Akhirnya keranjang sepeda ini memiliki fungsi, mulai hari ini akan menyimpan dan melakukan kurasi terhadap pesan-pesan yang diterima sepanjang jalan. Ini muncul dari pemikiran yang mempertanyakan, kenapa senantiasa harus memberi? kenapa tidak coba menerima?
Tulisan ini akan jadi kulminasi dari sepedakeranjang. Tentu saja tidak akan update setiap hari, tergantung jika ada pesan yang baik dan menohok.
Jadi mari kita mulai.
"Hidup cuma untuk beralih dari weekend ke weekend yang lain." "Kayaknya begitu aja udah cukup." (Balas seorang teman kuliah, via pesan singkat)
"Sehat itu singkat, sakit juga singkat. Bahagia itu singkat, sedih juga singkat. Hidup di dunia ini memang semuanya serba singkat." (Intisari khutbah Jum'at, 18 Juni)
"Ga usah ngoyo-ngoyo hidup ini mah, apasih yang dicari?" (Curi dengar dari tetangga)
"How tf I supposed to speak from my heart, my heart can't speak!"
"Stop jokiâ"
"No I'm not."
Silence fall between the two.
"My heart is full of doubt, too scared to speak, and my brain is always full of consideration, too long to decide. Both of them wasted their time and busy with their own things
...leaving me behind,
alone."
II. Mr. Affection
A guest comes and take a seat right in front of the table.
"Mister of affection, mister of affection, share me some of yours today, I'm having a really bad day."
"Ah, no need to worry, no need to worry, take this one for you, what's written there?"
"Mmm, let me see, uh, ah, its written here that everything shall pass, woah, thanks Mr. Affection, this one help feeling much better."
"Don't worry, it's my job."
He disappear.
A new guest comes.
"Master of affection, master of affection, i feel like everything is falling apart."
"Don't worry my dear, i'm all ears, have a seat here."
Time flies, after telling all her stories to Mr. Affection, she stand and nodded to Mr. Affection as a sign of thanks. Mr. Affection nodded back to her.
It's already late.
Mr. Affection climbing up the stairs slowly, but suddenly his vision is so blurry, he fall into his knees.
"So," he took a deep breath, trying his best to hold his tears.
"Where?"
"Where should I find affection to shared for tomorrow?"
"Where should I?"
"Is...
...
...
..is any of this even have a meaning?"
"is any of this matters to me?"
The next day.
Closed sign hanging in front of the Affection House.
"Oh, he closed today? Lets just find another one."
Pertanyaan serupa semakin menjadi-jadi jelang hari-hari akhir Ramadhan. Pertanyaan yang jawabannya tetap sama. Adegan-adegan berikutnya adalah melepas keluarga sendiri mudik, dan bersalaman dengan tetangga yang pamit pulang.
Malamnya, lewat sambungan telepon, dari keluarga yang pulang bercerita bagaimana mereka terjebak lima jam dan belum juga naik ke kapal.
Sambungan telepon disudahi, satu pertanyaan muncul di kepala.
Kenapa orang-orang rela berlelah-lelah bahkan lebih dari 24 jam di jalan, hanya untuk pulang yang mungkin juga tak lebih dari 7 hari saja?
Kenapa?
Pertanyaan yang demikian tetap muncul, meski sekarang tahun sudah berubah. Beberapa orang masih setia untuk menanyakan hal yang sama, "pulangkah?", "tidakkah?", orang-orang keras kepala.
Hampir setahun Tumblr ini tidak terisi. Dilihat dari kronologis waktu, setahun terakhir memang rute yang panjang dan tanpa jeda. Bukan berarti tidak ada waktu luang, namun sulit untuk menulis jika waktu luang yang kamu punya hanya untuk mengerjakan tugas, atau untuk membayar utang tidur. Tambah sulit jika kamu punya kebiasaan prokrastinasi atau buruk dalam manajemen waktu.
