pilihan A itu dengan gagah layaknya pemimpin.”
“Maksudnya?”
“Begini, ketika dia meminta makan nasi goreng, gue akan langsung cari tempat nasi goreng yang paling enak untuk menyamankannya. Tapi ketika nggak ketemu juga, gue bakal rela masuk ke gang-gang kecil buat mencari tukang nasi goreng hanya agar kemauannya itu terpenuhi. Nah itu, di perumpamaan itu, gue tetap jadi pemimpin kan intinya? Dia yang meminta, tapi tetap gue yang memimpin perjalanan. Dia yang ingin memenangkan perang, tapi tetap gue lah yang memegang kendali penuh untuk memakai cara-cara apa saja agar mampu memenangkan peperangan itu.”
“Hmm..” Cloudy terlihat berpikir lagi. “Emang gue nggak punya sifat itu? Bukannya gue punya ya?”
Gue terkekeh, “PUNYA BANGET!! Malah elo itu lebih egois ketimbang dia.” Kata gue sambil tertawa.
“Ih kok gitu?! Terus gimana dong?” Cloudy terlihat khawatir.
Gue menghela napas panjang.
“Hanya saja bedanya, entah ada hal apa, lo itu mampu membuat para cowok takut untuk melakukan kesalahan. Semisal lo mau makan nasi goreng di daerah alun-alun, sudah tentu gue bakal mengusahakan untuk membawa lo makan di sana, tapi ketika tukang nasi goreng di alun-alun itu tutup, gue nggak akan masuk ke gang-gang kecil untuk mencari tukang nasi goreng demi lo selayaknya apa yang gue lakukan sama Ipeh. Gue malah akan mencari tukang nasi goreng yang seenak tukang nasi goreng di alun-alun buat lo. Itu bedanya, ketika bersama Ipeh gue berani gagal, tapi ketika sama lo, gue terlalu takut jika melakukan semuanya secara tidak sempurna.”
“Loh emang kenapa sama gue? Gue juga mau kok makan nasi goreng di gang-gang kecil. Gue nggak sesombong itu!” Bantah Cloudy.
“Nah iya, elonya sih mungkin bisa, tapi cowok-cowok yang mendekat ke elo itulah yang merasa dia tidak bisa. Itulah yang mungkin menjawab pertanyaan lo perihal jarang ada cowok yang bisa dekat sebagai teman dengan lo. Lo punya sesuatu yang membuat mereka takluk. Entah apaan.”
.
===
.
Sekarang sudah memasuki pukul sebelas malam. Ada satu sms masuk dari Ikhsan menanyakan gue ada di mana, dan tanpa pikir panjang gue langsung memberitahu posisi gue sama Ikhsan.
Gue sama Cloudy kini tak banyak bicara lagi setelah pembicaraan barusan. Badan gue yang tidak terlalu besar ini tampaknya makin malam makin menggigil mengingat jaket gue sekarang lagi dipakai sama cewek rese di sebelah gue ini.
Mata gue yang sedari tadi memang sesekali melihat ke sekitar, tanpa sengaja menemukan seorang kakek tua renta lagi mendorong gerobak penuh dengan buah manggis. Kakek ini tadi sempat berjualan di depan supermarket. Tapi setelah supermarket tutup, dengan terpaksa kakek itu pun harus menyudahi dagangannya. Ya Tuhan, jam segini kok jualan manggis siapa yang mau beli coba?
Ketika ia tengah lewat di depan gue, entah ada angin apa mendadak gue langsung menyapanya agar ia menepi sebentar.
“Mau ngapain?” Tanya Cloudy yang tiba-tiba kaget atas aksi gue tersebut.
“Beli buah.”
“Buat apa sih?! Lagian siapa yang bakal makan malem-malem gini?!” Tanyanya kesal.
“Bawel amat lu kaya anak kecil baru numbuh gigi. Udah diem aja. Btw lo bawa uang kan?”
“Bawa. Kenapa?”
“Sip.”
Kakek tersebut kini ada di depan gue lengkap dengan grobak reyotnya.
“Sabarahaan, bapak?” Kata gue dengan logat sunda halus menanyakan berapa harganya.
“Ah sawios sabaraha wae, kasep. Nye’ep keun.” Ucapnya lirih. Ia menjual tanpa harga pasti. Seikhlasnya aja sekalian penghabisan katanya.
