Berpikir dengan Pendekatan Filsafat
Waktu, zaman, dan peradaban akan terus berganti. Pergantian peradaban merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ter elakkan lagi.
Seiring dengan pergantian tersebut, banyak perubahan dalam masyarakat yang mengikutinya juga. Salah satu hal menarik yang dapat dijadikan perhatian yaitu pola pikir.
Sebuah produk pemikiran yang menjadi sebuah dasar dalam melakukan tindakan kedepannya merupakan arti dari pola pikir itu sendiri. Setiap entitas manusia memiliki pola pikirnya masing-masing.
Pola pikir yang berkembang di masyarakat umum yang memliki pemahaman akan suatu hal yang menurut mereka benar, besar kemungkinan akan diturunkan kepada anak cucu mereka nantinya.
Seperti halnya pemikiran tentang "Kamu harus sekolah yang rajin, supaya nanti bisa dapat kerja enak"
Pemikiran seperti halnya yang disebutkan diatas menjadi sebuah doktrinasi masa depan seseorang. Ada sesuatu yang terlewat yang sebenarnya menjadi hal yang esensial dalam menempuh pendidikan yakni sebuah proses berpikir. Bukan hanya output dari sekolah untuk mendapatkan pekerjaan yang enak saja, tapi ada sebuah proses yang sangat indah yang nantinya dalam proses tersebut bisa menemukan sebuah value yang dapat menjadi dasar seseorang pasca lulus dari instansi pendidikan tersebut.
Sebuah proses berpikir inilah, yang menjadikan entitas manusia lebih istimewa dari entitas lain. Mengutip sedikit perkataan dari Rene Descartes "Aku berpikir, maka aku ada".
Tetapi yang bisa menjadi pertanyaan adalah, apakah dalam proses berpikir ini bisa menghasilkan satu produk yang dapat bermanfaat untuk orang sekitar?. Ataukah hanya untuk menguntungkan dirinya dan golongan nya sendiri?.
Negara Indonesia merupakan Negara Kesatuan yang mana sangat beragam warna di dalamnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia memliki wilayah yang sangat luas. Luas wilayah di Indonesia juga mempengaruhi jumlah penduduknya.
Menurut data kemendagri melalui Direktorat Jenderal Dukcapil, jumlah penduduk Semester II Tahun 2021 tanggal 30 Desember 2021 diketahui berjumlah 273.879.750 jiwa.
273.879.750 jiwa penduduk di Indonesia, ini bukan jumlah yang sedikit. Jumlah yang sangat banyak tersebut berarti juga pola pikir yang berkembang akan sangat beragam.
Keberagaman pola pikir ini bisa memunculkan dampak positif maupun negatif sesuai dengan orientasi awalnya. Orientasi awal ini menentukan perjalanan ke depannya.
Aku berpikir maka aku ada. Sejatinya manusia sebagai entitas mahluk sosial memiliki kelebihan dalam akal dan pikirannya. Pemikiran seseorang bisa mengandung kemungkinan mencapai kebenaran, dan juga kemungkinan memiliki suatu capaian ke arah kesalahan. Maka dari itu perlu dilakukan pembentukan pola pikir sejak dini.
Pembentukan pola pikir dalam hal ini, salah satunya bisa dimulai dengan pembangunan kerangka berpikir seseorang. Lalu hal seperti apa yang bisa dilakukan untuk membangun suatu kerangka?
Seperti halnya dengan bangunan, kerangka atau pondasi ini akan menentukan kuat tidaknya bangunan tersebut. jika pondasi atau kerangka berpikir itu kuat pasti dalam proses berpikir seseorang akan mudah mencapai dan menuju kemungkinan sampai ke titik kebenaran.
Filsafat, merupakan satu induk dari segala bidang keilmuan yang bisa digunakan untuk membangun kerangka berpikir seseorang. Filsafat akan mengantarkan kita ke jalan awal menuju proses berpikir mendalam yang akan menuju puncak dimana kita akan mencintai sesuatu dengan sangat bijaksana. Berpikir ala filsafat yaitu berpikir secara mendalam, sistematis, dan memiliki sikap skeptis setiap keadaan apapun.
Produk pemikiran seseorang yang dilakukan dengan falsafati dengan yang berbasis asumsi liar akan kelihatan sangat berbeda. Seseorang yang berpikir falsafati akan memikirkan sesuatu berbasis konseptual ide dan praktis realita.
Sedikit kita mencoba lihat keadaan realitas sekarang. Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang kita alamai pastinya tidak berjalan semudah yang kita bayangkan. Banyak problematika-problematika yang terjadi. Contohnya dalam sosial masyarakat, seseorang menginginkan agar desa menerapkan sistem digitalisasi yang masif untuk pengembangan desa kedepannya. Tapi Menurut perangkat desa yang lulusan sarjana informasi, hal itu belum bisa dilakukan karena jika hal itu dilakukan bisa membuat masyarakat semakin susah dalam menjalin komunikasi dengan tetangga satu dengan yang lainya.
Dari contoh diatas, jika ditelaah lagi sudah terjadi bias pola pikir yang diterapkan oleh seorang sarjana informasi. Mengapa? Karena di era sekarang yang sudah serba modern, harus bisa ikut berperan dalam teknlogi dengan catatan harus selektif. Penerapan teknologi yang positif akan menyebabkan dampak yang positif juga. Kembali lagi ke permasalahan diatas, jika penerapan digitalisasi di desa masif maka pastinya akan mempermudah masyarakat dalam komunikasi antar tetangga bahkan saudara baik yang dekat atau bahkan yang sangat jauh pun bisa dijangkau. Sistem informasi yang bisa diterima Desa juga akan semakin cepat.
Bahkan jika kita mencoba mencari study kasus yang Ada di Indonesia pun sangat banyak. Pelanggaran HAM, Korupsi, Pelecehan Seksual, Kriminalisasi masyarakat kecil dan lain sebagainya. Semua itu terjadi karena proses berpikir yang kurang tepat dan menurut mereka benar, tapi tidak disesuaikan dengan realitas kehidupan dan masyarakat. Yang penting perut kenyang, hasrat tersalurkan, dan kepentingan-kepentingan diri sendiri terpuaskan.
Disini lah peran penting Filsafat agar bias bias pola pikir manusia setidaknya bisa di minimalisir atau bahkan dikurangi. Dalam hal ini tidak Ada yang bisa membatasi pikiran seseorang. Yang ada hanya bisa membantu untuk mencari suatu kebenaran dengan memperkuat fondasi dimulai dari pola pikir yang terusun secara sistematis dan terarah, berorientasi untuk kebermanfaat sesama, dan juga dalam Dimensi Realitas berdasarkan rasio sebagai pertimbangan dari dimensi konseptual untuk pengambilan keputusan. Sehingga Output dari proses berpikir tersebut bisa memiliki nilai positif.
- Setiap Manusia adalah filsuf, setiap filsuf pasti memiliki keistimewaan, dan setiap filsuf pasti adakalanya melakukan kekeliruan. Maka dari itu carilah kebenaran itu bersama sama dengan mengindahkan pikiran kita masing masing yang nantinya akan menemukan sebuah value dari proses berpikir tersebut.
(Sayyid Atho' Muzakki / Agustus 2022)