Sering ada hal-hal yang mengganggu sepanjang perjalanan, yang rasanya menarik untuk ditulis. Kemudian di tengah-tengah urung karena merasa kurang bagus. Padahal, tulisan yang paling bagus adalah tulisan yang selesai.
Kembali ke topik, reboot di sini bukan tentang tampilan, atau fitur. Reboot di sini adalah tujuan dari catatan perjalanan ini. Kemungkinan besar tidak akan pernah ada yang menemukan catatan-catatan ini, kalau mau, sebenarnya bisa saja mempromosikannya di beberapa akun media sosial, tapi apa gunanya juga?
Maka dari itu, Tumblr ini akan jadi arsip perjalanan saja. Kilometer akan dikhususkan jadi refleksi perjalanan, Plang Jalan tetap ada untuk catatan pendek, tapi kemungkinan besar ada perubahan nama untuk Plang Jalan mendatang, masih dipikirkan. Ada beberapa yang dihapus yang rasanya terlalu emosional, atau terasa tidak relevan. Ada juga yang akan direvisi, segera. Catatan-catatan berikutnya juga bisa jadi akan lebih eksperimental.
Kemarin sempat terpikir untuk menambah satu fitur, Sepekan, bercerita tentang perjalanan selama, ya sesuai judulnya, sepekan, tapi tidak ada jaminan bahwa akan terus-terusan bisa menulis, jadi mungkin lebih baik tidak. Berurusan di luar catatan perjalanan kebanyakan akan diposting di sini saja.
Reboot ini tidak mengimplikasikan bahwa akan secara konsisten menulis di sini, meskipun di atas catatan ini harusnya ada dua tulisan baru yang akan datang entah malam ini, entah besok, tapi secepatnya
Terakhir, sepeda keranjang ini, dalam rutenya, memilih jalan yang harus diakui memang sepi, menyingkirkan diri dari jalan utama, bel sepeda ini mungkin tak akan terdengar orang lain lagi, tapi akan tetap berbunyi untuk mengingatkan diri sendiri.
Celaka dua belas karena sejujurnya saya hanya sekadar ingin mendengar lagu seperti biasa, namun ketika saya menggulir kolom komentar, saya membaca bahwa lagu tersebut adalah lagu tema sebuah drama. Saya penasaran. Saya bukanlah orang yang suka membaca sinopsis dari suatu film yang akan saya tonton. Namun, saya tak pernah mengira kalau drama ini akan membawa deja vu.
Isshuukan Friends (One week friends), ini versi live-actionnya karena sepertinya film ini juga punya seri animenya sendiri. Drama ini tentang, mari sedikit kuberi sinopsisnya, tak akan kuberi tahu jalan cerita sepenuhnya.
"High schooler YĹŤki Hase notices that his classmate Kaori Fujimiya is always alone and seemingly has no friends. After approaching her and becoming better acquainted, Kaori reveals that every Monday she loses all memory of her friends. Despite learning this, YĹŤki endeavors to befriend her anew every week."
Sejujurnya saya tak suka premis kisah yang menyoal kehilangan memori. Sejak menonton Kimi no Na Wa pada 2016 lalu, drama perihal kehilangan memori tak pernah menyenangkan dan tak pernah mudah melihat seseorang sefrustasi itu bahkan meski itu hanya dalam drama.
Saya yang hanya bisa merenung (akibat shock) setelah menonton drama ini kemudian muncul dengan pertanyaan besar lengkap dengan pertanyaan cabangnya.
Sebenarnya seberapa berharga kenangan, atau memori yang kita miliki?
Saya tahu jawabannya adalah persoalan perspektif.
