Mengenal kopi sangatlah mudah, tapi mengenal seseorang tidaklah sesederhana itu.
Cafe Waiting Love, Giddens Ko

if i look back, i am lost
almost home
I'd rather be in outer space 🛸

Andulka

No title available
TVSTRANGERTHINGS
official daine visual archive
tumblr dot com
YOU ARE THE REASON

Discoholic 🪩

★
untitled

Kaledo Art
cherry valley forever

Product Placement
wallacepolsom
🪼

❣ Chile in a Photography ❣
One Nice Bug Per Day
No title available

seen from Argentina

seen from Türkiye
seen from Jordan
seen from Bahrain
seen from Canada
seen from India
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Morocco

seen from Ukraine
seen from Italy
seen from South Africa
seen from Malaysia
seen from Spain
seen from Iraq

seen from Guernsey
seen from Uruguay
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Italy
@secantikbidadari
Mengenal kopi sangatlah mudah, tapi mengenal seseorang tidaklah sesederhana itu.
Cafe Waiting Love, Giddens Ko
"Mungkin dengan menjadi penulis dan wartawan, aku bisa merintis jalan untuk bisa awet muda dengan tulisan dan karya jurnalistik yang berguna dan abadi. Bisa mengubah dunia hanya dengan kata-kata."
Ahmad Fuadi, Rantau 1 Muara
"Aku juga percaya bahwa orangtua, kalau mereka menyayangimu, akan menggendongmu supaya aman, jauh di atas arus permasalahan mereka, dan terkadang itu berarti kau takkan pernah tahu apa yang mereka alami, dan kau bisa saja memperlakukan mereka dengan buruk, dengan cara-cara yang tak mungkin kaulakukan seandainya kau tahu. Aku ingin memperbaiki banyak hal dengan orang-orang yang kucintai."
Mitch Albom, For One More Day
“When someone is in your heart, they’re never truly gone. They can come back to you, even at unlikely times.”
Mitch Albom, For One More Day (via bibliophilebunny)
Have you ever lost someone you love and wanted one more conversation, one more chance to make up for the time when you thought they would be here forever? If so, then you know you can go your whole life collecting days, and none will outweigh the one you wish you had back.
Mitch Albom, For One More Day (via bookmania)
Apaan sih?
GagasMedia, Bukune, dan PandaMedia akan mengadakan Kumpul Penulis dan Pembaca di akhir tahun 2013. Dalam kegiatan ini, kamu bisa bertemu dan berbincang lebih dekat dengan penulis dan redaksi GagasMedia, Bukune, dan PandaMedia.
Kapan dan di mana?
Kumpul Penulis dan Pembaca akan...
Upaya(ku) Menikah: Antara Mitos, Doa, Tradisi Lokal, & Pemantasan Diri (?)
Ternyata di Google ada 265 juta artikel tentang “Stop bertanya pada saya kapan saya menikah”curahan banyak penulis dan blogger baik di Indonesia maupun di barat sana. Baiklah pemirsa, pembaca, rekan, dan keluarga, saya akan menambah satu lagi tulisan tentang itu.
Hari ini Jumat, waktu menunjukkan 08.23 Wita. Saya duduk di sini, di ruangan kerja saya di sebuah yayasan sosial, sembari mendengar lagu berjudul “Marry Me” yang ditulis oleh musisi Amerika Pat Monahan dari grup Train yang sering dinyanyikan oleh band-band di acara resepsi pernikahan. Sejak berangkat dari rumah sudah berulang-ulang lagu ini diputar di playlist saya.
Dan saya belum mandi.
Jadi ceritanya, saya tidak boleh mandi sampai nanti siang. Sekitar tengah hari nanti, pas disaat khutbah Jumat, saya akan melakukan ‘ritual’ mandi kembang dengan banyu doa. Anda heran? Ya, saya juga heran kenapa saya (masih) mau dan rela melakukan ini. Dua minggu yang lalu, keponakan saya melangsungkan pernikahan. Salah satu kerabat yang sudah sepuh yang pernah jadi ibu angkat almarhum abah bertanya kepada mama, “anak ikam sudah kawin kah?” “handak kah ku olahkan banyu gasan mandi? Amun handak kena ku olahkan. Biasanya kabul aja pang.”
