Tentang rahasia keagungan dari Cinta. Di hadapanmu ia menjelma menjadi bintang saat kamu tersesat. Menjadi arah di dunia yang terus berputar
@andyriyan
seen from United States

seen from China
seen from China

seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Norway
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Ireland
seen from United States

seen from United States

seen from Norway
seen from United States
seen from Russia

seen from Norway
Tentang rahasia keagungan dari Cinta. Di hadapanmu ia menjelma menjadi bintang saat kamu tersesat. Menjadi arah di dunia yang terus berputar
@andyriyan
SECRET ADMIRER : HARGA DIRI ATAU TAK MEMILIKI RASA PERCAYA DIRI?
Secret Admirer, huh?
Harga diri atau tak memiliki rasa percaya diri?
Aku penasaran, apakah benar-benar ada orang yang begitu menggilaiku.. yang bisa memahami setiap gejolak dan tingkah lakuku. Mengetahui setaip kesukaanku dari makanan saat sarapan, cemilan saat duduk dan membaca, tempat yang paling sering kukunjungi ketika galau, buku yang paling sering ku gagas dimana-mana, dan lagu yang paling sering kudengarkan.
Aku tak bisa membayangkannya, bagaimana perasaanku ketika aku tahu ada seseorang yang begitu menggilaiku. Ah… bagaimana aku bisa membayangkannya, jika seseorang mengingat hari ulang tahunku saja aku sudah sedemikian girang karena senang?.
Secret Admirer, huh?
Membayangkannya saja, aku sudah cukup sangat menderita. Hanya mampu memandangi dan mengagumi dalam diam.. bagaimana rasanya itu? Adakah jantung tak akan meledak? sedemikian kencang berdetang saat berjumpa sang idola. Membayangkannya saja aku sudah cukup sangat menderita. Hanya mampu mengungkap rasa cinta pada lembaran-lembaran kertas tanpa pernah sekalipun sang idola membacanya. Adakah hati merasa lega? sedemikian penuh menyimpan gegap dan gempita, rasa gundah yang membeludah. Membayangkannya saja aku sudah cukup sangat menderita. Betapa besar cinta yang tersimpan untuk sang idola, namun tak secercah pun terungkap, padahal setiap hari berdiri disampingnya. Adakah tangis dalam hati tidak lebih perih dari tangis yang keluar dari mata? Membayangkannya saja aku sudah cukup sangat menderita.
Jika saja setiap orang percaya akan kekuatan cinta, seharusnya selalu ada keberanian yang membara. Jika saja setiap orang meyakini bahwa perasaan cinta yang ia miliki begitu besar, seharusnya ada rasa percaya diri yang jauh lebih kuat dibanding dinding besi.
Oh aku tak tahu apa yang baru saja kukatakan.
Sebagai lelaki aku sedemikian teguh dengan prinsip, bahwa setiap lelaki memiliki hak untuk memilih dan setiap perempuan memiliki hak untuk menolak.
Aku menolak menangis dalam batin, aku menolak berurai air mata. Aku rela ditolak setiap wanita untuk mempercayai kekuatan cinta, aku rela karena aku menghormati setiap hak dan keputusan mereka. Menjadi secret admirer, aku tak bisa membayangkannya.. hal yang lebih menyakitkan dari hanya sekedar penolakan.
Itu karena kamu lelaki, sedangkan aku perempuan! apa kata dunia jika aku yang pertama mengungkapkan rasa cinta pada sang pria?
Oh maaf, aku begitu arogan, ya aku seorang lelaki.. memiliki secuil kepatutan untuk mengungkap perasaan pada perempuan.
Maaf sekali lagi aku begitu arogan… ah harusnya aku meminta maaf lebih dari dua kali, harusnya berkali-kali, karena aku telah begitu sangat arogan. Tapi injinkanlah aku menyampaikan satu hal : Lelaki bukan makhluk perasaan, lelaki adalah makhluk yang rasional.
