Hari ini saya sedang mengerjakan manuskrip mini riset psikologi eksperimen, paper ke-6 dari 9 papers, paper ke-6 deadlinenya besok, huwaa…. Setelah itu, masih ada 3 paper lagi, yaitu Psi Transpersonal, Psi Kualitatif, dan Proposal Tesis. Syubidam-bidam. Syubidum-bidum.
Saya sedikit merasa jenuh, saya ga ingin bilang burn out, karena tidak separah itu. Capek dan jenuh karena mungkin paper2 ini memiliki topik yang berbeda jadi modal pikirnya juga berat huee… (mungkin S2 ini kurang strategi, jadi temanya mencla mencle, dan sejujurnya mungkin kurang keteguhan hati mempertahankan minat sebab banyak maunya haha).
Ada dilemma yang menghinggapi saya, sebagai bagian dari karakter perfeksionisme di bidang akademis yg saya miliki (perfeksionisme itu tidak general, coba eksplorasi teorinya) saya pengen ngerjain sebaik-baiknya.Oleh karena itu, saya merasa punya tendensi untuk mengecek ulang, merevisi, dan menambahkan literature (kasihan kan sisi saya yang ini haha). Di sisi lain, pengen deh ngerjain sebisanya aja, biar sisa waktunya bisa buat senang-senang. E… Tapii, bersamaan dengan godaan itu, saya pikir di akhir hari, mungkin saya akan menyesal kalau saya tidak melakukkan yang terbaik. Nyeseknya itu kayak melukai ego diri, kayak nyesek ajaaa, I feel like I could do better than this. Bisa ngecek paper hampir beberapa kali. Astaga impulsivitas ini harus dilawan (sambil merem pusing). Di sisi lain, memberikan yang terbaik energinya sangat besar, karena melibatkan pengecekan ulang, mengawasi hal-hal detail hingga memberikan di atas standar, standarnya 7, maka saya usahakan saya sampai di 9. Constant debate be like: Hasil kan bukan masalah penting, tapi ya jangan jelek-jelek amatlah. Hasil kan bukan segalanya, fakh, di mana-mana kemampuan sosial itu jauh lebih penting, kepintaran mah jarang dihargai di negeri ini. Tapi, yaaa masak kelihatan bodoh, aah ga mauu. Sekolah kan ga penting, kebanyakan teoriii… Tapi ya kaan, masak bener-bener jadi orang bodoh, teori ga tahu, praktik jelek, paling ga teori itu sintesis dari pengalaman orang sebelumnya, masak gam au belajar dari sejarah, aah gimana siih. Udahlah hidup ga usah dipikiir, jalanin aja. Yaaa, ini ga dipikir kok, tapi nanti kalau mikir, buat apa dikasih otaak. Terus aja, memamah biak pikiran negatifnya, makanya ada konsep, self-rumination. Ruminasi adalah menguyang terus menerus kayak mulut sapi ituu.
Ugh, dilemmaaa ya looord jadi perfeksionis. Kasihan kan, punya karakter kek gini. Yaa kadang mengasihani diri sendiri, tapi ya sudah udah dikasih gini, ayo cari cara jadi heppy ajaa ya kaan.
(B)Untungnya, saya anak psikologi. Jadi saya terbiasa menganalisis diri saya sendiri, nyari terapinya yang cocok, dan baca-baca biar tambah ngerti, kayak kalau ada sesuatu yang aneh, saya terbiasa untuk ngecek what the heck is happening to me, I need to cure thiiissss (lalu macak pendekar mencari dengan ikat kepala siap memerangi dunia). Saya terbiasa observasi diri sendiri. Sedih kan ya, masak udah capek2 belajar di psikologi ga bisa ngerti diri sendiri dan nggak ngerti seluk beluk sisi-sisi kita. At least, ilmu psikologi bisa buat nolongin diri sendiri lah ya. Kasihan amat udah belajar susah2 ga bermanfaat buat diri sendiri hehe. Eh, maksudnya kasihan saya, hiyaaah.
