It seems the more time and distance you put between us, the larger you grow in my heart.
Beau Taplin • S i m p l e E q u a t i o n (via afadthatlastsforever)
Peter Solarz

No title available

oozey mess
Game of Thrones Daily
todays bird
Cosimo Galluzzi
dirt enthusiast
No title available

if i look back, i am lost

No title available

blake kathryn

No title available
Claire Keane
h

JVL

Discoholic 🪩
KIROKAZE
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
taylor price
$LAYYYTER

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Mexico
seen from Venezuela
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Argentina
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@sunsetrainbow
It seems the more time and distance you put between us, the larger you grow in my heart.
Beau Taplin • S i m p l e E q u a t i o n (via afadthatlastsforever)
Untukmu yang pernah hadir; aku melarung kenangan tentang kita. Semoga kau berbahagia.
self note
I Know YOU LOVE ME
Saya lahir di keluarga yang sama sekali tidak terbiasa mengekspresikan kasih sayang. Terlebih lagi, mengungkapkan pendapat, pikiran, perasaan, ketidaksetujuan; semuanya itu bukanlah hal yang wajar. Kedua orangtua saya adalah tipikal yang perkataannya harus dituruti tanpa saya tahu alasannya. Bahkan, walaupun kadang-kadang saya sangat tidak setuju dengan keputusan mereka—besar atau kecil, dan bahkan keputusan-keputusan yang membawa pengaruh besar dalam hidup saya. Saya hanya harus menurut dan pasrah; menyesuaikan diri dan menerima.
Sampai pada satu titik, saya merasa bahwa orangtua saya tak menyayangi saya karena mereka menuntut saya melakukan ini-itu, bersikap begini dan begitu, tapi tak pernah mempertanyakan perasaan saya—apakah saya senang dengan keputusan yang mereka buat?
Tanpa sadar, keraguan di dalam diri saya akan kasih sayang orangtua itu pun memengaruhi cara saya memandang kasih Allah. Mungkin itu juga yang menyebabkan begitu sulit bagi saya untuk bergantung penuh pada Tuhan dan selalu berjuang dengan kekuatan sendiri. Sama seperti bagaimana saya meragukan bahwa orangtua saya memutuskan hal-hal untuk kebaikan hidup saya—karena nyatanya sebagian besar keputusan itu mengecewakan dan membawa luka serta keterpurukan terbesar di dalam hidup saya—demikian juga saya meragukan kasih Allah.
Saya meragukan kasihNya. Saya meragukan bahwa Ia memandang saya begitu berharga. Saya ragu Ia benar-benar menginginkan yang terbaik bagi saya.
Kata-kata ‘Allah mengasihimu’ hanya tercerna oleh kepala saya, tetapi tidak meresap hingga ke bagian hati yang paling dalam. Saya hanya ‘tahu’ dengan kepala saya bahwa Tuhan mengasihi saya, tetapi saya tidak benar-benar memercayainya.
Itu sebabnya ketika Tuhan meminta saya melangkah, saya cenderung tidak berani melangkah karena saya takut bahwa akhirnya saya akan dikecewakan. Itu sebabnya, ketika menghadapi masalah, saya selalu berupaya menyelesaikannya dengan kekuatan sendiri. Saya tidak percaya dengan menyerahkannya ke Tuhan, maka Tuhan akan membimbing pada jalan keluar yang terbaik. Sedangkan, jika menyelesaikannya dengan cara sendiri, setidaknya saya tahu bahwa saya tidak akan mencelakakan diri sendiri. Itu sebabnya saya selalu memandang diri saya tak berharga karena saya tak percaya bahwa saya adalah mahakarya Tuhan yang berharga.
Keluarga seharusnya adalah tempat seorang anak pertama kali belajar bahwa dirinya dikasihi tanpa syarat. Keluarga yang tidak sehat bisa membuat anak salah mengenal kasih Allah menjadi kasih yang bersyarat dan tak lagi dapat menghayati kasih Allah yang tanpa syarat.
