Kira-kira, Haidar ada perlu apa ya malam-malam menemui Fayra? dan, kenapa Fayra merasa bingung saat mendapati dirinya bersama seorang lelaki yang sangat dia harapkan beberapa tahun lalu?
“Ngapain kamu kesini?” Tatapanku menyelidik. Was-was dia mengajak seseorang.
“Tenang dulu, Fay. Aku kesini sendirian, kok. Aku hanya ingin minta maaf sama kamu.”
“Kejadian di pernikahan Arga kemarin.”
Aku terdiam, menunggu Haidar yang menjelaskan semuanya. Aku nggak mau repot-repot mencecar dia dengan berbagai pertanyaan.
“Jadi, kami benar-benar minta maaf, Fay.”
Alisku terangkat satu, “Kami? Kok cuma sendiri?”
“Sebenarnya dia yang minta aku datang kesini, Fay.”
“Terus, kenapa dia nggak datang juga bareng kamu? Kenapa malah nyuruh kamu?”
“Karena dia tahu kamu pasti nggak akan mau nemuin dia.”
Kubiarkan lelaki manjha ini terus mengoceh, “Fay, kita, terutama dia, benar-benar menyesal tentang kejadian kemarin. Kita nggak bermaksud buat nyakitin kamu. Kita nggak ada niat buat jebak kamu. Seandainya kamu tahu dia...”
Untuk urusan jebak-menjebak ini aku tidak terima, “Apa? Apa kamu bilang? Nggak berniat menjebak?! Gila!”
“Fay! Dengarkan aku dulu!” Kami sama-sama mengatur nafas, “Setelah kejadian itu, malam harinya dia datang ke rumah, jam setengah dua pagi.” Mataku melotot, “Kamu tahu, Fay? Dia cuma bilang dia nggak bisa tidur karena kepikiran sama kejadian waktu itu. Dia kepikiran kamu. Dia takut kamu marah lagi, dia takut kamu menjauh lagi. Sampai akhirnya, dia minta aku buat kesini, nemuin kamu, dan minta maaf. Dia takut kamu nggak mau ketemu, dia takut kamu marah. Makanya dia suruh aku.” Jelasnya panjang lebar. Aku berusaha tetap tenang meski ada rasa hangat sedikit panas dihati.
“Fay?” Tanyanya lagi setelah melihatku tidak ada reaksi. Aku menatapnya, sayu.
“Aku sudah memaafkan semuanya. Semua yang terjadi dari beberapa tahun yang lalu. Semua rasa sakitku, itu bukan salah siapapun, itu salahku yang terlalu berharap. Kalian tidak perlu merasa bersalah sedikitpun. Aku sama sekali tidak marah. Sampaikan salam untuk Syafiq, he deserve what he served better.”
“Tapi, Fay...yang dia mau...”
“Ini sudah terlalu malam, Dar. Nggak enak dilihat tetangga. Besok saja kalau kita ketemu lagi, ya?” Aku sudah sangat lelah, aku tidak ingin bertemu siapapun malam ini. Kuusir Haidar secara halus, semoga dia tidak tersinggung.
Setelah mengantar Haidar pulang, aku langsung kembali ke kamar. Ah! Amplop berisi tiket itu lagi, masih tergeletak diatas kasur. Aku langsung menyingkirkannya ke meja samping ranjang. Entah, sepertinya aku tidak akan terbang. Aku sudah cukup lama mengubur perasaan yang sudah karatan itu. Bahkan, mungkin sekarang sudah tidak berbentuk. Hambar. Rata. Membayangkan berapa banyak aku makan hati saat dulu masih menaruh hati pada salah satu lelaki favorit masa SMA. Dulu, memang aku bukan siapa-siapa di SMA sedangkan, dia adalah salah satu bintang sekolah. Membayangkan aku harus bersaing dengan perempuan-perempuan agresif yang mendekati dia, ah! Sudah pasti aku tersingkir. Bahkan, sampai detik ini sekalipun, bila aku masih ada hati ke Syafiq.
“Congratulation, Fayra! Akhirnya lengkap sudah kebahagianmu. Karier cemerlang, suami yang sempurna, dan calon bayi yang sedang tumbuh di dalam sini.”
Aku bingung dengan pernyataan Tisha barusan. Suami? Sejak kapan aku nikah? Dan...apa dia bilang? Calon bayi? Aku hamil? Sama siapa?! Oh, tidak! Siapa? Apa yang sudah aku perbuat?!
“Tis, siapa yang bertanggungjawab atas semua ini?! Aku...aku hamil?”
Sekarang, malah gantian Tisha yang menatapku bingung, “Seriously?” Hanya itu.
Aku mengangguk, dia menggeleng, kemudian malah pergi, “Hey! Tisha! Tunggu!” Aduh, aku mau ngejar tapi, ada yang menahan tanganku dengan lembut.
“Nggak usah dikejar. Ikut aku, yuk.”
Mataku melotot lebar melihat siapa orang dihadapanku saat ini, “Apa? Ngapain aku harus ikut kamu?!” Jiwa protesku keluar langsung.
“Kamu milikku, Fayra. Kita pulang, ya?” jawabnya lembut. Kakiku lemas, yang aku ingat selanjutnya, tubuhku jatuh.
Allahu akbar, Allahu akbar!
Mataku membuka perlahan. Ku lirik jam, sudah subuh. Mataku rasanya masih berat, tubuhku sakit semua. Lalu perlahan kembali terpejam.
“Bangun, Sayang, sudah subuh.” Sapa sebuah suara lembut tepat di telingaku.
