Kalau dibilang gak tahu arah dan tujuan, ya enggak juga.
Mungkin, aku hanya butuh jeda. Jeda dimana tubuhku bisa merasakan kembali nyawa yang ada padanya itu masih hidup. Jeda yang dimana kamu hanya ingin tertawa melihat sekelilingmu bahagia. Jeda yang dimana matamu bisa merasakan kembali hangatnya sinar matahari dan angin yang bukan ac. Iya, mungkin aku hanya butuh jeda.
Alarm pagi pukul 5 membangunkanku dari mimpi yang indah. Aku membuka mataku perlahan lahan. Menatap langit langit kamarku yang penuh bintang tempelan. Aku jadi membayangkan bagaimana rasanya memegang bintang, bagaimana rasanya pergi ke ruang angkasa, bagaimana rasanya hidup yang benar benar hidup. Aku tak bilang bahwa hidupku saat ini tidak ‘hidup’, hanya saja mungkin aku merasa monoton dan butuh jeda; iya kuharap hanya begitu. Melakukan dua aktifitas di dalam satu tubuh, satu waktu, satu episode hidup, bukankah sesekali merasakan lelah itu wajar?
Perkenalkan aku Sora, seorang perempuan berusia 24 tahun yang sedang kelelahan menjalani hidup yang dipilihnya sendiri. Hidup ini penuh pilihan, tentu saja itu benar. Namun, beberapa orang tidak bisa mempertanggung jawabkan pilihannya sendiri dengan benar. Alih alih terus menjalankannya, beberapa yang lain memilih untuk memutar balik arah. Tidak ada yang salah dengan itu, manusia memang terus bertumbuh bukan. Mereka terus memperbarui cara mereka berpikir. Dan mereka selalu mempunyai pilihan lain yang baru.
Aku masih di atas kasurku. Rasa-rasanya aku baru saja tertidur, mengapa tiba-tiba saja alarm sudah berbunyi? Ah, bukan tiba-tiba ternyata memang aku saja yang baru menjatuhkan diri ke kasur pukul 3 pagi. Jika bukan karena deadline, malas sekali aku harus mengerjakannya sampai mengorbankan jam tidurku. Deadline yang terjadi juga karena salahku yang memilih menundanya, jadi ya memang asal muasalnya memang sedari awal salahku, melelahkan. Hari ini sama seperti hari kemarin, aku selalu bimbang setiap kali pagi datang. Bimbang antara mau melanjutkan aktifitas atau memilih rebahan di kasur. Kalau di tanya kenapa aku selalu terlihat lelah jawabannya ada di sepanjang cerita ini, dan kalian harus membacanya.
“Mbak Sora, ayo bangun dulu. Sholat subuh lalu siap siap. Ibu lagi masakin sarapan buat kamu. Ini kesukaan kamu lo.” suara Ibu menjadi perintah yang tak boleh terbantahkan.
“Baik Ibuku yang cantik.” jawabku.
Aku lekas bergegas untuk beranjak dari tempat tidurku. Mengambil wudhu dan sholat subuh. Selesai subuh tiba tiba pikiran random mulai muncul, ulet kenapa lebih suka di daun ya?. Kenapa kok tanaman merambat dinamakan tumbuhan rambat, kenapa gak tanaman bergelantung aja, kan lebih lucu. Kenapa kok dia gak suka sama aku ya? - kalo ini mah udah takdir.
“Ibu masak apa pagi ini?” tanyaku pada ibu dari dalam kamar.
“Masak telur dadar sambalado, tumis kangkung, dan ada mendoan hangat tentunya kesukaanmu.” jawab ibu.
Akhirnya aku bergegas keluar dari kamar. Mendengar menu yang Ibu buatkan, rasa kantuk ku sedikit menghilang dan berganti dengan rasa lapar yang teramat sangat. Seingatku tadi malam aku sudah makan cukup banyak, namun nyatanya pagi ini perutku meronta cukup keras.
“Ibu aku sarapan dahulu ya. Aku lapar sekali. Apalagi melihat masakan Ibu, membuatku tambah lapar. Masakan Ibu terbaik sejagad raya pokoknya haha.