© Andy Riyan Aku SECRET ADMIRER-nya gowithepict Yogyakarta, 23 Mei 2015 01:47 PM WIB
Note :
Terimakasih teruntuk minses yang sudah melempar tema ini, sehingga terbuka kesempatan untuk saya menyumpah-nyumpah dan memaki para pemuja rahasia. Hahahaha.
Gambar : Link
This is yours andyriyan
Dari sini nih ~
Airlia Ariani [part :2]
Chapter 2 : Airlia Ariani (part:2)
Sebuah cerita representasi segelas kopi oleh @anndyriyan | andyriyan
Matahari telah condong ke arah barat dan burung-burung sudah berterbangan membumbung diangkasa untuk terakhir kalinya - sebelum kembali kesarang sejak perempuan berbaju coklat itu meninggalkan bengkel kami, dan menyisakan bunga-bunga yang berwarna-warni menghiasi lamunanku. Senyum manisnya masih jelas terbayang olehku, meski sudah bermenit-menit yang lalu ia pergi. Dan suaranya yang jernih dan merdu, masih memenuhi gendang telingaku bagai musik yang berharmoni.
Walaupun aku sedang sibuk membersihkan bengkel dan mestinya aku tersibukkan oleh sampah-sampah ini, tapi perempuan itu masih tak enyah dari pikiranku. Ia terus melintas dan malahan membuatku sibuk berangan-angan tentang hal-hal yang indah. Rasanya sudah lama aku tak melamunkan hal indah seperti ini. Mungkinkah aku telah jatuh cinta ‘lagi’?
“Erza… Ngomong-ngomong besok kamu sudah masuk kuliah ya?” Kata pak Edi mengagetkanku dari lamunan.
“Ha?”
“Ooo ngalamun… Besok sudah masuk kuliah?” Tanya pak Edi mengulangi pertanyaannya.
“Iya Mas… Jam delapan, tapi siangnya gak ada kuliah…“ Jawabku datar.
“Gak masalah kan, Mas? Kalau aku tetep pengen kerja disini…” Aku buru-buru menambahinya. “Gak dibayar gak papa… Aku udah cinta dengan semua yang ada disini…” Kataku sambil mentap mata pak Edi penuh dengan arti.
“Ya gak masalah si… Tapi apa itu gak ganggu kuliahmu? Takutnya nanti kuliahnya jadi berantakan.”
“Ah enggak, Mas. Erza pasti bisa ngejalanin semuanya berbarengan… Kuncinya rajin dan disiplin… tekun.” Jawabku sungguh-sungguh lalu tersenyum.
“Ya sudah kalau kamu yakin…“ Jawab Pak Edi dengan merekahkan senyumnya juga.
“Oh iya… Kalau disini bising kamu bisa tinggal di rumah bareng mbak Neni, masih ada kamar… Disana juga lebih nyaman kalau buat belajar.”
“Terimakasih, Mas… Tapi Erza lebih suka tinggal disini… Ada Deni, Asri dan semuanya…”
“Ya terserah kamu kalau gitu… Sekarang istirahat sono, udah sore… Jangan lupa nanti malam sehabis isyak kerumah ya… Ada syukuran, sekalian Farid di ajak…”
“Farid?”
“Anak baru, yang tadi… Oh belum kenalan ya tadi, dia akan tinggal di mes juga, jadi ntar kamu bertiga disini.”
Farid lelaki yang mengenakan kemeja kotak-kotak, yang tadi aku dan Deni lihat. Seorang karyawan baru yang dipilih pak Edi untuk menggantikanku yang sudah tidak bisa kerja penuh lagi.
“Ya, Mas…”
***
20, September 2010
Keesokan harinya menjelang matahari terbit, udara pagi berhembus spoi-spoi menyapu ruang kamar mes tempatku tinggal. Udara berhembus melewati pintu kaca yang setengah terbuka, awalnya hanya sesekali menyibakkan tirai yang tergerai bebas namun lama-lama menjadi sering menyapa hingga megibarkan belahan-belahan rambutku yang masih sedikit basah. Ketika itu setengah dari cangkir kopi hitam sudah habis ku tegak. Rasanya aneh, kopi ini tak sepahit hari-hari sebelumnya. Sesuatu tak berjalan seperti biasanya. Sesuatu telah berubah, sesuatu yang berbeda sedang terjadi. Mentari terbit lebih cerah dari hari-hari kemarin sepanjang aku memeperhatikan timur jauh itu saban pagi. Sinar jingganya lebih tajam membelah awan yang berarak yang bergerak dan berlari-lari cepat menyisir cakrawala. Langit juga begitu tampak sangat riang menerbangkan burung-burung dan mengajak mereka menari-nari menyambut hari yang indah.
