Kusudahi pandanganku pada sebuah buku milik Haruki Murakami yang belum sempat tersentuh. Ada keengganan untuk membaca setelah menyelesaikan satu buku sebelumnya. Aku menatapnya lekat-lekat, kosong. Seperti rutinitas belakangan yang kerap kulakukan, yaitu (mencoba) mengosongkan pikiran di satu titik. Tapi rupanya, tidak ada celah untuk sekedar membuatnya kosong.
Waktu berjalan cukup lambat.
Hari demi hari seperti siksaan, jam tidur yang sudah terbiasa berantakan sekarang ditambah keadaan fisik yang makin tidak memungkinkan. Seringkali aku menemui kontemplasi secara tidak sengaja. Saat itu juga aku melarikan diri.
Sebelum Jumat sore, aku mendatangi kalian, entah hanya untuk bercengkrama atau aku memang membutuhkan seseorang untuk percaya dengan cerita-cerita yang kubawa. Namun, kebosanan yang tercermin di masing-masing raut wajah yang kusambut.
Kuhela nafas panjang, menyisakan celah untuk oksigen bersih yang sekiranya akan menjalari seluruh tubuh dan membuatku kembali waras.
Aku kembali bercerita hal yang sama. Berulang-ulang. Mencari pembuktian bahwa ‘manusia juga butuh tempat untuk bercerita meringankan beban mereka’. Pembuktian yang sia-sia. Nyatanya, dia tetap melekat dan sebesar punuk unta lebih sedikit.
“Ternyata tidak sebesar yang kubayangkan, namun kenapa begitu berat?” lagi-lagi batinku menggerutu.
Aku membawanya setiap hari, membuat langkah menjadi gontai dan senyum mulai enggan mampir. Satu persatu dari kalian bertanya ‘kenapa? apa yang sudah terjadi?’ rasanya sudah kuceritakan berkali-kali hingga muak dan cerita itu bahkan meluncur dengan sendirinya dengan runut tanpa perlu konfirmasi dari otak.
Aku mulai menciut, punuk unta itu masih bertengger dengan gagah dan menekan setiap pergerakan yang mulai terbatas. Pagi kemarin, hingga tadi, air liurku terasa pahit. Anehnya, aku tetap menyukai makanan, meskipun setelahnya hanya rasa pahit yang tersisa. Kue-kue manis, dan eskrim kesukaan yang tersaji, habis tidak tersisa namun lagi-lagi diakhiri dengan rasa pahit yang luar biasa.
Setiap kali alarm pagi berbunyi, saat itu juga alarm pada otakku bekerja dan menyuruh hal lain untuk bekerja. Mataku yang masih terpejam, dengan degup jantung yang makin lama makin kencang, disusul dengan keringat dan pusing yang luar biasa hebat. Aku akan merasa mual hari itu.
Tibalah hari Jumat sore, di penghujung bulan Juli 2022.
Aku memasuki sebuah lobi dengan grand piano yang terletak di tengah-tengah dikelilingi mini cafe dan apotek. Ada dua eskalator di depannya beserta manusia-manusia yang berlalu lalang dengan perasaan kecamuknya.
Lift meluncur menuju lantai 6.
Resepsionist memintaku memasuki sebuah ruangan kecil berukuran sekitar 3x3 meter.
Aku menekan engsel pintu dan membukanya, sebuah kaca besar menghadap ke jalanan. Sementara itu di dalam sudah ada seseorang dengan kaos hijau tua dan masker putih. Keriput di bagian wajahnya menandakan bahwa dia sudah cukup berumur.
Tanpa diminta, aku memposisikan diri duduk di hadapannya namun, aku tergiur oleh hal-hal yang berada di luar jendela. Lalu lintas yang padat, MRT yang sedang beroprasi, dan penjaja makanan di depan gedung lantai paling bawah. Entah kenapa, pikiran yang kemarin-kemarin sulit dikosongkan saat itu semuanya nyaris lindap hanya dengan sekali tatap. Bahkan ketika seseorang di hadapanku menyapa dan mengajak berbincang dengan hati-hati. Percakapan yang cukup canggung selama 40 menit. Kupikir, punuk unta yang selama ini menyertaiku, akan mengikis sedikit, tapi....
Sampai saat ini aku tidak bisa mendefinisikan perasaan itu seperti apa.
Aku hanya ingin segera menyudahi percakapan itu lalu keluar dan kembali mengantre di lobi bawah sambil memandang grand piano yang seolah menginginkanku untuk menyentuhnya. Aku berhasil, melarikan diri dari tempat yang cukup pengap itu sambil membawa selembar kertas dan beberapa hal.
Aku tidak kembali pulang setelahnya. Mencoba mencari-cari kewarasan yang tersisa. Apa yang kuputuskan saat itu, sia-sia. Aku merasa, semua sama saja. Tetap, hanya aku yang bisa mendefinisikan segala kewajaran dan kewarasanku, mereka, pun kalian tidak. Pada akhirnya, tidak ada jemari-jemari yang dapat kuraih supaya aku bisa segera beranjak pergi.
Secangkir hot matcha tersaji untuk sekedar menjernihkan pikiran, mencerna apa yang terjadi barusan. Hari mulai gelap, makin gelap. Diiringi lagu ciptaan Barsena dengan airbuds yang tersumpal di kedua telinga, aku sedang menikmati kesunyian.