Sandal Sempurna
Punya sifat perfeksionis dan idealis membuat saya cenderung mengejar kesempurnaan dalam banyak hal. Pencapaian, pekerjaan, harapan, hingga benda-benda kepemilikan. Namun, belakangan dorongan ini semakin memudar. Mengapa?
Lila 5 tahun yang lalu adalah pembeli yang paling teliti dan mungkin pasti mengesalkan bagi sebagian besar penjual. Setiap membeli benda apapun, saya selalu meneliti sesuatu dengan seksama. Apakah ada lecet? Apakah sisi kanan dan kiri presisi? Apakah bungkusnya rapi atau ada yang terbuka? Saya selalu memastikan segala sesuatu sempurna sebelum membayar ke kasir.
Karena tabiat itu, beberapa kali saya mengembalikan barang yang saya beli secara daring di lokapasar (marketplace). Pernah ada cetakan cokelat yang bergelombang, kantong kain yang jahitannya tidak lurus, juga pakaian yang ukuran atau motifnya tidak sesuai deskripsi. Kalau dipikir-pikir, mungkin para penjual itu bukannya sengaja mengirimkan barang jelek, melainkan mereka sendiri tidak sadar akan ketidaksempurnaan yang kecil.
Cacat kecil kerap sekali mengganggu batin saya. Terkadang, barang yang lecet sedikit saja bisa membuat saya kepikiran selama beberapa hari atau minggu. Sungguh mengganggu. Bisa Anda bayangkan kejengkelan saya akan baret samar di sebuah benda? Mungkin terasa tidak masuk akal bagi sebagian besar orang, tapi nyatanya begitu yang terasa.
Untung saja, belakangan ini saya bisa menerima kekurangan-kekurangan kecil dengan mudah. Bagaimana ceritanya?
Semua berawal dari sepasang sandal Swallow berwarna pink. Saya membeli sandal seharga 16 ribu rupiah dari toko orange dan mendapati bahwa warna mereka berdua tidak sama. Satu lebih seperti magenta, satu lagi memang merah muda. Saya merasa sangat terganggu dengan perbedaan warna sandal itu. Saya merasa, ini salah produksi.
Sebagai pembenci notifikasi, biasanya saya selalu segera menyelesaikan order jika tidak ada kendala apapun pada barang. Kali itu, saya menunggu 2 hari penuh untuk merenungkan si sandal pink.
Haruskah saya mengembalikannya? Haruskah saya menerima cacat itu? Pikiran saya bergulat sendiri. Apakah saya harus mengembalikan sandal 16 ribu itu demi ketenangan batin? Bagi Anda mungkin kegalauan ini konyol, tapi saya sungguh berpikir lama tentang pink tua dan pink muda ini. Urusan perbedaan warna saja sungguh mengganggu!
Saya iseng mengolok-olok diri sendiri. Ya ampun Lila, itu lho sandal cuma 16 ribu. Kamu mau protes gimana? Lagian setelah beberapa minggu kamu pasti udah lupa kalo itu warnanya beda! Tapi lubuk hati berbisik, saya pasti akan sadar bahwa warna kedua sandal itu berbeda tiap kali melihatnya.
Setelah menimbang-nimbang selama 48 jam, akhirnya dengan sedikit berat hati saya menyelesaikan pesanan. Tanpa protes, tanpa permintaan pengembalian dana. Saya menerima sandal pink itu dengan legowo, dengan semua kekurangan dan kelebihannya.
Selama berhari-hari, bahkan beberapa minggu setelahnya, saya masih terus melihat cacat itu. Di mata saya, sandal pink itu merupakan ketidaksempurnaan yang mengganggu. Tapi setelah saya mulai disibukkan dengan banyak hal (dan sandal itu semakin kotor karena sudah dipakai), saya makin lupa dengan kekurangan tersebut.
Sekarang, 7 bulan sejak sandal itu saya beli dan pakai, saya sudah lupa bahwa ia pernah tidak sempurna. Di mata saya, dia adalah sandal pink yang berfungsi dengan baik. Ia tidak berubah, tapi penerimaan saya yang berubah.
Sejak awal, saya tahu bahwa lama-kelamaan saya tidak akan mempersoalkan warna yang berbeda itu (apalagi setelah dekil dan warnanya memang tidak terlalu pink lagi đ). Seiring dengan berjalannya waktu, sandal ini justru menjadi memorabilia. Kenang-kenangan pertama kali Lila menerima ketidaksempurnaan.
Implikasi dari tindakan kecil ini ternyata meluas. Dengan menerima cacat-cacat kecil dalam kehidupan sehari-hari, saya menjadi lebih bahagia. Hal-hal remeh yang dulu sangat mengganggu, perlahan bisa saya terima dengan baik. Saya jadi lebih nrimo ketika membeli barang dan menemukan beberapa goresan atau lekukan yang semestinya tidak ada.
Kebiasaan ini akhirnya juga perlahan saya terapkan ke diri sendiri dan orang lain. Jika dahulu saya keras pada setiap keputusan dan situasi, sekarang kesalahan kecil dan perubahan rencana bisa saya terima dengan lebih mudah. Segala sesuatu memang tak selalu sempurna, lalu mengapa? Toh hidup tetap baik-baik saja. Tidak perlu terlalu dipersoalkan. Justru ketidaksempurnaan biasanya membuat pengalaman ataupun benda-benda menjadi unik.
Perkara remeh soal sandal ini akhirnya justru membawa perubahan baik dalam hidup. Terima kasih sandal Swallow selen, saya belajar banyak darimu đ©Žđ©Ž



















