Malam ini aku pulang membawa serta lelah dan gelisah ku. Menuju tempat dimana orang-orang yang tak pernah lelah mendengar tangis ku. Aku ingin segera bertemu dengan mereka, tak tahan aku dengan angin dingin yang seolah-olah ikut memeluk hatiku bersama gelisah dan lelah itu.
"Assalamu'alaikum, ma aku pulang" Ku katakan sambil mengetuk pelan pintu rumahku. Tak lama kemudian seseorang melangkah mendekat kearah pintu
"Tumben ngetuknya pelan banget kak" Ucap mama setelah membukakan pintu.
"Kakak lagi capek aja ma, jadi lemas" Aku berlalu melewati mama yang masih berdiri didepan pintu, lalu langsung menuju ke kamar dan merebahkan tubuh yang terasa sangat remuk ini disana.
Terbayang lagi oleh ku wajah itu, wajah yang telah lama kulupakan. Matanya tetap sama, hanya pipi nya saja yang semakin chubby.
Aku sedikit meragukan penglihatan ku, apakah aku salah mengenali? Ah tapi tak mungkin pikir ku, selama ini aku tak pernah sekalipun salah mengenali wajah seseorang, apalagi wajah yang pernah ku mimpikan untuk hidup bersama dengan ku. Ku usap wajah ku, aku terlalu frustasi untuk mengingat apakah itu memang dia.
"Kak mama masuk ya, mau ngambil mukenah dilemari kamu" Ucap mama sambil mengetuk pintu
Aku tau tujuan mama masuk ke kamar bukan hanya untuk mengambil mukenah, tetapi ingin memastikan apakah aku baik-baik saja.
" Ma, kakak tadi seperti melihat hantu di simpang empat dekat kantor kakak" Aku merubah posisi tidur menjadi duduk menghadap mama
"Hantu? Ada-ada aja kamu ini, kamu mana bisa lihat hantu"
"Ini beneran ma, kaya lihat hantu" Aku menghela nafas panjang, seketika wajah itu terbayang lagi oleh ku.
Aku tak berbohong kepada mama, kagetnya bukan main saat aku melihat nya tadi.
Mama tak menjawab omongan ku, dia hanya menatap ku sepersekian detik.
"Kakak tadi jumpa abang kelas kakak, yang pernah kakak ceritakan dulu ke mama"
"Terus? Emang nya kenapa kalau jumpa dia? " Tanya mama heran
"Tiba-tiba hati kakak menjadi sakit. Sakit sekali, padahal hanya melihat wajah nya tak mendengar suaranya" Aku menghela nafas lagi, ini sungguh terasa sangat berat untuk ku. Semakin berat karena aku sendiri tak mengetahui mengapa hatiku sesakit ini.
"Kakak tau nomor handphone nya?? Atau sosial media nya? Cepat hubungi sana" Kata mama kepadaku, lalu memutuskan untuk duduk disamping ku
"Kakak bahkan dulu tak pernah berbicara kepadanya ma, bagaiman bisa tiba-tiba menghubunginya??" Jelas ku pada mama
" Kakak lagi-lagi menahan perasaan kakak ya??" Tatapan mama sedih melihatku, aku jadi bingung
"Iya ma, kakak lagi-lagi menahannya, tapi gak masalah kan asal menahannya sampai akhir? "
"Jangan nak ku, jangan kau tahan perasaan mu, jangan biarkan dia tak tuntas, jangan biarkan hatimu hanya menunggu satu nama" Jleb, kata-kata itu menusuk hatiku. Apa yang dikatakan mama benar, di hatiku selalu tertinggal namanya meski aku telah mencoba mengisi nama baru disana.
"Ajari kakak untuk melupakan nya ma" Air mata jatuh dipelupuk mataku, air mata yang telah ku tahan sejak tadi bersama lelah dan gelisah ku.
"Dekati dia, kenali dia, agar kamu tau apakah memang dia yang terbaik untukmu. Kakak tak mengenalnya, kakak hanya menduga-duga tentang nya. Jadi tak ada celah bagi hatimu untuk kecewa karena nya. Kenali dia lalu biarkan hatimu memilih keputusannya"
"Kalau semakin mengenal nya semakin suka bagaimana ma?"
"Ya ungkapkan isi hatimu nak ku. Tak apa, katakan padanya. Tapi jangan biarkan hatimu menunggu, jangan biarkan hatimu menutup kesempatan untuk yang lebih baik menetap disana"
Tubuh yang lelah ini sudah tak tahan menahan lelahnya lagi. Pelukan mama adalah obat paling mujarab atas semua sedihku, bahagiaku, bahkan saat keadaan seperti ini. Tangis ku semakin dalam, aku semakin larut dalam pelukan mama.
"Lebih baik kau kecewa daripada menduga-duga tentang nya yang membuatmu menunggu kesempatan semu. Terkadang tidak apa-apa terluka agar kau tersadar dari pengharapan semu itu"
Wahai engkau pemilik nama indah itu.
Tak bisakah aku hanya mengagumi paras dan perangaimu saja?
Hanya sekedar mengagumi, boleh kah?
Karena aku ragu pada diriku jika meminta mu bersamaku
Aku takut aku juga akan meragukan hatimu
Wahai engkau pemilik nama yang terlanjur ku sebut dalam doa
Melupakan semua harap yang pernah ku ucap