Perjalanan kita masih sangat jauh, persiapkanlah bekal saat masih di dunia, agar kita sampai ke kampung halaman yang bernama Surga..



#iwtv#interview with the vampire#the vampire armand#assad zaman

seen from United States
seen from Germany

seen from Italy
seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Netherlands
seen from Canada
seen from Ukraine
seen from Algeria
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Japan
seen from Spain

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from China
Perjalanan kita masih sangat jauh, persiapkanlah bekal saat masih di dunia, agar kita sampai ke kampung halaman yang bernama Surga..
Bekal Pernikahanku Belum Utuh
Seringkali aku mendapat respon dari temen-temen seperti,
“Lu tinggal nyari laki aja sih. Udah bisa semuanya, apa yang kurang.”
“Kamu kapan dong dinikahin? Yaampun padahal enak banget jadi suami mu lin. Bisa dimasakin enak-enak mulu. Istriable banget.”
“Tapi, kakak kalo nikah tahun ini udah siap belum?”
Yaaa, memang yang aku bagikan di sosial media selama #dirumahaja lebih banyak soal masak-memasak atau mencoba menu baru.
Bukankah apa yang kita bagikan di sosial media lebih kepada kemampuan kita, kesenangan kita atau bahkan keunggulan di bidang tertentu ?
Begitu juga aku, yang senang masak dan menyalurkan hobi fotoku.
Mungkin itu yang jadi membentuk opini mereka kali ya.
Sesungguhnya apa yang terlihat di sosial media tidak sepenuhnya utuh.
Ada kesiapanku yang aku rasa belum penuh.
Dibalik kesempurnaan yang mereka lihat, ada kekhawatiranku yang belum runtuh.
Aku akan bilang ke mereka bahwa buatku menikah itu tidak semudah itu, maemunah.
Kemampuan yang aku share itu untuk menutupi kekuranganku.
Di saat kalian bekerja dengan beban kerja dan tanggung jawab yang berat, jam kerja yang ketat, tidak sempat untuk belajar masak, tapi mungkin keuangan kalian sudah mencukupi.
Sedangkan aku punya lebih banyak waktu buat belajar masak karena tanggung jawab menggantikan mama dan waktu bekerjaku yang lebih fleksibel.
Nah, di pekerjaanku saat ini, aku merasa belum settle, aman ketika harus melanjutkan ke pernikahan dan menjalani rumah tangga.
Cukup sih kalo cuma buat memenuhi kebutuhanku sendiri aja.
Tapi kan menikah bukan sekedar berputar pada diri sendiri kan?
Itu yang mungkin jadi beropini, “apa yang kurang ? apa lagi sih lin yang dicari?”
Pada akhirnya kita hanya wang sinawang kan?
Dan Allah Maha Mengetahui, diriku yang belum utuh.
Belum Allah tetapkan.
Belum Allah mantapkan
Pada akhirnya, belum Allah dekatkan hati ini berlabuh pada yang mana.
Yogyakarta, 18 April 2020
Kita adalah yang akan kembali, pulang.
So, sudah mempersiapkan sesuatu yang harus dibawa untuk pulang?
Bekal terakhir adalah Zuhud. . Menurut Ibnu Taimiyah, "Zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat." . Seseorang yang zuhud adalah dia yang tidak gembira berlebihan ketika mendapatkan dunia dan tidak sedih karena kehilangan dunia. Di dunia kita banyak sekali mendapatkan kenikmatan, tapi apakah kenikmatan yang kita dapat ini mendekatkan kita kepada-Nya atau hanya menjauhkan kita dari-Nya? Banyak kenikmatan dunia yang mengaburkan pandangan kita, membuat pandangan kita silau, dan tak sedikit harus terjerumus ke dalam perbuatan haram demi mengejar kenikmatan dunia. . Zuhud bukan berarti kita mengabaikan semua tentang dunia, tapi merupakan sebuah perjalanan hati dari kampung dunia dan menempatkannya di akhirat dengan meninggalkan yang haram, meninggalkan yang berlebih-lebihan dan meninggalkan kesibukan selain Allaah. . Terkadang kita terlalu terlena dengan kesibukan di dunia, sehingga lupa, bahwa kita harus menyibukkan diri untuk kehidupan yang lebih kekal. Semoga kita senantiasa mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang lebih kekal. . #InsightKajian #InsightQuran #insightquranwriter #bekal #mendidikrasa
Located along the beautiful coastline of Kerala, Bekal is a peaceful destination famous for its historic Bekal Fort, golden beaches, and stunning Arabian Sea views. The calm atmosphere, swaying palm trees, and breathtaking sunsets make it perfect for a relaxing getaway. Visitors can enjoy beach walks, scenic landscapes, and the rich culture of Kerala while experiencing the charm and tranquility of this coastal paradise.
Hikmah Dibalik Musibah: Bekal hati Untuk Tetap Tegar dan Dekat dengan Allah
