Budaya 'Pali-Pali' Positif atau Negatif?
Pernah ngga sih denger kalau kehidupan di Korea Selatan, khususnya Seoul itu cepet banget. Secara kasar bisa dilihat dari orang-orangnya yang cenderung berjalan cepat, pramusaji yang menyiapkan makanannya super cepat, dll. Budaya palli-palli yaitu budaya orang Korea Selatan untuk cepat-cepat dalam bergerak, menyelesaikan pekerjaan dan lainnya.
Beberapa bulan terakhir, selama pandemi. Gue baru menyadari, bahwa budaya bergerak cepat engga cuma ada di Korea Selatan. Gue yang mostly ngabisin waktu gue di Solo selama beberapa tahun terakhir juga merasakan budaya bekerja dan bergerak cepat ini juga ada di Solo yang notabene dikenal dengan kota yang alus dan pelan-pelan.
Selama pandemi ini gue engga tinggal di Solo, pulang ke kampung halaman dan ngabisin waktu di Klaten. Gue yang hampir 10 tahun tinggal jauh dari orang tua, kalau ketemu engga pernah lama, kayanya selama 10 tahun ini baru kali ini gue ngabisin waktu selama ini di rumah. Gue mulai menyadari perbedaan pola kerja antara gue dan orang-orang di rumah. Gue baru menyadari bahwa gue punya pola kerja yang jauh lebih cepat dari pada orang-orang rumah. Efeknya, gue jadi menuntut orang-orang rumah untuk mengikuti budaya kerja gue.
Budaya bergerak cepat di Solo tentu engga ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan budaya palli-palli di Korea Selatan. Gue ngga tau, budaya bergerak cepat ini sebenarnya budaya yang cuma berlaku untuk beberapa orang, seperti orang-orang yang tinggal di lingkungan kompetitif. Atau budaya daerah tertentu, seperti Korea Selatan. Tapi gue akan coba analisa disini.
As we know, Korea Selatan terkenal dengan lingkungannya yang kompetitif. Menjadi hal wajar menurut gue kalau Korea Selatan khususnya Seoul, kental dengan budaya palli-palli.
Karena belum ada data yang gue temukan tentang budaya 'cepat-cepat' di Indonesia, gue akan pakai asumsi gue berdasarkan analisa gue. Mengambil contoh kasus di Korea Selatan sebagai negara dengan tingkat kompetitif yang tinggi, maka di Indonesia dimana ada populasi yang memiliki tingkat kompetitif yang tinggi disana akan muncul budaya 'palli-palli' atau budaya 'cepat-cepat.'
Biasanya populasi yang memiliki jiwa kompetitif yang tinggi terletak di perkotaan. Bukan berarti di desa tidak ada, tapi tingkat kompetitif di Desa jauh lebih rendah dibandingkan di Kota. Jadi, budaya 'palli-palli' umumnya terjadi di perkotaan. Seberapa kental budaya 'palli-palli' di suatu daerah tetap ditentukan oleh populasinya. Itulah kenapa, budaya 'cepat' di Jakarta tentu akan jauh lebih kental dibandingkan di Solo. Kesimpulannya, budaya 'cepat' di suatu daerah ditentukan oleh populasinya.
Dampak positif yang dibawa oleh budaya 'pali-pali' ini adalah individunya terlatih untuk lebih futuristik, pekerjaan yang dilakukan cepat selesai, sehingga proyek-proyek pemerintah baik di bidanv ekonomi atau non-ekonomi terealisasi lebih cepat, efeknya tentu suatu daerah bertumbuh jauh lebih cepat.
Gue pernah denger kalau budaya pali-pali bisa memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental warganya. Tapi sejauh yang gue lihat, budaya pali-pali hanyalah efek dari tingginya tingkat kompetitif suatu populasi. Jadi, yang harus di manage adalah jiwa kompetitif setiap individunya, bukan budaya pali-palinya. Karena budaya pali-pali hanyalah efek dari kompetitif, yang dalam hal ini (kesehatan mental) sebagai sebabnya.
Gue pribadi suka dengan budaya 'pali-pali' karena cenderung lebih ngebuat gue produktif. Saat inipun gue juga baru belajar untuk mengaplikasikan budaya 'pali-pali' ini. Gimana kalau menurut kamu tentang budaya 'pali-pali' atau budaya 'cepat-cepat' ini? Positif atau negatifkah? :)
*If you have tentang budaya pali-pali, please comment ya. :)