Hi~ The world's largest knowledge-sharing platform on Metaverse will be live soon. Following Metaclassn, inviting friends to win a million dollar worth of reward pool. It aims to offer thousand times returns for users🏆🏆. Join us now!
I'd rather be in outer space 🛸
No title available
DEAR READER

izzy's playlists!
will byers stan first human second

Andulka
One Nice Bug Per Day
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
d e v o n
taylor price
wallacepolsom
art blog(derogatory)
YOU ARE THE REASON

shark vs the universe

roma★
todays bird
AnasAbdin
$LAYYYTER
seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from Czechia
seen from Germany

seen from Singapore

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Chile
seen from Canada

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Canada
@scholastichv
Hi~ The world's largest knowledge-sharing platform on Metaverse will be live soon. Following Metaclassn, inviting friends to win a million dollar worth of reward pool. It aims to offer thousand times returns for users🏆🏆. Join us now!
Hi~ The world's largest knowledge-sharing platform on Metaverse will be live soon. Following Metaclassn, inviting friends to win a million dollar worth of reward pool. It aims to offer thousand times returns for users🏆🏆. Join us now!
“Sudah, pusatkan pikiranmu pada ibadah. Jika itu yang terbaik, tak akan lari jodoh dikejar.”
—
nasihat Dekka pada adiknya Seyla
#daribuku *Lafazh Cinta*, Sinta Yudisia, Pastel Books
— Kian memudar
Antara yakin dan ragu,
Aku tak lagi tahu,
Mana kah arah paling jujur menuju relung hatimu
Yang dulu mampu menenangkan pilu.
Jika kelak dunia di luar sana tak cukup bisa membahagiakanmu; kembali lah padaku. Berlarilah kalau mau, berjalan lah jika tak mampu. Akan selalu ada aku di sini, selalu siap menampung laramu melalui cerita yang kau sampaikan di malam-malam yang hanya ada kita di dalamnya.
Tak perlu malu. Telingaku memang sangat suka mendengar kau bersuara, tentang apa saja. Maka ketika oleh harapmu sendiri kau dibuat kecewa, datanglah padaku kapan saja. Akan aku sediakan peluk paling hangat dan senyum yang sebisa mungkin menenangkanmu.
Kemana pun kau melangkah dan kau merasa lelah. Lihatlah ke belakang, kau punya aku. Selalu.
Tiada yang lebih sakit dari berkomitmen untuk bersama dan sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Namun masih saja merasa "belum bisa mendapatkan hatinya"
Luka
Sebagai manusia biasa, kadang-kadang kau terluka. Kau tak tahu cara menyembuhkannya, tak tahu di mana bisa dapat resep untuk mengobatinya. Yang pertama-tama kau tahu dan yakini, ruang sendiri akan sedikit menenangkanmu. Maka kau mencari sudut terjauh yang bisa kau jangkau, lalu bersembunyi di sana. Menyepi dari keramaian.
Di sudut itu, tak ada yang bisa menemukanmu. Tak ada yang bisa mengajak dan diajak bicara. Tak ada yang terganggu oleh jerit-tangismu. Tak ada yang bisa menertawakan air matamu. Ini tempat yang tepat untuk memulihkan diri, batinmu. Waktu seperti mengurangi kecepatan berputarnya, membiarkanmu menikmati kesunyian yang perih itu tanpa perlu terburu-buru. Batas antara siang dan malam mulai kabur. Gelap dan terang melebur. Waktu terus melambat … dan semakin lambat nyaris berhenti. Kamu tersiksa. Tetapi, kamu pura-pura menikmatinya dengan satu keyakinan bahwa di luar sana, di dunia yang sebenarnya, hidup berjalan dengan jauh lebih menyedihkan karena kamu harus jadi ’yang sendiri dalam kerumunan’. Sebatang kaktus di tengah hamparan gurun pasir. Tak ada yang bisa mengerti dirimu. Tak ada yang tahu betapa perihnya luka di tubuhmu. Maka kau memilih sendiri. Dan terus sendiri. Sayangnya, kau lupa. Ketika kau merayakan satu kesedihan, boleh jadi kau sedang melewatkan berbagai momen bahagia. Sayangnya, kau lupa bahwa ketika kau menyendiri, kau juga sebenarnya sedang membuat orang-orang yang mencintaimu merasa sendiri dan terluka. Kau juga barangkali lupa bahwa hidup harus dilanjutkan, arti harus dicari, dan cinta harus terus tumbuh. Maka, kapan pun kau merasa siap, berjanjilah kau akan membawa tubuhmu yang penuh luka itu keluar dari ruang sendirimu, temui mereka yang kau cintai dan mencintaimu. Bicaralah dengan mereka apa adanya, menangis bersama, atau menertawakan apa saja sampai rahangmu pegal.
Kebersamaan barangkali tak kan menyembuhkan lukamu. Tetapi, setidaknya, ia melumpuhkan kesadaranmu atas waktu.
Hingga nantinya, tiba-tiba saja, kau akan tahu bahwa luka-luka di tubuhmu telah tak lagi terasa. Meski, tetap saja, bekasnya ‘kan tetap ada, sebagai pengingat bahwa kau hanyalah manusia biasa.ㅤㅤ
…
30 Desember 2018
Cinta tau kemana ia harus pulang
Kemanapun ia pergi berkelana, sejauh apapun kaki melangkah. Ia akan selalu kembali, kembali pada sosok yang dianggap sebagai 'Rumah'