Sepagi ini sudah lima kali aku memandangi dan mengelus-elus sepatu boot yang tempo hari kubeli di toko "Gaya". Senyumku juga terkembangkan ketika kulirikkan mataku kerah kemeja lengan pendek yang tergantung di depan lemari. Rasanya aku kembali seperti dulu, ketika sepagi ini sudah mengelap sepatu, menyetrika baju dan menyemprotkannya dengan minyak wangi sebelum akhirnya mandi dan bergegas mengintari blok-blok perumahan lalu melewati lapangan sepak bola untuk menjemput Yunita.
Jodoh itu...
“Jodoh itu…”
Ah sebentar… sebelum kita lebih jauh berenang dan menyelami makna jodoh, mendingan kita lihat dulu dimana kita nanti akan menyelam dan bermain air. Lihat-lihat dulu apa airnya cukup bersih untuk kita minum nanti. “Eh… Eh… Apa Hubungannya?’ Ih gimana sih, kan kata peribahasa: “Sambil menyelam minum air…” biar gak cuma basah-basahan gitulah hehehe.
Hah oke! Aku sudah menemukannya. Aku memutuskan aku akan berenang dan menyelam disini.
(Sumber, klik)
Seperti anjing dan kucing, seperti dua orang yang saling bermusuhan dan ‘tidak bisa’ didamaikan. Bukankah begitu kata peribahasa?*
Tapi lihat, lihatlah kucing dan anjing itu. Mereka bisa menjadi sangat romantis, saling merapatkan satu sama lain; seperti sepasang insan yang sedang berpacaran dikebun yang penuh dengan bunga. Lihatlah betapa manis saat mereka foto bersama, tak kalah kan? Dengan scene romantis di derama korea?
(Sumber : Klik)
Lihatlah sang Anjing mencium si kucing dengan sangat kuat, seperti rasa sayang harus tertumpah saat itu juga karena tak ada lagi hari esok.
Jadi jodoh itu… tidak pernah dapat bisa diduga. Peribahasa Anjing dan Kucing sudah kita dengar dari sejak dulu kala… jangankan aku, ibuku saja tidak tahu kapan peribahasa itu ada, tahu-tahu ya begitu… Ada!. Persoalan jodoh hanya Tuhan yang tahu. Jodoh ada di tangan Dia. Tapi meskipun jodoh ada di tangan Dia, aku tak percaya Dia tak memberi kita pilihan.
Kalau aku boleh memilih, aku ingin jodohku nanti adalah seorang penulis (author)… tapi yakinkah aku bisa berjodoh dengan penulis? Kalau bisa memilih, aku ingin jodohku nanti adalah seorang yang bisa memahamiku, memberiku ketentraman dan kedamaian, sekali lagi apakah dengan orang seperti itu kita akan berjodoh?
Jodoh itu… tidak harus sama, yak meskipun belum ada bukti ilmiah-nya kalau kucing dan anjing kawin terus melahirkan anjing setengah kucing. Jodoh itu tidak harus sama yak seperti gembok dan kuncinya (ini kata siapa sih?). Jodoh itu Yin dan Yang, berbeda tetapi menyatu. Ya meskipun jodoh itu tidak harus sama, jodoh juga tidak harus berbeda. Laki-laki berjodoh dengan laki-laki? boleh saja!; perempuan berjodoh dengan perempuan? Boleh saja!. Terus jodoh itu… apa dong?
