tak ada sesal mengenalmu, meski kau tak lagi membutuhkanku. sesalku hanya pada diri sendiri. sesal pada harap yang tinggi. sesal pada angan yang anomali. berpikir sempit, hanya ku rasa sesak. sesak untuk mengetahui, sesak untuk melangkah lagi. padahal aku harus terus bergerak. tapi hei, diriku, coba lihat. dengan tahu, kau tak perlu sakit. tak ada perih, pun dusta. benar 'kan apa yang pepatah bilang? "jangan ada dusta di antara kita". kau tahu? sebab dusta lebih memilukan, mengiris tangis. meskipun kita tahu realita yang tak seangan akan sedikit menusuk. anggap saja sedikit, kawan. lalu, ini salah siapa? tak perlu dipersalahkan, tak perlu penyesalan, apalagi tangisan. kemarin kakiku salah melangkah, sehingga aku tersandung. untungnya aku tidak sampai jatuh. seorang lain justru menarik tanganku. orang yang kau mengenalnya jauh sebelum kau mengenalku. yang kusadari, mengharapkanmu adalah satu dari sekian langkahku. sebelum jatuh lebih jauh dalam pesonamu, aku sudah menggerakkan kakiku lagi. menyambut langkah dan pijakan baru, akankah itu licin, rapuh, basah, atau kotor, aku tidak tahu. aku akan lebih berhati-hati mencapai pelabuhan. dia? kau tahu lebih banyak tentangnya. masih perlukah kujelaskan?