Syifa'ul Limaa Fis Shuduur
Pada dasarnya diri kita terdiri atas dua unsur yang muasalnya berbeda. Pertama kita terdiri atas jasad, yang berasal dari tanah. Maka kita mengandung sifat-sifat tanah. Kedua kita terdiri atas ruh, yang jauh ada sebelum jasad dicipta, yang berasal dari surga. Maka, semasa hidup ini kita akan merasakan dua tarikan yang berbeda. Ada tarikan jasad yang bersambung dengan tanah dan ada tarikan ruh yang sangat rindu dengan kampung halamannya, surga.
Ketika mengikuti tarikan jasad, kita akan betah berlama-lama di muka bumi. Kita diajak berlama-lama menikmati bumi. Kalau laki-laki, dia ingin memimpin, ingin diakui, ingin menguasai. Sedangkan akhwat, tarikan anti kerut, anti penuaan. Tarikan untuk berawet-awet, abadi di muka bumi.
Dua hal ini sudah lama diketahui iblis. Lihat saja bagaimana iblis menipu Adam dan Hawa. Apa godaan yang pertama kali dibisikkan? Iblis bilang, "tau ga sih sebenarnya Rabb kalian itu melarang kalian deket-deket pohon itu untuk apa? Agar kalian tuh tidak bisa menguasai bumi, tidak menjadi abadi." Maka runtuhlah pertahanan Adam dan Hawa, singkat cerita mereka akhirnya diturunkan ke muka bumi.
Rasa ingin abadi dan menguasai bumi adalah tarikan dari jasad. Akan tetapi kita punya pilihan. Mau menyambut tarikan yang mana? Mana yang lebih abadi antara ruh dan jasad?
Jasad itu akan tua, tapi ruh akan lama abadi. Dan ruh ini dari sisi Allah di surga. Maka kalau di bumi, ruh kita adalah pendatang, bukan penduduk asli. Right? Ketika ruh kita berada di bumi, sejatinya dia akan merasakan ketidaknyamanan. Pengennya segera pulang.
Sebagaimana kita yang lagi merantau, ada kangen sama seisi rumah, sama keluarga. Ya seperti itulah ruh kita ketika menjalankan misi di bumi. Ketika dia sedang menjalani misi, Allah melarang pulang kecuali sampai waktunya. Jadi selesaikan tugas di bumi dulu. Maka tak heran kita merasakan capek, bingung apa yang akan dilakukan, asing, ga nyaman, khawatir. Beda sekali rasanya dengan di rumah. Karena memang ruh ini bukan penduduk asli bumi. Dia sedang on mission. Tugas yang berat, di tanah asing, mana sedang merindu kampung halaman.
Kalau kangen sama rumah, apa yang kita lakukan? Menghubungi orang tua, orang rumah, gitu kan ya? Kita kangen, ya dengerin suara istri/suami/anak²/orang tua. Itu yang berusaha kita lakukan untuk mengobati rindu. Sebagaimana kita, ruh juga demikian. Yaitu dengan mendengarkan sesuatu yg berasal dari tanah kelahirannya. Yaitu Al-Qur'an al-kariim. Al-Qur'an itu adalah ruuhul hayaat. Ruhnya ruh, ruhnya kehidupan.
Maka agar kuat perlu terhubung dengan yang memberi tugas, dengan kampung halamannya. Penghubung terindah itu adalah Al-Qur'an kariim. Dimana, dalam kondisi seperti apa, Al-Qur'an bisa jadi penghubung terbaik dengan Sang Pemberi Tugas (Allah)? Dalam sholat. Karena sholat itu maknanya ishlah. Penghubung.
Semuanya berbanding lurus dengan sesegera apa kita melaksanakan sholat. Ketika seseorang bersegera menyambut panggilan Rabbul Izzati, semuanya akan dimudahkan, mimpinya, hajatnya segera terpenuhi.