Jodoh itu… harus bisa hidup berdampingan. Anjing dan kucing yang bisa hidup berdampingan, itu jodoh!. Pensil dan kertas yang dibutuhkan bersama-sama, itu jodoh!. Besi, semen, pasir, batu, kerikil yang bersama-sama membangun rumah yang kuat, besar, tinggi menjulang itu jodoh!
Laki-laki dengan laki-laki yang bisa berdampingan dalam membangun bisnis yang sukses itu jodoh… Perempuan dengan perempuan yang bisa bersama-sama membangun usaha catering itu jodoh! Laki-laki dan perempuan yang bisa berdampingan membangun keluaraga “ITU JODOH”.
Jadi… Hei dunia gowithepict, apakah aku dan kamu itu berjodoh?
-Semoga JODOH di gowithepict
Andy Riyan | Yogyakarta, 28 Maret 2015 Pukul 01:50
Note: *(Sumber:klik)
“Langit mungkin akan tampak biru jika kau melihatnya dengan kaca mata bening, tapi mungkin akan berbeda jika kau melihatnya dengan kaca mata hitam, merah ataupun kuning. Untuk hal yang sama, terserah kau mau melihat dari kaca mata mana saja asalkan masih dengan kaca mata transparan” - andyriyan
This is yours andyriyan
http://andyriyan.tumblr.com/post/114772885077/jodoh-itu
Airlia Ariani [part :1]
Chapter 2 : Airlia Ariani (part :1)
_________________________________
Sebuah cerita fiksi oleh @anndyriyan | andyriyan
September 2010
Disiang hari ketika aku dan Deni sedang bekerja tiba-tiba merasa lelah dikalahkan oleh panasnya siang. Udara panas menguap dari jalanan aspal di depan bengkel yang terpanggang matahari ditambah pengap saat bekerja berdiri dibawah mobil membongkar mesin membuat sup buah terasa semakin liat mengusik kepalaku. Awalnya kami bertahan dengan air galon dan angin buatan dari blower, tetapi akhirnya kami menyerah karena sudah tidak betah lagi. Kami langsung melenggang pergi menuju warung dengan berjalan kaki menyebrangi jalan depan bengkel, lalu masuk gang yang di tumbuhi pohon mangga. Sekitar sepuluh langkah dari situ. Warung PUSPA yang terbuat dari bilik bambu menyerupai gubuk namun dengan desain modern berada. Sebuah warung post-modern yang bergaya tradisional itu milik Bu Nana dan Pak Yoko; orang tua Asri.
Saban siang, kami mengunjungi Warung PUSPA sambil istirahat melepas lelah; mengendurkan leher yang kaku, tangan yang berat dan menikmati sup buah. Di warung itulah - satu tahun yang lalu… aku bertemu untuk pertama kalinya dengan Asri, lalu kenalan - menjadi dekat - dan semakin dekat sampai hari ini. Dan sejak hari itu pula hampir setiap hari aku bertemu dengan Asri tak terkecuali hari minggu ataupun ketika aku libur bekerja. Tetapi hari itu, aku tak bertemu dengan Asri. Aku masih menunggu - lama sekali - Asri belum muncul. Bahkan sampai sendok terakhir sup buah yang kusantap pun, Asri tak juga nampak seperti biasanya.
“Udah yuk…” ujar Deni mengajakku kembali ke bengkel.
“Ah bentarlah…” jawabku agak malas-malasan dan sedikit kesal karena lamunanku mendadak buyar.
“Aha… ketahuan kau, masih nungguin Asri…” Seru Deni.
“Asri belum pulang… lagi ada kegiatan ekstrakulikuler!” katanya kemudian sambil menepuk-nepuk punggunggku keras-keras.
“Darimana kau tau?” tanyaku ketus.
“Tadi… bu Nana yang bilang.” Jawab deni dengan menaikkan alisnya tinggi maksimal.
Lantas aku berdiri dan menghampiri bu Nana.
“Udah bu… sup buah dua, ditambah roti itu…” Aku menunjuk keranjang tempat roti di meja terdekat. “Dua.”
“Tiga belas ribu…” Jawab bu Nana.