Ada beberapa orang yang dengan sukarela akan mengiyakan jika dia diminta menghapus memorinya. Tentu juga ada orang yang tak akan mau meski dibayar berapa pun.Â
Kalau menanyakan saya, maka saya akan menjawab bahwa, memori tentang suatu hal, suatu kejadian, seseorang, sedikit atau banyak, mau menyenangkan, mau menyedihkan, itu selalu berharga.Â
Pun jika pada akhirnya memori tersebut hanya akan tinggal jadi memori, kenangan jadi hanya tinggal kenangan. Mungkin ada kenangan yang penuh dengan penyesalan akan hal yang seharusnya bisa kita lakukan pada saat itu, pada detik itu. Mungkin ada kenangan yang penuh dengan memori pahit menyakitkan. Mungkin ada kenangan yang begitu menyenangkan tapi tidak bisa terulang lagi.
Menurutku, sebagaimana premis pada kedua film di atas, bahkan jika itu hanya sekadar namamu, sekadar kejadian konyol yang sempat terjadi, sekadar pertemuan sesaat, itu akan jadi sangat berharga.Â
Karena manusia tak punya tempat mengabadikan segala pengalamannya sepanjang hidup, menuliskannya pun juga tak cukup, maka manusia menyimpannya menjadi memori. Itu juga tak semua hal bisa kita ingat.Â
Maka kehilangan memori, apalagi kalau itu adalah memori yang teramat penting, akan jadi kehilangan yang sangat pahit.Â
Kita boleh kehilangan seseorang, tetapi ingatan tentangnya menetap sepanjang hayat bersama dengan orang yang mengingatnya. Kehilangan memori bagi saya adalah kehilangan yang amat sangat menyakitkan.
Simbol bukan hal yang asing digunakan dalam cerpen, novel, ataupun film. Terkhusus Jepang dengan banyak karya seni bergaya surealis yang amat dahsyat, juga dengan seniman yang mampu menggambarkan pengalaman surealis dengan amat menawan: Miyazaki hingga Murakami, penggunaan simbol jadi semakin kuat.
Salah satunya adalah unmei akai no ito, the red string of fate.
Benang merah takdir.
Merujuk berbagai artikel, kisah awal penggambaran benang merah takdir ini bukan milik Jepang. Justru milik cerita tradisional Tiongkok. Namun penggunaannya banyak dimasukkan ke dalam budaya populer Jepang seperti anime, bahkan juga dalam lirik atau video musik.
Premis dari benang merah takdir ini sangat sederhana sebenarnya, tetapi implikasinya teramat kompleks. Bahwa, dua orang, di kelingkingnya, tersambung benang merah yang tak kasat mata. Benang merah yang menakdirkan mereka sebagai pasangan sejati. Premisnya sederhana. Namun implikasinya jadi kompleks karena sedemikian jauh mereka terpisah, sedemikian kusut benang itu, mereka akan tetap terikat dengan benang merah tersebut, tetapi siapa pula yang tahu cara mereka bertemu dan disatukan?
Sebagaimana Hinata yang menjahit syal merah pada Naruto. Itu adalah simbol benang merah takdir.
Sebagaimana Mitsuha memberikan Taki pita rambut meski saat itu Taki belum mengenalnya. Taki baru saja menerima takdir bahwa cinta akan membawanya mengulang waktu sekali lagi, hanya untuk menjalani takdir benang merahnya.
Sebagai bentuk terima kasih, ini adalah postingan yang telah mendukung saya sepanjang tahun. Kredit besar untuk: https://web.facebook.com/sayapunyadepresi/?_rdc=1&_rdr
Semester 2 yang lalu, saat masih suasana berbulan madu bersama kampus setelah libur selama kurang lebih dua bulan. Dosen Psikologi Umum saya datang membawa dua orang yang rupanya sedang melakukan riset terkait karier pada dewasa muda dari Universitas Griffith, Australia. Saya yang sialnyaâatau mungkin juga untungnyaâmerupakan penanggungjawab dari mata kuliah itu hanya karena nilai saya di semester sebelumnya cukup baik, terkejut menerima panggilan lewat WhatsApp saat sedang mengantri untuk mengambil buku panduan akademik. Intinya, saya disuruh menyiapkan teman-teman untuk mengisi kuesioner penelitian tersebut.