Dengan hati-hati, karena kami sudah sering bertengkar karena ini dan mama paham sekali betapa sensitifnya saya terkait hal ini, mama menyampaikan maksud Nenek tersebut yang berkeinginan membuatkan air doa dengan hajat supaya saya cepat menikah. Tersentuh dengan perhatian dan ikhtiar dari Nenek, saya pun mengiyakan. Ya, saya bersedia menerima tawaran tersebut karena saya pikir si Nenek tidak bawel berkomentar macam-macam, justru ‘membantu’ secara ‘konkrit’. Beda dengan keluarga lain yang bisanya cuman bawel dan melontarkan komentar yang bikin telinga saya panas, dan keluarlah tanduk taring dan buntut setan saya terbakar amarah.
Beberapa bulan lalu, om saya tiba-tiba menelpon mama hanya ingin bilang begini: “suruh ay ellie tu bangun tengah malam sembahyang Tahajjud, lengkapi dengan Dhuha”. Well, anjuran yang sungguh mulia memang. Tapi saya tersinggung mendengarnya. Secara waktu itu saya juga sedang sangat sensitif di hari-hari menjelang ulang tahun saya yang ke 35 (dan saya masih lajang di usia segini), dan saya pun meledak, “memangnya aku harus umumkan dan tunjukkan ke semua orang kalau aku shalat Tahajjud dan Dhuha? Dan memangnya mereka pikir aku tidak pernah berdoa meminta hajat menikah?”
Saya tahu, saya bukan satu-satunya di dunia ini yang mengalami ini. Tapi tetap saja adalah sesuatu yang sangat amat mengganggu mendengar komentar dan pertanyaan, “kapan kawin?”. Apalagi kalau pertanyaan tersebut ditambah dengan tuduhan, “kamu sich berkarir terus sampe lupa menikah”, atau “makanya jadi perempuan jangan sekolah tinggi-tinggi, gimana cowok berani melamar?”, “kamu nyari pasangan yang gimana sich? Gak usah terlalu pemilih!”, dan jeleknya lagi kalau dituduh “kamu sich gak berusaha!”
Berusaha???
Sini saya beri tahu soal berusaha, lebih jelasnya lagi, berusaha untuk menikah. Anda mau tahu apa yang sudah saya upayakan? Silahkan anda sebutkan, InshaAllah sudah saya upayakan (saya benci menjadi terbuka dan meng-klaim ini, semestinya biar ini menjadi urusan saya dengan Tuhan saja).
Bagi mereka yang relijius dan Islami, anjuran yang sering mereka beri ke saya adalah: Shalat Tahajjud, Shalat Dhuha, dan banyak bersedeqah. Sini saya beri tahu, selain amalan shalat ini, amalan yang baik yang bisa dilakukan demi memanjatkan hajat menikah adalah rutin membaca Surah Al-Fajr setelah selesai membaca wirid shalat Subuh ketika matahari terbit. Tips ini saya dapat dari Ustad Heri dari Pesantren Ibadurrahman di L3 Separi waktu saya mengantarkan klien saya untuk terapi Narkoba dengan pendekatan spiritual dan herbal. Beliau sebenarnya memberi tips ini untuk klien saya dan ibunya, “amalan ini Bu supaya Insha Allah hidup menjadi semakin terang dengan cahaya Allah, bagi yang berkeluarga agar selalu sakinah mawaddah wa rahmah, dan bagi yang belum menikah agar segera dipertemukan jodohnya.” Dan saya pun mencuri tips ini.