'Rumah' yang ia jadikan tempat untuk bersandar, berkeluh kesah setelah perjalanan panjangnya berkelana, 'Rumah' yang selalu membuatnya hangat ketika berada didalamnya.
Percayalah sayang, aku tetap rumahmu. Aku selalu ada disini menantimu 'Pulang' 🧡
“Orang yang dulu pernah menjadi tempat untukku berbagi bercerita, sekarang sudah tidak tahu lagi seperti apa kehidupanku sekarang.”
—
Ironi sekali. // A.W.
Bandung, 14 Februari 2018.
"Bagaimana kabarmu, sedang apa?"
Ingin sekali rasanya bertanya seperti itu. Berulangkali aku sudah mencoba menuliskan pesan untukmu, tetapi akhirnya aku mengurungkannya, aku kembali menghapusnya.
Ternyata rasa rindu memang sulit sekali untuk dihindari.
"Apa kamu pernah mengingatku?"
Aku tidak tahu sejak kapan pertanyaan itu memenuhi isi kepalaku. Tetapi aku sadar, itu sangat mustahil. Aku bahkan sebetulnya sudah tahu jawabannya. Jika pergi dariku saja mudah, tentu melupakanku bagimu bukanlah hal yang sulit.
Jika suatu hari nanti, kamu tidak sengaja merindukanku. Entah melalui alunan sebuah lagu, syahdunya suasana hujan, atau ketika kamu melihat percakapan sepasang kekasih yang sedang bercengkrama hangat.
Ingatlah bahwa aku pernah merasakan hal yang sama sepertimu. Hanya saja, aku sudah belajar darimu, menjadi sosok sepertimu. Seseorang yang tak pernah lagi sedikitpun menoleh ke arahku.
Saat kamu tidak sengaja merindukanku, kamu tidak perlu lagi mencariku. Seperti aku yang pernah berulangkali menyimpan pertanyaanku sendiri.
—ibnufir
Kamu tetaplah seperti itu, menjadi sesosok tangguh yang aku kenal. Tetaplah tersenyum, walau bukan aku lagi yang melengkungkannya. Tetaplah berbahagia, walau bukan bersamaku lagi.
- Alf.
“Kembali melihatmu setelah sekian lama, malam ini aku bingung sendiri. Mana yang harus kususun lebih dulu: napas atau kata-kata. Mana yang harus aku sembunyikan lebih dulu: rindu atau air mata.”
—
Luka
Sebagai manusia biasa, kadang-kadang kau terluka. Kau tak tahu cara menyembuhkannya, tak tahu di mana bisa dapat resep untuk mengobatinya. Yang pertama-tama kau tahu dan yakini, ruang sendiri akan sedikit menenangkanmu. Maka kau mencari sudut terjauh yang bisa kau jangkau, lalu bersembunyi di sana. Menyepi dari keramaian.
Di sudut itu, tak ada yang bisa menemukanmu. Tak ada yang bisa mengajak dan diajak bicara. Tak ada yang terganggu oleh jerit-tangismu. Tak ada yang bisa menertawakan air matamu. Ini tempat yang tepat untuk memulihkan diri, batinmu. Waktu seperti mengurangi kecepatan berputarnya, membiarkanmu menikmati kesunyian yang perih itu tanpa perlu terburu-buru. Batas antara siang dan malam mulai kabur. Gelap dan terang melebur. Waktu terus melambat … dan semakin lambat nyaris berhenti. Kamu tersiksa. Tetapi, kamu pura-pura menikmatinya dengan satu keyakinan bahwa di luar sana, di dunia yang sebenarnya, hidup berjalan dengan jauh lebih menyedihkan karena kamu harus jadi ’yang sendiri dalam kerumunan’. Sebatang kaktus di tengah hamparan gurun pasir. Tak ada yang bisa mengerti dirimu. Tak ada yang tahu betapa perihnya luka di tubuhmu. Maka kau memilih sendiri. Dan terus sendiri. Sayangnya, kau lupa. Ketika kau merayakan satu kesedihan, boleh jadi kau sedang melewatkan berbagai momen bahagia. Sayangnya, kau lupa bahwa ketika kau menyendiri, kau juga sebenarnya sedang membuat orang-orang yang mencintaimu merasa sendiri dan terluka. Kau juga barangkali lupa bahwa hidup harus dilanjutkan, arti harus dicari, dan cinta harus terus tumbuh. Maka, kapan pun kau merasa siap, berjanjilah kau akan membawa tubuhmu yang penuh luka itu keluar dari ruang sendirimu, temui mereka yang kau cintai dan mencintaimu. Bicaralah dengan mereka apa adanya, menangis bersama, atau menertawakan apa saja sampai rahangmu pegal.
Kebersamaan barangkali tak kan menyembuhkan lukamu. Tetapi, setidaknya, ia melumpuhkan kesadaranmu atas waktu.
Hingga nantinya, tiba-tiba saja, kau akan tahu bahwa luka-luka di tubuhmu telah tak lagi terasa. Meski, tetap saja, bekasnya ‘kan tetap ada, sebagai pengingat bahwa kau hanyalah manusia biasa.ㅤㅤ
…
30 Desember 2018
Cara terakhir mencintaimu adalah Mengikhlaskan dan mendoakanmu.
Katanya, 'yang patah tumbuh yang hilang berganti'
Namu nyatanya hampir 365hari berlalu aku masih setia menanti tanpa ada pengganti.
Merelakan tidak semudah yang orang orang katakan, aku harus berulang kali babakbelur dihajar penyesalan serta kesepian, tentangmu yang telah berlalu, bagaimana caraku untuk menuntaskan rindu?
Tertanda,
Yang sedang menantimu, kembali.
Mungkin memang harus ada jarak untuk bisa saling bergerak dan mengerti
Sebab tidak akan menjadi bermakna tulisan yang terukir indah jika tanpa "jeda".
“Bintangku kini redup. Ia tak percaya lagi pada cintaku. Ia ingin berkelana mencari semesta baru saat ku masih nyaman atas cahayanya”
—