Sering kali kita menanam senyum di wajah sendiri,
hanya agar orang lain tak merasa terganggu.
Padahal di dalam dada,
ada batu yang kita telan tanpa air,
dan perlahan melukai dari dalam.
Apakah ini kebaikan, atau sekadar kebohongan kecil?
Sebab luka yang ditahan bukan sembuh,
melainkan berubah menjadi bara,
menunggu angin kecil
untuk menyulut dendam yang kita simpan diam-diam.
Kadang kita mesti belajar jadi angin,
yang berani berkata "tidak" pada arah yang salah,
agar tidak terus-menerus menabrak tebing
dan menyalahkan nasib atas goresannya.
Bukankah Allah telah memberi kita jalan bercabang?
Namun kita sering memilih jalur yang berbatu,
lalu meratap,
seakan-akan hidup hanya menyediakan luka,
padahal terang ada di jalan seberang.
Semoga kita belajar menjadi hujan,
turun hanya pada tanah yang rela menadah,
bukan memaksa pada batu yang menolak,
agar tak ada air yang sia-sia,
dan tak ada luka yang kita ciptakan sendiri.
#Ceritaku Bagian 002: Mencoba Pergi tapi Kau Dibenci
Kawan, tolong baca ini sejenak. Renungkan jika memang kau pernah mengalaminya.
Apakah kau pernah mencoba untuk terlihat baik di mata orang lain, tapi kau lelah karena tidak dihargai?
Apakah kau pernah berusaha dengan segenap waktu dan kemampuanmu untuk menolong orang lain, tapi kau tidak pernah mendengarnya berterima kasih?
Apakah kau memiliki banyak teman, tapi tidak ada satupun yang mengerti?
Kau lelah dan mencoba untuk pergi, tapi kau malah dibenci oleh mereka. Merasa bingung dan hidup ini sia-sia. Pada akhirnya kau putus asa.
Aku hanya ingin bilang, pergilah. Tak apa. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan lain di luar sana meskipun hanya kau satu-satunya yang mengerti.
Tak apa, kawan. Orang lain bukanlah sumber atas kebahagiaanmu, melainkan kebahagiaan itu ada di dalam dirimu sendiri. Jika memang kau merasa orang lain tidak pernah mengerti dengan keadaanmu, atau mereka mereka tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih, kau sudah tahu jawabannya; mereka sampah.
Kebahagiaan bukan dilihat dari seberapa banyak teman yang kau miliki, tapi seberapa berharganya waktu yang kau lewati. Jika kau punya banyak teman tapi waktumu terasa hampa dan sia-sia, kau sudah memilih jalan yang salah.
Seharusnya jika memang kau mengatakan bahwa mereka adalah teman, kau pantas mendapatkan kebahagiaan. Ya ya... aku tahu. Awalnya kalian memang terlihat sangat bahagia, bukan? Tapi tolong lihat dari sisi yang lain. Apakah ketika kau membutuhkannya, mereka ada?
Dengar. Semakin tua usiamu, semakin kau sadar jika tidak ada yang namanya teman baik. Satu per satu mereka akan pergi memilih untuk jalannya masing-masing. JIka kau terus memaksakan untuk mengikufi standar orang lain, kau bukannya akan berjalan bersama, melainkan terseok-seok mengejar hal yang berlalu.
Jangankan kalian, aku saja pernah mengalaminya. Begitu sakit rasanya ketika kau sudah begitu peduli kepada temanmu sendiri. Tapi ketika kau jatuh dan membutuhkannya, dia tak peduli. Bahkan ketika aku berada di titik terendah dalam hidupku, temanku menghilang.
Sedih? Kecewa? Terluka?
Tentu saja.
Bagaimana bisa temanku yang selalu menumpahkan air matanya dipundakku, memohon padak ketika dia membutuhkan pertolongan, menumpahkan keluh kesahnya di hadapanku, kini acuh.
Apakah dia tahu jika aku sedang jatuh dan terluka? Tentu saja dia tahu. Tapi dia tidak peduli.
Apa yang aku lakukan setelahnya?
Meskipun membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri dan meraih kembali kepercayaan diriku, kini aku jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Aku sudah tidak peduli dengannya ataupun orang lain yang hanya menjadi benalu dalam hidupku.
Lucunya, ketika aku sudah melupakannya, orang-orang itu datang dan membenciku. Benci karena aku menganggap mereka kini hanya seperti sampah. Lho, bukannya memang seperti itu?
Mau seberapa kerasnya mereka mencoba menjatuhkanku, aku tak peduli.
Sudahlah, intinya, kau pantas bahagia apapun jalanmu kedepan. Kau hanya cukup tersenyum, lupakan, dan hadapi.
Setiap orang punya caranya masing-masing untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Wajar, kok, kalo kita merasa tersesat di pikiran-pikiran yang kita bentuk sendiri. Merasa tersudut dengan ketakutan yang kita buat sendiri. Yang penting kamu kuato. Sabaro. Memang prosesnya seperti itu. Merasa tak bisa apa-apa, tak berdaya dengan kenyataan, dan semacamnya, memang kita harus melewati itu dulu, kok.
Pada akhirnya nanti kita akan tersadar dengan sendirinya. Penerimaan itu akan datang seiring dengan kesadaran bahwa semuanya tergantung bagaimana respon kita terhadapnya. Sabaro. Ikhlaso.
Kemampuan orang untuk mutusin sebuah pilihan yang selama ini terbiasa ada itu susah.
Iya memang susah.
Coba balikin lagi, gimana sama kemampuan batin kamu, baik/makin buruk?
Hati kamu, fikiran kamu, apakah itu jadi persoalan baru yang bikin otakmu makin ruwet?
Apakah dengan pilihanmu kamu bisa siap dengan segala kemungkinan yang ada?
Atau memang hanya karena takut gak ada yang bisa mengerti & 'terbiasa ada' aja?
Nah, klo seandainya kamu memang bisa ikhlas & legowo dgn hal yang terjadi nantinya. Pastiin lagi, klo dirimu itu bs baik-baik aja, bisa menyesuaikan diri, sama apa yang sudah kamu pilih.
Tapi, klo semuanya di rasa gak bener dengan pilihanmu, gapapa, lakuin aja apa yang memang seharusnya dilakuin (tinggalin)
Menurutku, gak semua hal harus tentang orang lain sih, kadang jiwamu pun perlu di selamatkan. Meskipun nantinya yang terbiasa ada, akan hilang.
Takut Menyakiti Hati Orang Lain: Akhlak Mulia yang Perlu Batas
SURAU.CO – Ada tipe manusia yang hidupnya dipenuhi kehati-hatian. Setiap kata disaring sebelum keluar, setiap sikap dipikirkan berulang kali, bukan karena ingin terlihat baik, tetapi karena takut menyakiti hati orang lain. Mereka khawatir ucapannya melukai, kejujurannya menyinggung, atau sikap tegasnya membuat orang merasa direndahkan. Di tengah dunia yang kian keras, sikap ini tampak seperti…