Lalu aku mengambil dompet dan memberikan uang limabelas ribu.
“Bu, Asri dimana ya? Kok gak kelihatan…” Tanyaku pada bu Nana yang sedang sibuk mencari kembalian.
“Asri belum pulang Mas Erza…” jawab bu Nana sambil memberikan uang kembalian padaku.
Dan aku hanya sanggup berkata
“Oh”.
“Katanya lagi ikut ekstra… kuler… kuler” sambung bu Nana kemudian.
Aku hanya tertawa kecil.
“Ya udah bu, aku pulang dulu”
Aku menganggukkan kepala dan berberpamitan lalu langsung menghampiri Deni dan melemparinya dengan kulit jeruk yang kutemukan di meja sebelah Deni.
“Ah shit! Bilang kek dari tadi kalau Asri gak ada… buang-buang waktu aja” gerutuku kesal.
Deni hanya tertawa. Lalu kami berdua keluar dan kembali ke bengkel. Sesampainya di bengkel Deni langsung kembali ketempat dimana terakhir kali dia bekerja memperbaiki mobil; Nyungsep dibawah dashboard depan. Sementara aku masuk keruang belakang, pergi untuk sholat.
Saat Pipimu Merah Kala.....
Langit tampak kusam sedikit sedikit ia mengerjap lalu menutup tirai angkasa, menutup sinar mentari, cuaca yang biasa tidak aneh dan tidak ganjil karena ini bulan Desember. rintik rintik hujan siang ini memaksaku untuk melamun, membayangkan sebuah memori lama yang ku terjang di masa lalu, terlebih lagi perasaan yang serba tak menentu karena akhir akhir ini perjumpaanku padamu, kegelapan hatiku pada cinta yang tak kunjung usai, cemburu yang tak jelas darimana bermula, kegetiran perasaan yang bertubi tubi.hal itu semuanya memaksaku untuk kembali menatap saat itu.
Sebenarnya kapan saat pertama kali aku berjumpa denganmu? aku tak pernah sadar kamu itu dulu ada. Aku bahkan tak sadar berbulan bulan hingga tahun tahun berlalu kamu itu ada di sekitarku. hanya ada beberapa saat ketika aku sadar kamu itu selalu yang kurindukan yaitu bulan bulan yang berlalu sejak bulan April atau Mei, atau katakan saja Juni, hal apa yang membuatku tersadar, adalah hal yang sama sekali tak ku bayangkan di saat pertama kali kita berjumpa, hal yang tersadar aku mulai akan merasa kehilanganmu bahkan tak akan pernah mencapai hati di tempatmu, itulah hal yang membuatku sadar kamu baru saja ada di tempat ini, di lembaran lembaran tempat aku bercerita.
Ada hal hal gila yang ku bayangkan dalam pikiran ini, andai saja aku jatuh cinta pada saat pertama kali aku berjumpa dengan mu, mestinya rangkaian cerita panjang itu tak akan sampai disini. mungkin jauh dari itu aku tak akan mengenal rasa yang sama saat aku melihat senyummu belakangan ini, atau saat kamu mulai aneh dan pipimu merah saat berjumpa denganku, atau hal hal aneh kenapa kamu mesti mengambil jalan memutar karena kamu melihatku di ujung depan, atau hal aneh kamu terpaksa duduk dan berhenti melangkah karena aku ada di jalanmu, atau hal aneh kamu mesti mengambil jalan terjauh karena aku ada di depanmu yang punggunggku tampak olehmu. aku melihat semuanya, dan aku hanya berfikir itu hanya terjadi karena perasaanku saja, tak lebih dari kegilaanku yang seumpama dapat menebak setiap perasaan manusia.
Ada hal yang aneh semestinya aku adalah seorang lelaki yang sangat percaya diri. seperti kala itu seperti tahun tahun yang kulampaui sebelum kejadian di tahun 2010. Sejak saat itu aku tak pernah lagi percaya pada mata, pada telinga dan pada bibir tentang hal hal yang di lihatnya, di dengarnya dan di ucapkannya adalah apa yang di sebut cinta. tahun tahun setelahnya aku menjadi teramat sangat buta, sangat tak peduli seiring kegagalanku untuk kembali dan mempercayai bahwa kehendak manusia akan perasaan tak pernah bisa di paksa. dan aku gagal menutup celah yang oleh kebencian di ekploitas sedemikian rupa sehingga menjadi begini di akhir di tengah cerita di tengah hujan yang belum juga kunjung reda.