Kasep itu artinya Ganteng dalam bahasa sunda. Tapi sering digunakan oleh orang tua untuk memanggil panggilan ke anak laki-laki.
“Atuh teu tiasa kitu. Ai leresna upami satengah kilo sabaraha, pak?” Gue kembali bertanya harga setengah kilo.
“Tilu rebu weh lah, kasep.”
Ya Allah, setengah kilo cuma tiga ribu rupiah. Padahal sendal yang dipakai buat jalan jauh dan makan minumnya pun mungkin lebih dari harga segitu. Mana sekarang udah larut malam lagi.
“Ai sakilo 6 rebu atuh nya?” Gue bertanya harga satu kilo manggis.
“5 rebu wae kasep wios.” Dia menurunkan harganya menjadi 5 ribu rupiah. Astaga, padahal gue sama sekali nggak niat nawar. Dosa rasanya kalau nawar pedagang kaki lima di jam-jam segini.
“Upami kitu mah meser sakilo wae, pak.” Kata gue yang pada akhirnya memutuskan untuk membeli satu kilo manggis. Cloudy yang ada di sebelah gue masih terdiam.
Selagi kakek tersebut memasukan buah manggis ke dalam kresek, gue langsung melirik Cloudy.
“Dee, pinjem 20 ribu sini.” Kata gue bisik-bisik.
“Apaan 20 ribu?! Kan harganya 5ribu!” Balasnya bisik-bisik juga.
“Udah, jangan banyak tanya. Nanti gue ganti kok. Sini 20ribu.” Kata gue malas berdebat. Cloudy pun pada akhirnya nurut dan memberi gue pecahan 20 ribuan.
Setelah kresek berisi manggis itu diserahkan sama gue, kini giliran gue yang menyerahkan lembar dua puluh ribuan tersebut. Ketika sang kakek mencoba mencari kembalian, gue langsung menahannya.
“Teu kedah, pak. Wios eta mah kanggo bapak wae sadayana.” Gue memilih untuk memberikan semua uang itu kepadanya. Zaman gue SMA kelas satu, nominal dua puluh ribu itu besarnya mungkin sama kaya nominal lima puluh ribu sekarang.
“Atuh kasep ieu mah seeur teuing.” Dia menolak karena uang yang gue beri terlalu banyak.
“Wios pak wios. Nuhun pak.” Gue pun juga menolak untuk menerima kembalian.
“Alhamdulillah, nuhun nyak kasep nuhuuun.” Dia mencoba mencium tangan gue tapi gue tarik karena rasanya gue nggak pantas untuk itu, “Di du’a keun ku Aki sing jadi jalmi anu sukses dunya sareng akherat. Ku Gusti pangeran dipasihan rezeki anu seueur, pinter otakna, dipikaresep ku rerencangan, tur leres akhlakna. Ka neng na oge Aki ngahaturkeun nuhun nyak neng, mugi-mugi langgeng sareng bobogohanana.”
Ya Allah, hanya dengan dua puluh ribu aja gue dapat doa yang begitu banyak dari kakek tersebut. Air mata gue menumpuk di kelopak mata, tapi tetap gue tahan. Gue begitu terharu, kakek yang jalannya saja sudah bungkuk seperti itu sampai rela berterima kasih begitu besar hanya karena sedikit uang yang barusan dia dapat. Dia mendoakan yang baik-baik, mendoakan semoga lancar rezekinya, sukses dunia akherat, dikasih rezeki yang banyak, otak pintar, disukai banyak orang, akhlak yang sholeh.
Tidak lupa kakek itu juga berterima kasih kepada Cloudy yang saat itu ia sangka sebagai pacar gue. Kakek tersebut mendoakan semoga gue berdua langgeng. Cloudy yang sama sekali tidak mengerti bahasa sunda cuma bisa tersenyum sambil sesekali melihat ke arah gue. Dan gue yang melihat hal itu cuma bisa menahan rasa ingin ketawa.
Setelah kakek itu pergi, gue taruh keresek itu di atas meja.
“Kok lo baik?” Kata Cloudy tiba-tiba.
“Emang gue baik kok dari dulu.”
“Nggak cocok sama muka.”
“….” Bangke emang nih anak. Omongannya nyelekit banget ke hati.
“Daripada ngasih ke orang yang minta-minta, lebih baik memberi kepada yang seperti itu. Dia lebih memilih berusaha ketimbang minta-minta.”
