Random Thought : Qs Maryam (19 : 23 -24)
Nyatanya tidak hanya kita yang pernah mengalami ujian dan tantangan. Dunia senantiasa menyajikan kontestasi perjuangan seseorang dalam melawan tempaan kehidupan. “ Alangkah baiknya aku mati sebelum ini” lirih Maryam. Menggambarkan betapa beratnya ujianya. Seorang Maryam, Public Figure yang terkenal di tengah-tengah Masyarakat punya personal branding sebagai pribadi yang amat sangat menjaga kehormatanya tiba-tiba hamil tanpa ayah. Sungguh beban psikologis yang amat berat sekali.
Dalam belahan waktu yang lain, seorang ilmuwan muslim bernama Imam Al-Bukhori sangat amat terbebani secara psikologis ketika beliau ditahzir oleh gurunya yaitu Muhammad bin Yahya Az-Zuhli .Sehingga majlis Imam Bukhari yang tadinya penuh sesak, menjadi kosong melompong. Seluruh murid beliau meninggalkan majlisnya, kecuali satu muridnya yang setia, yaitu Imam Muslim . Imam Bukhari tidak kuat menghadapi fitnah ini, ia khawatir keikhlasan dan akidahnya akan goyah dengan ujian yang luar biasa ini, akhirnya beliau meminta kepada Allah agar nyawanya segera dicabut.
Jadi masihkah kita berani judge orang yang sedih dan mungkin punya niat bunuh diri dengan kekurangan iman di dalam dadanya?
Pada akhirnya, setelah mengalami berbagai ujian tadi Maryam kembali lagi ke kaumnya. Mendapat penghormatan yang jauh lebih baik lagi. Bahkan ceritanya pernah dibaca seperempat penduduk bumi dan terus dibaca hingga saat ini.
Jika pekatnya malam pasti akan bersambut cerahnya pagi, jika derasnya badai akan bersambut teduhnya pelangi, jika indahnya cahaya akan bersambut pekatnya malam, maka begitu pula kebaikan dan keburukan, ketenangan dan kesempitan, pertemuan dan perpisahan . Kesemuanya tidak akan menetap lama dalam diri manusia. Semua bergantian hadir dalam perjalanan hidup manusia
Prasangka baik + Sabar = ……
Ternyata rumus matematis beberapa generasi terdahulu saat mengadapi ujian yang berat adalah prasangka baik juga sabar. Dua hal ini yang akan menghasilkan kebaikan setelahnya (kenaikan kapasitas). Prasangka baik, dimaknai sebagai kesadaran penuh bahwa apa yang terjadi diluar kontrol diri kita adalah yang terbaik untuk kita. Gagal dan berhasil, ditolak dan diterima, dihina atau dipuji, diapresiasi atau dicaci semua adalah hal yang memang terbaik bagi kita saat ini. Sabar, dimaknai dengan terus berusaha pada jalan yang sesuai syariat Allah. Evaluasi ketika gagal lantas mencoba lagi. Kontemplasi ketika ditolak lantas berjuang lagi. Berkaca ketika dicaci lantas berdiri lagi. Ingat-ingat, bahwa kualitas diri kita tidak terletak pada apa-apa yang diluar kendali kita. Dua hal ini simpel, tapi tidak mudah.
Saya jadi ingat di zaman sekolah dulu, hanya murid terpintarlah yang diminta menjawab pertanyaan tersulit. Agar, yang bodoh-bodoh turut belajar serta mengambil pelajaran tanpa perlu melalui pertanyaan ujian yang sama.
Sudah kah kita mengambil peklajaran dari Maryam atau generasi terdahulu yang ujian hidupnya sangat jauh jauh lebih sulit dari pada kita?
Pada ayat 24 nya, Malaikat berseru “Jangan bersedih hati”. Pada hati, semua bermuara. Banyak orang yang ujiannya tidak seberapa namun sudah menyerah sedang disisi lain banyak yang luar biasa ujianya namun masih lapang menghadapinya. Sayangnya, ketenangan hati itu bukanlah mind made, namun pemberian.
Karenanya, dalam menghadapi apapun mintalah ketenangan dan kelapangan hati. Karena hanya hati yang seluas langit dan sedalam samuderalah yang mampu menanggung tempaan kehidupan.
Ditulis menjelang berangkat kerja
Ruqu dt, Yogyakarta | 04-07-2022