Langit masih tampak kusam seperti kusamnya handukku yang sangat malas sekali dan menggerutu marah karena cuaca yang sudah dingin tetapi masih saja kupakai untuk mengelap air di tubuhku. ia protes terhadap waktu. tapi urunglah aku untuk peduli. saat ini seperti minggu minggu yang berlalu bulan ini, mendung dan gelap serta penuh kerinduan yang tak bisa ku ungkapkan dengan segala kata, dan ketika hanya gitarku dan lagu lagu yang sanggup katakan lebih banyak dari mulutku. aku tak bisa katakan itu semua karena aku benar benar ragu akan hal aneh yang ku tangkap dari mataku akan perilaku aneh itu. aku butuh di yakinkan hal aneh itu dengan mendengar lebih banyak tentang hati yang kau bicarakan, tentang perasaan yang tersimpan.
kita lkihat apakah nanti seiring mendung yang akan hilang di bulan Februari apakah kegelapan di masa lalu itu juga bakal tersibak dan rasa percaya diri itu bakal meledak? aku ingin tahu.. aku ingin tahu.. saat mungkin masih menunggu.. Bersambung.....
Ansi Andi Lumut
Yogyakarta, 21 Desember 2013
@anndyriyan
Julie My Classmate
Sedikit Cerita
Sayap sayap yang terkembang melambungkan impianku.. Ah andai saja semua itu dapat berubah.. Aku pasti bisa meraih yang ku inginkan.. Aku tak jujur pada imaginasiku sendiri semua yang ku inginkan hanya tentang imaginasi... Mungkin jalanku adalah imaginasi... Aku hanya ingin mengetik kan apa saja yang aku pikirkan aku tak akan peduli apakah itu membuatku lebih baik, namun aku hanya ingin sejenak berfantasi mungkin aku akan menemukan dengan jelas apa impian aku suatu hari nanti. Aku akan jadi seperti apa... Apakah benar aku tak seperti dalam cerita dan aku bukan tokoh utama... Kita lihat saja ketika cerita dimulai...
Dari sayap-sayap yang terkembang aku mulai melayang kan pikiran ku jauh keatas awan terbang keliling dunia yang memutar mutar tak tentu apa yang ingin aku tuju... Aku terus saja terbang terbang terbang dan terbang... Lalu di puncak langit saat aku terbang aku bertemu dengan seekor burung walet di atas desaku... Aku melihat matanya... Ia memandangku curiga lalu tertawa sedih dan sinis seakan akan matanya itu bicara ia mengejekku..
"hai pemuda... Ada apa gerangan kau mencoba terbang ha?
Aku berfikir sejenak apa yang membuatku aku ingin terbang...
"Aku ingin menjelajahi angin dan memnembus awan serta batas mimpi yang selama ini kosong..."
"Aku ingin pergi kedunia yang damai dan tentram dan disana tiada peperangan..."
"Disana ada kedamain yang terdapat dalam kebun kebun hijau dan luas...
"Diasana terdapat sebuah taman tempat minum teh hangat sambil memandangi sebuah area berawan yang padat dan empuk..."
Sang wallet tertwa mengejekku...
"Tempat seperi itu tak akan pernah ada.. Sekalipun ada itu hanya ada di suatu negri dongeng saja..." "Seperti halnya kau berbicara denganku..."
Aku terhenyak ya mungkin memang tempat seperti itu hanya ada di negri khayalan... Jika tempat seperti itu ada, bagaimanapun caranya antarkan aku kesana...
Tubuhku merasa kejang kejang aku mendadak menggingil mendengar jeritan wallet... lalu ia melesat terbang tinngi... Aku pun segera menyusulnya... Ku kerahkan seluruh tenagaku untuk naik vertikal mengejar burung yang tanpa sepatah katapun pergi...
