Mencintaimu Seikhlas Angin
Jangan pernah tanyakan seberapa besar aku mencintaimu Aku tak pernah main-main Itu saja sudah cukup bagiku menjadi alasan Berusaha sekuat tenaga menempatkanmu sebagai sanjungan Sebelum kau redakan, sebelum kau musnahkan
Aku menatap langit malam yang kosong. Tak ada bintang. Bulanpun hanya menampakkan diri seperti goresan. Duduk sendiri dalam hening adalah caraku untuk mengasingkan diri sejenak dari berbagai penat yang mendera. Termasuk dirimu. Kubiarkan angin malam yang lembut memainkan anak rambutku yang tergerai.
Sesaat ku pejamkan kedua mataku. Secepat itu pula bayanganmu hadir kembali. Memori otakku seperti sudah terlanjur penuh akan dirimu. Membuatku tak kuasa menahan amarah yang merayapi rongga dada secara tiba-tiba. Pun airmata yang meleleh lebih cepat dari instruksi otak ku untuk mencegahnya.
Ada perasaan sedih yang tak kunjung terdefinisi. Ada rasa kecewa yang tak juga menemui ujungnya. Entah apa yang ingin kudapatkan dengan mempertahankan segala luka ini. Berharap kau tahu, itu hanyalah andaian seperti hendak menceraikan malam dari pekatnya. Kutarik nafas perlahan, mencoba menempatkan emosi pada titik tenang. Angin kembali menerpaku. Ku harap bayanganmu juga ikut terbawa dengannya, terbang sejauh mungkin tanpa setitik bekas yang tersisa.
Kehidupan tak selamanya berjalan dengan sempurna bukan? Tak ada kehidupan yang berjalan sama persis seperti yang kita harapkan. Tak akan pernah kita temukan kesempurnaan, selama kita tidak mengijinkan yang tidak sempurna untuk hadir. Meski berulang kali kita dihadapkan pada perbedaan dan kekecewaan. Meski ada rasa sakit yang hadir dengan memaksa. Ku rasakan kembali angin menyentuhku dengan perlahan. Kali ini kumaknai. Angin yang berhembus juga tak pernah menanyakan apakah dirinya berharga.
Angin tak pernah marah, saat jasanya menggiring awan-awan hujan tak dimaknai. Angin juga tak pernah mengeluh ketika kerjanya membantu proses penyerbukan para bunga, atau kerjanya membantu mahluk bersayap untuk terbang tak mendapat perhatian. Bahkan tak jarang, angin hanya mendapat cercaan saat ulahnya sedikit menimbulkan kekacauan. Dicinta atau dibenci, tak menjadi soal bagi angin. Ia tetap menjadi dirinya. Ia berjalan begitu saja, mengikuti segala titah Tuhannya dengan keikhlasan.
Rasa-rasanya sangat tak bermakna jika luka dan amarah ini kujaga. Sama seperti membiarkan ulat yang siap menggerogoti lembar-lembar daun pengharapan. Tak akan ada arti selain membunuh hatiku sendiri. Kini kubiarkan saja dirimu dan semua tentangmu. Semua juga terjadi atas segala kehendakNya. Mencintaimu kini tak perlu yang terlalu. Biar pada kadarnya. Aku akan berjalan menjalani kisahku begitu saja, seikhlas angin yang mencintai segala perintah Tuhannya.












