Tentang kami yang menjadi aku dan dia.
Sebuah akhir dari suatu cerita yang biasa orang sebut kehilangan, namun saat bersamaan aku dan dia saling menemukan. Menemukan diri masing-masing yang selama ini sempat hilang karena terlalu sibuk menjaga satu sama lain.
Kami terlalu sibuk mengerahkan seluruh daya dan upaya yang kami punya untuk berusaha saling membahagiakan. Saling memberi untuk hanya melihat sukacitanya dalam beberapa waktu. Sampai kami lupa kami juga butuh bahagia karena diri sendiri. Sampai di suatu ujung persimpangan kami tersadar, bahkan bahagia dari satu sama lain pun rasanya sudah tak seperti di awal lagi, kemudian kami tak melanjutkan perjalanan. Memlih untuk berbelok ke arah masing-masing. Aku ke kiri dan dia ke kanan. Saling membelakangi, bertolak belakang, tak lagi satu tujuan atau setidaknya satu arah. Menjauh dan saling melupakan.
Kini aku tak tahu dia dimana, sedang apa atau bersama siapa. Karena aku tak lagi ada dalam hidupnya, bahkan media sosialnya. Orang-orang disekitarku juga tak lagi membicarakan tentangnya, menurutku ini hal terbaik, sehingga aku tak harus tahu ketika aku sedang tak mau tahu. Terasa lucu, ketika dulunya aku selalu tahu apa yang dia lakukan sampai kadang itu bukan sesuatu yang berarti lagi karena sudah sangat sering mengetahuinya.
Ada waktu dimana aku teringat tentangnya, karena banyak tempat di kota ini pernah ada dia didalamnya. Terkadang aku ingin menyapa karena beberapa hal, namun dia telah membangun tembok untukku sadar aku harus berbalik dan tak mengacaukan hidup dan perjalanan barunya. Namun sungguh tak apa, keinginanku sewaktu kami bersama adalah agar dia dapat bersenang-senang, jadi sampai hari ini hal-hal demikian harus kuwujudkan.
Dia orang yang luar biasa yang seharusnya mendapatkan pribadi dan cerita yang luar biasa juga, begitu juga denganku. Tak ada pihak yang lemah di hubungan kami saat itu, aku dan dia terlalu kuat dan luar biasa untuk berada dalam satu hubungan yang sama. Beberapa hal terjadi setelah cerita itu berakhir, kedua pribadi luar biasa ini saling mengeraskan hati, beradu kalimat tajam dan menyakitkan, padahal hal itu terjadi karena masih ada perasaan yang ingin diselamatkan namun bukannya berusaha berbenah, kami saling menyakiti karena ia tak paham caranya cemburu, dan aku tak paham caranya menjelaskan. Oleh karena itu kami memutuskan untuk pergi semakin jauh setiap harinya. Namun sambil berjalan pergi, aku sambil meninggalkan setiap kata menyakitkan di belakang. Dia terlalu marah hingga tak tahu apa yang ia ucapkan, kataku dalam hati agar bisa melepaskan pengampunan. Semoga dia juga demikian.
Sejak saat itu benar-benar tak ada kami lagi, kini hanya aku dan dia. Dua orang dengan dua pemikiran, dua hati, dua tujuan dan dua keinginan. Semuanya telah berubah dan takkan pernah sama lagi. Perihal menyenangkannya aku tak mahir, perihal memperbaiki yang telah rusak aku sangat buruk, sehingga aku sadar tak ada alasan untuk menjemputnya kembali.