“Hemmm, mulai merayu nih, pasti ada maunya.”
“Hehe nggak dong Bu, aku jujur loh ini. Nanti aku mau bekal ini ya bu. Oh iya, Ayah masih tadarusan, Bu.”
“Iya masih. Mungkin sebentar lagi Ayah pulang.” jawab Ibu.
Keluarga kami memang bukan penganut agama yang taat, namun kewajiban yang di dalam Al Qur’an semuanya kami jalani dengan penuh keyakinan. Setiap Subuh dan Maghrib Ayah selalu menyempatkan untuk berjamaah di masjid dan setelahnya Ayah tidak langsung pulang, Ayah melanjutkan untuk tadarusan sejenak. Kalo kata Ayah, di masjid itu tenang. Aku tidak bilang rumah kami tidak tenang, hanya saja sesekali Ibu marah marah dengan nada keras mungkin ini yang terkadang membuat Ayah ingin mencari udara segar sejenak, hehe. Namun bagiku wajar saja, memang terkadang kita pun perlu mencari udara lain walaupun kita memiliki rumah setenang apapun.
***
“Sora, kamu tau gak sih?” tanya Tami teman kuliahku dahulu yang saat ini menjadi teman kantorku.
“Enggak. Kan dirimu belum bilang apa apa Tamiiiii.” jawabku sedikit gemas.
“Itu loh, si Danu, mantanmu dulu, kamu tau gak dia kerja dimana sekarang?!”
“Ya enggak atuh Tami. Lagian kenapa si pagi pagi bahasnya dia. Kaya gak ada bahasan lain aja deh. Aku pun kan sudah tidak peduli Tami.”
“Enggak. Kali ini kamu harus peduli!”
“Dih, apaan sih Tam, to the point aja deh.”
“Kamu taukan, divisi Marketing sekarang Kepalanya gak ada?”
“Iya terus apa Tamm, gausah bikin gue makin penasaran dan naik darah deh.”
“Soraaaaaa, kamu harus dengar ini. Dia sekarang jadi Kepala Marketing di Kantor kitaaaaa.”
Mendengar berita itu, aku terdiam. Tubuhku menolak bergerak. Aku tidak bisa mengatakan satu kata pun. Aku terlalu shock. Aku mencoba mencerna kata kata Tami dengan baik. Danu sekarang satu kantor denganku dan aku bertemu dengannya setiap harinya, batinku. Danu adalah mantan kekasihku sewaktu aku kuliah dahulu. Dia sosok yang baik, pintar, dan juga ramah. Namun dia juga juga sosok yang posesif, sangat amat posesif. Perpisahan kami bisa dikatakan perpisahan yang tidak diinginkan, namun suatu keharusan. Karena jika kami terus bersama, yang ada hanya kehancuran aku dan Danu. Beberapa perpisahan mungkin meninggalkan luka, namun perpisahan yang lain hanya meninggalkan kata ‘ini belum usai’.
“Kamu yakin dia Tam?” tanyaku kepada Tami. Aku berusaha memvalidasi kembali. Aku harap aku hanya salah dengar.
“Yakin banget Ra. Pokoknya kamu harus kuat Ra. Aku akan selalu ada buat kamu. Kamu gak boleh sedih. Kalau dia macam macam langsung cari aku, nanti aku akan langsung tonjok muka dia. Pokoknya kamu harus kuat ya Ra.”
Otakku tak mampu mencerna dengan baik perkataan Tami. Ini bukan kuat enggaknya, tapi segala sesuatu yang belum usai, seolah datang menghampiri meminta pertanggung jawaban untuk segera diberikan penyelesaiannya. Masalah di rumah perihal pekerjaanku saja belum selesai, sekarang ditambah dengan datangnya Danu, sepertinya memang Tuhan tidak membiarkan hamba-Nya untuk beristirahat sejenak.
