Hhh pada akhirnya aku tulis juga ini, one of the daily little things that annoy me. Untuk siapapun yang membaca, chill out, im just trying to be honest. Jadi aku ini orangnya sangat tidak suka berbasa-basi. Basa-basi yang terjadi di masyarakat ini menurutku gak ada gunanya. Sebagai contoh, basa-basi paling umum, yaitu “apa kabar.”
Aku sebenarnya gak suka bertanya “apa kabar” karena disini semua orang menjawab dengan “kabar baik” dan udah. Selesai. Basi. Yah, memang namanya basa basi sih. Tapi bisa gak sih kalau kita ubah basa-basi ini supaya sedikit ada artinya? Aku yakin pada awal munculnya pertanyaan “apa kabar”, itu bukanlah sesuatu yang kosong melainkan dilatarbelakangi oleh kepedulian akan kondisi lawan bicaranya.
Suatu hari aku menjadi objek basa-basi seorang teman. Kami teman biasa, ga terlalu dekat, ga terlalu jauh. Dan kami sudah agak lama gak bertemu. Ketika tidak sengaja bertemu di suatu tempat, dia menanyaiku apa kabar. Berhubung aku sedang banyak energi dan waktu senggang, ya aku jawab pertanyaan itu dengan proper, sekalian ingin lihat bagaimana reaksinya. Aku ceritakanlah kabar terbaru tentangku; kesehatanku saat itu, kesibukanku dan masalah-masalah ringan yang aku hadapi di dalamnya. Mendengar jawaban macam itu sepertinya dia heran, dan tanpa merespon jawabanku, malah menimpali dengan basa-basi lain. Kecewa sih sedikit, tapi aku memang sudah menduga reaksinya kurang lebih akan seperti itu. Yang membuat aku heran adalah, untuk apa orang-orang ini bertanya “apa kabar?” kalau hanya ingin dijawab dengan “kabar baik”, “sehat”, “ya gini lah” dan sebagainya. Kan aneh. Hampir ga ada gunanya, tapi dilakukan dan dijadikan kebiasaan. Selain itu juga kalau memang tidak punya waktu untuk mendengarkan ya tidak perlu mengajak ngobrol. Tapi ya udah sih, memang begitu realitanya.
Mungkin sebagian orang berpendapat, “ribet amat sih idup lo, tinggal basa-basi doang, gampang.” Tapi yang mereka tidak tau adalah, bagi orang seperti aku, ini sangat melelahkan. Literally lelah, baik secara fisik maupun psikis. Mungkin rasa lelah ini muncul karena aku kesal, merasa ini tidak penting, tapi tetap harus terlihat ramah, merespon balik dengan basi-basi (atau bahkan memulainya!) supaya tidak dijudge sebagai orang yang menyebalkan, tak tau sopan santun dan ber-attitude buruk just because this is how things are done around here. Aaargh! Can we just skip the chit-chat and jump to the real talk? Rasanya lebih nyaman untuk diam saja di rumah daripada harus menghadapi orang-orang, beremeh-temeh, diinterogasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya mereka tidak peduli dengan jawabannya. Kalau terpaksa harus bertemu banyak orang (biasanya yang kenal tapi gak kenal kenal amat), ya mau tidak mau harus ikuti cara mereka. Bertanya dan menjawab dengan jawaban template, memasang muka ramah, yaa sesuai standar yang berlaku di masyarakat lah.
Aku tidak tau siapa atau apa yang salah. Bahkan tidak tau bahwa basa-basi semacam ini baik atau buruk di benak orang lain. Tapi apa salahnya kita diam ketika memang tidak ada yang perlu dibicarakan? Mungkin itu juga bisa meringankan beban hidup jiwa-jiwa introvert diluar sana. Kalau merasa ada urgensi untuk berbicara, pastikan dulu bahwa apa yang akan diucapkan itu benar-benar dari dalam hati dan jawaban dari lawan bicara really matters. Untuk apa bertanya kalau tidak peduli? Misalnya ketika bertanya mau kemana, dari mana, kapan wisuda, kapan nikah, bagaimana kabarmu dan keluarga, dan lain sebagainya, do you really care or what? Atau misalnya ketika berbicara “ih kangen udah lama gak ketemu”, do you really mean it? Jangan kira orang tidak bisa membedakan mana ucapan yang benar-benar bentuk simpati dan mana yang hanya ucapan kosong pemecah keheningan.
Tapi untungnya aku punya teman-teman yang (sepertinya) tidak masalah dengan aku bersikap sangat direct. Dan mereka pun sebenarnya juga cukup direct dalam berkomunikasi. Tanpa basa-basi, tanpa babibu, tanpa kode-kode, sangat efisien! Adapun teman yang hadir memang hanya untuk berbasa-basi, ya gak masalah sih. Aku pun tidak bermaksud menghilangkan basa-basi dari muka bumi ini. Tapi kalau niatnya adalah untuk menjadi sopan dan ramah, sebenarnya bagiku senyum saja sudah lebih dari cukup. A simple smile never fails. Kamu bisa terlihat ramah tanpa terlihat basi, dan setelah itu bisa langsung memulai the real coversation kalau memang ada yg perlu dibicarakan. Skip the chit-chat and help us to save our energy and time.