"Engkau!! Dalam dirimu masih terdapat jahiliyyah!!!"
Entah kenapa , kalimat sang nabi kepada Abu Dzar saat itu terus terngiang - ngiang di benakku. Seolah kalimat itu diarahkan dan ditujukan untukku. Aku gelisah . Takut. Aku ingat, Salim A. Fillah dalam salah satu bukunya pernah ngisahkan kisah ini dengan sangat baik , lalu kubaca ulang kisahnya. Dan ingatanku pun kembali ke masa itu ..
Injak kepalaku ini hai Bilal!
Demi Allah, kumohon injaklah!
Abu Dzar Al-Ghiffari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. Dilumurkannya pasir ke wajahnya dan dia menunggu penuh harap terompah Bilal ibn Rabah segera mendarat di pelipisnya.
"kumohon Bilal saudaraku" rintihnya " Injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapuskan sifat jahiliyyah dari jiwaku."
Abu Dzar ingin sekali menangis. Isi hatinya bergumul campur aduk. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu yang disujudkan dan wajah belepotan pasir yang disurukkan, dia mengerang lagi,
"kumohon injaklah kepalaku!"
Sayang, Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
Peristiwa itu memang berawal dari kekesalan Abu Dzar pada Bilal. Dia merasa Bilal tak mengerjakan sebuah amanah dengan utuh, bahkan seakan membuat alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Abu Dzar kecewa dan, sayang, dia tak dapat menahan diri. Dari lisannya terlontar kata-kata kasar. Abu Dzar sempat berteriak melengking,
Rasulullah yang mendengar herdikan Abu Dzar pada Bilal itu memerah wajahnya. Dengan bergegas bagai petir menyambar, baginda menghampiri dan menegur Abu Dzar,
"Engkau!." Sabdanya dengan telunjuk mengarah ke wajah Abu Dzar,
"Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyyah!"
Maka Abu Dzar yang dikejutkan hakikat dan disergap rasa bersalah itu serta merta bersujud dan memohon Bilal menginjak kepalanya. Berulang-ulang dia memohon. Tapi Bilal tetap tegak mematung. Dia marah, tapi juga haru.
"Aku memaafkan Abu Dzar, Ya Rasulullah." kata Bilal.
"Dan biarlah urusan ini tersimpan di sisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak."
Hati Abu Dzar rasanya perih mendengar itu. Alangkah ringan andai semua bisa ditebus di dunia. Alangkah tak nyaman menyelusuri sisa umur dengan rasa bersalah yang tak terlupakan. Demikianlah Abu Dzar, sahabat Rasulullah yang mulia. Adapun kita, dengan segala kelemahan dan kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, mungkin tak hanya satu jari yang harus ditelunjuki ke wajah kita.
Lalu sebuah kesadaran menyentak,
Engkau!! Dalam dirimu masih terdapat jahiliyyah!!!
Tentu saja diri ini tidak ada apa apa nya jika dibandingkan dengan Abu Dzar, yang kekokohan imannya sudah tidak terbantahkan , ia yang dijuluki sang Nabi dengan gelar " Ashdaqu Lahjatan" . Sedangkan Rasulullah tidak punya julukan khusus buatku. Yah itu pasti dan jelas. Tapi jika dipaksa menyebutkan kesamaan diantara kami , ya mungkin sifat itu , Abu Dzar bukanlah orang yang tahan untuk diam dan berlapang dada. Lisannya terkadang terlalu tajam tak menimbang perasaan. Aku merasa sifat jahiliyah seperti itu masih sering terlontar dari lisanku. Entahlah, jika saja Rasulullah kini masih berada di tengah kita, mungkin sudah habis seluruh jarinya untuk ditunjukkan ke wajahku , sambil berkata "Engkau! Dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!" Sedih sekali mengetahui, dari berbagai kemuliaan sifat Abu Dzar, justru bagian ini lah yang mirip denganku. Ya Ilahi, tolonglah. Kirimkan pasukanMu untuk membantu diri ini berubah ya Rabbi, saudara saudara yang kan membentengi diri, ibarat Harun pada Musa . Abu Bakar pada Umar. Kirimkan ya Rabbi . Amiiin..
Huwaaa , :'(( kalau dipikir lagi . Abu Dzar saja begitu menyesalnya , begitu takutnya . Bagaimana pula dengan ku ini ? Ya Rabbi , maaf kan diri ini, yang emosinya sering tak terkontrol , mudah marah, mudah mendendam , mudah kesal , dan mudah berkata kasar. Terkadang lisan ini tak terjaga, padahal aku tahu, derajat terendah dari ukhuwah, cukuplah org lain tidak tersakiti dari lisan dan perbuatan. Ya , aku tahu itu. Tapi, bahkan dalam hal dasar seperti ini saja aku masih gagal. Praktek nya susah, sungguh. Maafkan ya Rabbi, maafkan, teman - teman , maafkan ,kakak danlap, maafkan,kakak tadis . Maafkan, ya Rasul. Maafkan akuu … hiks :'( bagaimana pula aku harus menebusnya ?
Andaikan saja ada dosameter di dunia ya,, jadi aku bisa tahu sudah berapa banyak dosaku saat ini .. :/