Saya ingat pernah bertanya pada konselor saya dalam proses pemulihan diri, “Kenapa Tuhan mengasihi saya? Kenapa Tuhan mau mengorbankan diriNya untuk saya? Itu rasanya konyol.”
“Kita tidak tahu alasan Tuhan melakukan semuanya, tapi yang perlu kita tahu hanyalah bahwa IA mengasihi kita. Selalu. Dan kasihNya tak berubah,” jawab konselor saya ketika itu.
Along the way, He shows me that His love is real and that He never wants bad things to happen to me. Walau kadang-kadang keraguan itu masih muncul, tapi saya mencoba membuka hati dan percaya, merasakan kasih Tuhan yang berkelimpahan memenuhi hidup saya.
Untukmu yang mungkin meragukan bahwa Tuhan benar-benar mengasihiMu, buka hatiMu. Let Him show you His abundant and never ending love. Let His love overflow in your heart and make you see that He really loves you unconditionally; you don’t need to do anything in exchange of His love.
And finally to make you be able to say with all your heart: I know YOU LOVE ME, God!
Dependence on God
Saya punya dua penyakit kumat-kumatan yang tidak pernah bisa hilang. Migrain dan gastritis. Saya sudah terkena gastritis sejak masih SD, sementara migrain menyusul sejak saya SMP.
Dulu, saya tidak pernah memperhatikan pola kambuhnya gastritis saya, apalagi migrain. Yang saya tahu, kadang gastritis hanya kambuh ketika saya, sengaja atau tidak sengaja, terlambat makan. Many years ago, saya memang tidak begitu memedulikan kesehatan diri saya karena berbagai macam hal yang membuat saya begitu membenci diri sendiri.
Tahun ini, salah satu goal pribadi yang saya canangkan di awal tahun adalah menjadi pribadi yang sehat, baik secara psikis atau fisik. Maka dari itu, saya mulai memperhatikan kedua penyakit yang telah menemani saya seumur hidup itu.
Lucunya, yang saya temukan adalah keduanya tidak hanya datang saat saya terlambat makan, tetapi juga ketika saya dalam kondisi stress berat. Awalnya saya tidak percaya, tetapi setelah beberapa kali gastritis dan migrain saya kambuh, saya selalu mengingat-ingat kembali. Kebanyakan, permasalannya memang adalah stress. Belakangan, kalau sudah stress dan overthink too many things, bukan hanya gastritis dan migrain saja yang bercokol di tubuh saya, tetapi ditambah dengan vertigo dan rasa sakit di sekujur tubuh.
Sepertinya, ini menjadi salah satu dari cara Tuhan untuk terus menegur saya yang kerap kali bandel. Ya, bandel karena sumber stress saya pada tahun 2015 ini adalah selalu tentang masa depan. And what I do is always overthink about future, trying to figure out every possible way to secure it. In the end, though, what I find is not the way out, but the state where I’m 1000x more stressed out than before.
Ugh.
Saya tahu semua teori tentang berserah kepada Tuhan sebagai seorang Kristen. I have God, I have a VERY GREAT GOD who can handle all of my problems. Tapi, teori memang selalu tak segampang pelaksanaannya. Terutama, bagi saya yang sejak kecil selalu diajarkan untuk bergantung pada diri sendiri dan menyelesaikan segala hal sendiri (orangtua saya memang mendidik anak tunggalnya untuk menjadi sangat mandiri dan bukan malah memanjakannya).
Weekend kemarin, saya tumbang lagi gara-gara memikirkan masa depan. Saya memikirkan rencana studi lanjut saya yang mulanya tersusun rapi, tetapi sekarang porak-poranda lagi. Padahal, rencana studi lanjut ini ada hubungannya dengan visi saya selain menulis. Saya memikirkan soal mimpi menulis saya. Saya memikirkan bagaimana mencari pekerjaan freelance sebelum memutuskan untuk kuliah, supaya saya tidak terus merepotkan orangtua. Saya memikirkan bagaimana caranya agar bisa mapan dan menyenangkan orangtua.