Mungkin jika kemarin aku tidak bertemu dengannya, mungkin masalah tidak akan sepelik ini. Mungkin jika aku tidak memilih jalan ini, mungkin aku tidak perlu bertemu dengannya lagi. Mungkin jika perasaan ini terselesaikan tepat pada waktunya dan tidak ku bawa bawa sampai hari ini, mungkin aku tidak perlu se-shock tadi. Mungkin mungkin mungkin . . .
Sejenak aku tersadar. Jika membayangkan segala pengandaian, pilihan ini akan selalu menemukan titik negatifnya. Setiap pilihan selalu memiliki resikonya masing masing. Yang dipilih pada akhirnya yang resikonya paling bisa diterima. Perjalanan untuk mengambil pilihan ini pun tidak mudah. Perlu susah payah, perlu air mata, perlu tenaga, perlu adu argumen, perlu meyakinkan hati untuk setiap langkahnya. Namun, pilihan inilah yang aku pilih. Bukan karena orangtua, tetapi untuk diriku. Karena setiap pilihan yang aku pilih, aku lah yang bertanggung jawab atasnya. Segala resiko yang datang, itu adalah resiko yang bisa aku terima. Ya, karena pilihan ini pun gapapa.
Kalo ditanya kenapa kok aku gak nyesel dan ikhlas banget waktu kamu milih ninggalin aku? Aku akan jawab;
Karena selama sama kamu, aku udah lakuin yang terbaik buat kamu. Aku selalu ada buat kamu. Aku dengerin cerita cerita dari masalahmu. Aku temenin kamu cari kerja. Aku hibur kamu waktu kamu sedih. Aku rawat kamu ketika sakit. Semua udah aku lakuin yang terbaik. Maka dari itu aku gak nyesel sama sekali. Mungkin seharusnya kamu yang nyesel udah ninggalin aku, hehe. Karena aku udah berusaha yang terbaik semaksimal yang aku bisa. Perihal kamu gimana ke aku, itu udah tanggung jawabmu penuh. Aku cuma gamau kelak nyesel aja, kalo gak nge-treat kamu secara baik :)
Kadang, bukan gamau komunikasi lagi. Tapi pembahasan yang terus menerus mengarah ke belakang, seolah olah di depan jalan buntu. Bukan ingin melupakan peran di masa lalu, namun bagi sebagian orang masa lalu cukup di belakang, tak ada yang perlu dibahas lagi ke depannya.
Setiap orang memiliki tingkat toleransinya masing masing, termasuk ketika disakiti. Yang tahu tingkat toleransi itu kamu sendiri. Jangan mengeluh. Jika sudah tidak kuat, cukup pergi. Toh, dengan kamu mengeluh kamu tidak bisa merubah apapun. Itu hatimu, tanggung jawabmu.
Semoga, ketika kamu sudah di titik mengerti tingkat toleransimu, kamu dapat pergi, tidak ditahan apapun. Karena hidup hanya sekali, bukankah jika terus terusan disakiti, hati rasanya lelah sekali bukan? :)
Tak terasa 1 tahun berlalu setelah Ayah meninggal. Perasaan itu tetap saja tidak bisa ku terima. Keluarga dimana aku dapat bertumbuh memang mungkin tidak bisa kupilih, namun ini hidupku. Bukankah terus menerus menyalahkan pola asuh orang tua juga bukan sesuatu yang baik?
"Ayah, maaf baru sempat kesini lagi untuk menjenguk Ayah. Ayah, Kyo minta maaf ya atas perkataan Kyo kala itu. Terimakasih sudah menjadi Ayah yang baik bagi keluarga. Kyo sayang Ayah."
Tak terasa air mataku jatuh diatas pusara Ayah. Setelah setahun, baru hari ini aku berkunjung lagi ke pusara Ayah.
Hal yang tak aku pahami saat kecil, mulai terlihat ketika aku dewasa. Apa yang harus aku katakan. Apa yang harus aku lakukan. Aku mulai menyadari hal itu.
Dengan menyalahkan pun tidak dapat membuat aku berkembang, aku justru hanya focus pada kebencian itu. Melelahkan ternyata.
Sepanjang perjalanan 1 tahun ini, aku belajar banyak hal. Belajar dimana aku harus menerima. Menerima bahwa segala sesuatunya sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Apa apa yang belum terjadi, itulah yang saat ini masih bisa ku ubah.
