Imajinasi gerbang berpenghuni
Sepertinya menjadi hilang sangat menyenangkan. Aku bebas melihat dalam ketiadaan. Aku bebas membual dalam kefanaan. Aku bebas menjauh dalam ketiadaan. Gelap malam menjadi sahabat setia mata yang bertengkar. Imajinasiku tentangmu pun akan semakin utuh. Meski aku tau bahwa temaram akan selalu menemaniku. Dan terang kemudian menjadi pembunuhku. Sepanjang rel kereta yang berdecit merompak embun pagi, aku memilih pergi dari senyumanmu yang takbisa kubawa pulang. Bertemu malam demi malam. Selepas ia tergulung, aku memilih berjalan diatas pematang, meramu langkah tergopoh bersama hati yang telah roboh. Kuangkat kepalaku lalu kulihat sinar matamu disudut timur bersama sinar lainnya. Kenapa tiba-tiba kutemukan titik disana, membentuk aliran. Perlahan, kusipitkan mataku memandang langit. Aku mematung saat melihat hujan mengalir perlahan menuruni malam pipimu, yang tak lama kau hapus segera dengan telapak gelapmu. Tak sempat kita bertatap, kakiku sudah bergetar memeandangmu dalam kehampaan. Mulutku terbungkam oleh kenangan, mataku tak tertahankan untuk berteriak pada jatuhnya hujan kebisuan. Aku tak kuat lagi, aku berbalik badan. Kubunuh langkah mengiringi nada-nada serangga malam, katak-katak berteriak meminta pertanggungjawaban atas perasaanku. Kulewati semua batang dalam jelaga ketidak terimaanku pada lahan-lahan tak bertuan.
Aku terbangun. Ternyata mimpiku telah usai. Ah sungguh mimpi yang membuatku penasaran. Siapa gerangan lelaki yang menangis dilangit malam itu. Aku membetulkan dudukku yang sedikit tidak nyaman, menata sandaran punggungku agar nyaman. Kulihat keluar jendela kereta yang tertutup debu tipis dan senyum tipis. Kekagumanku akan senja yang kulihat diluar sana jelas tercermin dalam kaca yang dipeluk besi berkarat itu. Savana luas membentang, diujung penglihatanku berdiri kokoh gunung yang sedang menyembunyikan rasa cinta dalam perutnya, entah untuk siapa. Dipayungi oleh langit yang terang lalu perlahan gelap. Sayup-sayup kudengar namaku disebut, namaku dipanggil lalu dengan sedikit berteriak dalam isak “adya, adya, aaadyaaa~”. Oh tidak kenapa pipiku basah. Kurasakan dinginnya air malam itu menusuk kulitku, bahkan lebih, ia merobek jantungku, meremukkan rusukku, mentup bola mataku. Namun dalam terpejam kulihat cahaya sangat terang memaksaku untuk melihat, mengikuti kemana cahaya itu berjalan. Ia membawaku dalam sebuah padang rumput sangat luas. Kulihat kekanan hijau, kulihat kekiri hijau, kulihat kedepan hijau dengan gelombang hijau. Kubalikkan badan, kulihat sebuh pohon cemara tua kokoh mengangkasa, memayungi sebuah bangku yang terbuat dari kayu tua. Bangku itu dari posisiku berdiri terlihat sangat kecil, kusadari ternyata aku berjarak terlalu jauh darinya untuk bisa lebih memperhatikan apa yang ada disana dengan jelas.
Berlari kecil ku mendekati pohon itu. Berharap bisa melihat bangku itu lebih dekat, dan memeriksa apakah aku bisa duduk sebentar saja disana untuk memikirkan apa yang baru saja terjadi padaku. Kecil-kecil langkah ini kulemparkan, menginjak rumput-rumput tak berdosa. Berharap meninggalkan keresahan-keresahan yang belum sirna. Mataku sekelebat melihat posisi pohon, memastikan apakah aku sudah dekat dengannya. Namun, kenapa kurasa aku tak berpindah sedikitpun dari tempatku bermula. Tak patah semangat aku memperbesar langkah kakiku, kupompa lebih kuat energiku untuk meraihnya. Terus berlari, lari, lari, lari, lebih berlari, senantiasa berlari. Aku terjatuh, terseok lenganku menghantam tanah yang berselimut axonopus. Kakiku lemas, dahiku merunduk menyentuh lengan, mataku mulai berair, gigiku gemetar, bibir bawahku tanpa kusadari tergigit olehderetan gigi atasku yang biasnya kulakukan saat aku ketakutan, dan tentu saja nafasku beradu terengah dengan luar biasa. Hatiku putus asa, asa hidupku menghilang terbang bersama karbodioksida yang kukeluarkan. Otakku bertanya dimana aku, kapan aku datang, mana poho itu, mana bangku itu, adakah orang disini, dan siapa aku?