“Terus itu manggis sebanyak itu mau dikemanain? Gue rasa itu lebih dari sekilo deh.”
“Ah gampang, taroh aja di tempat nongkrong anak-anak, entar juga ludes sendiri.”
“Kenapa nggak lo bawa pulang aja sih?”
“Gue nggak terlalu suka manggis. Getahnya suka susah dibersihin kalau kena baju.”
“Lha terus kenapa lo beli kalau gitu?!”
“Pengen aja.”
“…”
Gue kembali diam, sesekali juga meniup telapak tangan karena kedinginan. Gue sempat meminta Cloudy untuk pergi dari sini dan kembali ke tempat panitia ngumpul, tapi dia nolak dan meminta agar gue menemaninya lebih lama. Moodnya belum balik; katanya sih seperti itu. Daripada ribet lagi terus diomelin dan dibego-begoin, gue lebih baik nurut aja tanpa banyak bertanya.
“Jadi.. Sekarang lo bener-bener dah putus?” Gue mencoba memecah keheningan.
“Iya, tadi kan gue udah cerita.”
“Nggak akan cari pacar lagi?” Tanya gue lagi.
“Enggak. Gue lagi males pacaran. Cowok yang deket sama gue nggak ada yang bener semua.”
“Ooh…” Gue angguk-angguk.
“Kenapa lo nanya-nanya? Jangan-jangan mau nembak gue lagi? Haha jangan deh, percuma. Jawabannya juga udah pasti. Gue nggak mau pacaran apalagi sama cowok yang pathetic terus orangnya rese kay…”
“Kalau gitu jadi pacar Dimas aja, Dee.”
“…”
Tiba-tiba semua suara menghilang. Hembusan angin malam yang begitu kencang menerpa tubuh kami berdua. Ia menatap gue, gue menatap ke arahnya. Kami sama-sama terdiam.
.
.
.
Bersambung
Previous Story: Here
P.S: Happy Birthday, AF. I accidentally see your birthday’s party picture, and Damn! You’re still stunningly beautiful. Next time you think of beautiful things, don’t forget to count yourself in. And again, Happy Birthday!
This part I’ve made especially for you.
Loves the postscript much. Story also 😍😍
Dont mention his name, please.
Mungkin tak sesegar yang kamu harapkan, tapi aku cukup ingat kenangan indah kita. Penyebab aku menyerah pada rindu.
Mungkin tak sepenuhnya hilang, tapi aku sudah memudarkan kenangan pahit kita. Penyebab putusnya hubungan kita.
Dear kamu, apa kabar?
Hope
Hope means Hajra running for waterin a desert.
Hope means Ibrahim taking the steps to sacrifice his son.
Hope means Asiya resistingher husband, the pharao.
Hope means Musa conquering a sea in which all could drown.
Hope means Yusuf being thankfuleven in a prison cell.
Hope means Yunus glorifying Godtrapped inside a fish.
Hope means Maryam in pain giving birth to a messenger.
Hope means Bilal repeating the shahada while being crushed.
Hope means Muhammad walkingbeing pelted with stones.
Hope means not seeing salvation,but knowing Allah does.
Hope means,
Waktu adalah penyembuh segala rasa sakit.
Cerita Kikuk
Once upon a time, gue naik angkot. Sepanjang perjalanan banyak penumpang yg turun duluan. Tinggalah berdua gue sama si supir. Mana ya, gue duduk disamping supir. Ngobrol lah kami. Si supir kelihatanya sih masih seumuran 23, tapi gue orangnya ga jago nebak juga sih. Tampang si supir manis, gue suka alisnya yg tebel. Khas indonesia, mata sipit, kulit tan gitu. Dia cerita kalo nyupir aja dia bisa dapet duit banyak perhari. Gue iyain aja. Dia nanya2 ke gue tentang kerjaan gue. Dia bilang dia mau jadi bos, bukan diperintah bos. Buat menghormati dia dan mengapresiasi alis tebelnya jadi gue manggut2 sambil senyum. Entah senyum gue yang terlalu manis buat dia *astaughfirullah, gue fitnah*, atau gimana, dia ngobrol terus dan nawarin gue pekerjaan di tempat sodara dia. Dengan entengnya gue jawab: "Hehe makasih, iyaa nanti kalo jodoh," dengan maksud kalo jodoh sama tempat kerjanya gue pasti masuk disana tanpa dia minta. Dia langsung senyum2 sendiri. Dan gue baru sadar kalo tadi pagi gue kembali naik angkot supir beralis tebel itu. Gue kikuk, karena gue baru sadar kalo ucapan gue dulu kala tentang jodoh pasti dianggap salah paham. Yakin gue. Sepanjang perjalanan gue diem aja nggak mau nengok si supir. Ternyata bener, gue di gratisin naik angkotnya. Gue yg gamau ngerasa terbebani akhirnya maksa bayar. Yah, satu cerita tentang penyesalan gue dalam berucap. Semoga gue makin bisa ati2. Dan semoga ga ketemu lagi. Canggung abisnyaa. Aamiin. Maafkan~ *pengalaman pribadi* -_____-
Tidaklah mawar hampiri kumbang
Cieh, apadaya yang cuma bunga bangke
You are the twinkles in my eyes
Love You Longer, Raisa
Silhouette.
