Di tengah-tengah kebingungan mengerjakan Tugas Akhir, saya jadi ingin bercerita tentang Avascular Necrosis (AVN) yang pernah saya sebut di tulisan saya sebelumnya. Jadi, apa itu AVN?
Alkisah sekitar 2 tahun lalu, tangan kiri saya terasa pegal-pegal, terutama di bagian lipatan siku. Ngilu-ngilu gimana gitu. Rasa sakit ini tidak kunjung hilang bahkan sampai saya keluar rumah sakit pasca demam berdarah (ini gak ada hubungannya dengan AVN). Ya, lalu saya panggil tukang urut kan, biasanya juga gitu kalau pegal-pegal. Setelah beberapa minggu berlalu sejak dipijat, sekitar awal Januari 2014, saya mulai curiga. Saya putuskan pergi ke ortopedis.
Di ortopedis, saya disarankan untuk diambil foto rontgen di bagian bahu kiri. Setelah fotonya jadi, dokter mengamati sekilas lalu menyatakan “Oh, ini bengkak aja tulangnya. Harus difisioterapi ya. Saya kasih surat pengantarnya.” Iya, kemudian saya rutin fisioterapi selama sekitar sebulan. Dan tak kurasakan adanya perbedaan. Makin lama malah makin terasa sakit. Sampai di tahap tangah kiri saya gak bisa diangkat lurus ke atas, saya putuskan pergi ke ortopedis lain yang lebih senior. Saya pilih yang gelarnya sudah profesor.
Di sana, saya disuruh untuk difoto rontgen lagi di bagian bahu kiri. Kebetulan hasil rontgen yang sebelumnya hilang entah ke mana. Dan, di sinilah semua tabir terungkap...
Di ruang praktek sang profesor, saya sendirian mencerna kata-kata yang beliau ucapkan. Kira-kira bunyinya begini:
“Hmm, kamu pernah jatuh sebelumnya? “
“Nggak, Dok. Tapi saya pernah dikemoterapi.” dan saya ceritakanlah secara singkat soal kemoterapi itu.
“Bisa jadi sih karena kemoterapi itu jadi begini.”
“Emang begininya kenapa, Dok?” masih gak paham.
“Ini Avascular Necrosis. Tapi aneh. Seumur-umur saya jadi dokter, baru sekarang nemu yang begini. Biasanya kenanya di panggul atau lutut.”
Yha, kebayang dong, sendirian dibilangin gitu sama dokter yang sudah profesor dengan pengalamannya yang luar biasa banyak.
“Jadi saya harus gimana, Dok?” pusing awak. Mau nanya apa lagi udah bingung.
“Pengobatannya sih sulit ya untuk teknologi sekarang. Bisa stem cell kalo teknologinya sudah maju, atau dirotasi tulangnya, atau operasi. Untuk sekarang saya kasih obat aja ya.”
((Ternyata dikasih obat osteoporosis)) Saya (anehnya lagi, kata dokter itu) tidak cocok dengan obat tersebut karena dada saya langsung sesak dan nyeri. Jadi obat tersebut langsung saya kembalikan setelah diminum sekali.
Mungkin sederhananya, AVN adalah hilangnya asupan darah pada suatu bagian tulang yang mengakibatkan sel-sel di bagian tersebut mati. Hal ini bisa terjadi karena jatuh, tertindih, atau sebab-sebab lainnya. Nah, kebetulan saat ada jadwal kontrol ke dokter onkolog-hematolog di Singapura, saya minta surat pengantar untuk pergi ke klinik ortopedi di sana. Dan, ya, hasilnya sama.
Dokter ortopedi di Singapura akhirnya penasaran apa sebabnya, karena saya bukan atlet yang suka kegiatan-kegiatan berat dan tidak pernah jatuh sampai trauma. Ditanyalah saya:
“Kamu sering minum jamu?”
“Coba saya lihat dulu daftar obat-obat yang kamu konsumsi waktu kemo dulu.” Berkat canggihnya database di sana, semua rekam medis dan obat-obatan yang pernah masuk ke tubuh saya bisa diperiksa kapanpun.
“Nah ini. Pantesan begini. Dulu kamu harus minum steroid saat kemo.”
OH IYA!! tablet kecil-kecil warna oranye sepuluh biji yang harus saya minum di setiap siklus itu namanya steroid. baru ingetlah. jadi itu ya. Oke.
“Ya, ini ga ada obatnya sih. Kamu bisa beraktivitas bebas seperti biasa. Cuma, ketika kamu sudah merasa sakitnya ga bisa ditahan, segera ke sini, Kita operasi.”
“Operasinya gimana itu Dok?”
“Bone replacement with metal.”
Sejak saat itu, saya jadi mengurangi beban pekerjaan tangan kiri saya. Eh, gak lama kemudian, tangan kanan yang sakit. Buru-buru rontgen lagi tapi untuk tangan kanan. Kena AVN juga ternyata. Hmm sudah kuduga. Jadi gimana?
Ya terima aja ehehe. Saya berusaha untuk selalu merasa senang karena kalau senang jadi gak terlalu kerasa sakitnya. Happiness will always be my best pain killer. Tapi ya gitu, sekarang lagi sering panik ama Tugas Akhir jadi sakitnya sering terasa. Hiks :”(
Pernah baca, katanya harus banyak-banyak istirahat dan mengurangi beban bawaan biar gak makin parah AVN nya. Tapi Tugas Akhir ini menuntutku untuk sering menggendong laptop ke kampus. Gak ada ya yang mau bawain gitu? Aku bayar deh :(
Sebentar lagi, sebentar lagi lulus. Ayo, cepetan lulus. Biar bisa meng-istirahat-kan badannya sebentar. Pikiran-pikiran itu yang selalu saya tanamkan.
Iya, ternyata life will never get easier, yet you have to be stronger. Mungkin saya masih penyakitan, mungkin saya terlihat lemah, tapi yang saya tahu, saya harus menguat. Not physically, but mentally. Tidak boleh menyerah, tidak boleh ‘lembek’. Yo yo, kan setiap orang sudah jelas punya ujiannya masing-masing. Mau tidak mau harus dihadapi.
Yuk, semangat! Hidup kan cuma sekali, dan gak tau kapan mati. Just do our best, be good ones, and be happy ^_^
*Abis baca ini, jangan suruh saya angkat tangan tinggi-tinggi dan jangan tanya kenapa ga bisa*
**Jangan nyuruh-nyuruh angkat barang berat juga wkwk**
((entah mengapa ya, menulis curahan hati lebih mudah dan cepat dibandingkan menulis Tugas Akhir))
Burkitt’s Lymphoma Survivor and AVN fighter