Beberapa upaya relijius Islami yang saya sebutkan di atas belum semuanya. Awal tahun 2012, saya melakukan ritual Rukyah atas saran salah seorang staff saya di yayasan. Ramlah berkata pada saya, “coba jeung Rukyah, saya tidak lama setelah Rukyah, Alhamdulillah saya menikah. Ini ikhtiar saja jeung. Pantas dicoba. Kalau mau nanti saya bantu buatkan janji jadual rukyah. Ada sahabat saya juga perempuan lajang juga mau ikhtiar Rukyah ini.”
Saya pikir, why not? Mungkin dengan Rukyah, saya bisa ‘membersihkan diri’ dari enerji-enerji negatif yang membelenggu saya dari perbuatan saya di masa lalu. Mungkin aja nich dengan Rukyah jin-jin dan setan-setan yang ‘mengikat’ saya dengan ‘cinta masa lalu’ yang masih tidak bisa saya lepaskan itu bisa ‘terusir’ dari tubuh fisik dan non-fisik saya.
Dan saya pun melakukannya. Ritual Rukyah, dalam hal ini Ruqyah Syar’iyah, yang ternyata baru saja saya Google istilah Bahasa Inggrisnya adalah Exorcism (oh dear, jadi ini Islamic Exorcism?), adalah ritual pengobatan untuk penyakit atau menghilangkan gangguan jin atau sihir dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.
Rukyah biasa sich ya seperti itu. Tapi yang saya lakukan, agak sedikit berbeda. Rukyah saya lakukan pada malam hari antara Magrib dan Isya selama 1 jam. Saya diminta duduk berendam di sebuah kolam. Bayangkan saya duduk berendam di kolam di malam yang gelap di area pesantren yang jauh di luar kota Samarinda. Awalnya, saya diminta berwudhu, dan sisa air wudhu diguyurkan ke kepala saya membasahi rambut oleh petugas Rukyah. Lalu saya masuk berendam di kolam. Duduk di air kolam yang dingin dan diperdengarkan lantunan ayat-ayat Al Qur’an yang ‘dipercaya’ mengusir setan dan jin adalah perjuangan buat saya. Perjuangan untuk bertahan melanjutkan ritual dikala pikiran sudah mulai meragukan upaya yang saya ambil itu, “seriously ellie, this is stupid”, “apakah ini akan berhasil?” , “eh apa’an itu yang tadi menyentuh kaki ku di dalam air?”, “hadooooh air nya dingin banget sich?”, “lama banget ya”, “ini kenapa ngaji nya keras banget sich suaranya?”. Dan menguatkan hati dengan menyabarkan diri sendiri, “sabar ellie, ini ikhtiar”, “Ya Allah, bersihkan lah aku dari enerji-enerji buruk gangguan jin dan syaitan”.
Setelah Rukyah, jujur saya tidak merasa lega. Tidak ada ketenangan batin yang saya dapatkan. Saya juga tidak merasa ‘bersih’. Bilas mandi tidak sempurna dikarenakan fasilitas terbatas, dan saya sudah sangat menggigil kedinginan. Perjalanan pulang di malam hari di jalan yang berbatu-batu sendirian mengendarai motor, lelah, dingin, saya mengumpat sepanjang jalan. Mengumpat sambil beristigfar. Mengumpati lelah dan bodohnya upaya, dan beristigfar karena telah mengumpat dan mengeluh.
Rasa lelah lahir batin justru menyelimuti saya sampai keesokan harinya.
Saya ingat, esoknya saya ‘mengadu’ ke Hypnotherapist saya. Ya, salah satu upaya saya yang lain dalam rangka mempermudah menuju menikah adalah dengan mengikuti Hypnotherapy. Saya ikut sesi terapi ini dengan maksud supaya saya bisa melupakan hal-hal buruk berkaitan dengan cinta masa lalu, agar saya bisa lebih relax dan membuka diri untuk hal-hal baru, salah satunya adalah ‘cinta yang baru’.