Sekonyong-konyong mataku membuka lebar, sepanjang hidupku setelah memutuskan tinggal di rumahku sendiri, hanya suara adzan dari aplikasi di ponsel yang setia membangunkanku. Tapi, ini? Tubuhku langsung menegak. Benar, kan?! Aku nggak mimpi, ini?!
“Kamu? Aku? Kita? Dimana ini? Kita?” Aduh! Susah banget mau ngomong satu kalimat utuh.
Dia hanya tersenyum, mengusap lembut kepalaku. Aku beringsut memojok. Astaga! Aku nggak pakai hijab! Dan, bajuku?! Ini aku kenapa, sih?! Kenapa aku nggak ingat apapun?!
“Cepat ambil wudhu, aku tunggu. Kita solat subuh bareng, ya?”
Mulutku hanya mangap-mangap nggak jelas, “A...a...ku...? I...i...ni..ki...t...a...” Dia tidak berkata apapun. Hanya tersenyum melihat kebingunganku. Aku super kesal.
“Kenapa aku nggak pakai hijab? Kenapa bajuku baju tidur begini? Kenapa aku tidur bukan di kamarku? Kenapa ada kamu?! Kenapa?!”
Dia berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang, melihatku iba. Mendekat, aku semakin meringsut, menarik selimut sampai dagu. Dia malah semakin mendekat, membelai rambutku! Astaga! Tidak boleh! Dimana hijabku?! Kutepis tangannya sebelum dia berbuat lebih jauh.
“Kenapa? Apa seorang suami tidak boleh menyentuh rambut istrinya?”
Apa? Apa dia bilang? Nggak! Nggak mungkin! Aku langsung lompat dari ranjang saat itu juga. Aku lari menuju pintu. Aku harus keluar dari ruangan gila ini dan minta bantuan siapapun.
“Fayra...” Tidak! Dia menahanku. Aku berusaha membuka engsel pintu tapi, dimana kuncinya?! Saat aku berbalik, dia sudah berada tepat di depanku. Aku gugup. Bau harum segar tubuhnya selepas mandi sedikit menggelitik sekaligus membuat merinding total.
Dia mau ngapain?! “Stay away from me!” Tidak ada benda tajam maupun tumpul di dekatku yang bisa aku jadikan senjata. Tubuhnya terlalu dekat denganku, aku sulit bergerak. Perlahan dia malah mendekatkan tubuhku ke tubuhnya, dia memelukku! Astaga! Ini tidak benar! Aku harus segera keluar dari ruangan ini! Sekuat tenaga kudorong tubuhnya agar menjauh dan melepaskan pelukan tapi, yang kudapat malah sebaliknya, dia mendekap erat dengan seluruh kekuatannya, membuatku sedikit sesak. Aku mulai memberontak. Aku harus lepas, aku mau keluar, aku mau pulang! Aku mau bebas! Apa yang terjadi?! Aku mulai menangis, sia-sia semuanya. Dia sama sekali tidak mau melepaskan dekapannya. Beberapa saat aku mulai tenang karena sentuhan lembutnya di kepala dan punggungku. Detak jantunya juga sangat menenangkan, membuatku mengantuk, such as hypnotherapy sound. Detik berikutnya, dia membuatku berteriak lagi,
“Kamu milikku, Fayra. Selamanya.”
“Mbak Fayra! Mbak! Astaghfirullah! Mbak Fayraaaaaa!!!”
“AAAA!!!” Tubuhku langsung menegak, nafasku benar-benar terengah-engah, keringat dingin mengalir dari pelipis. Mbok Hindun masih menggunakan mukena, memandang iba kearahku sambil menyodorkan segelas air putih yang langsung kuteguk habis.
Sambil mengatur nafas aku melihat sekeliling ruangan. Ini masih kamarku, berarti ini masih di rumahku. Aku memandang perempuan setengah baya yang sudah ikut denganku sejak dua tahun lalu ini. Orang tua sebatang kara yang anaknya tidak tahu entah kemana. Lalu kubawa ke rumah.
“Mbok, ini di rumah? Rumah saya?”
“Iya, ini rumah Mbak Fayra. Mbak mimpi buruk, ya? Mbak belum solat subuh.”
Aku langsung melihat jam. Setengah enam! Aku mengangguk lalu segera berlari ke kamar mandi mengambil air wudhu. Aku nggak akan tidur lagi sebelum solat subuh. Mimpi barusan itu...terlalu mengerikan.
“Kenapa cuma dilihatin aja itu tiketnya?” tanya Mbak Ghea, rekan seruanganku. Ya, tiket pesawat itu aku bawa ke kantor, aku simpan bersama dengan surat dari Profesor Azla.
Aku menggeleng, “Aku nggak akan pergi, Mbak.”
“Kenapa? Itu undangan limited edition, loh, Fay. Rugi kamu nggak datang!”
“Cuma ngingetin sama masa lalu yang aku pengen hilangkan.”
“Masa lalu yang buruk itu boleh kamu hilangkan tapi, hubungan lama nggak harus ikut terbuang juga, kan? Itu hubungan antarmanusia, loh, Fay. Jangan Tuhan aja kamu dekati. Tapi, makhluknya juga. Entah kamu suka atau tidak, nggak ada salahnya tetap menjalin hubungan baik tapi, tetap berhati-hati. Aku ngajar dulu.”
Dia melongok lagi sebelum keluar ruangan, “You still have five days to thinking bout this. Do not be careless, Fayra! Pikirkan baik-baik.” Kubalas dengan anggukan.
Entah, sekarang setiap melihat sebendel akomodasi itu aku jadi teringat dengan mimpi semalam. Mimpi yang...terlalu mengerikan untuk aku ingat setiap detail kejadiannya.