Singkat cerita, pada awal semester 3 kemarin, saya menerima pesan singkat. Rupanya dari penelitian karir dewasa muda 6 bulan yang lalu itu. Dari pesan tersebut, saya baru sadar bahwa kemarin saya menuliskan nomor WhatsApp dan surel untuk berpartisipasi pada penelitian lanjutan.
Tapi, yang paling menarik adalah bagian terakhir dari pesan tersebut. Bahwa sebagai ucapan terima kasih, akan ada voucher elektronik senilai Rp. 25.000,- tanpa undian, saya senang.
Namun, kuesioner itu masih saya abaikan.
Sampai ketika saya melihat email saya, dan undangan penelitian tersebut tertera pula di kotak masuk saya, bedanya di atas undangan tersebut tertulis âLAST CALLâ saya mengisinya dengan sigap.
Lalu apa hubungan perkara mengisi kuesioner ini dengan judul tulisan ini?
Kuesioner itu membahas bagaimana dewasa muda mencapai tujuan karier. Isi pertanyaannya tentu saja membahas seputar karier. Paling berkesan adalah pernyataan âSaat ini saya berusaha lebih keras untuk mencapai tujuan karier saya daripada yang saya lakukan di masa lalu.â
Kemudian saya berpikir apa yang saya sedang lakukan dalam mencapai tujuan karier saya?
Apa yang sudah saya lakukan dalam mencapai karier saya itu? Saya tidak punya karya tulisan apapun, tidak ada kemajuan.
Tapi saya, dengan seribu keyakinan percaya bahwa karier sebagai penulis itu sangat bergantung juga dengan proses menjadi seorang pembaca.
Saya tidak banyak menghabiskan buku tahun lalu kalau dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, saya jadi keranjingan membaca artikel-artikel atau esai di internet, dan terus berlanjut sampai sekarang.
Saya jadi sangat menggandrungi berbagai alamat web yang menyediakan berbagai artikel menarik. Meski tidak selalu berupa artikel berat, tapi tetap penting untuk menambah referensi menulis.
Mojok jadi yang paling sering saya kunjungi. Tipikal artikel Mojok ini memang satirikal juga seringkali sarkas. Saya senang membaca artikel sekaligus kolom komen yang biasanya berisi orang mencak-mencak, mempertanyakan mutu artikel, yang memang kadang sangat aneh tapi sengaja itu.
Berikutnya saya juga sering singgah di Tirto.id yang tulisannya begitu lengkap dengan analisis serta data faktual tersebut. Wajar mengingat Tirto ini menjunjung jurnalisme data. Bahkan salah satu tulisan tirto terkait referensi liputan kolaborasinya sempat saya cantumkan di instagram saya sampai lebih setahun. Mengingat betapa hebatnya liputan itu dibuat. Namun, kolom komentar Tirto adalah komedi, sedikit-sedikit dicap kadal, besok dicap buzzer.
Selanjutnya ada Vice, yang lebih sering menyajikan analisis mengenai sosio-kultural, tulisannya juga satirikal, tapi agenda yang dijunjung Vice cukup bertentangan dengan nilai yang saya anut. Walaupun begitu saya tetap membaca beberapa artikel Vice yang menurut saya informatif dan menarik.
Terakhir Basabasi.co yang seringnya lebih membahas terkait urusan sastra. Tulisannya berat namun begitu menawan serta sarat makna. Salah satu artikelnya bagi saya adalah pelecut untuk membawakan makna pada setiap tulisan saya.
Sekarang saya turut menggemari tulisan Asumsi.co, dan baru saja berlangganan 5.45 newsletter asumsi.
Mungkin ada yang senang sepak bola, website seperti panditfootball dan the flanker sangat menyenangkan untuk ditelusuri, membawa sepak bola ke dalam storytelling.