Beberapa kali saya ikut sesi Hypnotherapy, dan well, tidak berhasil. Tapi saya jadi belajar untuk mampu ‘menghipnotis’ diri sendiri dikala saya butuh untuk relax, tetap berpikiran tenang saat kondisi lingkungan sedang tidak kondusif, dan mantra-mantra penyemangat diri sendiri.
Zakat dan sedeqah juga secara tidak langsung menjadi bagian upaya. Setiap saya bayar zakat profesi dan sedeqah, si penerima zakat/sedeqah selalu mendo’akan saya: “Ya Allah, berikanlah mba Herliati Rahmi jodoh yang terbaik untuknya dan dapat segera menikah sakinah mawaddah wa rahmah.”
Ibu sahabat saya pernah memberi saran, “dek ellie, kalau pas dek ellie menghadiri acara Ijab Qabul pernikahan, berdo’a lah. Karena pas saat Ijab Qabul, malaikat-malaikat banyak berterbangan di atas pengantin. Maka panjatkan doa, malaikat-malaikat akan mengaminkan.”
Saya pun melakukannya.
Jadi, demi untuk menikah, Anda sudah tahu upaya saya dari pendekatan relijius Islami seperti Shalat Tahajjud, Shalat Dhuha, amalan bacaan doa-doa, dan Ruqyah. Saya jelaskan begini sebagai upaya saya agar tidak lagi dituduh (terutama oleh keluarga) bahwa saya tidak berupaya secara pendekatan agama.
Upaya-upaya lain yang tidak masuk akal, let me think, mencuri kembang melati dari pengantin perempuan, menerima kain tapih bekas mandi calon pengantin perempuan, dan menyimpan beras kuning dan memakan permen-permen dari acara tradisi hantaran atau ‘tampung tawar’ konon dipercaya bisa membuat kita segera menikah. Belum lagi pantangan yang tidak boleh dilakukan anak gadis atau perempuan lajang yang kalau dilanggar bisa membuat lambat menikah: tidak boleh bernyanyi di dapur, jangan bangun kesiangan, jangan berdiri di pintu nanti jauh jodoh, bla bla bla dan sebagainya.
Saya pun sudah melakukannya, dan sebagian memang saya langgar, seperti bernyanyi di dapur.
Apalagi?
Oh. Upaya memperbaiki diri pun (sudah) saya lakukan.
Suatu hari, setelah setengah harian saya tugas lapangan yang membuat darah mendidih sampai ke ubun-ubun, saya kembali ke kantor dengan menggerutu. Bertemu dengan atasan saya, tumpahlah segala keluh kesal curhat dengan si Boss. Tiba-tiba, seorang rekan kantor yang seorang pengacara, sekonyong-konyong menginterupsi pembicaraan dengan berkata: “nah, sikap begini nich yang bikin kamu gak kawin-kawin!” heck, wtf!
Maksud dia adalah, agar seorang perempuan dapat dengan mudah dinikahi, maka perempuan harus memiliki sifat yang anggun dan lembut, tidak boleh marah-marah. Omong kosong!
Dan saya spontan membalas, “hey dengar ya, saya menikah atau tidak menikah itu tidak ada hubungannya dengan masalah yang saya bicarakan, dan urusan saya menikah itu urusan saya pribadi, urusan saya dengan Tuhan, dan kalau pun saya tidak ditakdirkan menikah oleh Tuhan, saya ikhlas!”
Saya lalu berlalu, mengambil wudhu, shalat Zuhur, dan tak kuasa menahan linangan air mata membasahi mukena, bukan sedih atau marah karena apa yang dikatakannya kepada saya, tapi saya terharu menyatakan kepada Tuhan bahwa saya ikhlas apa pun yang Ia gariskan dan tetapkan untuk saya.
Toh kejadian ini menjadi pelajaran. Hari-hari kemudian saya selalu ingat untuk mengkontrol diri saya agar tidak marah meledak-ledak di depan umum, terutama di depan laki-laki.
