“Kamu mau?”
Pernah muncul di beranda media sosial ku, sebuah video dari salah satu komika kondang yang memang aku juga menyukai semua kontennya. Setiap kontennya berisi opini yang relate dengan sebagian besar manusia di Indonesia dan disampaikan dengan cara yang lucu serta menghibur. Saat pertama kali menonton, tidak ada yang salah, sih, dengan isi kontennya. Aku juga memahami maksud yang ingin dia sampaikan. Lalu, konflik personal dalam diriku mulai muncul ketika banyak netizen dan content creator lain yang ingin menyampaikan opini yang sama tapi dengan bahasa dan pendekatan yang berbeda.
Well, isi opini si komika adalah perilaku teman atau siapa pun ketika kita basa-basi menawarkan makanan. Titik berat dari opini si komika ini (mungkin kalian tahu dia siapa) adalah “over sense of belonging” dari orang-orang yang ditawari makanan. Ditawari makanan malah ngelunjak dan membabat habis semua isi piring. Bisa dibilang ini masalah attitude dan rasa sadar diri serta batasan-batasan yang harus dimengerti. Oh iya, over sense of belonging yang aku maksud ini dalam konteks negatif; merasa memiliki dan menguasai. Berbeda dengan sikap sense of belonging yang itu, ya, guys :)
Tapi… beberapa hari setelah aku menonton konten si komika tadi, ada lagi konten yang membahas tentang basa-basi makanan juga, namun aku menangkap maksud yang berbeda dari apa yang dia sampaikan. Sebuah tulisan yang kebetulan lewat di beranda media sosial ku (lagi). Tulisannya berbunyi,
“Aku ga suka ya kalau aku nawarin makanan terus kalian mau.”
Honestly, aku sempat senyum-senyum sendiri, sih, saat membaca postingan itu. Merasa lucu saja, dengan semua postingan lugas dan menohok yang sedang ramai-ramainya kala itu. Tidak sedikit netizen yang like dan me-repost postingan tersebut. Hal itu bisa jadi indikasi bahwa sebanyak itulah orang yang berpikiran sama dengan tulisan tadi. Yaa… opini tidak bisa dilarang untuk disuarakan. Sudut pandang masing-masing individu juga tidak bisa dipaksa untuk selalu sejalan. Ketika berbagai opini disuarakan sebebas-bebasnya, masuk ke ingatan individu yang lain tanpa filter, dan menyinggung rasa percaya terhadap sesuatu, akan ada satu masalah yang bisa muncul; Trust Issue.
Aku mulai sadar tentang hal ini setelah bertemu langsung dengan teman-teman yang baru ku kenal dan basa-basi tentang ini-itu. Kemudian, salah satu teman ku menawarkan makanannya. Bersamaan dengan aku yang ingin menolak tawarannya, dia melanjutkan dengan nada yang memang terdengar seperti candaan dan mengatakan hal yang sama persis dengan postingan yang pernah aku baca tempo hari.
“Aku ga suka ya kalau aku nawarin makanan terus kalian mau.”
Memang, saat dia mengatakan itu, aku tertawa lepas karena berpikir itu lucu. Aku merasa kami sudah semakin dekat sampai-sampai dia bisa melontarkan candaan seperti itu. Entah karena aku yang overthinking atau bagaimana, sekarang saat teman ku itu mengatakan “Kamu mau?” dan menawarkan makanan atau minuman lagi, aku seperti mengadakan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan diri sendiri; menerima atau menolak. Kan, rumit jadinya. Aku harus menerka-nerka apakah dia menawarkan karena memang mau berbagi atau hanya sekedar basa-basi? Dia bercanda atau serius, nih?! Mau menolak, sungkan. Mau menerima, enggan.
Lebih parah lagi, kalau rasa tidak percaya itu menjalar ke orang lain. Kamu mulai berpikir, apakah orang itu juga sependapat dengan postingan tempo hari? Alhasil, semua tawaran yang mungkin sebenarnya memang berniat baik menjadi terlihat seperti sekedar basa-basi. Kamu mulai meragukan semua orang.
Cara penyampaian dan bahasa yang berbeda, bisa menggeser makna yang mungkin saja sama, menjadi sejauh bermilyar tahun cahaya dan memberi dampak yang berbeda pula. 끝.