Selama membaca artikel ini saya jadi banyak tahu terhadap penulis-penulis feature hebat, yang menariknya berangkat dari penulis sepak bola. Saya cukup heran bagaimana orang-orang hebat nan saya kagumi ini, kebanyakan menggemari sepak bola.
Zen RS, inspirasi saya membuat tumblr, pendiri panditfootball ini, merupakan direktur konten dan pemimpin redaksi Narasi TV, yang kontennya fenomenal, dengan foundernya yang juga fenomenal, Najwa Shihab.
Pangeran Siahaan, sang founder box2box, yang pundit sepak bola, juga pemenang presenter olahraga terbaik Asia ini, sekarang merupakan founder dari Asumsi.co
Pada akhirnya, saya selalu mengimpikan, nama saya bisa mencapai level orang-orang ini. Zen RS atau Pange, terserah yang mana. Mungkin jalan yang baik juga berawal dari menulis sepak bola, tapi pilihan kembali ke saya untuk berawal dari mana.
Menjawab pertanyaan karier di atas, walau saya sangat jarang menulis, dan tak punya karya. Saya yakin proses membaca saya adalah salah satu jalan maju mencari gaya kepenulisan, menenggak referensi demi referensi, untuk bisa setara dengan mereka. Kalau disuruh perkenalan, dan menyebutkan hobi, percayalah, hobi membaca saya itu benar, dan bukan untuk terlihat positif saja di mata dosen, senior, atau guru.
Saya sering membayangkan nanti, saya hanya sekadar menjadi penulis sembari mengajar. Sementara teman-teman saya duduk sebagai pegawai negeri atau bersenang-senang serta berpusing ria dengan karier yang melesat di industri kimia, menikmati sarapan lobi-lobi setiap pagi.
Di sinilah saya, dari 7 tipe landasan kekuasaan yang saya pelajari di psikologi, saya tak memiliki satupun diantaranya.
Terakhir, apa saya sudah berusaha keras untuk mencapai karier saya?
Bahkan untuk taraf berusaha ringan mungkin juga belum.
Nama Oppenheimer bisa jadi terasa asing, tapi tidak dengan mahakaryanya. Memang bukan hasil cipta tangannya sendiri, tercipta secara kolektif. Namun dialah yang memimpin proyek tersebut. Proyek Manhattan. Proyek dengan dua buah hati yaitu âpria gemukâ dan âanak laki-lakiâ. Keduanya berprestasi. Menorehkan namanya besar-besar dalam sejarah.
Kalau seni adalah ledakan. Maka Oppenheimer adalah Picasso-nya, dan jika renaisans mengubah Eropa, maka Oppenheimer mengubah dunia dan mendefinisikan ulang kata âancamanâ bagi seluruh masyarakat dunia.
Menarik, adalah pada saat uji coba Trinity. Ketika merefleksikan terkait uji coba tersebut. Oppenheimer menjawab secara filosofis, serta mengutip Bhagavad Gita, bagian dari epos Mahabharata. Kalimat yang dikutip adalah berikut:
âI am become the death, the destroyer of the world.â
Kalimat yang dilontarkan oleh Krishna. Orang di belakang perang Kurukshetra.
Bhagavad Gita sendiri merupakan dialog antara Krishna dan Arjuna sebelum perang Kurukshetra dimulai. Keraguan yang menghinggapi Arjuna tepat sebelum perang dimulai, dijawab oleh Krishna dalam bentuk Wiswarupa-nya, ditulis dalam Bhagavad Gita.
Perang Kurukshetra adalah sebuah keharusan untuk menegakkan kebenaran walau kehancuran dinasti Kuru adalah hasilnya, dan Arjuna harus menjalankan kewajiban yang telah ditakdirkan padanya.
Banyak yang beranggapan bahwa Oppenheimer telah menyesali apa yang dia lakukan. Namun interpretasi lain dan mungkin yang paling mendekati terhadap apa yang dimaksudkan oleh Oppenheimer sebenarnya dapat kita temukan dalam penelusuran terkait kalimat yang dia ucapkan. Serta yang terpenting, peran yang dimainkan Krishna sekaligus Arjuna dalam perang tersebut.