And the worst thing of all, I can’t see where this path will end. I lose my focus. I no longer see God and His vision for me and try to walk with my own strength. Dan Tuhan menegurku lagi melalui flu berat, migrain, gastritis, dan sakit di sekujur tubuh yang datang pada saat bersamaan. Memang kelihatannya harus ditempelak Tuhan sampai merasa sangat lemah dan tak berdaya baru saya akan berhenti membuat otak saya berputar memikirkan semuanya sendiri.
Perjalanan Dependence on God memang tidak pernah mudah bagi saya. Berkali-kali saya jatuh. Berkali-kali saya ditegur. Berkali-kali saya membangkang. Berkali-kali Tuhan mengingatkan saya.
Sepanjang weekend kemarin, saya diingatkan dengan sebuah lagu sebelum akhirnya saya memilih untuk curhat habis-habisan pada Tuhan.
Engkau Tuhan yang setia WaktuMu slalu yang terbaik Engkau Tuhan sandaranku Dan ku hanya kan Berharap pada-Mu
Satu-satunya yang kuandalkan Satu-satunya yang kupercaya Engkau sumber kekuatan, Sumber pengharapan sumber kedamaian
Satu-satunya yang kuandalkan Satu-satunya yang kupercaya Engkau Tuhan memberkati, Tuhan penyembuhku Tuhan pemulihku (Satu-Satunya—Sound of Praise)
Now, dear head, hush hush please. Kamu sudah pernah melihat bagaimana Tuhan bisa bekerja di luar nalar. Let go and let God. Trust Him and hold His hands. Involve God in your life and surrender your plans to Him because no matter how great your plan is, without God, it will just be nothing. You can never secure anything like what you always want to do. Let Him make you see how awesome things can turn out to be.
Pindah Ke Lain Hati?
Pada pertengahan bulan Agustus ini saya (akhirnya) bisa mengunjungi pantai lagi. Let’s say (akhirnya) saya bisa menikmati liburan.
Tempat yang selalu menjadi favorit saya untuk liburan adalah Bali karena di situ ada banyak pantai yang bisa menjadi tempat saya untuk menyepi dan hanya mendengar sayup-sayup debur ombak.
Di liburan kali ini, saya jadi teringat lagi percakapan dengan Papa saya sekitar dua tahun lalu ketika kami belibur ke Bali. Pada saat itu, saya berkata bahwa suatu saat nanti saya ingin pindah ke Bali. Saya memang menyukai, atau mungkin terobsesi pada pantai. Setiap kali mood sedang tidak enak atau stress berlebihan, saya biasanya melihat kembali foto-foto pantai yang pernah saya kunjungi atau menyetel video yang saya rekam ketika berkunjung ke pantai untuk menghibur diri. Memandang laut berwarna gradasi biru dan turquoise yang membentang luas, mendengarkan debur ombak, mencium bau asin laut, dan merasakan pasir serta ombak yang menggelitiki kaki adalah stress release paling manjur untuk saya.
Karenanya saya selalu berharap pindah ke kota yang berdekatan dengan banyak pantai. Memang, sih, Surabaya dekat juga dengan pantai, but I’m not into that one.
Pada saat saya mengemukakan keinginan itu, Papa saya memberikan respon di luar ekspektasi saya.
“Kamu suka ke Bali karena ke sana cuma buat liburan beberapa hari, paling banyak juga satu minggu. Coba kalau sudah tinggal dan tahu jelek-jeleknya, nanti pasti bosan juga dan pengen pindah ke tempat lain lagi.”
Somehow, saya merasa omongan itu menyentil hal lain di dalam pikiran saya.
Di tahun-tahun terakhir ini, saya sering melihat makna relasi yang semakin tidak ada artinya. Orang-orang bisa menikah, namun dalam kurun waktu yang cepat bercerai. Penyebab yang saya tahu secara langsung dan terjadi di sekitar saya adalah karena pasangannya tiba-tiba jatuh dalam ekonominya, sudah terlihat sisi jeleknya yang tidak semanis waktu pacaran, dan karena pertengkaran yang bertubi-tubi terjadi.
