-Luka-
_eps.2
Annisa sampai di halaman rumah kos, mengambil kunci didalam tas. Bajunya basah karena ditengah perjalanan pulang, hujan kembali turun. Dia tetap meneruskan langkah, tak memungkinkan untuknya kembali berteduh.
Waktu menunjukan pukul 14.00, setelah berhasil mengambil kunci Annisa segera membuka pintu dan segera menguncinya kembali.
Bergegas menuju kamar untuk mengambil pakaian ganti, dingin mulai dirasakan Annisa akibat terlalu lama memakai pakaian yang basah.
Menuju kamar mandi, untuk mencuci tangan, kaki dan mengganti pakaian. Setelah selesai Annisa segera keluar untuk mengelap lantai yang basah akibat tetesan air dari bajunya tadi.
" Alhamdulillah... Sudah kering kembali ". Melihat sekeliling nampak sudah tak ada air yang menggenang.
Annisa takut apabila genangan air tersebut bisa mencelakakan dirinya, karena tak jarang didalam kos Annisa sering berlari apabila waktu untuk kegiatan yang lain hampir mepet.
Berjalan menuju kamarnya, dengan pakaian yang sudah ia ganti, melihat kearah kucing kuning miliknya yang sedang duduk di tepi kamar.
"Assalamualaikum ... Mpus, maaf yaa hari ini Nisa pulang terlambat. Sini-sini, pasti mpus laper kan " Membelai mengusap usap kepala kucing
Memberinya makanan, " Mpus, tadi dijalan Nisa lihat ada laki-laki yang hampir saja tertabrak ". Mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
"Mpus, kira-kira ... Dia kenapa yaa, dia sedih banget mpus ". Annisa mengambil kucing dan menggendongnya.
Annisa menatap kucingnya gemas, sesekali mencubitnya pelan dan kembali memeluknya bagai sebuah boneka.
Hanya mpus yang menemaninya disini, Annisa yang tengah menyelesaikan studi disalah satu kota yang jauh dari tempat tinggalnya.
Tak heran, bila dia selalu mengajak kucingnya berbicara. Meski banyak teman-temannya di kampus, namun ketika kembali ke kos rasanya begitu hampa.
Tak ada kedua orang tuanya serta adik-adiknya yang selalu menyambut kedatangan Annisa. Seperti di kampung nya dulu.
" Mpus, Dia bilang kita cocok. Maksudnya apa Mpus, bingung deh ".
" Astaghfirullah... Nisaa, engga engga. Gak boleh dipikirkan " menepuk nepuk pipinya yang terhalang niqab.
Mpus tidur dipangkuan nya, Annisa kembali gemas dan mencubitnya kembali. Perlahan matanya terbukaa dan mengeong pelan lalu kembali tertidur.
Annisa tersenyum dan memindahkan perlahan ke atas kasur, menutupnya dengan selimut dan beranjak mengambil tasnya di depan.
" Semoga engga basah, makalahnya" Annisa teringat akan plastik berisi buku dan makalah yang baru saja dia cetak.
Mengambilnya dan mengeluarkan dari plastik. " Alhamdulillah... Aman " kembali memasuki kamar.
Annisa mengerjakan beberapa tugas kelompok yang akan di presentasikan besok pagi, menelpon beberapa temannya untuk memastikan tak ada yang salah dari tugas kelompok mereka.
Adzan Ashar telah berkumandang, Annisa yang tengah mengerjakan tugas dengan laptop dipangkunya. Terlihat tertidur pulas, Annisa nampak lelah kepalanya sedikit pusing setelah kehujanan.
Alarm mulai berbunyi, namun tak terdengar sedikit pun oleh Annisa. Dia masih tidur dengan niqab yang mulai turun, hingga terlihat hidung dan pipinya yang putih.
Semakin turun niqbnya dan perlahan jatuh dilantai, nampak seluruh wajahnya yang cantik, bulu matanya lentik, bibirnya tipis menambah kesan anggun yang terpancar dari wajahnya.
Handphone Annisa kembali berdering, kali ini satu panggilan tak terjawab dari teman kampusnya. Berkali-kali mencoba menghubungi Annisa namun tak kunjung mendapat jawaban.
Tak lama seseorang dari luar mengetuk pintu. " Assalamualaikum... Annisa ".
" Assalamualaikum... Annisa, Annisaa..."
Sedikit terdengar oleh Annisa suara ketukan pintu yang begitu kencang, menggeliatkan tubuhnya dan mencoba bangkit dari tidurnya.
Melihat dari jendela, ternyata Dinda yang datang. Tanpa berpikir panjang membukakan pintu, Annisa lupa bahwa Dinda akan menginap di rumah kosnya.
" Ampun dah Nis, gua telpon lu berkali-kali ". protes Dinda
" Maaf Din, Nisa ketiduran. " Annisa tersenyum dan mengusap matanya yang masih mengantuk
" Niss, lo cantik banget gak pake niqab " Dinda terpesona.
" Hmm " Nisa memegang wajahnya ternyata tak ada niqab. " Ehh... Kemana niqbnya " Annisa kebingungan, melihat sekitar tak ada kain yang terjatuh.
Dinda tertawa, melihat wajah Annisa yang nampak kebingungan dengan mata yang masih terlihat menahan kantuk.
" Dikamar kali Nis jatuh "
" iyaa mungkin, yasudah duduk Din ".
Annisa dan Dinda berbincang, sambil menyantap makanan yang Dinda bawa dari luar, Dinda dekat dengan Nissa sudah beberapa kali dia menginap di rumah kos Annisa. Namun, baru kali ini dapat melihat wajah Annisa sejak mengenalnya selama 2 tahun.
_B.420112_
Bersambung....