Rayuan yang klasik. Namun kita tidak akan berfokus pada gombal klise di atas. Kita akan mencoba mengurai mengapa diksi rumah yang dipilih dari serangkaian kata yang mungkin.
Apa itu rumah? Apa definisi dari rumah? Kalau menyontek di kamus besar bahasa Indonesia, arti rumah itu sederhana sekali. Bangunan tempat tinggal. Tidak istimewa memang. Tapi memang tidak ada kata yang istimewa. Toh, menurut Ivan Lanin, kata itu netral saja, sampai manusia memberi tafsirnya.
Kata itu netral. Tafsir manusia membuatnya memihak.
â Ivan Lanin (@ivanlanin)
August 30, 2017
Namun kali ini izinkan saya tidak setuju jika rumah hanyalah kata kosong belaka. Sebagaimana Eka Kurniawan, sang penulis novel termasyhur "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas Tuntas"
Tidak, kata tidak netral. Kata tidak lahir dari kekosongan. Ia diciptakan manusia (dg niat, emosi, nilai, dll), sama tidak netralnya ketika dibaca/dipakai (juga oleh manusia yg punya niat, emosi, nilai, dll). https://t.co/iVk4bX6Hu1
â Eka Kurniawan (@gnolbo)
August 29, 2020
dan Zen RS, orang nomor satu yang menjadi inspirasi saya membuat Tumblr, menolak bahwa kata adalah netral.
Masalahnya, tafsir tak hanya bekerja saat membaca/menggunakan sebuah kata, tapi juga saat sebuah kata dibuat/diciptakan.
â Zen RS (@zenrs)
September 2, 2017
Menurut saya, siapapun yang menciptakan kata rumah tersebut, tetap saja akan sarat dengan unsur emosional di dalamnya.
Martin Heidegger salah satu penggagas fenomenologi dan hermeneutika menolak mengartikan rumah sekadar bangunan tempat tinggal. Keberadaan rumah semata-mata berhubungan dengan salah satu kodrat manusia untuk menetap, dan tinggal. "To be a human being means to be on the earth as a mortal. It means to dwell.â Mengutip Heidegger, di bukunya Poetry, Language, Thought. Rumah merupakan perwujudan kodrat manusia untuk tinggal. "Manusia tidak menetap atau tinggal karena kita membangun rumah, tapi kita membangun karena kita menetap, karena manusia sejatinya adalah penghuni."
Rumah selalu berhubungan dengan berbagai konstruk lain, kasih sayang, keluarga, kenyamanan, dan lainnya. Bahkan, bisa jadi juga berhubungan dengan konstruk lain yang lebih negatif. Satu yang pasti, rumah tak sekadar bangunan tempat tinggal. Namun konstruk yang terlibat menggantungkan pada bagaimana individu membangun hubungannya dengan rumah.
Oleh karena itu, rumah menjadi metafora.
Rumah sebagai metafora sangat jamak digunakan. Kalimat rayu di atas adalah contoh. Dalam hal ini konstruk rasa nyaman yang biasanya berelasi dengan rumah diambil. Sehingga menggambarkan rasa nyaman yang dirasakan saat bersama orang yang dirayu dengan kalimat di atas. Harus diakui rumah memang metafora yang baik untuk rasa nyaman yang umum kita rasakan saat di rumah.
Oleh karena kata rumah yang begitu berarti. Kita semestinya juga menjadi rumah bagi diri kita sendiri.
"Maksudnya?"
Seharusnya, rumah adalah tempat yang nyaman untuk kita, dan seharusnya kita belajar untuk menjadi rumah bagi diri kita sendiri. Rumah mungkin tidak begitu luas, tidak semewah gedongan, tapi kita membuat rumah untuk kenyamanan kita sendiri. Apa kita akan membawa tetangga untuk melakukan cek terhadap kenyamanan rumah kita? Tidak. Kita yang mengatur rumah kita. Dan seperti itulah kita harusnya dengan diri kita sendiri. Nyaman dengan diri sendiri. Nyaman menjadi diri sendiri.
