Bukankah Aku Sudah Merdeka? Tapi,
Tubuhku ini terbungkus di dalam jenis kelamin perempuan. Menjadi kuat karena terpaksa, menjadi kritis karena menghadapi emansipasi yang terbalik. Tak dapat lagi kubanggakan diri menjadi seorang perempuan yang merdeka. Tak bisa lagi aku menciptakan duniaku sendiri bermain dengan kekuatan sendiri. Karena sekarang kekuatanku sedang dibagi-bagi, sama rata, tak ada bedanya seperti komunalisme di rumah sendiri.
Aku suka menonton film-film dengan pahlawan perempuan sebagai tokoh utamanya. Semua tokoh pahlawan perempuan itu membentuk karakterku menjadi seorang perempuan yang seolah-olah kuat. Tidak benar-benar kuat sebenarnya, sebab meskipun aku bisa merasakan kebebasan, kakiku diikat di dalam prasasti kewajiban semu.
Kemudian aku mulai mengkhayalkan tokoh-tokoh film berwujud binatang, seperti harimau dan semut. Bila saja seekor semut memiliki kekuatan sakti untuk melumpuhkan kebuasan harimau kumbang, maka akan kupastikan tangan ini bertepuk tangan bangga.
Kawan, kau sempat bercerita bahwa semut pernah berbisik kepada manusia untuk menjadikan binatang itu seorang penyihir. Rupanya, penyihir lebih hebat dari harimau. Ia memiliki bisa yang terpenjara di dalam tongkat sakti, menggumamkan mantra-mantra indah hingga bersemayam di dalam tubuh yang kelelahan.
Berharap akulah penyihir itu yang mampu melafalkan mantra demi sebuah kemerdekaan. Aku tenggelam di dalam kewajiban yang diriku sendiri tak pernah memahaminya. Seperti rumah kosong, mantra-mantra itu hanyalah tanpa nyawa meski kesaktiannya mampu melumuhkan semua manusia berwujud pria. Bukannya aku sombong, namun aku mempertanyakan apa esensi perempuan di sebuah rumah.
Meski masih terikat dalam dinasti keluarga, mereka bukanlah ayahku, bukan saudara kandung, bukan juga suami. Mereka hanyalah mempunyai hak untuk berdiam di sebuah rumah warisan. Namun apa daya, mereka tidak bekerja, tidak juga berusaha untuk bekerja atau menghasilkan uang. Mereka hanya duduk diam sepanjang hari menanti piring dan sendok terhidang tiga kali sehari.
Sama seperti ketika mereka muda dulu, mereka seolah tidak merasakan kenaikan harga beras, tabung gas dan sayur mayur yang setiap hari mereka makan. Mereka, pria-pria di dalam rumah itu adalah manusia tanpa usaha, tanpa upaya membantu keluar dari kurungan kemiskinan. Sudah beribu koin kuhasilkan namun tak berwujud benda. Semua tertelan begitu saja dan hanya berakhir dalam sebuah kantong berisi kotoran.
“Hidup bukan untuk makan saja kan?” tanyaku pada angin yang berhembus.
Kepada siapa lagi aku mengeluh jika bukan kepada angin. Aku percaya angin mampu menerbangkan kabar ini kepada dunia. Memperdengarkan mantra-mantra kesedihan dan kegundahan lantaran sebuah usaha yang sia-sia pada semua makhluk hidup di luar sana.
Ini adalah sebuah emansipasi yang berlebihan tatkala aku menyadari bahwa hanya aku sendiri yang bekerja keras.
“Ku pikir ini adalah dunia emansipasi, ternyata aku berlebihan, orang-orang mengartikannya berlebihan,” lanjutku.
Lantas hadiah apa yang akan kuperoleh atas perjuanganku ini jika aku tidak berhadap pahala dari Tuhan. Tak bisa aku mengeluh secuil kata karena yang kulakukan harus dipaksakan menjadi ikhlas. Di rumah ini, aku menjadi perempuan pekerja untuk menghidupi tiga orang laki-laki tak berdaya pada kehidupan.
Dulu Raden Ajeng Kartini memperjuangkan kemerdekaannya karena dikungkung di rumah sebagai pingitan. Impiannya menjadi perempuan merdeka sangat kuat. Dia ingin berdiri di samping laki-laki, bukan dibelakang bersimpuh penuh penghormatan.
“Perjuangannya memang berhasil” suaraku terdengar tidak bersemangat.
“Mengapa begitu?” suara hatiku yang bertanya demikian.
Kartini mampu meraih kemerdekaannya dengan dukungan laki-laki. Sosok Laki-laki yaitu suaminya yang memahami impiannya, mendorongnya untuk merdeka dari dunia pingitan. Berkat perjuangannya tersebut, kini sudah banyak perempuan yang tidak hanya menggantungkan hidupnya kepada kaum laki-laki.
Semua perempuan bisa bekerja, semua perempuan bisa menghasilkan uang dengan keringat sendiri, semua perempuan mampu menciptakan dunianya sendiri. Kurasakan bahwa semua emansipasi yang diperjuangkan hanya berakhir sia-sia, setidaknya bagiku. Aku tak pernah memahami apa itu esensi dari kemerdekaan jika aku masih terbelenggu oleh kewajiban tanpa timbal balik.
“Aku ingin merdeka, aku ingin bebas!”
Meski aku perempuan, bebas dan merdeka bukan berarti aku harus menjadi pondasi kaum laki-laki. Aku ingin berpijak di kaki sendiri. Aku ingin bisa kembali bercerita kepada angin bahwa aku tak lagi dibebani oleh tugas yang terbalik.
Bukan menginginkan kebebasan yang sebenar-benarnya, tapi biarkan aku bernapas semenit dua menit, biarkan aku menikmati jerih payahku seorang diri meski sebentar saja. Biarkan aku menjadi penyihir yang tidak hanya melafalkan mantra kebebasan namun juga menciptakan dunia untukku sendiri.