24/365
Gre(end)
Aku pernah sampai pada titik itu. Titik di mana semuanya terasa begitu gelap, sunyi, dan hancur berantakan.
Sendiri dalam sujud yang panjang, aku menangisi segalanya hingga dadaku sesak.
Saat itu, aku benar-benar pasrah dan merasa hidupku sudah selesai (end).
Namun, di kedalaman rasa sakit itu, Tuhan memeluk rapuhku.
Air mata yang tumpah ternyata tidak serta merta mematikan langkahku, melainkan menyirami hatiku yang sempat gersang.
Perlahan, di balik sisa-sisa trauma dan kecewa, tumbuh sebuah penerimaan.
Ada kekuatan yang mulai bersemi (green), sebuah keberanian untuk memaafkan masa lalu dan melangkah lagi dengan bismillah, meski jemariku masih sering gemetar.
Kini aku paham, akhir itu harus ada. Karena di balik setiap babak yang selesai, Tuhan selalu menyiapkan ruang yang baru bagi jiwa ini untuk kembali mekar dengan jauh lebih indah.
Di Bawah Langit | 16:17