Lalu setelah bercerai, mereka akan menemukan seseorang yang sepertinya menarik, dan setelah lama tinggal dengan orang tersebut, hal yang sama berulang kembali dan keinginan bercerai pun muncul lagi.
Mengerikan sekaligus menggelikan pada saat yang bersamaan.
Mungkin masa-masa pacaran itu adalah seperti liburan yang diucapkan Papa saya, masa ketika hanya hal-hal indah yang terlihat dan semuanya terasa menyenangkan. Tetapi, ketika kemudian pasangan tersebut memilih untuk menikah dan hidup bersama, satu per satu hal yang mulanya tidak tampak pun menjadi tampak. Kebiasaan buruk, sifat buruk, hal-hal yang rasanya membuat banyak ketidakcocokan. Kalau sudah begitu, rasanya ingin pindah ke lain hati yang masih kelihatan indahnya saja.
Bukankah, karena kemungkinan terjadi gesekan dan karena semua manusia memiliki monster di dalam dirinya, maka ada yang disebut dengan komitmen?
Saat memilih pasangan hidup, waktunya mata dan logika dibuka dengan lebar sehingga dapat memilih yang paling cocok. Bukan hanya karena kesamber jenis perasaan yang menggebu-gebu, atau penuh dengan nafsu untuk memiliki, atau idealisme akan masa depan impian bersama orang tersebut karena hal-hal itu pada akhirnya akan musnah seiring dengan berjalannya waktu.
Saat sudah menikah, saaatnya komitmen yang mengambil andil. Ketika keadaan ekonomi pasangan (biasanya yang menjadi tulang punggung keluarga) melemah, bukankah seharusnya dia didampingi untuk bangkit kembali? Ketika semua kejelekan pasangan sudah tampak dan menimbulkan gesekan, bukankah komitmen untuk bersama itu yang dapat mendorong agar kedua belah pihak mampu merendahkan diri dan saling menyesuaikan antara satu dengan yang lain?
Komitmen untuk tetap bersama. The way you fight for the relationship to endure, that what makes things different, right?
And there you can feel that love is so strong, and yet very beautiful.
Expectation hurts: You ask me to believe in love, but in the end, you are the one who leave all things broken.
Anonymous
charming
Another sad truth.
Unitarian Church, Charleston | South Carolina (by bookdoctor)
Letter To Me
Dear my teenagers version of self,
Aku tahu masa-masa remaja adalah yang terberat bagimu. Kamu harus menghadapi orangtua yang kerap kali adu mulut denganmu, menanggapimu dengan dingin, atau tidak mengerti kesendirian dan kekosongan dalam benakmu. Kamu sering menangis sendiri di kamar dan pada akhirnya berusaha bertumbuh dewasa dengan caramu sendiri. Kamu menghadapi kegamangan remaja dengan upaya dan caramu sendiri.
Aku tahu mereka sangat keras terhadapmu; mereka menginginkanmu menjadi sosok yang mandiri dan sempurna. Mereka bisa tersenyum memuji sepupu-sepupumu, tapi tidak pernah memujimu. Yang ada hanya kemarahan bila kamu oleng dan tidak sempurna, tanpa pernah mempertanyakan alasan di baliknya.
Aku tahu kamu lelah. Dan kamu sangat kecewa atas sikap orangtuamu. Ya, kecewa. Bukan membenci. Kukira jauh di dalam lubuk hatimu kamu tahu bahwa kamu tidak akan pernah bisa membenci mereka. Kamu terlalu mencintai mereka. Sepenuh hatimu.
That’s why everything becomes a lot more painful.
Tetapi, bagaimana kalau kali ini kau kuajak untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda? Maukah kau membuka mata dan melihatnya tanpa prejudice di dalam kepalamu?
