Aku dan Si Hakim
Siapa sebenarnya yang salah dalam hal ini?
Mengapa kemudian semuanya menganggap benar, masing-masing mencari pembenaran yang sebenarnya tidak benar. Ya, menyadari adalah hal paling rumit, begitu banyak benang merah yang harus diuraikan untuk menjadi pembenaran yang mutlak. Manusia, si penggagas kebenaran dan kesalahan mengukurnya dengan rumus masing-masing sehingga hasilnya tidaklah selalu sama. Satu ingin begini satu ingin begitu, satu seharusnya begini dan satu seharusnya begitu.
Aku mulai bertanya-tanya, kemana hakim yang selalu menunjujung tinggi keadilan, kemana? Ketika berontak terjadi, semua hakim sembunyi dibalik ketiak para opsir. Mereka takut membuat keputusan hanya karena takut dieliminasi. Mereka tidak memiliki patokan yang pas, bagaimana pembenaran harus dibenarkan.
Biasanya, semua orang akan berteriak lantang ketika ada yang tidak beres. Tapi tiba-tiba saja semua terdiam. Semua tidak mampu menyalak tajam. Ini berawal dari sebuah keputusan mutlak seorang hakim yang bertindak ba seorang Tuhan, semua tunduk dan takut akan dosa, padahal apakah dosa itu memang harus selalu salah?
Aku sanksi dengan pernyataan tersebut, beberapa menyebutnya dosa termanis karena dosa itu mereka lakukan untuk alasan pembenaran. Aku telungkup dalam diam dan tidak lagi berani bertanya-tanya. Biarlah mereka yang menilai, berdebat dan saling mengeluarkan kata-kata tajam untuk saling membunuh mental.
Aku terdiam dan sembungi seperti para hakim tadi. Lari terbirit-birit lalu mati.