"Ah, klasik. Sama banget dengan motivasi lain, tidak usah dengarkan orang lain, jadilah diri sendiri. Lah, kalau kita harusnya nyaman dengan diri sendiri kenapa kita disuruh keluar dari zona nyaman?"
Tidak.
Sulit sekali tidak mendengarkan bagaimana orang lain memandang kita, tapi kita bisa memilih mendengarkan yang mana. Anggap saja seperti memilah desain rumah yang nyaman. Kalau menurut kita garasinya sudah cukup, kenapa mendengarkan pendapat orang lain untuk meluaskan garasi. Padahal kita tidak seperti mereka yang punya tiga mobil. Bagaimana kalau mencontoh rumah di sana yang adem. Bagaimana ventilasinya? Lalu kita coba evaluasi ventilasi rumah sendiri.
Apa kita terus-terusan di rumah? PSBB semasa pandemi Corona yang menganjurkan kita di rumah saja, kita mengeluh ingin kemana, ingin ke situ.
Kita keluar dari zona nyaman untuk mencari hal yang baru, untuk kita bawa kembali ke rumah. Siapa tau dengan banyak hal baru kita dapat mendekor rumah jadi lebih nyaman.
Barangkali bahasan ini juga sudah klise, sudah terlalu banyak dibahas, sudah usang. Tapi seperti rayuan di atas yang masih terus dipakai. Rumah akan terus jadi gagasan, karena kedekatannya dengan kita, karena makna dan konstruk yang terbangun di dalam satu kata ini terlalu banyak.
Sekarang jangankan dari detik ke detik berikutnya. Perubahan terjadi dalam jangka waktu milidetik saja. Barangkali kalau kita tanya wajah kita ini, dia juga sudah lelah tanpa henti berganti ekspresi mengikuti perubahan jangka milidetik itu. Kemarin-kemarin pucat ditodong keadaan, sebentar merekah lagi dipinang harapan.
Tapi seperti itulah yang terjadi pada hari-hari di garasi setiap malam, setelah dadu angka enam itu jatuh di kertas takdir.
Dadu angka enamâsinonim keberuntungan itu mendadak menjadi tikungan U. Tidak buruk juga, tapi jelas tidak baik-baik saja. Lampu garasi di malam hari menjadi remang-remang karenanya.
Karena aktivitas siang hari yang menyita waktu. Malamlah yang harus mengalah. Mulai dari keinginan membaca, bersantai, berbincang semua jadi pindah ke malam hari. Masalahnya rumit. Karena seringnya tiada siapapun di malam hari (dan selalunya memang tiada siapa-siapa) maka berbincang jadilah bersama diri sendiri. Terciptalah perbincangan asyik. Asyik sekali sampai lupa waktu. Kadang saking asyiknya sampai perih sendiri terbawa ke tidur, terbawa ke mimpi, terbawa ke pagi hari. Terbawa sampai ke kopi instan yang diseduh untuk mengisi tenaga sepanjang hari.
Hingga sampai ke malam yang melelahkan untuk tiba di satu keputusan yang bukan dari hasil berpikir nan lama.
Sudah diputuskan, sepeda keranjang sudah harus menyusuri kota, menelusuri garasi-garasi yang masih terjaga di malam hari. Agar setidaknya (saya) menghindari berbincang dengan diri sendiri lagi.
(2) Fajar.
Keputusan sudah dibuat.
Pagi sudah tiba. Waktu untuk berangkat. Perjalanan cukup jauh, sebaiknya berangkat pagi untuk sampai tepat malam hari.