Dua manusia tidak sempurna itu tidak menikah di usia muda. Mamamu menikah ketika berusia 35 tahun dan Papamu berusian 40 tahun. Mengapa? Mereka—yang memiliki banyak saudara dan hidup sebagian besar saudaranya bergantung di pundak mereka—memiliki ketakutan bahwa kalau mereka menikah terlalu muda, secara finansial mereka takkan mampu menghidupi anaknya dengan baik. Bukankah itu sangat manis? Mereka ingin ketika kamu hadir, kamu bisa merasakan kehidupan yang layak.
Tahukah kamu, untuk mempersiapkan kehadiranmu, betapa mereka menekan ego dan kesenangannya, mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membangun sebuah keluarga yang berkecukupan?
Lagi pula, lihat saja. Mereka begitu mengasihi saudara-saudaranya hingga tak bisa membiarkan dan melihat saudara-saudaranya hancur begitu saja. Apakah kamu bisa membayangkan betapa lembut dan penuh kasih hati mereka?
Ketika masih bayi, Mama dengan telaten meredakan tangismu, memberimu susu, dan mengganti popokmu walaupun saat dini hari. Sepanjang hari dia sudah bekerja di kantor dan melaksanakan kewajibannya mengurus rumah. Sebagai manusia normal, dia pasti lelah dan ingin sekali beristirahat dengan tenang. Tetapi, dia tidak mengabaikan tangis dan keadaanmu. Ia rela mengantuk dan lelah untukmu.
Ketika kamu bertumbuh sedikit lebih besar, Mama selalu menyempatkan waktu menceritakan banyak kisah padamu sepulang kantor. Tak peduli seberapa lelah dirinya, ia ingin memiliki waktu bersamamu. Papa selalu mengajakmu ke luar kota di akhir pekan. Dia pun pasti penat dengan pekerjaannya, namun dia ingin kamu bisa bermain-main dengan puas dan tidak bosan di dalam rumah.
Di masa-masa tergelapmu ketika remaja, kamu banyak bertengkar dengan Papa dan Mama. Kamu tidak tahu bahwa Papa dan Mama pun banyak bertengkar. Mereka bisa saja memutuskan untuk berpisah, tetapi bukan itu yang mereka lakukan. Keduanya—walaupun sakit—merendahkan diri di hadapan satu sama lain untuk bisa berkomitmen menjaga relasi yang ada.
Ketika kamu melampiaskan kekecewaanmu dengan menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan sekolah dan kampus—bahkan terkadang hingga dini hari—mereka menanyai kau ada di mana. Bukan karena mereka tidak mengizinkanmu mengikuti kegiatan itu, tetapi mereka mengkhawatirkan anak perempuannya yang menyetir sendirian larut malam.
Waktu kamu menangis dan marah, mereka pun bertanya apa yang salah. Tetapi, Papa dan Mama memang tipe yang seperti itu. Dengan didikan keluarga mereka yang juga kaku, mereka tak biasa mempertanyakan kesedihan dan kemarahan satu sama lain. Bukan berarti mereka tak peduli. Papa dan Mama hanya tak terbiasa mengekspresikan kasih sayangnya secara verbal ataupun melalui tindakan langsung.
Mungkin mereka lupa (atau tidak tahu) bahwa kau adalah anak perempuan yang membutuhkan rasa sayang yang diungkapkan. Mereka tidak seperti para orangtua zaman sekarang yang mengenyam pendidikan tinggi atau memiliki pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak.
Mereka hanya dua orang yang berusaha membesarkan anak mereka dengan cara yang terbaik.
Walau mungkin apa yang terbaik untuk mereka belum tentu terbaik untukmu.
Mereka bukan orang yang sempurna. Karena itu, kasih mereka pun mungkin tak terasa sempurna di hatimu. Tetapi, bukankah semua orang tak sempurna?
Omong-omong, apa kau tahu kalau mereka perlahan-lahan mencoba untuk menjadi orangtua yang lebih baik?