At-tin
Salah mengartikan kebaikanmu.
Gue sering banget.
I don’t smoke but I keep a match box in my pocket, when my heart slips towards sin, I burn the matchstick and heat my palm with it, then say to myself, “Ali you can’t even bear this heat, how would you bear the unbearable heat of hellfire?”
Muhammad Ali (American Muslim Boxer)
Originally found on: toallahwereturn
(via islamic-art-and-quotes)
Some gone, some come.
Mungkin lian dan bangprim dikirim Allah buatku, menggantikan kamu.
If you’re an introvert or want to learn more about introverts, check out this page:
https://www.facebook.com/Introvert-Problems-1049503415116099/?fref=ts
yeah…me, all of this
EYE CONTACT thats the biggie for me
Later
Tadi pagi, jalanan yang aku lalui seperti biasa tidaklah lancar seperti biasa. Padat merambat dan membuatku datang terlambat ke kantor. Sepanjang perjalanan aku melihat ke depan sesekali mencuri dengar pengendara lain di sebelahku yang membicarakan tentang apa penyebab dari kemacetan ini. Tak lama, aku melihat ada dua orang yang tergeletak di bahu jalan, entah pingsan, entah yang lebih buruk. Ada darah pada kaki dan tangan mereka, lalu warga sekitar membantu mereka naik ke sebuah mobil yang berhenti dan nembawa mereka. Ke rumah sakit terdekat, mungkin. Sepeda motor yang satu terlihat ringsek berat, yang satu penyok. Semoga mereka selamat, doaku. Jalan pun lancar kembali. ... Hatiku berdesir dan tubuhku lemas ketika salah satu temanku menyebut namamu, tadi pagi kecelakaan di jalan yang biasa aku lewati. Lantas aku memburu dia untuk bercerita. Seketika itu aku tak fokus bekerja, tapi fokus berdoa untukmu. Mencerna apa yang kulihat, apakah aku melewatkanmu tadi. Apakah kamu ada di salah satu diantara dua orang yang pingsan atau yang lebih buruk tadi, atau kamu orang yang sudah naik di mobil sejak awal. Ya, aku panik. Aku khawatir, seperti dia yang khawatir padamu. Benar saja, kamu ada diantara mereka tadi pagi. ... ... *kehilangan ide untuk mengakhiri* *sebagian cerita ini reallife* *next soon*
Things I have learnt as a revert in the past 6 years
I took my shahdah at 17 and entered the beautiful world of Islam. I have grown and learnt so much since then, and have so much that I look forward to learning yet. Here are some things I noticed that may or may not be of help to someone. (I am not the perfect muslim, you may not agree with me on everything).
