#30hbc25 : 3. Nama & Kenangan
Di bus Purwokerto - Semarang yang kala itu enggan ku pilih nyatanya menorehkan cerita. Ketika akan naik tadi, temanku sempat melirik, meminta penjelasan atas sikapku yang ogah-ogahan. Aku hanya mengangkat bahu, berusaha cuek-cuek saja. Dan ternyata benar. Penumpang bus penuh sekali. Hampir setengah perjalanan aku harus berdiri dengan tas punggung yang tidak ringan.
"Sini, mbak, duduk." Baru saja aku terdesak ke tengah. Penumpang yang turun naik silih berganti membuatku makin jauh dari pintu bus. "Ini masih ada satu kursi kosong." Tawarnya lagi. Wah, baik sekali. Aku mengangguk, duduk, dan mengucapkan terima kasih.
Rasanya nyaman menyelonjorkan kaki sebentar setelah berdiri hampir setengah jam dengan harus selalu menjaga keseimbangan. Aku mencari posisi nyaman, untuk setidaknya mengistirahatkan punggung dan bahu.
"Mau kemana, mbak?" Baru aku mau memejamkan mata. Menghindari percakapan lanjutan. Tapi nyatanya aku tidak sedang beruntung kali ini.
Dari pertanyaan itu, terbentuk percakapan yang panjang, sepanjang perjalanan kami hingga aku tiba ke tempat tujuan. Dari percakapan panjang kami berkenalan. Lalu ringan saja bertukar nomor kontak.
'Teman-teman pulang malam ini juga. Tapi aku pulag dua hari lagi. Mau ada urusan sebentar di sini. Kamu pulang kapan?'
Malamnya, saat aku masih berkutat dengan buku-buku, berlatih soal model ini itu, pesan dari nomor baru aku terima. Berikut lengkap dengan sebuah nama. Ah, ternyata kamu.
'Pulang besok aku mampir tempat kamu ya.'
'Memangnya tidak bikin makin panjang perjalanan sampai Purwokerto.'
'Gpp. Tetap ada bus malam.'
Yang penting aku sudah mengingatkan. Kalau nyatanya kamu teguh pendirian, sudah lah.
Mungkin semesta yang menginginkan. Karena lepas itu, kamu benar-benar menepati perkataanmu. Mampir ke rumah. Setelahnya kita yang bukan apa-apa menjadi sering bertukar cerita.
'Bisa tidak kalau telepon itu di jam-jam normal. Jangan tengah malam. Itu waktu tidur.'
'Gratisannya pas tengah malam, In.'
'Dasar miskin.'
'Sabar, ya. Sebentar lagi aku kaya.'
'Gendeng.'
'😂'
Lain waktu, kamu juga ringan bertanya ini itu. Mulai melucu kalau aku sedang banyak tugas dan mulai suntuk. Lalu tiba-tiba bertanya tentang ini itu, termasuk alamat kosan hanya karena ingin mengirimiku boneka besar.
'Buat apa?'
'Bisa buat teman tidur. Kebanyakan cewek bukannya suka boneka beruang begitu.'
'Aku gak suka tempat tidur yang penuh barang. Dan aku bukan termasuk kebanyakan cewek yang kamu maksud.'
'Iya iya.'
Lain waktu lagi, aku harus menghentikan segala kehebohan teman satu kos. Sebab kali ini sekardus penuh makanan membuat penghuni kos girang bukan kepalang.
'Dim Dim, ini apa deh.'
'Itu ibu yang nitip. Sebenarnya mau ku antar langsung ke kos kamu. Tapi ada acara mendadak sama saudara. Jadi ku kirim lewat kurir.'
'Ha, kok bisa ibu kamu tahu. Ih, Dim, kamu ngember apa ke ibu kamu.'
'Hush. Gak sopan. Aku cuma cerita ke ibu.'
'Cerita apa?'
'Besok aku main ke kampus kamu, ya.'
Di salah satu obrolan kita, aku pernah bertanya. Tentang aku yang keras kepala. Lalu katamu : keras kepalanya kamu tidak ada apa-apanya. Bagus kan. Kamu punya pendirian begitu.
Iya, kala itu memang begitu. Namun berteman denganku yang keras pendirian ini nyatanya tidak lantas membuatmu tinggal bukan. Tetap ada waktunya kamu menyerah. Tiba waktunya kamu pergi.
Sepuluh tahun yang lalu, percakapan itu dimulai. Sepuluh tahun yang lalu manis pahit pertemanan seolah mengesankan ini tidak lengkang. Nyatanya hanya aku yang bertahan. Menyusuri sudut-sudut kenangan sembari mengingat sebuah nama. Menapak lagi petak-petak cerita lama tentang aku dan kamu yang hampir menjadi kita. Memilah satu per satu tempat yang pernah kita kunjungi untuk ku jadikan tujuan pergi di akhir pekan nanti.
Sekarang ketika aku sibuk menemukan kamu yang tidak ingin ditemukan, kamu sedang apa? Ah, aku menyedihkan sekali ya. Bertahan pada sesal yang seolah bisa diperbaiki satu hari nanti. Padahal sepuluh tahun sudah berlalu. Kamu mungkin sedang asyik dengan hidupmu yang baru.
Seperti yang ku bilang, sepuluh tahun sudah berlalu, kali ini cukup.
Dim Dim, terima kasih sudah pernah datang lalu membuat cerita bersama. Kali ini, Dim, aku pamit. Namamu dan segala kenangan tentang kita tidak akan pernah bisa dihapus, namun tetap bisa dipilih untuk tetap dijaga atau diperlakukan selayaknya cerita hidup lainnya yang datang silih berganti. Kali ini, sama sepertimu, aku melanjutkan hidupku tanpa ada lagi kamu di setiap sudut perjalananku. Dan aku yakin ini akan lebih seru dari waktu lalu.