Papa sekarang sudah bisa berkata “hati-hati, ya,” waktu aku akan berangkat camp atau pergi ke luar rumah. Padahal kau tahu Papa tak mungkin seperti itu bertahun-tahun yang lalu. Ia juga berkali-kali mengecek keadaanku saat sakit, hanya untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Ia juga mencoba mengerti bahwa anak perempuannya suka berubah menjadi sensitif ketika sakit.
Mama sekarang sudah bisa memelukku dan memberikan pujian atas apa yang kulakukan, walau terkadang kedengaran kaku. Ia juga mencoba memberikan perhatian-perhatian kecil seperti menanyai keadaanku dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan sebagai orangtua. Hal yang mustahil dilakukannya di masa lalu.
Ya. Mereka berubah walaupun butuh waktu sekian tahun dan keduanya tidak lantas menjadi sempurna.
Dan apakah kau tahu bagaimana mulanya mereka bisa berubah?
Forgive them, lower your expectation, and be the kind of person you want them to be first. Rasanya tidak adil, ya? Tapi itu benar. Aku telah mengalaminya sendiri.
So-Called Responsibility
Dear Papa dan Mama,
Entah sudah berapa kali kalian mengingatkanku pada tanggung jawab seorang anak pada orangtua dari semasa aku kecil hingga sekarang.
Mama selalu mengatakan bahwa dia yang membiayai penghidupan seluruh keluarga, oleh karena itu aku harus membantunya dalam mengurus pekerjaan rumah. Papa selalu menekankan bahwa kelak seorang anak harus membalas budi orangtua yang telah membesarkan anaknya dengan kasih sayang dan seluruh tenaga yang mereka punya.
Tetapi, tahukah kalian bahwa sesuatu yang disebut tanggung jawab itu terkadang membuatku gila?
Sejak masa sekolah, demi tanggung jawabku sebagai anak dan untuk membuat kalian bahagia, aku mendorong diriku begitu keras agar bisa berprestasi dan mendapat nilai yang bagus. Tepat seperti definisi anak yang sempurna di mata kalian. Tak peduli seberapa tertekan diriku untuk meraih apa yang kalian inginkan itu.
Ketika memilih jurusan kuliah, yang pertama kali kupikirkan adalah jurusan apa yang memiliki ‘masa depan’ lebih baik. Dengan demikian, setelah lulus aku akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang menjanjikan. Mengapa demikian? Supaya aku bisa membiayai hidupku sendiri dan masa tua kalian. Singkatnya, meringankan beban dan tidak menyusahkan kalian lagi.
Pada saat kuliah, aku ingin juga bersenang-senang dan menikmati masa muda. Tetapi, aku memilih untuk bekerja part-time demi tanggung jawab untuk segera meringankan beban kalian hingga lupa rasanya bersenang-senang. Aku iri pada teman-temanku yang bisa bebas menikmati kuliah mereka tanpa beban pikiran soal keluarga.
Setelah lulus, sebenarnya aku ingin rehat sejenak setelah sidang skripsi, baru kemudian kembali pada rutinitas berbau tanggung jawab, yaitu mencari kerja. Tapi, kalian memaksaku segera mencari kerja, dengan alasan bahwa lapangan kerja zaman sekarang semakin sempit dan kalau aku tidak segera, maka bagaimana kalau nantinya aku tidak mendapat pekerjaan. Aku mengalah dan bergerak mencari kerja, walau rasanya jenuh dan penat belum hilang dari kepalaku. Tapi, mungkin menjadi dewasa adalah demikian. Akrab dengan perasaan jenuh dan lelah.
Pada saat aku mencari kerja, sebenarnya aku tahu dengan jelas jenis pekerjaan apa yang kuinginkan. Tetapi, bidang yang ingin kutekuni itu memang bukanlah profesi yang memberikan profit besar. Terkadang aku berandai-andai di dalam hati, kalau memungkinkan aku ingin mimpiku diganti menjadi mimpi yang umum, sehingga aku pun memiliki keinginan terjun pada pekerjaan yang ‘wajar’. Katakanlah businesswoman, akuntan, manajer, sekretaris, dan kawan-kawannya. Mungkin dengan demikian hidupku akan menjadi seratus kali lipat lebih mudah.