Teruntuk aku 1 tahun lalu, terimakasih sudah bertahan sejauh ini. Terimakasih untuk terus bersedia belajar dan menerima. Pasti tidak mudah bukan? Tapi inilah aku sekarang, tujuan hidupku sudah kutemukan. Bagaimana rasanya? Melelahkan sekali ya? Namun, demi menemukan tujuan hidup, bukankah langkah pertama yang harus ku lakukan adalah menerima?
Umur 24 tahun pun menjadi awal aku mencoba mencari tujuan hidupku, ditengah penyesalan, kemarahan yang masih belum bisa ku terima hingga saat ini.
Rasanya melihat anak muda seusiaku hidup dengan bebas seolah tanpa beban, kadang membuatku iri. Beban dipundakku terasa berat sekali setiap harinya ditambah beban pekerjaan yang lumayan.
Malam minggu ini Café rame seperti biasa. Ada hal menarik perhatian sejak tadi, yaitu seorang anak laki laki bersama lelaki tua sekitar umur 60 tahun. Dan setelah ku ketahui setelah mengantarkan pesanan ke meja tersebut, lelaki tua itu adalah Ayahnya. Café yang sebetulnya identic dengan kaum muda, namun ia justru membawa Ayahnya? Wow.
“Hei, kamu ngapain si ngeliatin customer itu terus? Nanti yang ada kamu diomelin customer itu lo karena risih diliatin mulu.” ucap Sinta, kawan kerja disebelahku.
“Ayah dan anak itu akrab banget ya. Gue jadi iri.”
“Yee, yaudah si tinggal bawa Ayah kamu kesini, susah amat.”
Ucapan Sinta tidak salah, karena dia memang belum mengetahui jika Ayahku sudah meninggal. Dan aku pun tidak berniat menceritakan kondisi keluargaku.
Setelah Café tutup, aku lekas pulang ke kost. Aku menyadari satu hal setelah melihat pemandangan Ayah dan anak tadi; pembicaraan yang hangat. Aku tidak pernah berbicara dan berdiskusi dengan Ayahku seakrab itu. Sampai bercanda dan tertawa seperti itu? Tidak pernah. Jadi tahu bukan, seberapa dinginnya rumah kami.
Makin aku memikirkannya, makin aku menyesal dan ingin meminta maaf. Ku pikir selama ini aku sudah memaafkan Ayahku. Namun ternyata aku hanya menaruh perasaan itu di bagian sudut hati yang terdalam dan tergelap, dimana aku yang memilikinya saja tidak menyadari perasaan itu.
Perasaan yang terus menerus menyalahkan Ayah atas semua sikapnya, yang menjadikan aku saat ini tidak mampu membangun tujuan hidupku sendiri. Ke arah mana aku harus berjalan?
Seminggu setelah Ayah tiada, aku betul betul baru berani keluar dari kamarku. Aku mencoba untuk bangkit dan mulai mencari tujuanku sendiri walaupun beban penyesalan masih ada di diriku.
“Ibu, hari ini aku ijin keluar ya. Hari ini aku mulai bekerja di Café kota sebelah.”
Ya, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan. Tentu saja Ibu kaget. Karena Ibu tau sekali aku. Dahulu aku adalah anak yang dalam mengambil keputusan saja masih ragu dan hanya ikut ikut orang lain saja, nah ini ditambah akan bekerja, apa Ibu tidak makin khawatir?
“Kamu betul ingin bekerja? Tidak karena ikut ikutan teman kan, Kyo? Apalagi itu di kota sebelah, bukankah itu cukup jauh, Kyo?”
“Tenang Ibu, anak ibu ini sudah besar. Sudah belajar pengalaman hidup. Kyo yang dahulu bukan Kyo yang sekarang Ibu. Ibu doakan saja Kyo baik baik saja ya. Kyo juga akan ngekost saja bu, nanti Kyo akan pulang seminggu sekali kok bu, aman hehe.”