Seorang rekan lain pernah pula mengingatkan saya, “mungkin kita jadi susah menikah karena masih ada dosa dengan orang tua yang membuat orang tua kita mungkin masih dongkol dan tidak ikhlas dengan kita.”
Dalam kepercayaan tradisi Banjar dan Kutai, terutama yang dianut orang-orang jaman dulu bahari, bahwa cara untuk minta ampun kepada kedua orang tua tidak cukup hanya dengan mengatakan minta maaf. Maka, tradisi di keluarga saya yang pernah Ayah saya ajarkan adalah, bahwa dosa paling besar kepada orang tua adalah durhaka kepada Ibu, dan cara minta ampun adalah dengan mencium dan membasuh kedua telapak kaki Ibu, dan meminum air basuhan tersebut.
Suatu hari, Mama dan saya membahas hal tersebut, dan saya mengutarakan maksud untuk melakukan itu. Mama, yang juga selalu bersemangat berikhtiar, menyanggupi. Jadi, suatu sore kami menyiapkan perlengkapannya. Mama terlebih dahulu membersihkan kedua telapak kakinya dengan sabun dan mengeringkannya dengan handuk. Beliau juga menyiapkan pinggan kaca dan air mineral. Saya pun membasuh kedua telapak kaki mama yang sudah ‘steril’ itu dengan air mineral yang ditampung di pinggan kaca, dan kemudian meminum air basuhan tersebut. Saya ucapkan dengan sungguh-sungguh bahwa saya minta ampun minta maaf atas segala perilaku perbuatan yang pernah menyakiti hati mama. Mama pun dengan tegas menyatakan beliau memaafkan segala kesalahan saya, mendo’akan hidup saya, mendo’akan apa pun hajat baik saya (tidak hanya hajat menikah), dan kami berdua berpelukan dengan berlinang air mata.
Saya lega dan merasa damai. Saya banyak belajar untuk lebih bersabar dan santun dalam sikap saya terhadap mama.
10.55 Wita. Saya harus berhenti menulis karena sudah waktunya pulang untuk ritual mandi kembang.
14.20 Wita. Baiklah, saya kembali. Terasa lebih segar, dengan ‘aura yang lebih terbuka’. Ya tentu saja, saya kan sudah mandi, mandi kembang lagi.
Technically, mandi kembang tadi a little complicated buat saya yang moderen dan praktis. Jadi persiapannya adalah air yang sudah dari semalam ditaburi bunga mawar dan melati yang diambil dari halaman mama, banyu doa atau air yang sudah dibacakan doa-doa oleh si Nenek pada malam Jumat, yaitu tadi malam, peduduk yaitu terdiri dari semangkok beras, buah kelapa yang masih utuh, gula merah, dan jarum yang satu paket ini akan diserahkan kepada si Nenek sebagai pemberian. Ritual mandi pun tidak di tempat sembarangan. Tidak boleh dilakukan di kamar mandi yang ada wc nya. Jadi saya harus melakukannya di luar kamar mandi. Aneh buat saya. Lalu, saya pun harus mandi dengan menutup tubuh dengan kain tapih atau sarung. Cara mandi yang sangat sopan tapi ribet.
Waktu mandi, atau lebih tepatnya mengguyur tubuh dengan air-air tersebut, harus tepat ketika Imam naik mimbar untuk khutbah. Jadilah, untuk memastikan waktunya tepat kami memutar stasiun radio yang langsung menyiarkan acara Shalat Jumat.
Setelah semalaman dan sepagian saya bawel mengomel mengeluh betapa ribetnya teknis pelaksanaan mandi, ternyata ketika dilakukan saya bisa bersabar. Saya menikmati menit demi menit tahapan mandi tersebut. Dari mendengar azan, kemudian mama mengguyurkan air kembang dengan perlahan sambil membaca shalawat dan saya pun dengan ikhlas membacanya. Dan terakhir, mama mengguyurkan banyu doa.
