Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
29:69
Mike Driver

oozey mess

ellievsbear

roma★
will byers stan first human second
noise dept.
No title available
wallacepolsom

izzy's playlists!
Show & Tell
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

blake kathryn

@theartofmadeline
sheepfilms
todays bird
Sweet Seals For You, Always

#extradirty

if i look back, i am lost
🪼
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from South Africa

seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from Greece

seen from Austria

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Portugal
seen from Australia

seen from Singapore
seen from Germany
seen from Australia

seen from Sweden
seen from Italy
@speckhanglipo
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
29:69
Sebenaqnya...
Jawapan kpd kerisauan infinite insan, termasuklah aku oi. T.T
By Believuh group. Tiada daya upaya melainkan Allah.
Pada kekurangan itu, punya kuasa luar biasa. Hanya saja kita mengerti.
Wahai pemuda.
Hai ikhwan, persiapkanlah dirimiu dengan tarbiyah yang sahih dan pengalaman serta ujian yang terperinci. Ujilah para bakal pejuang dengan amal yang kuat dan banyak, yang tidak disukai oleh mereka, yang membebankan mereka dan pisahkanlah mereka dengan hawa nafsu dan kebiasaan mereka agar mereka tahu apa itu hakikat perjuangan di atas jalan ini.
Imam Hassan Al Banna
Hell begins on that day when God grants us a clear vision of all that we might have achieved, all the gifts we wasted, of all that we might have done but we did not do
Quote by Gian Carlo Menotti in How to Influence People by John C Maxwell
Subhanallah. Beautiful reminder.
Mati
Masa zaman baru nak up, pernah jugak aku terpikir untuk mati. Menangis kemain mintak hadiah kematian dari Dia. Hampir setiap kali aku meloncat ke fasa depression. Kononnya itulah penamat segala serabut serabai hidup. Aduhaii. Apa sangat lah masalah aku tu dulu?
Dan sekarang, Alhamdulillah 'ala kullihal. Sempat aku merasa sentuhan tarbiyah, mengecap nikmat rahmat kasih sayang, petunjuk dan hidayah Dia sebelum permintaan aku suatu masa dahulu dimakbulkan. Dan sekarang, sungguh aku melihat kematian itu bukan lagi sekadar pintu escapism dari hiruk pikuk masalah dunia.
Kematian itu satu transition phase, transit sebelum bertemu Tuhan Yang Menciptakan.
Kematian itu menjadi pemutus usaha bagi aku membekali diri untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Mengetahui.
Kematian itu hanyalah penawar buat mereka yang sudah cukup bertahan, bertarung dengan segala macam 'bisa' dunia.
Kematian itu bukan mengkakukan jasad, tapi menghidupkan ruh-ruh baru di dunia yang masih punya jasad. Dan itulah sebaik-baik kematian, juga sebuah kematian yang aku sendiri idamkan.
HITAM
EPILOG
Dalam keadaan terlunjur di satu sudut, dia memerhatikan hujung ibu jari dan jari telunjuk kanannya. Hitam, macam arang. Jelas nampaknya seperti kesan abu. Nafas berat dilepaskan berulang kali. Wajahnya penuh tanda tanya dan kekeliruan.
"Aaahhhhh!" Selalunya begitulah jawapannya pabila persoalan hidup menyinggah si minda.
***
"ENCIK!" dibalik tirai besi itu Ajam bersuara. Serak dan berat suara anak muda 20-an itu. Matanya kemerahan, setia menyoroti langkah pegawai beruniform separa lengkap yang perlahan menghampiri sel Ajam. Detingan anak-anak kunci yang bergantungan dipinggang pegawai polis berpangkat koperal itu sedikit memecah kesunyian.
"Hah? Dah tak tahan?" sinis dan bersahaja soalan ditujukan kepada Ajam. Namun sedikit berbisik. Serentak dengan itu, Ajam mendengus kasar.
Ajam menggaru bahu kanannya yang tidak gatal. Rimas dengan sindiran yang diberikan. "Bagi je lah! Ambil duit dalam dompet aku."
"50 ringgit. Done deal" lelaki yang dipanggil Encik itu mengeluarkan sepeket kecil tembakau dari saku belakangnya, lalu dihulur kepada Ajam. Ligat dan pantas.
"Kertas?" Ada lagi yang belum selesai dari Ajam.
Encik mencapai folder kuning yang dikepilnya dibawah lengan. Diselak-selak beberapa helaian kertas, lalu mengeluarkan sekeping kertas yang bersaiz A4.
"Nah" sepatah dari Encik kemudian berlalu meninggalkan Ajam. Terkial-kial Ajam menyambut helaian kertas yang dicampak dari celah jerirji besi. Jeriji yang menjadi pemisah darjat dan nilai antara kedua makhluk.
Hidup memang susah. Tapi macam mana susah hidup pun, lagi susah kalau hidup tak berTuhan.
“Dakwah ini tidak mengenal sikap penat. Ia hanya mengenal satu sikap yang syumul . Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama da’wah dan da’wah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang-orang yang duduk. Lalu Allah SWT akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban da’wah ini”
IHAB
Fyi
Segan la. Segan.. Kena balik jumpa mak sedang dia kecewa dengan kita. Sanggup tangguh. Cipta alasan.
Takut la. Takut yg amat.. Kena balik jumpa Pencipta sedang Dia murka dengan kita. Tangguh? Sungguh terlambat.
Dream. Bacalah. Bacalah.
Salam maal hijrah. Mana pegi passion yg hilang? Aku kena cari balik
"Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan rendah hati ketika seksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitan pun menjadikan apa yang mereka lakukan terasa indah bagi mereka"
6:43
That's the thing. Sometimes when you sacrifices something precious, you are not really losing it. You're just passing it to someone else.
The Five People You Meet in Heaven - Mitch Albom