Ruh-nya Rasulullah dikuatkan dengan dua perkara :
Al-Qur'an. Kenapa bisa menguatkan? Karena sejarahnya luar biasa, kisah-kisahnya banyak, termasuk bagaimana perjuangan Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah. Ada banyak kabar gembira dari Allah. Dsb. Sebagaimana ketika kita lagi lemes, galau. Cerita, nelpon temen. Kita akan menemui orang yang sedang dalam perjuangannya masing-masing. Sama. Setiap tempat, setiap dimensi selalu ada permasalahan. Setiap masalah akan Allah hadirkan seseorang yg menjadi pembawa solusi.
Sholat Tahajud. Tahajud akan merubah persepsi seseorang akan satu hari kedepan. Dia akan melihat permasalahannya itu kerdil sekali. Karena ruhnya terkoneksi dengan yang jauh lebih besar. Maka beda sekali orang yang sering tahajud dengan orang yang lalai. Ibnu Abbas (ketika masih kecil) pernah terbangun tengah malam dan melihat Rasulullah sedang sholat. Lalu dia ngambil wudhu, berdiri di samping Rasulullah. Rasulullah membaca QS. Al-Baqarah. Pas nyampe 100 ayat, Ibnu Abbas mengira bakal rukuk, ternyata lanjut sampai selesai Al-Baqarah. Terus lanjut lagi ke QS. Ali-Imran, Ibnu Abbas berujar "semoga selesai habis ini". Ternyata masih lanjut sampai selesai QS. An-Nisa. Beliau baru rukuk pas selesai QS. Al-An'am. Sampai² Ibnu Abbas bilang "Aku pernah berpikiran buruk. Aku mau ninggalin Rasul, ga kuat". Maasyaa Allah yaa, Rasulullah yang terjaga dari dosa–sebelum dan yang akan datang–saja sholatnya selalu dipanjangkan. Rukuknya dipanjangkan sama dengan qiyamnya. Ini yang beliau lakukan, bertahujud, agar terkoneksi dengan Allah. Ingat ga hadist ini? "Dari Aisyah ra. dan Mugirah Ibn Syu'bah ra. bahwa dahulunya Nabi SAW shalat malam sampai kedua kakinya bengkak. Aku pun bertanya kepadanya, 'kenapa engkau lakukan sampai seperti ini wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?' beliau menjawab, 'tidakkah boleh aku senang bila menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Mutafaqun Alaih, Shahih). 🥺
❄️❄️❄️❄️❄️
Al-Qur'an itu asy-syifaa, penyembuh jiwa yang luka, penyejuk dahaga, pengubung ruh yang sedang merindu kampung halamannya. Bisa menjadi penyembuh bagi penyakit hati bahkan penyakit fisik bagi orang yang selalu beriktiar dan berpasrah hanya kepada Allah.
❄️❄️❄️❄️❄️
A Beautiful Story from Ustadz Luqman
Tahun 2021, ustadz pernah mengidap penyakit langka. Saat itu sudah sampai di pengobatan terakhir. Qadarullah ada kekeliruan dosis obat. Ada miskom antara dokter dan apoteker. Salah resep. Yang membuat metabolisme tubuh ustadz berantakan. Kondisi sudah separuh botak, rontok rambutnya. Badan memar-memar, muka bengkak, nafas sesak, detak jantung ga karuan, tukak lambung, dan leher ga bisa digerakkan, padahal itu dalam keadaan yang sebelumnya mau berakhir sudah pengobatan. Dua hari pertama terasa paling berat. Ustadz berdoa dg doa Ibunda Maryam. "Aduhai sekiranya aku mati saja dan dilupakan dari dunia ini..." Beliau ga bisa gerak, diinjeksi obat setiap beberapa jam sekali.
Ketika fisik lemah, jangan sampai ruh ikut lemah. Karena iblis ga berhenti menggoda manusia, iblis menggoda dari arah depan, belakang, samping kanan, samping kiri. Ketika ruh mulai rusak, maka yang dilakukan adalah membangkitkan kesadaran sebagai seorang hamba secara penuh. Memaknai takdir Allah, betapa sakitnya ini mengandung hikmah yang baik-baik. Betapa ga ada bandingannya dengan nabi Ayyub, ujar ustadz.