Pengalaman mandi yang sangat meditatif buat saya. Yang saya nikmati ternyata adalah kesegaran dari upaya yang dilakukan. Dan saya merasakan cinta yang sungguh besar meresap ke tubuh mendinginkan kepala saya yang panas dengan kecamukan pikiran keraguan dan kekhawatiran serta melegakan dan menyabarkan hati saya melalu guyuran air yang membawa cinta Mama dan Nenek yang telah membuatkan banyu. Semoga doa mereka dikabulkan Tuhan.
Mandi kembang ini masih harus dilakukan di dua Jumat lagi. Tidak apa, saya akan meneruskannya sampai tuntas dan menikmati ritual tradisi lokal kepercayaan keluarga saya dari adat Banjar dan Kutai ini.
Semalam, saya bertanya kepada diri saya: apakah saya ingin menikah? Dan semalam jawabannya cukup mengejutkan diri saya: tidak. Dan saya tidak terlalu jelas kenapa jawaban yang muncul dalam benak saya adalah tidak.
Sekarang, dengan kepala dan hati yang lebih ‘adem’ saya memahami, adalah bukan pernikahan yang saya inginkan, tapi hidup yang berkualitas dan mulia bersama pasangan hidup yang saya cintai, dan yang ‘hadir terpilih’ untuk saya.
Kalau om dan tante saya (yang Masya Allah umma ay super bawel itu) selalu bilang “lakasi!” , saya tidak mau lekas-lekas gegabah menjatuhkan pilihan dan memburu orang yang dekat dengan saya sekarang untuk menikah.
Menikah bukan perlombaan, siapa yang cepat dia yang unggul dan menang dan yang belum menikah dianggap lambat dan lamban, dan betapa ruginya tidak bisa segera menikmati hidup. Jadi apakah menunggu menikah baru menikmati hidup?
Menikah bukan standard suksesnya hidup seseorang yang kalau belum menikah masih belum dianggap ‘sukses’ terlepas berprestasinya ia dalam pendidikan, mapannya ia dalam pekerjaan, populernya ia dalam pergaulan.
Anyway.
Yang jelas, mandi kembang ini adalah upaya terakhir saya untuk menikah dengan pendekatan cara atau kepercayaan tradisi adat. Cukup sudah saya melakukan ritual-ritual yang belum mampu saya cerna dengan otak, tapi saya sangat menikmatinya kok.
Dan tulisan “Nikah” atau “Get Married” yang saya tempelkan di dinding mengikuti The Secret nya Rhonda Byrne yang jika dilihat setiap hari maka akan tertanam di pikiran saya dan termanifestasikan dalam perilaku saya sehari-hari yang dapat membuat saya segera menikah atau dinikahi, I swear, tahun ini tahun terakhir saya menuliskan dan menempelkannya di dinding, atau di mana pun.
Maka, saya biarkan Semesta memberi saya kejutannya. Dan saya tidak akan mendikte Tuhan lewat doa untuk segera memberi saya jodoh dan menikah.
Tahukan Anda, bahwa setiap saya Shalat Tahajjud, meskipun sebelum shalat saya meniatkan akan berdoa “Ya Tuhan, berikan saya jodoh dan segerakan saya menikah”, tetap saja ketika saya bersujud, permohonan yang muncul dari qalbu saya justru adalah:
“Tuhan, mampukan dan bimbing saya melakukan yang terbaik, berikan saya yang terbaik dari Mu, dan saya percaya dan menerima apa pun yang Engkau berikan pada saya kemarin, hari ini, dan besok adalah yang Terbaik dari Mu. Laa haula wa laa kuwwata illabillahil ‘aliyil adhiim.”
P.S. untuk sepupu-sepupu saya yang saya cintai, tolong dong kasih tau Mama mu yang bawel itu untuk lebih bijaksana dalam berkomentar dan please shut up and stop asking when I get married!
P.S.S. Apakah Anda tahu, bahwa pertanyaan “Kapan kawin” termasuk tindakan Bullying??? Now, you know!