Tidak mudah tentu untuk Ibu melepaskan aku. Aku yang selama kurang lebih 23 tahun hidup tak pernah jauh dari keluargaku, kini keluar rumah untuk bekerja. Rasanya bagai burung lepas dari sangkar.
Hidup harus terus berjalan bukan? Walaupun beban yang aku bawa di pundakku cukup membuatku kewalahan.
Mungkin benar kata Ibu, Ayah begitu karena untuk kebaikanku. Namun, tetap aku membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya.
Semenjak Ayah meninggal, Ibu menjadi lebih sibuk dari sebelumnya. Ibu harus mengantar adikku ke sekolah, ke pasar, mengurus pesanan kue, dan mengurus rumah kami. Dan aku hanya diam saja di dalam kamar menyesali sikapku terhadap Ayah. Ibu tidak meminta bantuanku, Ibu tau aku cukup shock ketika meninggalnya Ayah.
Dulu Ayah yang sering membantu Ibu mengantar adik dan mengantar pesanan, dan hal itu baru ku ketahui tadi malam dari Ibu.
“Kyo, Ayah itu tidak sekejam itu.” Ibu sambal mengusap kepalaku. “Ayah hanya ingin hidupmu baik baik saja ketika dewasa nanti.”
“Kalau Ayah baik, mengapa Ayah tidak pernah bertanya apa keinginanku? Mengapa Ayah selalu mengatur semua? Sampai sampai tujuan hidupku saja tidak bisa aku temukan karena sering diatur.” sebisa mungkin aku coba agar air mataku tidak menetes. Aku tahu aku laki laki, namun menangis itu boleh untuk siapa saja yang merasakan sakit bukan?
“Cara penyampaian cinta Ayah dan cinta Ibu kepada anaknya pasti berbeda, Kyo. Mungkin memang benar penyampaian cinta Ayah terlalu kasar untuk bisa diterima kamu. Tapi, Ayah melakukan itu pasti untuk kebaikan dirimu sendiri nantinya, Kyo.”
“Mungkin bu, tetapi aku butuh waktu untuk mengerti itu semua, sekarang rasa sesal dan sakit bercampur di dalam diriku. Aku tidak salah, tetapi aku juga tidak membenarkan perkataanku skala itu. Bolehkah Ibu memberikan aku waktu untuk aku sendiri bu?”
Tanpa menjawab pertanyaanku, Ibu lekas memelukku dan berjalan keluar dari kamarku.
Malam ketika Ibu menyampaikan hal itu, alih alih menjadi lebih tenang, justru rasa penyesalanku semakin dalam. Dan aku semakin ragu untuk berjalan ke arah mana. Yang kulakukan setelah Ibu keluar dari kamarku hanyalah menatap kosong dinding kamarku yang disertai lampu tidur yang nyalanya semakin redup.
Panggil saja aku Kyo, seorang pemuda berusia 23 tahun yang baru saja lulus kuliah dan sibuk mencari apa yang harus aku lakukan setelah ini. Aku tumbuh di keluarga yang hanya boleh berpendapat dan mengatur adalah orangtua. Mungkin inilah yang menjadikan aku tidak tahu harus melakukan apa setelah kuliah, karena sejak kecil hidup kami sudah di atur Ayah begitupun dengan keputusan keputusan yang ada.
“Kamu dari mana saja, Kyo? Apakah kamu tidak ada niatan untuk mencari pekerjaan? Atau haruskah Ayah juga yang mencarikannya?” perkataan Ayah langsung membuatku menengok ke arahnya.
“Bukankah Ayah sendiri yang menjadikanku begini? Ayah selalu mengatur semua tanpa memberikan kesempatan aku untuk memilih. Aku begini juga karena Ayah. Aku menjadi ragu ragu setiap mengambil keputusan juga karena Ayah!”
Tak lama berselang sebuah tamparan keras mendarat ke pipi kanan Kyo.
“Jaga mulut kamu ya! Ayah hanya tidak ingin kamu salah jalan! Apakah ini balasan kamu terhadap Ayah yang sudah mendidik kamu sedemikian rupa?”