Ustadz dirawat 2 minggu lebih, setiap hari diisi dengan murojaah. Hingga suatu malam dokter mengabarkan akan mengoperasi. Operasinya sederhana, tapi kondisi ustadz yang sangat tidak memungkinkan untuk operasi tersebut. Tapi tetap mau dilakukan. Alhamdulillah ketika itu tangan ustadz sudah bisa bergerak, beliau kemudian bertawasul. Istikharah dengan Al-Qur'an. Merasa butuh jawaban dari Allah. Beliau berujar "entah selamat atau tidaknya, betapa masih banyak hamba memikul dosa-dosa, masih banyak hutang amal yang belum hamba tunaikan. Membaktikan diri dg org tua" Ustadz buka Al-Qur'an. Terbuka QS. Al-Haqqah "dan adapun orang-orang yang terbuka kitab dari sebelah kanan..". Saat itu ustadz juga sedang berproses ta'aruf dg seorang akhwat. Bertawasul pula dengan Al-Qur'an, "yaa Allah betapa aku pengen seperti Imam Ahmad yg tak ingin mati dalam keadaan melajang. Aku punya misi, yang dengan menikah, harapannya bisa menghasilkan generasi yang baik. Lalu ternyata tangan ustadz dan matanya tertuju pada QS. An-Nur : 33 "tak apa bagimu belum menikah kalau belum mampu.." padahal ayat sebelumnya tentang anjuran menikah. Ustadz juga bertawasul dengan dakwah "betapa hambamu ini merasa ada tugas-tugas dakwah yang belum selesai. Masih ingin mencetak generasi berikutnya, generasi Rabbani.." Dibuka, dapatlah surah An-Nasr. Yang mana asbabun nuzulnya An-Nasr adalah mengenai Rasulullah menjelang wafatnya. Setelah itu ustadz pasrah (seolah banyak pertanda kalau beliau akan berpulang). Lalu beliau curhat dengan sahabat beliau yang di Sudan. Ujar sahabat ustadz, "Kita ga tau itu hidayah dari Allah atau was-was dari setan. Jangan nyerah. Jangan kalah. Antum mahal." Terus ustadz ditanya, "berapa uang antum?" Ustadz sampaikan. "Sedekahkan semua, sedekah bisa mengubah takdir". Akhirnya ustadz sedekahkan semua uang beliau.
Ternyata maasyaa Allah, besoknya beliau ga jadi operasi. Beliau di MRI. Keluar hasil pekan depan-nya, ternyata organ yang semestinya di operasi ternyata tiba-tiba baik-baik saja, ga jadi operasi. Maasyaa Allah, salah satu keajaiban membersamai Al-Qur'an! 😍✨
Yuk menghafal, sejatinya dengan menghafal kita akan lebih dekat dg Al-Qur'an. Dikatakan pada ahlul Qur'an, "bacalah lalu naiklah dan tartilkanlah bacaanmu itu, naiklah sebagaimana kamu tartilkan di dunia. Maka sesungguhnya makam terakhir kamu sesuai dengan ayat terakhir ayat-ayat Allah yang kamu hafalkan".
Belajar separuhnya atau sepenuhnya, akan sangat menentukan dimana kita akan sampai di tujuan. Semakin banyak menghafal, semakin kita menguasai rute, dan kita akan sampai di titik terjauh.
Selain sebagai syifaul lima fissuduur. Al-Qur'an juga menjadi penyembuh fisik. Karena setiap sel-sel tubuh senang bertasbih kepada Allah. Maka ketika dibacakan Al-Qur'an, dia bergetar. Semakin lama dibaca akan semakin tenang.