Tapi banyak sekali alasan yang dikarang sekadar tidak ingin lelah mengayuh. Habis bensin, padahal bensin tinggal dicari, banyak di sebelah garasi. Tidak ada roda. Bohong, tiap hari roda itu dipakai bagaimana pula bisa kau bilang tidak ada roda. Tidak ada setir. Lantas mengapa tiba-tiba ingin menyusuri kota kalau memang belum ada. Tidak ada pedal. Bukannya sudah jauh hari ditentukan pedalnya adalah yang paling atas samping tiga huruf W itu. Tidak ada tujuan. Jalan saja dulu, nanti juga ketemu sendiri.
(3) Catatan yang sebenarnya.
Tidak perlu berpikir filosofis mencari tahu apa alasan dari penamaan sepeda keranjang ini. Sekelebat saja muncul di perjalanan menuju kota. Sederhana rasanya nama sepeda keranjang itu. Namun jangan salah. Sepeda keranjang dulu teramat mewah, sebelum mewah itu sekarang bersanding dengan tiga kamera beserta buah yang tidak utuh lagi. Setiap pagi sewaktu sekolah dasar dulu. Seorang teman akan mengantarkan pulang dengan sepeda keranjang yang selalu diasosiasikan dengan feminis itu. Padahal menurutku, dari satu dan banyak hal yang bisa kita berikan cap gender, sepeda keranjang sangatlah tidak masuk di daftar tersebut. Apa yang salah dari sepeda dengan keranjang?
Tumblr dipilih karena sepertinya tidak ada tempat lain menurutku yang lebih baik. Instagram jelas bukan tempatku di sana. Bahkan Instagram itu baru dibuat saat kuliah. Facebook adalah hiburan dan akan terus menjadi hiburan bagi saya. Komedi menurut saya ada di Facebook. Maka tidak cocok menulis ini di tempat yang menurutku adalah tempat mencari senda gurau nomor satu. Twitter? Karakternya saja cuman 280. Kesimpulannya, di sini yang paling baik. Inipun sebenarnya belum sempurna. Logonya walau sudah ada ide belum sempat dibuat. Nanti saja, yang penting meluncur dulu.
Sepeda keranjang ini akan menemani perjalanan kalian, atau dibalik, kalian yang menemani perjalanannya. Ribet. Berkeliling bersama lebih baik.
Tulisan di sini akan bermacam-macam. Tajuk âKilometerâ menjadi tulisan utama di sini. Berisi keresahan-keresahan paling mengganjal bagi saya. Artikel âPlang Jalanâ berisi ide-ide yang mendadak muncul dan ingin ditulis. Seperti plang jalan yang menarik perhatian di tengah berkendara. Sedangkan tajuk âDi Pinggir Jalanâ akan jadi tulisan pendek sekenanya yang ditulis saat senggang beristirahat di pinggir jalan. Rencananya mau ada tajuk âOleh-Olehâ berupa tulisan dari mereka yang juga ingin berbagi. Tapi ada yang membaca saja syukur, jadi tidak dulu.
Tulisan mungkin akan rutin di hari Selasa, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. Cek saja hari-hari itu. Meski mungkin tulisan hanya akan muncul dua kali seminggu. Saya juga berusaha konsisten untuk menulis di hari tersebut. Waktunya? Pasti malam hari. Soalnya lebih nyaman saja mendengar Plastic Love ala City Pop khas Jepang 80-an di malam hari. Lagu yang jadi teman tulisan ini. Lagipula lebih baik membaca tulisan ini di malam hari.
Untuk gambar, keseluruhan adalah gambar yang diambil sendiri. Kecuali untuk gambar ilustrasi yang akan selalu diusahakan untuk mencantumkan sumber gambarnya.
Terakhir, apresiasi paling tinggi untuk kalian yang telah membaca deklarasi jelang perjalanan ini. Kalian orang-orang baik dan semestinya mendapatkan hal-hal yang baik walau mendapatkannya tak selalu berjalan baik.
Selamat menyusuri kota bersama sepeda keranjang. Semoga kehangatan bel sepeda keranjang ini dapat terdengar dan kalian rasakan.