“Mendidik? Mendidik itu mendengarkan pendapat anak, Yah. Bukan mengaturnya sesuai dengan keinginan Ayah saja!”
Setelah mengatakan hal tersebut, aku lekas berlari ke kamarku untuk menenangkan diri. Jahat memang perkataanku, tapi begitulah kenyataan. Ayah selalu saja tidak memberikan kesempatan kepadaku. Ayah tidak pernah bertanya kepadaku apa keinginanku. Ayah tidak pernah bertanya apakah aku setuju dengan keputusannnya. Tidak pernah.
Keesokan pagi seperti mendapat sambaran petir, Ayah tiba tiba terkena serangan jantung. Aku dan Ibu lekas membawa Ayah ke Rumah Sakit dengan meminjam mobil tetangga. Ketika sampai, Ayah langsung dibawa ke Ruang IGD untuk di cek kondisinya. Namun sepertinya takdir sedang tidak berpihak kepadaku, Ayah meninggal di perjalanan menuju Rumah Sakit.
Perasaan yang aku miliki saat ini penuh dengan penyesalan. Coba saja aku lebih bijak mengendalikan kata kataku. Coba saja aku dapat berbicara lebih halus. Coba saja Ayah mempersilahkan aku untuk berbicara. Coba saja, coba saja yang lain memenuhi otakku.
Seberapa lama aku harus mencari tujuanku dengan membawa beban penyesalan ini?
Tak terasa pernikahan yang Vanya jalani dengan Aan sudah memasuki usia 2 tahun. Bertemu dengannya adalah salah satu anugrah terindah yang Vanya miliki. Kadang masih tak habis pikir, mengapa sosok lelaki ini mau menerima Vanya apa adanya.
Sebelum bertemu dengannya, Vanya seorang perempuan keras kepala, melakukan semuanya sendiri, dan berusaha untuk tidak melibatkan dan bergantung dengan orang lain. Awal pernikahannya tentu saja tidak mudah, banyak penyesuaian yang harus Vanya dan Aan lakukan. Ditambah dengan sifat Vanya, sepertinya itu membuat Aan harus extra bersabar.
Hingga pada suatu hari, Aan mengatakan sesuatu padanya, yang pada akhirnya membuat Vanya berubah dan rumah tangga ini menjadi lebih hangat, "Apakah kamu akan begitu terus? Mau sampai kapan kamu tidak mengijinkan aku untuk membantu kamu? Sampai kapan kamu ingin melakukannya sendiri? Aku ada disini untuk bantu kamu, apapun masalahmu. Kamu bisa katakan semuanya padaku. Kamu tidak perlu takut aku tinggalkan. Mau bagaimanapun masalah dan kondisi kamu, aku bakal tetep disisi kamu."
Ah, ternyata iya, ketika Vanya memulai pernikahan ini, ia lupa mengijinkan orang lain masuk, ia lupa bahwa orang yang berani mengetuk itu adalah orang yang sudah mau berkomitmen, dan ternyata Vanya sadar selama ini ia tertutup karena takut ditinggalkan.
'Buat dirimu diterima dan menerima. Ijinkan orang lain masuk ke kehidupanmu. Bukankah menanggung semuanya sendiri itu cukup melelahkan?'
Sore hari setelah hujan turun, aroma tanah yang khas dan embun sore yang sudah mulai nampak. Kamu datang seorang diri. Kedatanganmu kali ini bukan yang pertama kali.
Aku masih ingat, ketika kamu datang untuk pertama kalinya dengan niat baik. Namun, tanpa berpikir panjang, aku menolakmu dengan alasan yang bisa dikatakan sepele, "aku tidak mencintaimu.". Yang dimana saat ini, jawaban itu yang sangat aku sesali.
Beberapa hari setelahnya, aku cukup tidak tenang karena sudah menolakmu. Entah doamu yang terlalu hebat atau memang dengan kesungguhanmu yang tulus yang akhirnya menjadikanku luluh. Tentu tidak mudah melewati hari hari itu. Berharap harap cemas. "Andai waktu bisa diulang atau jika boleh semoga Tuhan membuat hati lelaki itu bebal, sehingga ia datang lagi kesini dengan niat baiknya." Doa yang jika diukur dengan logika manusia, mungkin itu adalah doa yang sangat amat tidak mungkin terjadi. Iya, dengan logika manusia, bukan logika Tuhan.