Tanpa diundang, dipuncak keputus asaanku, ada yang berbisik di telingaku. “Bangun adya, aku sudah disampingmu”. Aku terkejut, mataku berhenti terpejam menahannya yang mulai berair mendobrak kelopak untuk keluar, nafasku tertahan, ada yang memanggil namaku. Suara yang sama dengan suara saat sebelum aku mengikuti cahaya yang entah darimana. Suaranya sangat lembut namun mantap, khas suara pemuda dewasa. Karena menurutku ada suara pemuda biasa yang tak berisi kemantapan memutuskan di era milenial ini. Namun entah mengapa aku bisa melihat bagaimana dia menjalani hidupnya. Namun aku urung mengangkat wajahku yang masih merunduk mencium tanah, kini aku sedikit terisak, bahuku sedikit tersengal gemetar. Kakiku terasa dingin. Kembali dia memanggilku “adya..” suara lembut itu entah kenapa menghujani hatiku dengan rasa aman. “adya.. aku dia, yang sering menjadi alasanmu untuk melanjutkan tulisan-tulisanmu”. Aku terbelalak dalam runduk wajahku. Berfikir keras, darimana dia tahu aku sering menulis dalam diam. Lalu kenapa dia tak mencoba membantuku untuk berdiri saat dia tahu aku sangat butuh bantuan.
“Aku takbisa menyentuhmu sekarang untuk membantumu adya, kini kau harus berdiri sendiri dari rasa takut yang menyelimutimu”. Entahlah, aku rasa orang ini gila, dia bisa membaca fikiranku. “Aku percaya, kau lebih kuat dari yang kaukira. Sebab perkiraanku itu kelak aku memilihmu.” Kalimat macam apa ini? Aku sungguh tidak mengerti apa yang dia katakan. Absurd. Sungguh tidak jelas. “Adya.. ini kalimat terakhirku. Ingatlah, dimasadepan nanti aku akan datang padamu sebagai manusia yang melihatmu nyaris sempurna, ya nyaris, karena ketidaksempurnaanmu itu kamu menjadi sangat terlihat seperti manusia.”. Tidak, benar-benar, aku tidak mengerti apa yang pemuda itu katakan. Kenapa ia tidak memikirkan saja bagaimana aku bisa terjatuh, bagaimana aku bisa disini, bagaimana aku.. oh tidak siapa aku?
Aku, melihat cahaya silau yang ternyata berasal dari atap gerbong kereta api. Sungguh menusuk. Oh Tuhan, ternyata aku bermimpi untuk kedua kalinya. Dari saku jaket polarku, handphone ku berdering. Kulihat ternyata panggilan masuk dari ayahku. “Dek, sudah sampai mana?” aku menjawab dengan datar sudah sampai pematang gelap ditengah sawah, tanda aku belum tahu pasti kereta ini sudah melaju sampai mana. “Dek, hati-hati ya pokoknya, nanti kalau sudah sampai stasiun bilang, bapak yang jemput. Setelah itu kamu siap2 langsung dirias dirumah budhe. Akadmu maju jadi jam 07.00, supaya para tamu laki-laki dan tentunya suamimu nanti bisa sholat Jumat tepat waktu”
Aku baru menyadarinya sekarang, aku sedang berdiri di gerbang baru sebuah kehidupan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi, aku tak tahu apa yang akan kulewati, aku tak tahu dengan sempurna, dengan siapa aku akan melewatinya sebab tak ada orang yang benar-benar mengenal seseorang. Namun pesan pemuda misterius itu akan slalu kuingat. Katanya, aku lebih kuat dari yang kukira. Suara yang sama persis seperti suara lelaki yang kudengar pertama kali dari balik tirai sebuah masjid, menanyakan apa yang kufikirkan tentang kematian. Terimakasih telah membuka sebuah awal perjuangan kita dengan fikiran tentang kematian.