Sebagai salah satu komunitas menulis yang mewadahi berbagai macam project menulis, kami turut senang menyambut Hari Blogger Nasional. Karena banyak penulis yang sukses, berangkat dari sebuah Blog. Seperti Nurilla Iryani, salah satu penulis favorit saya, novelnya ‘Dear Friend with Love’ dibukukan...
kisah seorang lelaki tua pemburu langit dan kamera kuno
Sunset is the saddest light and the shape of cloud is the most romantic line.
Perempuan itu duduk di pojokan halaman kuil. Sepasang kakinya yang terjulur digoyang-goyangkan. Aku menduga, ia kelelahan. Tadi, aku melihat ia berjalan tergesa mendaki anak tangga menuju kuil ini bersama ketiga orang temannya. Keempatnya perempuan.
Ini awal musim gugur di Jepang. Memasuki September hingga November, cuaca di Jepang serba tak tertebak. Bisa panas menyengat—seperti saat ini, bisa tiba-tiba hujan. Apalagi, kota kecil ini berjarak tak terlalu jauh dari Tokyo yang sejak awak September dihantam typhoon beberapa kali. Kamakura – Tokyo hanya membutuhkan 60 menit perjalanan dengan kereta api.
Namun, sore ini tampaknya langit musim gugur menderang. Di kejauhan, aku melihat awan putih berarak. Warna langit masih biru meski hari telah menjelang sore. Dari tempat aku berdiri, tepat di ujung anak tangga terakhir menuju kuil, cakrawala tampak membentang luas. Mengingatkanku kepada pesawat-pesawat terbang yang kuakrabi dulu pada masa muda, yang mengangkasa, menjelajahi biru dan gumpalan putih berarak.
Langit adalah sebuah kanvas besar.
Read More
Oleh: Riawani Elyta (Penulis “Yang Kedua” dan “Hati Memilih”)
Sesuai janji saya, sekarang saya akan memberi contoh dari penerapan tahap P (Persiapan) yang telah kita bahas pada postingan sebelumnya. contoh sinopsis dari novel saya “Yang Kedua” terbitan Bukune (cet.3— – Sep. 2012)
Judul : Ping A Message From Borneo
Penulis : Riawani Elyta & habrina W.S.
Penerbit : Bentang Belia (2012)
Tebal : 140 halaman
Genre : Novel Remaja
**
Seorang teman pernah berkata pada saya.
"Se jinak-jinaknya seekor binatang, dia tetap memiliki naluri binatang. Jadi tetap harus...
Suatu kali pemimpin besar itu, duduk bersama para sahabatnya, lantas ia berkata;
“Bercita-citalah kalian,dan beritahu aku”
Seorang berkata; “Aku bercita-cita memiliki rumah berisi emas,kemudian aku infakkan”
Seorang lain menimpali; “Aku ingin rumah berisi permata...
Tiap jiwa memiliki cita, cita itulah yang menggambarkan kualitas jiwa.
Lomba Menulis “Keindahan Kepulauan Seribu” Juara 1: 10jt by Dinas Pariwisata DKI Jakarta
Dinas Pariwisata DKI Jakarta bekerja sama dengan viva.co.id menggelar lomba blog wisata dengan tema: Keindahan Kepulauan Seribu
Tuliskan apa yang kamu tahu tentang kepulauan seribu. Atau ceritakan tentang keindahan kepulauan seribu. Selain tulisan, kamu bisa tambahkan foto atau video agar tulisa kamu makin menarik.
Menyelam bersama Riyanni Djangkaru 10 Finalis terbaik dalam lomba blog “Keindahan Pulau Seribu” akan diberikan pelatihan tentang menyelam, kemudian melakukan penyelaman bersama Riyanni Djangkaru di Pulau Kotok, kepulauan Seribu, serta mendapatkan Diving License.