Dan ternyata hari itu datang. Hari dimana doaku yang sebelumya diragukan menjadi nyata. Sore hari selepas hujan, kamu datang kembali untuk niat baikmu, "Syukurlah dia mempunyai hati yang bebal" pikirku.
Kali ini aku tidak mau menyesal. Kali ini aku akan menerimanya. Lelaki baik yang sudah bersedia menjadi "bebal" hanya untuk kembali datang. Mungkin benar, doa bukan lagi sebuah ketidakmungkinan, namun berubah menjadi busur panah yang siap tertancap di waktu yang tepat, orang yang tepat, kondisi yang tepat.
Layaknya rejeki mungkin seperti itu juga cara kerja datangnya jodoh. Sudah diusahakan seperti apapun, jika bukan untuknya, maka tidak akan pernah menjadi miliknya.
"Kenapa si kamu terlalu pemilih? Kenapa si kamu tidak membuka hati? Memangnya usahanya masih kurang untuk meluluhkan hatimu?", perkataan ini Sinta dengar dari mulut Kakaknya sendiri, Rino.
Sambil menyentil dahi kakaknya, Sinta menjawab pertanyaan tersebut, "Tahu apa Bang Rino tentang usaha dan hatiku hah! Orang Bang Rino sendiri saja masih jomblo kan. Hahaha."
Kesal dengan perkataan Sinta, lantas Rino memasang mode seriusnya, "Sinta. Aku tahu patah hatimu di masa lalu membuat kamu tak percaya lagi akan cinta. Aku tahu traumamu akan masa lalu masih terus terbayang. Tapi tidak bisakah kamu sedikit membuka hatimu? Kamu harus keluar dari ruang gelap itu Sin. Abang janji, abang akan selalu disampingmu. Abang akan ikut menyeleksi deh lelaki yang bakal masuk ke kehidupanmu. Gimana? Deal?"
Semenjak kejadian beberapa tahun lalu, Rino selalu berusaha untuk menghibur Sinta namun selalu gagal. Kekesalan Rino selama bertahun tahun kepada lelaki yang sudah menyakiti Sinta pun tak pernah berkurang. Lelaki itu yang sudah dipersilahkan masuk, dan diperjuangkan mati matian oleh Sinta di depan keluarganya, malah melakukan perselingkuhan yang ternyata dengan sahabatnya sendiri.
Bang Rino menjadi satu satunya keluarga ternyaman yang bisa ia ceritai segala hal. Sinta bersyukur memiliki kakak yang begitu peduli dengan adiknya. Mungkin memang seperti itu cara kerja seorang kakak ketika melindungi adiknya. Namun bagi Sinta, saat ini Abangnya saja sudah cukup. Tidak lebih tidak kurang, dalam takaran yang pas dalam hidup.
"Walaupun kamu anak perempuan, tetapi kamu harus tetep kuat dan mandiri ya. Karena dunia yang sedang kamu jalani ini, tak begitu saja melunak jika kamu perempuan."
Seorang anak perempuan yang sering dipanggil Cinta oleh ibunya. Cinta yang saat ini sedang merantau jauh dari kedua orangtuanya, membuat ia terus terusan merindu karena dipisahkan jarak.
"Kamu sudah makan nduk? Bagaimana kerjanya hari ini? Pasti cape banget ya?", pesan whatsapp dari Ibu pada sore itu. Pesan yang membuat Cinta tidak bisa langsung membalasnya pada saat itu juga, karena air mata jatuh lebih cepat dibandingkan ketikan tangannya.
Firasat Ibu memang tidak pernah salah. Pada hari itu memang benar Cinta sedang dikejar deadline kerjaan yang tak berkesudahan. Mungkin sudah ditahap muak. Namun ketika ingat harapan kedua orangtuanya dirumah, ia mencoba menguatkan diri kembali.
