Tibalah hari di mana semuanya harus berakhir dengan tiba-tiba. Sore itu dia bilang ingin ngobrol sesuatu yang sangat serius denganku. Aku tidak memiliki prasangka buruk, walau sebenarnya jantungku berdegup setengah mati. Aku memberitahunya kalau aku sudah santai dan siap untuk mengobrol
Dia membuka percakapan dengan video call, aku kaget karena melihatnya menangis
Dan..
diucapkanlah kalimat-kalimat perpisahan yang tak pernah kusangka akan diminta darinya.
Aku terdiam cukup lama. Dia masih menangis, sementara mataku mulai berkaca-kaca. Sedikit banyak yang dia bilang adalah "I'm sorry, thankyou, I'm wasting your time. I really sorry." Dan yang ingin aku ketahui hanyalah "kenapa?" Dia hanya jujur padaku bahwa: I have no feeling for you since the last time we met. Dan itu adalah Bulan Maret. Sedang dia sudah bertahan lebih dari 5 bulan untuk memberanikan diri mengutarakan kalimat tersebut. Sungguh aku tertegun, kau tega sekali. Tidak ada respon paling baik yang bisa kuberikan selain I see
Pelan-pelan aku mulai menyadari jumlah sesi teleponan dengannya memang berkurang. Dia juga semakin hari semakin lama merespon chatku. Waktu dahulu pun pernah ingin kukenalkan dengan kakakku namun dia tak berkenan. Aku ingin percaya bahwa ada hal penting lainnya yang membuatnya tidak bisa memegang ponsel hanya untuk sekadar berkabar. Aku pasti akan memakluminya. Tapi ini menjadi sangat menyakitkan setelah pernyataan kalimatnya waktu itu. Atau, dugaan bodohku, sepertinya ada orang lain yang dia bagi perhatiannya.
Dan akhirnya, berpisah menjadi konklusi terbaik baginya. Malam ini aku berduka. Kehilangan orang yang masih ada, yang masih bisa dilihat ternyata seburuk itu
Sudah seminggu berlalu sejak perpisahan ini. Aku masih disini, berdiri di kaki yang sama memegang perasaan yang belum berubah. Tapi dirinya sudah melangkah jauh. Lucu juga ya, bagaimana orang yang dulu selalu giat-giatnya mencariku, kini berubah menjadi orang yang paling ingin menghindariku
Tentu semua tidak akan sama seperti dahulu, hanya karena putus cinta ini. Selama-lamanya akan selalu ada jejak luka yang tertinggal. Aku pun paham, hidup akan terus berlanjut dengan atau tanpanya, pelangi dan badai akan tetap menghujamku, tapi sebagian hati kecilku yang masih menginginkannya tidak bisa pergi kemana mana
Sejenak terdengar suara bising pesawat yang melintas. Memori tentang reuni bersama ke Jogja tiba-tiba menyergap. Perjanjian itu mendadak tidak ada artinya lagi, ketika dia menyatakan hubungan ini resmi berakhir
Pelan-pelan, suara pesawat itu pun menjauh hingga tak terdengar lagi, pertanda semuanya pasti akan berlalu begitu saja, termasuk patah hati terberat ini.