SURAU.CO – adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada manusia yang selamat darinya; setiap kita pasti diuji, baik dengan rasa takut, lapar, kehilangan, sakit, kegagalan, maupun kesedihan. Namun, di balik setiap musibah, Allah menanamkan hikmah, pelajaran, dan kebaikan yang sering kali baru terlihat ketika hati sudah tenang dan iman kembali kukuh. Berikut beberapa hikmah yang dapat kita…
Kenjusu
Sesungguhnya ini hanyalah cerita sederhana di antara hari-hari kita yang penuh dengan cerita, Nak. Usiamu tujuh tahun, di hari ketiga Engkau di bangku 1 SD.
Tapi penting bagi Bunda mengabadikan potongan cerita sederhana ini, untuk mengenang betapa baiknya Allah menampakkan fitrah baik di dalam dirimu. Barangkali suatu hari engkau Allah beri kesempatan membaca tulisan ini, engkau akan selalu ingat untuk menjadi pribadi baik, dan akan selalu kembali kepada-Nya yang Maha Baik.
___
"Bunda, besok bekalnya apa?" pertanyaan rutinmu sehari sebelumnya.
Seperti biasa, hari sebelumnya pun, sebelum pertanyaan itu terlontar, Bunda berusaha membayangkan akan menyiapkan bekal makan untukmu esok hari; agar harimu tetap kuat, agar gizi masuk ke dalam tubuhmu yang sedang di masa pertumbuhan, dan agar kau tetap bersemangat bermain dan belajar bersama ibu bapak guru juga teman-teman shalihmu.
Ya, Bunda masih ada stok beras ketan di kotak persediaan bahan makanan. Bunda akan buatkanmu ketan kesukaanmu.
"Besok bawa ketan yaa."
"Waah asik!"
"Mau ketan apa? Pakai abon dan bubuk?"
Ekspresimu menunjukkan kurang setuju.
"Hmm apa mau pakai keju dan susu?"
"Wuaaah.." nampaknya engkau sangat berbinar mendengarnya.
Baiklah, protein Bunda ganti ke dimsum, untuk melengkapi perbekalanmu agar gizi lebih seimbang.
Lalu teringat satu hal.
Ibu guru bilang, setiap hari akan selalu ada piring berbagi. Engkau dan teman-teman shalihmu akan selalu membagi isi bekal untuk diletakkan di piring berbagi, sehingga teman yang lain dapat saling mencicip isi bekal teman lainnya.
Sebab itulah, ketan yang sedianya Bunda letakkan langsung di tempat bekalmu, kali ini Bunda sengaja cetak kecil-kecil, agar mudah bagimu membagi kenjusu (ketan-keju-susu) itu dan meletakkannya di piring berbagi.
Bunda lengkapi kenjusu dengan hiasan cokelat chip di atasnya. Berharap semakin menarik sekaligus menambah lezat rasa. Sekadar untuk sesekali Bunda merias perbekalanmu. Biar 'lucu' hihi..
Qadarullah, plot twist.
Ternyata, sepulang sekolah, di sink dapur Bunda dapati tempat bekalmu yang susun dua itu penuh dengan tempelan cokelat chip. Ah.. rupanya kenjusu lucu mu itu tak lagi lucu ketika kau buka tempat bekalmu tadi?
Lalu suara spontan Bunda yang tersentak kaget justru membuatmu baru menyadari bahwa ternyata cokelat-cokelat chip itu masih ada di tempat bekalmu (yang sudah terlanjur terguyur air kran cuci piring), dan engkau jadi bersedih. Ah.. anak shalihku yang lembut hati.
Engkaupun mulai menangis.
Bunda tanya kepadamu, adakah di antara enam potong tadi yang masih utuh dengan cokelat chipnya?
Kau bilang, hanya ada satu. Dan satu itulah yang engkau letakkan di piring berbagi.
Bunda yang kerapkali reaktif ini, belumlah memedulikan gejolak emosimu, justru merespon,
"Ya kalau memang kamu suka, Nak, boleh kok kamu simpan itu untuk dirimu. Kau boleh bagi yang lainnya lagi."
Nampaknya engkau semakin bersedih. Beberapa menit kemudian, engkau menghampiri Bunda dan ingin memeluk Bunda. Bunda sambut pelukanmu, Nak. Dan di sinilah engkau utarakan isi hati baikmu,
"Tadi yang ada cokelat chipnya cuma ada satu, Bunda. Dan kakak bagi yang ada cokelat chipnya itu, biar enak.." kau lanjut dengan sesenggukan.
Nak.. kau paham sekali kah rupanya, bahwa jika kita memberi maka kita mesti memberikan yang terbaik?
Kau memilihkan satu makanan yang menurutmu terenak dan terbaik, sehingga kau relakan itu agar temanmu yang lain boleh menikmatinya.
Maasyaa'Allaah Nak, barakallahu fiyk Shalih.. pilihanmu sungguh tidak salah. Pun keputusanmu, sama sekali tidak salah. Bunda hanya berharap, suatu hari engkau akan paham apa itu batasan (boundaries), sehingga engkau dalam melangkah pun tidak sampai abai pada diri.
Tapi bunda yakin Allah Al-hafidz Maha Menjagamu, Nak. Di saat-saat engkau mengutamakan orang lain atas sesuatu yang engkau sukai, di situlah Allah ganjar kebaikan yang banyak untukmu. Insyaa'Allaah.
___
Anas berkata, “Ketika turun ayat, لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Lalu Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyatakan, “Wahai, Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92) Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998). Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.
Ide Bekal sehat tanpa nasi