"Sudah ibu. Alhamdulillah Ibu kerjaan hari baik baik saja, lancar seperti biasa. Cape? Enggak atuh Ibu, orang kerjaannya cuma gitu gitu aja bu, aman. Hehe." Akhirnya pesan Ibunya berhasil Cinta balas sembari menenangkan diri. Entah itu kebohongan yang berapa kali Cinta lakukan, hanya untuk membuat orangtuanya tidak khawatir.
Cinta selalu teringat hari dimana ia akan merantau. Ayahnya memberi wejangan untuk menjadi perempuan yang mandiri dan kuat. Dan ibunya hanya berpesan untuk jaga kesehatan dan menjaga diri.
Ya mungkin sebenarnya seperti itulah peran masing masing orangtua. Ayah membekali agar menjadi pribadi yang kuat dan Ibu melengkapinya agar tetap mempunyai hati yang hangat. Peran yang lengkap dalam sebuah keluarga dan Cinta sangat bersyukur akan itu, walaupun ia harus menahan rindu karena jarak.
Ratih, seorang perempuan berumur 25 tahun yang memiliki keinginan menikah, pada akhirnya keinginan tersebut terwujud dalam waktu dekat. Ia menikahi seorang lelaki sederhana dari keluarga yang paham agama. Tentu saja itu membuatnya sangat senang. Karena kriteria yang ia idam idamkan terwujud.
Pernikahan tersebut sudah berjalan kurang lebih 2 bulan, namun kondisi pernikahan tersebut sudah seperti di ujung tombak. Semua sifat asli dari Ratih maupun lelaki tersebut satu persatu muncul. Ratih yang memiliki tingkat keegoisan diatas rata rata manusia dan lelaki tersebut yang ternyata hidupnya sangat individualis. Ratih yang selalu ingin diperhatikan dan ingin hanya dia yang dipedulikan, membuat rumah tangga ini tidak sehari pun lepas dari pertengkaran.
Puncaknya yaitu ketika lelaki ini akhirnya marah besar hingga menendang pintu rumah mereka. Lelaki yang selama ini selalu sabar dan berusaha menurunkan sifat individualnya agar bisa diterima Ratih, ternyata selama itu pula Ratih tak berubah dan tetap dengan keegoisannya.
"Pernikahan itu tentang dua orang yang berusaha untuk terus menyesuaikan dengan belajar menurunkan ke egoisannya. Apakah kamu akan tetap dengan keegoisanmu itu?" ucap lelaki itu.
Walau aku menjawabnya dengan lantang, bukan berarti aku kuat. Walau aku menjawabnya dengan lemah lembut dan penuh senyuman, bukan berarti itu tak menyakitkan. Aku hanya ingin menghargaimu. Menghargai apa yang kamu sampaikan. Selebihnya, itu urusanku untuk mau menerima atau tidaknya.
Menjadi yang paling peka di setiap kejadian, tingkah laku, nada bicara seseorang, bisa menjadi menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam waktu yang bersamaan. Menyenangkan karena kamu menjadi tahu batasan dimana harus berhenti berbicara dan melakukan sesuatu. Tidak menyenangkan ketika kamu juga merasakan marah, sedih, kecewa dari orang tersebut.
Seiring berjalannya waktu perasaan itu bukannya makin menghilang justru menguat. Kamu yang lebih sering menjadi pendengar, membuatkamu terus belajar tentang sudut pandang yang mungkin saja selama ini tidak kamu sangka. Menjadi pendengar artinya kamu telah menjadi tempat sampah bagi beberapa orang yang membutuhkan validasi.
Sesimple, kamu ada, ya karena mereka ada. Walaupun sesekali menjadi ikut lelah, namun melihat respon mereka yang seolah memiliki tempat berteduh sementara, menyenangkan sekali. Udah kaya superhero menyelamatkan bumi rasa rasanya.
Sesekali cobalah menjadi pendengar yang baik, disana kamu akan banyak belajar berbagai sudut pandangan yang asing, aneh, dan tak terduga. Selamat menyelam lebih dalam dikehidupan :)