1. The grey area. When you revert, some of us have an urge to want to know/do everything perfectly. It doesn’t help that some people like to throw information at you and expect you to automatically do all your fasts, cover up etc. I call it the beautiful grey area. If you rush into everything it may be overwhelming. I’ve seen fellow sisters find it too much and leave Islam due to it. Take comfortable baby steps. Its not a race, do what you can and don’t compare yourself to others. What I personally found was the more you learn and fall in love with Islam, your outwards appearance and actions will reflect it. So read, listen and pray. 2. People won’t always understand. You will find a ton of people who mean well and want to help. My mum once screamed to me in a rage of fit that no-one will accept me because I won’t fit in. Now this isn’t true. I’m sure people will accept me, my beautiful friends have. But I won’t fit in, not fully. It’s a feeling of being an outsider to your own and to other muslims sometimes. Find a good base of people, friends, reverts. People with whom you don’t need to fit in but will accept you anyway. At the end of it don’t rely on people too much, you have been chosen by your Lord- who better do you have to turn to? 3. Don’t answer any questions you don’t want to. Muslims are beautiful and accepting and I cannot tell you how much help I have received by beautiful Muslims around me, But don’t feel the need to answer everything. People are curious, they find revert stories as a source of inspiration and love to help. A question I get a lot is “how did your family react?” I hate it. Personally it fills me with dread to have to explain to this stranger how my life is falling apart, I tend to laugh and say “not great” and change the subject. I’ve had a lot of invasive and more personal questions thrown at me which looking back I shouldn’t have been pressured into answering. Some people want to help; others just want an entertaining story. It is not your duty to give them that or share anything that you don’t want to. 4. You don’t have to tell your family straight away. I personally struggled with the guilt of hiding it from my parents. I’ve been doing it for 6 years now and it has become easier. I wouldn’t suggest doing it as long as me but I have my reasons. But you don’t have to deal with it all straight away. It’s a bit overwhelming to revert and then have to deal with the reaction of others. I’d say take your time; tell people when you are comfortable enough with it. (I am aware that not all families will react badly) 5. The guilt. Now I’m from a Hindu family where Islam is taboo and doing what I’ve done makes your family socially outcast. This plus the guilt of hurting the people I love can be a bit much. I have caused unbearable amounts of pain to my parents by accepting Islam and in turn hurt them more then any child should and the guilt of that weighed on me for a very long time. The way I had to see it and the way I hope others would is that by accepting Islam and unleashing this pain onto them. I have introduced them to Islam. Now whether they hate it or not, they are aware of it, and time changes things in ways we can’t imagine. Yes I’ve hurt them but if it turns out they learn a little about Islam and accept it one day and then it will be worth it. 6. The fear. One thing I struggle with as a Muslim is the fear that my parents will die without Islam. Knowing the punishment of the hellfire, no –one could ever want this for their parents. I’m sorry I can’t offer advice here, all I can say is Allah knows best. Make dua for your parents every day. Make your actions be the best dawah possible, and the rest is left to your Lord. 7. Ramadhan. Ramadhan is a beautiful and daunting time for a new Muslim. What I would advise is don’t try and do everything at once. Do a few fasts before so you are prepared. Don’t feel disheartened if you don’t manage to fast all of your fasts for the month. Do what you can and take the time to learn and enjoy the peace that comes with this blessed month. A tip a fellow revert gave me to was to eat slim fast bars and have nourishment for sehri. Now it sounds odd and can be sickening. But it releases energy through out the day and curbs your cravings, I found it helped for me but it may not for everyone. Also it is an easy thing to have snuck in your room and quietly munch! 8. The creeps Now I wish there wasn’t but there a few guys who will take advantage of a revert sister. You are new to this world and at your most vulnerable, just be on a look out. Not all brothers have bad intentions but a fair few might. Don’t believe anything you are told without checking it out and do not feel pressured into something. 9. Good Vibes. I keep a tiny (miniature) Quran hidden on my top shelf in my doll house. I feel like having it in the house protects me. In the past while I sleep I have got a Quran app on my phone and played it out all night. I plugged my headphones in and kept volume low and just left it on my bed. It soothes me to just know it is being played and there even if I am not listening to me. 10. Pray. I know it isn’t easy for everyone. I hide behind the door and pray, half listening out to people approaching. But pray, and talk to your Lord it helps everything. If you can find a local mosque or uni prayer rooms but make sure you keep praying or at least trying to.
I wish I could say it is going to be easy, it’s not. It’s a rollercoaster of emotions, and it really does test you. But you’ve been chosen for this path and if Allah thinks you can do it then no-one can tell you that you can’t. Learn, ask questions and just enjoy it. It is so beautiful if you let it be. I am nowhere near being the perfect Muslim, I mess up and sin so much. Repent and don’t feel like you’ve ever done something so bad that you can’t repent. He forgives all. This is such a beautiful gift that you have been blessed with. It will be your own journey, your own experiences, probably very different from what mine has been so far. But I hope that maybe this helps at least one person out there. I’m here if anyone wants to message me and if I’ve said something that offends you or you disagree with then please accept my sincere apologies! x