Giniii gaes, perfeksionisme itu bisa bawaan orang, bisa didikan lingkungan, bisa kombinasi mematikan dari keduanya, cmiwiwww. Saat sisi ini muncul biasanya diiiringi dengan ketegangan, kecemasan, obsesiv kompulsif, dan perasaan selalu kurang (insecure).
Apakah orang yang perfeksionis itu serba ekstrim? Kagak ya Lord, over generalisir itu biasanya tanda stereotip bruh, menetapkan satu sifat untuk semua yang mirip. Perfeksionisme itu deret ukur, bruuh, dari rendah ke tinggi sehingga masing-masing kita punya level perfeksionismenya sendiri-sendiri, nggak percaya? Coba cek aja diri kita, pasti ada yang kita. Misalnya, adik saya yang cowok itu kalau milih sepatu ama baju, ya looord kayak milih pasangan hidup. Sampai yang nemenin belanja udah punya cicit kalau nemenin muterin mall. Keluar-keluar jadi buyut saking lamanya.
Selain itu, apakah orang perfeksionis itu selalu penuh kewaspadaan di berbagai sisi hidupnya? Nggak gaees, ngggak (pakai ngegas, biar nggagas). Bruh, perfeksionisme itu levelnya macem-macem ada yang spesifik hingga global. Ada yang dia perfeksionisme di bidang yang dia kuasai atau tekuni aja (spesifik) dan sisanya mah dia bodo amat. Ada juga yang hampir setiap sisi hidupnya sifat perfeksionisme ini muncul (global). Ini faktornya banyak, oke misal karakter dan didikan lingkungan.
Perfeksionisme itu selalu dianggap nggak asyik? Yaa kadang karena dia ada sifat detail, biasanya orang kayak gini nyebelin, banyak maunya, tegang, de el el. Camkan ges itu kadang-kadang, ga semua perfeksionisme jadi bencana buat si empunya karakter. Segala karakter di dunia ini punya dua sisi, jadi tergantung di tempatin dimana. Pernah denger Person-Job fit, itu sebuah konsep menempatkan karakter pada kerjaan yang cocok dengan karakternya masing-masing. Kalau perfeksionisme dipakai di lingkungan yang setara, punya visi yang sama, etos kerja sama, ya nggak masalah. Yang jadi masalah kalau ini muncul tidak pada tempatnya, eh ga Cuma si perfeksionis aja sih, semua karakter bisa jadi masalah kalau misplaced.
So, PR buat semua makhluk dengan sindrom perfeksionisme ini, termasuk saya, perlu banget latihan regulasi diri menempatkan anugrag ini pada tempatnya. kapan kudu dipakai kapan nggak. Ini bukan bencana, ini bukan untuk disesali, tapi didayagunakan sesuai tempatnya. Tuhan sayang kita, kelebihan kita memang perlu dikendalikan. Ibarat kalau film2 fantasi, misal ya film Elsa yang tokohnya punya kekuatan besar dari lahir, biasanya tantangannya adalah mengelola kekuatan itu dan mengelola emosinya (iya kaan gitu kebanyak genre-genrenya, ya kebanyakaan, kalau ada yan nggak yaa maaf), kalau ga pandai mengendalikan kekuatan itu emang bikin bencana terus itu konflik utama filmnya kaan. Pun kita, blaaar jedeeer duaaar meledak, kalau karakter ini ga dilatih dan dikendalikan.
Saya kadang merenungi, di antara sekian juta manusia di bumi, kok saya yaa yang termasuk yang diberi karakter ini, perpeksionis, apa karena anak pertama tuntutannya besar (Haha bisa jadiih). Sebagaimana karakter-karakter lain di dunia ini, pasti bukan Cuma si perfeksionis yang perlu berlatih dengan pemberian ini. Ada si introvert yang berjuang dengan dunia sosial, ada ekstrovert yang merasa kebanyakan omong, ada si carefree yang kadang ngiri sama achievement si high achievers. Semua karakter berjuang berdamai dengan pemberian karakter dari Tuhan. Artinya setiap manusia berjuang, jadiii kita nggak berjuang sendirian. Ayo semangaat, karakter perfeksionismenya jangan dibuang, disayang-sayang, disyukuri, ditempatkan pada tempatnya.