Art of Dakwah
Jika berbicara tentang dakwah, pasti hal pertama yang terlintas dalam kepala kita adalah para ulama atau asatidz/ah.
Atau jangan-jangan kita mendefinisikan dakwah ke dalam bentuk ceramah rutin yang biasa kita dengar di masjid dekat rumah?
Mungkin saja apa yang kita anggap itu adalah benar. Namun kurang tepat.
Dakwah tidak selalu identik dengan asatidz/ah yang berceramah di masjid, tidak melulu soal profesor yang memberi kajian rutin di tiap shalat jum'at, pun tidak selalu identik dengan menjelaskan panjang lebar perihal dalil dan tafsirannya di depan umum.
Dakwah itu bisa dilakukan di mana saja, oleh siapa saja, dengan apapun profesinya selama itu menuju pada kebaikan dan didasari oleh pemahaman yang baik; dalam konteks ini adalah dalil-dalil yang shahih.
Dakwah itu kewajiban umat Islam sekaligus kebutuhan tiap-tiap muslim. Misal seorang ayah yang mengajari anak-anaknya untuk membiasakan berdo'a terlebih dahulu sebelum makan dan minum, membiasakan membaca do'a sebelum tidur, dan memberi contoh untuk membiasakan masuk ke kamar mandi dengan menggunakan kaki kiri terlebih dulu.
Atau dakwah itu bisa dimisalkan dengan karyawan kantor yang mengajak rekan-rekannya untuk shalat berjama'ah di masjid pada waktu istirahat. Bukankah itu semua merupakan salah satu bentuk cara berdakwah kepada sesama?
Jadi, ketika kita mendengar kata dakwah, kita tak lagi berpikir bahwa ia identik dengan orang 'alim ulama yang sempurna imannya, memakai qamis atau jubah lebar, memegang microphone dan menaiki mimbar untuk memberi kajian ilmu di tiap akhir pekan.
Karena jika dakwah disyaratkan dengan hal semacam itu, maka tidak akan ada orang yang mau untuk berdakwah.
Maynuverse