Aku tahu itu harapan yang konyol. Maka sekarang aku menjalani dua dunia. Pagi hingga siang menekuni pekerjaan yang ‘wajar’ itu, dan malam harinya pelan-pelan menyusun mimpiku—sambil menyemangati diri sendiri bahwa semua ini pada akhirnya akan menuai hasil. Walaupun aku tak menyangkal fakta bahwa diam-diam aku sering menangis karena putus asa… dan merasa semuanya sia-sia karena kalian tak pernah mendukung dan menghargai mimpiku itu.
But, no matter how hard I’ve tried to fulfill that so-called responsibility as a good child, I’m still not good enough for you, right?
Aku tidak tahu seberapa besar hutangku pada kalian. Hanya, kukatakan padamu saat ini bahwa aku lelah. Ma, Pa, aku lelah.
Aku tahu Mama mengandung dan melahirkanku dengan susah payah. Aku tahu kalian berusaha memenuhi kebutuhanku dengan keringat dan air mata. Aku tahu kalian adalah orang pertama yang pasti akan berkorban demi kebaikanku. Aku tahu. Aku tahu.
Mungkin kalimat berikutnya ini akan terdengar sarkastik, kasar, atau tidak tahu diri.
Aku tidak pernah meminta dilahirkan ataupun dibesarkan dengan standar tertentu. Bukankah aku ada karena kalian saling mencintai? Hingga kemudian Mama mengandung dan melahirkanku. Bukankah kalian secara sukarela membesarkanku dengan kasih karena aku adalah buah cinta kalian?
Kalau saja aku tahu bahwa aku dilahirkan hanya untuk dibebani tanggung jawab dan dijadikan ‘alat’ agar masa tua kalian terjamin, ingin rasanya aku berteriak dan mengatakan bahwa lebih baik aku tidak pernah menjadi ‘ada’ dan lahir di dunia ini. Apakah aku terlalu lancang untuk berkata demikian?
Aku tahu dengan berkata begini mungkin orang menganggapku durhaka dan tidak tahu sopan santun.
Ma, Pa, aku adalah anak yang memiliki hati. Ketika merasakan cinta kasih kalian yang tulus dan lembut, tentu aku pun ingin membalasnya dengan menjaga dan merawat kalian di masa mendatang. Masa, sih, kalian merasa bahwa aku akan dengan tega menelantarkan kalian?
Lagi pula, bukankah seorang anak lahir karena Tuhan menginginkannya untuk menggenapi tujuan yang telah Ia rencanakan sejak semula pada anak tersebut?
Do you get what I mean?
Now, would you please let this kid be free from that so-called responsibility thing to embrace her dream?
MBTI as Fictional Love Interests (male)
INTJ: The villain who had originally manipulated the heroine for his villainous purposes, but falls prey to her irresistible ways.
INTP: The dorky best friend that the heroine had right in front of her the whole time.
ENTJ: The unattainable one, too preoccupied with graduating at the top of the intergalactic military academy for romance.
ENTP: The irresistibly charming compulsive liar who tricked the heroine into half of the story’s plot developments.
INFJ: The mysterious one that no one can understand— except the heroine, who walks into his life at just the right time. Might be a vampire.
INFP: The secret admirer who wrote the heroine a poem and attached it to her locker door last Wednesday.
ENFJ: The heroine truly fell for him when he, already battered but in an attractive way, bravely attacked the monster destroying the orphanage.
ENFP: The heroine’s optimistic sidekick who always helped hold the team together in times of stress. No one is surprised when they start dating.
ISTJ: At first, he seems like a nice, normal change from the crazy people the heroine has been dating, until it turns out that he too is a half-demon.