Pernah lihat orang yang diruqyah atau anak rewel yang dibacakan dengan Kalam Allah? Awalnya boleh jadi teriak-teriak, nangis, rewel dsb, hingga akhirnya mengantuk. Jadi tenang yakan~
Untuk menyembuhkan penyakit fisik, caranya dengan membaca ayat yang punya sifat sama dengan penyakit kta. Ketika ustadz sakit, rambut ustadz pelontos gabisa numbuh lagi kata dokter. Tapi beliau tetap ikhtiar dengan pakai minyak gitu, sambil dibacakan ayat mengenai Allah Maha Menumbuhkan sesuatu. Alhamdulillah ternyata bisa numbuh lagi. Ustadz juga pernah radang otot kaki, padahal keesokan harinya harus mengisi di hadapan orang banyak. Bingung. Lalu dibacakan ayat yang sifatnya menyerupai. Kan keras ya, ustadz cari ayat dimana Allah mampu melunakkan yang keras. Alhamdulillah atas izin-Nya sembuh! Selain itu, misalnya demam, panas kan sifatnya, maka baca ayat nabi Ibrahim yang "api jdilah dingin.."
Nanti nih girls, kalau hamil baca ayat tentang dinding, misalnya dinding Zulkarnain di QS. Al-kahfi. Minta sama Allah agar dinding rahim dikuatkan.
Ustadz juga pernah mengobati orang yang kesurupan. Dia anak perempuan, badannya kaku banget. Lalu ustadz bacakan salah satu ayat dalam QS. Ar-Raad tentang buih. Akhirnya anak tersebut lemes, lalu di ruqyah. Karena memang ayat-ayat Allah itu bisa menjadi koneksi yang kuat bagi manusia karena terhubung dengan Allah. Hanya berlaku bagi orang beriman ya tentunya. Sebab anggota tubuh tidak akan merespon seseorang yang hatinya tidak meyakini Allah, tidak beriman.
Masih cerita ustadz ya, beliau pun pernah meruqyah seseorang yang membenci rohis. Diruqyah ternyata ga ada respon. Wallahu'alam kenapa.. Sekali lagi, pada akhirnya ayat-ayat Allah jadi penyembuh bagi hati-hati yang terhubung kepada-Nya.
Allah menjelaskan solusi bagi diri yang setiap harinya ditempeli dua qorin, qorin dari golongan jin dan qorin dari golongan malaikat. Allah mengatakan agar kita mendominasi. Barangsiapa yang meninggalkan Al-Quran maka akan diikuti qorin yang buruk. Maka jangan pernah tinggalkan Al-Qur'an.
Ada 14 tingkatan pertemanan. Qorin paling tinggi (pertama). Qorin ini sesuatu yang terus menempel. Dekat tak ada batasan. Yang selainnya pasti ada batasannya kan, misal temen, ketika kita mau ke WC dia ga ikut. Maka Nabi ngajarin kita ketika masuk toilet ucaplah doa.
Demikian Al-Qur'an ini Allah sifati sebagai asy-syifaa. Sebagai penghubung paling kokoh antara ruh dengan pencipta. Semakin baik hubungan dengan Al-Qur'an semakin dekat dengan Allah. Maka semakin kerdil pula persoalan di hadapan kita.
Ada sebuah kisah, ini terjadi di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada masa beliau ada seorang pengembala yang datang, "yaa amirul mukminin, aneh sekali sejak engkau memimpin" terus ditanya Khalifah Umar, "kenapa?" Dia jawab "aneh sekali, dulu ketika Kami mengembala banyak sekali serigala yang memburu domba-domba kami. Sekarang tidak ada lagi, bahkan serigala yang membantu mengembala domba kami. Apa gerangan yang kau lakukan?"
Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjawab, "kita adalah umat yang senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah, Allah akan menjaga hubungan baik antara kita dengan makhluk lain."
Kita menyimak kisah ini dengan hikmah, bahwa kedekatan, keberhasilan, diperkenankan antara kita diantara manusia itu berbanding lurus dengan bagaimana kuatnya hubungan kita dengan Allah SWT.
____________
✍️ Resume kelas materi Ahlan School Ramadhan (13/4/22), yg disampaikan Ustadz Luqman Abdul Hakim, "Syifa'ul Limaa fisshuduur".