Hadiah
Juara 1: Rp 10 juta
Juara 2: Rp 5 juta
Juara 3: Rp 3 juta
Periode Lomba: 21 Juni – 28 Juli 2013
Periode Penjurian: 29 Juli – 2 Agustus 2013
Pengumuman 10 Finalis: 5 Agustus 2013
Syarat dan Ketentuan
Peserta lomba blog adalah blogger yang sudah menjadi member VIVAnews, Bagi blogger yang belum menjadi member harus register di sini.
Orisinalitas blog sangat diutamakan. Artinya blog adalah milik sendiri dan bukan diambil dari blog orang lain ataupun situs lainnya (copy paste). Jika tulisan berupa riset, cantumkan sumber asli data situs yang disadur.
Blog yang ditulis harus diposting pada blog masing-masing kemudian di submit di VIVAlog. Untuk mensubmit di sini.
Agar tidak tercampur dengan blog lainnya, maka saat submit di VIVAlog harus diberi tanda pada judul dengan [EnjoyJakarta].
Contoh: [EnjoyJakarta] Pulau Seribu, Harapan yang Terpendam.
Lomba blog “Keindahan Kepulauan Seribu” dibagi dengan beberapa tahap, yakni:
Masa submit blog peserta: 21 Juni – 28 Juli 2013
Read More
Menyambut lahirnya COBA TUNJUK SATU BINTANG, mau bagi-bagi novel COBA TUNJUK SATU BINTANG. Ada 3 novel COBA TUNJUK SATU BINTANG yang bisa kamu menangkan! Ketentuannya: 1. FOLLOW blog Sefryana Khairil di Tumblr. (http://blog.sefryanakhairil.net) 2. Reblog postingan GIVEAWAY...
Aku pengen banget baca novel COBA TUNJUK SATU BINTANG karya Sefryana Khairil terbitan GagasMedia karena menemu pasangan kembali padaku adalah sebuah keajaiban. Namun, sisa-sisa kenangan dan impian yang tercabut akibat jeda sesaat membuatku harus berpikir ulang tentang masa depanku dengannya. Akankah benar-benar seperti inginku untuk bersamanya selamanya meski sempat ada nama lain yang hampir menggenapkan.
Terima kasih untuk kamu yang sudah berpartisipasi di ‘Arti Sahabat’ dan inilah lima orang yang beruntung untuk mendapatkan masing-masing dua tiket nonton Rumah di Seribu Ombak:
http://nathaliechristiani.tumblr.com/
http://diiyah-diypie.tumblr.com/
http://melchocoblended.tumblr.com/
...
Setiap orang tentu menginginkan sahabat yang setia dan selalu ada di dalam suka dan duka. Itulah Samihi dan Yanik yang digambarkan oleh Erwin Arnada dalam novel dan film Rumah di Seribu Ombak. Tentu kamu sudah membaca novelnya dong.
Nah, GagasMedia dan Erwin Arnada akan membagikan LIMA tiket...
Sahabat adalah ia yang mencipta jejak di ingatan, tetap berteguh hati bersama kita saat kita terpuruk maupun bahagia. Saat suka ia menjelma menjadi penyemangat untuk mencipta keajaiban berikutnya, mengajak saya mengejar impian-impian bersama. Bersamanya saya akan merasakan pelangi kehidupan. Saya menyebutnya sahabat, begitu pun mereka pada saya. Tak ada yang lebih indah selain mendengar celoteh mereka.
~::*Sebelum Engkau halal bagiku*::~
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Duhai kamu yang tercipta dari tulang rusukku.
Di belahan Bumi manapun kamu berada.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna, dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.
Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena akan membuatku mengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kau pertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.
Jangan pernah kau tatapku penuh
Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para ustadz, meski hatiku lebih kotor dari lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
Karena toh kau hanya manusia - hanya wanita.
Beri sepenuh diri pada sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu ke hadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kau bangun dengan segala kekhusyu’an tangis do’amu.
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kau pilih,
seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta dalam setiap denyut nadi kita.
Semoga bermanfaat Insya Allah
by kiky - www.ilarizky.blogspot.com