Nampaknya burung itu masih terlalu cepat untukku... Ku kempakkan sayapku lebih deras namun berat tubuhku tak seimbang...
Bulu bulu sayapku tak kuat lagi menggerakkan sayap putihku... Kemudian satu persatu bulu itu rontok... Hingga aku kehilangan kendali dan kantung udara dalam pundi pundi udaraku habis lalu aku terjatuh menukik tajam dengan kepala dibawah meluncur tajam dan berputar putar...
Sekarang habis sudah impianku untuk menemukan sebuah negri yang damai...
Aku bermimpi terlalu tinggi...
Aku melihat semua berubah menjadi gelap dan aku sepertinya berteleportasi ke dimensi yang berbeda... Aku jatuh dan mencapai dasar namun aku tak sakit... Dan aku bingung dalam suasana seperti itu...
Aku tak melihat apa apa namun bayanganku sangat jelas...
Aku berdiri disuatu ruang menembus waktu.. Gelap tanpa cahaya...
Sekitarku hanya terlihat remang remang akibat pendaran tubuhku yang sedikit mengandung fosfor...
Dan dalam kegelapan itu tubuhku menjadi terlihat sangat terang...
Aku berkeliling dan berteriak namun hanya gema yang menjawabku, mengulangi kata kataku yang jauh lebih nyaring dari yang kau teriakkan...
Aku berdiri melihat keatas kebawah dan kesamping kanan kiri depan dan belakang sumuanya sama tidak ada pijakan dan tidak ada dinding ...
Sepertinya kau benar benar menembus waktu..
Aku merasa kesepian dan detik yang berjalan terasa sangat pelan..
Kemudian aku terlihat mengecil dari kemudian mataku mampu menangkap kegelapan kulihat jagat yang sangat luas aku berdiri bagaikan semut di tengah samudra hitam pekat yang luas dan kosong... Aku memejamkan mataku... Pusatkan kosentrasiku dan dengan kekuatan visual power aku menghentak melesat ke atas... Aku melihat cahaya putih yang sngat terang mula mula kecil kemudian dengan secepat cahaya ia mulai merambat di dinding dinding ruang dalam dimensi waktu semuanya berubah menjadi putih dan cahaya itu menyilaukanku... Aku tak melihat apa apa... Sepertinya aku merasa tidur terlalu lama... Aku lelah kemudian perlahan aku buka mataku,,, aku kini berada di sebuah ruangan... Di atas kasur yang empuk... Berdinnding biru... Dan di sebelah timur terdapat jendela dan sinar siang masuk keruangan melalui jendela itu...
Di langit langit sebuah lampu nampak jelas bergantung... Dengan langit langit berwarna kuning... Aku memandang sekitarku... Di salah satu sudut ruangan ada sebuah meja belajar disana lengkap ada buku yang berjajar rapi dan dia atas meja ada secarik kertas dan sebuah bolpoint... Di atas meja itu terpampang sebuah foto dalam frame... Ini kamarku.. Kemudian aku bangkit dari tidurku... Aku merasakan aku telah tidur terlalu lama... Kamarku sangat sunyi tidak ada suara suara hanya sinar terang mentari siang yang telah terglicir yang menemaniku... Kepalaku terasa sakit sepertinya aku telah membentur suatu benda yang sangat keras... Di dalam kebingungan itu aku ingat aku tengah mengejar seekor burung walet yang terbang tinggi dari sebuah gedung tempat walet itu tinggal.. Dengan spontan aku melongokkan keplaku keluar jendela... Ya gedung yang kulihat tadi adalah gedung yang kulihat kini... Ia kini jelas ada di depan mataku... Dan beratus burung sedang terbang melintasinya keluar masuk rongga yang besar yang ada di atas gedung itu... Ya itu adalah pintu utamanya... Aku berbicara sendiri dalam hatiku... Tak mungkin aku tadi bermimpi... Tak mungkin... Tapi kenapa aku tadi bisa terbang...?