Ia kuat, ia mampu bertahan, karena ia percaya bahwa kereta yang melaju akan membawanya sampai pada tujuannya.
Melodi Gadis Hujan on Tumblr
seen from United States
seen from Japan

seen from United States
seen from Poland

seen from Thailand
seen from Japan
seen from Germany
seen from China
seen from China
seen from Malaysia

seen from Maldives
seen from United States
seen from Thailand
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Switzerland

seen from Switzerland

seen from France

seen from Poland

seen from Italy
Ia kuat, ia mampu bertahan, karena ia percaya bahwa kereta yang melaju akan membawanya sampai pada tujuannya.
Melodi Gadis Hujan on Tumblr
Biggest Regret
Di dalam diri setiap manusia, pasti selalu ada penyesalan yang menghantui dan menyesakkan dada. Entah itu karena tak menjadi anak yang cukup baik, tidak melakukan cukup baik dalam studi dan pekerjaan, tidak menjadi sahabat yang cukup baik, tidak menjadi orangtua yang cukup baik, tidak menjadi suami atau istri yang cukup baik, penyesalan karena telah melakukan sebuah kesalahan besar yang tak terampuni, dan lain sebagainya.
Bagi saya, penyesalan terbesar adalah bahwa saya terlalu pengecut untuk menghadapi sebuah perubahan. Saya dan adik sepupu saya—karena sesuatu dan lain hal—secara sengaja dipisahkan hingga perlahan-lahan kami yang mulanya begitu dekat tumbuh menjadi orang asing yang ketika bertemu takkan lagi bertegur sapa. Mungkin hanya saling tersenyum sekedarnya.
Sebenarnya, saya memiliki kesempatan untuk memperbaiki relasi itu dalam beberapa tahun belakangan. Tidak ada lagi yang melarang kami berelasi. Namun, saya yang secara sengaja menjauh. Setelah memikirkannya dalam kurun waktu yang cukup lama, saya menemukan alasan mengapa saya—sadar atau tidak sadar—mengurung diri dalam zona nyaman saya, yaitu membuat jarak yang lebar antara saya dan saudara sepupu saya itu.
Saya takut menghadapi kenyataan bahwa relasi kami telah berubah. Kami bukan lagi dua bocah yang ke mana-mana selalu bersama. Kami bukan lagi dua bocah yang begitu dekat dan bisa tertawa bersama, seakan tak ada lagi hal yang lebih lucu dari hal konyol yang kami tertawakan.
Bahkan tak ada lagi kata kami, tetapi hanya saya dan dia yang sama-sama merasa seperti berhadapan dengan orang asing ketika bertemu.
Meski saya berusaha membangun relasi itu dari awal sekali pun, mungkin semuanya takkan lagi sama. Adik sepupu saya itu mungkin saja tak ingin lagi berelasi dengan saya. Saya takut kecewa dan terluka lagi.
Kenyataan kadang begitu pahit, mengurung kita dalam penyesalan dan kemilau masa lalu. Membuat kita mereka-reka bagaimana bila semuanya tidak pernah terjadi atau bila kita melakukan lebih baik. Akankah masa depan menjadi berbeda? Akankah masih ada hari ini yang menorehkan luka?
Dan penyesalan bisa menjadi begitu menyesakkan.
Namun, sebagaimana pun kita menyesali kenyataan, bukankah kenyataan tetaplah realita yang tak terelakkan? Bukankah kenyataan tetaplah sesuatu yang terjadi terlepas seberapa keras kita menolak atau menyangkalinya?
Saya sadar bahwa yang saya bisa lakukan hanyalah menerima bahwa semua yang telah terjadi tak bisa lagi diubah. Saya hanya bisa merangkai masa kini dan masa depan dengan memperbaiki diri, yaitu keluar dari ilusi zona nyaman yang saya ciptakan. Saya mungkin akan kecewa dan terluka, tetapi saya setidaknya sudah mencoba memperbaiki segalanya sehingga saya takkan lagi menyesal. Lagi pula, meski kemudian saya kecewa dan merasa sakit, ada sang Mahakuasa yang akan selalu menjadi kekuatan dan tempat bagi saya mendapatkan ketenangan.
Saya masih belajar. Dan mungkin masih akan terus belajar bahwa kekecewaan dan sakit hati takkan membunuh saya, melainkan menumbuhkan saya menjadi seseorang yang lebih dewasa.
Hidup adalah tentang belajar untuk kembali berdiri tegak setelah terjerembab untuk kesekian kalinya.