ISFJ: Childhood friend that has been with the heroine through the good times and bad; he is mysteriously inconsolable when the ENTP asks the heroine to prom.
ESTJ: He is a wealthy lord of the estate, she is sadly only a peasant. Isn’t he holding some sort of contest, though?
ESFJ: A peasant who took in the heroine’s apocalypse-stopping party after their ship ran aground. Though he and the heroine have a brief affair, he is too loyal to his rural desert community to join her quest.
ISTP: Semi-human who is unusually overprotective of the heroine. No one seems to have moral qualms with this.
ISFP: Sensitive and sweet, but troubled by a dark past that he doesn’t share with anyone.
ESTP: The jock who is dating the most popular girl in the school— what does he see in her anyway?
ESFP: Flirts with the heroine loudly across the room. He’s so annoying, but there’s something about him…
Rovinj - Croatia (by zolakoma)
Milan, Italy
Positive Attitude
Saya adalah tipe orang yang sangat perfeksionis, baik terhadap diri sendiri atau kepada orang lain. Ketika berada dalam suatu organisasi atau kepanitiaan, saya cenderung merencanakan semuanya dengan detail dan berharap bahwa orang-orang yang sudah ditunjuk dalam kepanitiaan tersebut dapat menjalankan porsinya dengan sempurna. Ketika ada rencana yang miss atau satu-dua orang yang merusak jalannya acara karena kecerobohannya, saya bisa menjadi sangat marah.
Demikian juga terhadap diri saya, ketika melakukan kesalahan saya cenderung tidak bisa memaafkan diri saya. Hal itu mendorong saya menjadi cepat gelisah ketika harus melakukan hal-hal yang beresiko, seperti menjadi pengambil keputusan.
Di tempat kerja saya yang dulu, sebuah kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar. Kesalahan itu bisa ditudingkan hingga saya merasa terpojok dan bodoh. Setiap hari, saya menjadi stress dan mengalami ketakutan berlebihan bahwa saya mungkin akan melakukan kesalahan lagi esoknya.
Saya pun bulat mengambil satu keputusan. Pindah, sebelum mental saya semakin hancur.
Tempat saya bekerja saat ini adalah sebuah institusi pendidikan Kristen yang pemimpin-pemimpinnya menghidupi nilai-nilai kekristenan dengan baik. Saya dapat melihatnya dari bagaimana mereka memperlakukan orang lain, termasuk rekan sekerjanya.
Daripada melihat sisi negatif seseorang, mereka akan cenderung melihat sisi positif yang bisa dikembangkan dan diasah. Ketika seseorang melakukan kesalahan, dia pasti ditegur. Tetapi, setelah itu yang dilakukan adalah duduk bersama mencari solusi terbaik dari kesalahan tersebut, asalkan yang dilakukan bukan kesalahan fatal yang sengaja. Singkatnya, mereka memberikan contoh positive attitude yang nyata.
Atmosfer kerja yang demikian secara tidak langsung ‘menyembuhkan’ saya. Anxiety saya yang luar biasa besar atas ketidaksempurnaan sedikit demi sedikit berkurang. Perlahan-lahan saya bisa menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari manusia yang tidak sempurna. Saya belajar memaafkan diri saya ketika melakukan kesalahan.
Kepada orang lain, saya belajar untuk melihat sisi positif mereka daripada kekurangannya, dan tidak menuntut sesuai standard saya. I’m trying to put myself on their shoes. Ketika dalam kepanitiaan atau organisasi seseorang melakukan kesalahan, saya pun tengah belajar untuk tidak mencecar dan menudingkan kesalahannya di wajah mereka, tetapi bersama-sama mencari jalan keluar terbaik atas masalah tersebut. Saya menyadari bahwa dengan membeberkan kesalahannya, seseorang belum tentu berubah; situasi juga tidak akan menjadi lebih baik. Saya belajar untuk legowo bahwa tidak semua hal selalu berjalan sesuai dengan yang harapan saya.
Santorini, Greece
Bern, Switzerland (by rudi1976)