NAPASKU Kalau ditanya, "sampai kapan kamu mau nulis?". Jawaban saya pasti, sampai rambut memutih, sampai ingatan saya mulai susah dikumpulkan, sampai gigi saya tanggal satu persatu, sampai napas berhenti, sampai jiwa dan raga nggak lagi berjalan dalam satu irama. Saya menulis karena saya cinta. Saya jatuh cinta pada dunia literasi. Saya merasa lebih hidup saat menulis. Saya seperti sedang pergi tamasya ketika membuat karakter dan menuliskan kisahnya. Dengan menulis, saya bisa lebih mencintai diri dan hidup saya. Saya mensyukuri semua pemberian Tuhan pada diri saya. Sekarang, menulis itu sudah seperti napas saya. Saya nggak bisa kalau sehari saja nggak nulis. Rasanya saya sakau kalau nggak membuat tulisan. Dengan menulis, saya bisa mengubah energi negatif jadi positif dengan cara menuliskan hal-hal baik. Saya itu ibarat ikan dan menulis itu adalah airnya. Jadi, saya nggak bisa dipisahkan dari menulis. Sama seperti ikan yang bisa mati tanpa air. Mentor saya di kelas menulis pernah bilang, "saya ingin meninggalkan setengah jiwa saya saat saya nggak lagi bernapas nanti. Makanya, saya terus menulis dan membuat buku.". Itulah yang saya rasakan. Saya ingin, dunia tetap menggenggam 'separuh napas' (karya atau tulisan) saya saat saya nggak lagi berpijak di bumi yang sama dengan para pembaca. #tantanganmenulisseptember #14harimenulis #14harimenulis10 @ruang_nulis https://www.instagram.com/p/B2NpRTEnS72/?igshid=fkw4nvtf89g2













